
...***...
Saat ini, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang melakukan pertemuan dengan petinggi Istana lainnya. Mereka membahas masalah yang terjadi setelah sang prabu kembali dari Kerajaan Mekar Jaya.
"Saya baru saja kembali dari kerajaan mekar jaya." Ucapnya dengan suara yang cukup keras.
"Kakek prabu rahwana bimantara, telah menyatakan damai dengan kerajaan ini, dan hidup berdampingan tanpa adanya perperangan." Lanjutnya.
Mereka merasa senang mendengarkan kabar baik itu dari sang Prabu. Itulah yang mereka harapkan, dari pada mengobarkan perang.
"Tapi ada satu masalah yang harus kita waspadai." Kali ini raut wajahnya nampak berbeda, membuat mereka bertanya-tanya.
"Kerajaan kegelapan telah berbuat hal yang keji." Ia hampir tidak bisa menahan amarahnya. Mereka semua yang hadir mengetahui kerajaan kegelapan itu.
"Dia yang telah meneluh kakek prabu, hingga terjadi kesalahpahaman. Bahwa pihak kakek prabu mengatakan, saya lah yang telah berbuat hal keji itu." Ia menyampaikan apa yang menjadi penyebab serangan itu dilakukan lebih cepat.
"Mohon ampun gusti prabu. Kita harus segera menangani masalah ini. Agar kelak kerajaan kegelapan tidak meresahkan kita semua." Petinggi Istana telah sepakat, untuk menangani masalah itu dengan cepat.
Tapi.
"Tapi semudah itu, kita harus memikirkan matang-matang. Sebab kita tidak mau menanggung resiko yang besar. Seperti kehilangan gusti prabu misalnya." Namun di sisi lain mereka tidak mau kehilangan raja seperti sebelumnya.
Mereka semua terdiam, memang mereka ingin menghindari hal-hal fatal seperti itu. Hati mereka mereka tidak sanggup lagi kehilangan raja, apalagi pemilihan menjadi raja tidaklah mudah.
"Saya akan melakukan sholat istikharah. Meminta petunjuk kepada Allah SWT." Ia menatap mereka semua.
"Saya juga tidak bisa membiarkannya, berbuat sesuka hati di kerajaan ini. Keselamatan kalian, keselamatan rakyat suka damai sedang dipertaruhkan." Lanjutnya lagi.
Pertemuan hari itu hanya membahas masalah bagaimana caranya menghentikan raja Kegelapan yang menginginkan kerajaan Suka Damai. Mereka semua akan memikirkan cara yang tidak akan membuat mereka kehilangan raja mereka karena bertarung melawan raja Kegelapan.
Apakah mereka akan berhasil menghadapi masalah mereka?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu.
Di depan gerbang Istana.
Ratu Dewi Anindyaswari baru saja sampai di gerbang istana. Ia begitu merindukan anak-anaknya. Dan kerinduannya tersampaikan, ketika melihat putrinya yang datang menyambut kedatangannya.
"Ibunda." Ia memeluk ibundanya dengan eratnya, seakan ia tidak ingin melepaskannya.
"Putriku." Ratu Dewi Anindyaswari melepaskan rindunya melalui pelukannya.
"Rasanya aku juga merindukan ibundaku." Batin putri Andhini Andita yang melihat bagaimana mereka saling melepaskan rindu antara anak dan ibu.
"Kau telah kembali nak. Ibunda sangat merindukanmu." Ia memperhatikan anak perempuannya, rasanya sangat sedih berpisah dari anaknya.
"Ananda putri telah kembali ibunda ratu." Putri Agniasari Ariani menggenggam erat tangan ibundanya, ia cium tangan itu dengan penuh kasih sayang.
"Apakah ibunda tidak merindukan nanda putri?." Putri Andhini Andita sudah tidak tahan dengan momen yang mengharukan itu.
"Oh putriku andhini andita. Kemari lah nak. Maafkan ibunda. Ibunda tidak bermaksud mengabaikan mu." Ratu Dewi Anindyaswari merentangkan tangannya, ia memeluk putri Andhini Andita dengan penuh kasih sayang.
"Ibunda ratu." Putri Andhini Andita merasakan kehadiran seorang ibu. Saat ia memeluk ratu Dewi Anindyaswari, rasanya ia ingin menangis.
"Selamat datang kembali, ibunda ratu." Raden Hadyan Hastanta baru saja bergabung datang.
"Terima kasih nanda hadyan hastanta." Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum senang melihat kedatangan mereka yang menyambutnya.
"Apakah ibunda ratu tidak merindukan ananda juga?." Entah kenapa ada perasaan iri dihatinya, melihat betapa dekatnya mereka saat melihat kedekatan mereka.
"Kemari lah nak." Ratu Dewi Anindyaswari tidak menyangka kedua anak tirinya itu ingin dipeluk olehnya?.
"Maafkan perlakuan kami selama ini ibunda." Ada penyesalan di dalam dirinya, hingga ia mengucapkan kata itu.
