RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KESABARAN DAN KESEDIHAN INSAN


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita baru saja keluar dari biliknya. Ia segera menuju pendopo istana. Karena biasanya mereka akan berkumpul bersama di sana. Kali ini ia tidak terlihat bersemangat sama sekali. Setelah apa yang ia lihat tadi, bahkan ia masih merasakan kemarahan dari pedang panggilan jiwa yang ada di dalam tubuhnya.


"Kalau begitu aku akan menemui rayi prabu saja. Mungkin rayi prabu memiliki saran yang tepat untukku saat ini." Kakinya melangkah menuju ruang pribadi raja. Perasaan gelisah yang ia rasakan saat ini membuatnya tidak nyaman.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, yunda." Suara seseorang menyapa dirinya.


"Rayi?. Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Putri Andhini Andita terkejut melihat Jaya satria yang sedang berjalan beriringan dengannya?.


"Ada apa yunda?. Sepertinya ada hal yang sedang yunda pikirkan. Sehingga yunda tidak menyadari jika aku berjalan bersama yunda." Jaya Satria sangat bingung dengan kakaknya, yang mungkin saja melamun?.


"Ada hal penting yang ingin aku ceritakan padamu rayi. Aku ingin meminta pendapatmu rayi." Putri Andhini Andita menundukkan wajahnya. Rasanya ia tidak memiliki semangat hidup. Apakah yang akan ia lakukan?. Jika Sukma Dewi Suarabumi saja menolak dirinya?.


"Baiklah yunda. Mari kita bicara di ruang pribadi raja." Jaya Satria melepaskan topeng yang menutupi wajahnya. Karena ia akan memasuki ruangan pribadi raja. Apakah yang akan mereka bicarakan?. Temukan jawabannya.


...***...


Sementara itu di padepokan Al-Ikhlas.


Baru beberapa hari latihan berpuasa, Raden Jatiya Dewa rasanya tidak kuat. Rasanya ia hampir saja menangis karena tenggorokannya yang kering karena cuaca yang panas beberapa hari ini. Dan mereka saat ini sedang beristirahat setelah menyapu halaman yang lumayan luas.


"Huuaaaah." Raden Jatiya langsung rebahan di pondok kecil yang ada di halaman belakang padepokan. Sedangkan Mulni, Barka dan Purna juga rebahan. Mereka telah menyapu dengan rapi semua halaman Padepokan.


"Kalian lelah juga?." Raden Jatiya Dewa melirik teman-temannya. "Rasanya semakin hari semakin berat untuk berpuasa." Lanjutnya lagi. Nafasnya sampai terengah-engah karena lelah yang ia rasakan.

__ADS_1


Mulni, Barka, dan Purna malah terkekeh kecil. "Pastilah merasa lelah raden, dan juga ngantuk." Mulni menatap langit-langit pondok. Dan ia menerawang jauh.


"Jika kita tidak sabar, maka kita tidak akan melewati semua cobaan dengan baik. Jadi apa yang kita kerjakan selama ini akan sia-sia." Barka teringat dengan ucapan Syekh Asmawan Mulia. "Kesabaran itu lahir dari hati yang ikhlas. Kalau kita ikhlas, maka kita akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda diakhirat nanti." Lanjutnya lagi.


"Aku sungguh belum mengerti, mengapa kita harus taat pada aturan yang tidak pernah tertulis seperti itu?. Rasanya kita ini hanya terbawa ucapan dari orang dahulu saja." Raden Jatiya Dewa penasaran bagaimana orang zaman dahulu mengetahui segalanya.


"Orang dahulu mengetahui segala hal melalui Al-Qur'an, yang diturunkan Allah SWT melalui peristiwa penting. Salah satunya yaitunya perintah melaksanakan puasa." Jawab Purna.


"Tapi rasanya puasa itu sangat menyiksa. Tidak boleh makan meskipun terasa lapar, dan tidak boleh minum jika terasa haus." Begitu banyak rasa penasaran yang menari-nari dipikirannya saat ini. Sehingga membuat Raden Jatiya Dewa lebih cerewet dari yang biasanya.


"Perintah puasa itu terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 183." Mulni juga teringat dengan apa yang dikatakan syekh Asmawan Mulia. Setelah itu Mulni, Barka, dan Purna bersama-sama membacakan ayat Alquran tentang puasa.


"يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ."


"Arti dari ayat yang kami bacakan tadi. Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." Mulni membacakan artinya dengan sangat lancar.


"Luar biasa sekali. Kalau begitu aku akan belajar lebih giat lagi. Dan aku akan belajar dari mas lingga. Biar makin fasih." Raden Jatiya Dewa mengacungkan jempolnya pada ketiga temannya. "Aku juga ingin membacakan ayat itu tanpa melihat Al-Qur'an juga. Semoga saja aku bisa melakukannya." Rasanya Raden Jatiya Dewa tidak sabar ingin mempelajari Al-Qur'an, jika ia telah lulus dalam ujian kesabaran yang diberikan Syekh Asmawan Mulia.


"Itu lebih bagus raden. Semangat raden, jika mengalami kesulitan nanti. Raden bisa bertanya pada kami juga." Mulni tersenyum ramah pada Raden Jatiya Dewa.


"Jangan sungkan belajar, karena dengan belajar kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Jadi jangan bosan untuk belajar ke arah yang lebih baik." Barka seakan memberikan pesan pada Raden Jatiya Dewa.


"Belajar itu juga butuh kesabaran. Jika cepat bosan, maka akan lama masukan. Raden jangan mudah menyerah, kami adalah teman raden." Purna dengan senyuman ramah menyemangati Raden Jatiya Dewa.


"Terima kasih teman-teman. Rasanya aku sangat bahagia memiliki teman seperti kalian." Raden Jatiya Dewa sangat terharu. Ia tidak menyangka menjadi orang yang lebih baik itu akan mendap perlakuan yang baik pula. Meskipun awalnya ia berpikir, bahwa mereka semuanya harus sungkan. Haris menghormati dirinya karena ia adalah seorang putra mahkota raja. Namun saat ini ia menjadi rakyat biasa yang sedang belajar arti menghargai satu sama lain, dan pentingnya belajar ke arah yang lebih baik.

__ADS_1


...***...


Kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai. Putri Agniasari Ariani saat ini berada di ruang pribadi Raja bersama adiknya Raden Cakara Casugraha. Katanya Putri Andhini Andita ingin mengatakan sesuatu padanya.


"Ada yunda?. Apa yang membuat yunda terlihat bersedih?. Katakan padaku yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat sangat cemas dengan keadaan kakaknya saat ini.


"Ini tentang perasaan yang aku rasakan rayi." Ia menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan kesedihan yang ia rasakan. "Bahkan sukma dewi suarabumi yang ada di dalam tubuhku marah padaku rayi." Putri Andhini Andita berusaha menahan suara isak tangisnya, saking sedihnya perasaan yang ia rasakan saat ini.


"Apa maksudmu yunda?. Aku tidak mengerti sama sekali." Jaya Satria kebingungan. Ia belum mengerti apa yang menyebabkan kakaknya itu sangat bersedih hati. "Coba ceritakan dengan pelan yunda. Supaya kami bisa menyimaknya dengan baik." Jaya Satria tidak tega melihat keadaan kakaknya yang seperti ini.


"Sukma dewi suarabumi marah padaku karena aku mencintai adikku sendiri." Kali ini Putri Andhini Andita memberanikan dirinya menatap mata Jaya Satria. Matanya terlihat berkaca-kaca karena menahan air matanya supaya tidak keluar. "Dia marah padaku. Ia tidak ingin aku berkahir seperti dirinya. Mati tersiksa karena perasaan cintanya pada adiknya sendiri jaya satria." Begitu pilu yang ia rasakan saat ini. Ia tidak mau menyimpan perasaan sedihnya sendiri. Karena itulah ia katakan pada adiknya dengan jelas.


Bagaimana tanggapan Jaya Satria, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Temukan jawabannya.


Makan pisang dengan rambutan


Makannya jangan siang hari


Sebentar lagi mau lebaran


Jangan lupa pantengin cerita ini setiap hari. Hihihi pantun yang aneh ya.


Yeeeiy bentar lagi lebaran. author ucapkan selamat hari raya idul Fitri mohon maaf lahir dan batin. Salam cinta untuk pembaca tercinta.


...***...

__ADS_1


__ADS_2