"Ibunda selalu memaafkan kalian nak. Ibunda sangat senang, jika kalian semuanya akur seperti ini." Rasa bahagia yang tidak akan pernah ia lupakan, ketika ia mendapatkan perlakuan baik dari kedua anak tirinya.
"Terima kasih ibunda." Raden Hadyan Hastanta dan Putri Andhini Andita merasa lega mendengarnya.
__ADS_1
"Mari kita masuk ibunda. Nanda yakin, rayi Prabu juga merindukan ibunda." Raden Hadyan Hastanta membimbing ratu Dewi Anindyaswari masuk ke istana, begitu juga dengan kedua adiknya.
...***...
Di sisi lain.
prabu Asmalaraya Arya Ardhana baru saja selesai melakukan pertemuan, dan ia saat ini bersama Jaya Satria yang hendak menuju ruang pribadi raja.
"Apakah kita berdua ke sana untuk menyelesaikan masalah ini?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meminta pendapat.
"Hamba ingin kita ke sana. Tapi kita harus melakukan persiapan dengan matang, agar kita tidak terbawa amarah. Karena dia yang telah membunuh gusti prabu kawiswara arya ragnala." Balasnya.
Namun ketika mereka berdua ingin berbelok menuju ruangan itu, mereka berdua dikejutkan dengan pelukan seseorang yang membuat hati keduanya bergetar.
"Putraku." Rasa rindu yang tak tertahankan, ia tuangkan saat itu juga.
"Ibunda." Ya, mereka menyadari bahwa yang memeluk mereka adalah ratu Dewi Anindyaswari.
"Gusti ratu." Jaya Satria tidak menyangka ia juga dipeluk begitu eratnya.
"Ibunda sangat merindukan kalian berdua nak." Ratu Dewi Anindyaswari mengelus punggung keduanya. Dan ia juga mencium puncak kepala keduanya. Entah kenapa ia juga ingin memeluk, dan mencium Jaya Satri juga.
Memperlakukan Jaya Satria sama seperti ia menyayangi anaknya Raden Cakara Casugraha. Hatinya yang menggerakkannya untuk melakukannya.
"Apakah ibunda mengenali jaya satria?." Putri Andhini Andita merasa heran, padahal ibundanya waktu itu juga pertama kalinya melihat Jaya Satria, atau sudah mengetahuinya?.
"Entahlah rayi. Mungkin saja begitu, kita tidak tahu." Raden Hadyan Hastanta juga tidak mengetahuinya.
"Kami juga merindukan ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mewakili perasaan jaya Satria.
"Syukurlah kalian baik-baik saja nak." Ada perasaan sedih yang ia tahan, ia mengelus wajah prabu Asmalaraya Arya Ardhana, dan juga wajah jaya Satria yang ditutupi oleh topeng.
"Gusti ratu." Jaya Satria terbawa suasana dengan sentuhan itu, juga senyuman yang mampu meluluhkan hatinya. "Tidak bisakah aku merasakannya lebih lama lagi?." Dalam hatinya berharap mendapatkan yang seperti ini.
"Ibunda sangat cemas. Dan berdoa, semoga kalian baik-baik saja saat menghadapi perang." Rasa syukur menyelimuti hatinya.
"Kami baik-baik saja gusti ratu." Jaya Satria mencoba menahan perasaannya, ia tidak mau kelepasan, hanya karena perlakuan ratu Dewi Anindyaswari yang begitu baik padanya.
"Syukurlah. Ibunda senang mendengarnya, putraku."
Senyuman itu adalah senyuman kebahagiaan. Senyuman yang mengandung ketulusan seorang ibu yang merasa bahagia karena anaknya baik-baik saja.
"Entah mengapa aku merasakan, bahwa jaya satria adalah bagian diri dari kanda Prabu. Dan mata itu sangat mirip dengan putraku." Batin Ratu Dewi Anindyaswari merasakan ikatan batin dengan Jaya Satria. Ia merasakan jika Jaya Satria adalah anaknya, Raden Cakara Casugraha.
"Ibunda baru saja sampai. Bagaimana kalau kita berbincang-bincang sambil duduk ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengajak ibundanya untuk duduk mengobrol di kaputren.
"Baiklah putraku." Ratu Dewi Anindyaswari setuju, banyak hal yang ingin ia ceritakan pada anaknya.
"Jaya satria." Putri Andhini Andita mendekati jaya Satria, begitu juga dengan Raden Hadyan Hastanta dan Putri Agniasari Ariani.
"Gusti ratu memang orang yang baik. Pada siapapun, bahkan pada hamba yang hanyalah bawahan gusti prabu." Ia mengatakan kebahagiaan yang ada di hatinya saat ini.
"Ya, ibunda ratu dewi anindyaswari, memang baik pada siapa saja." Putri Andhini Andita tidak lagi curiga, karena memang benar apa yang dikatakan oleh jaya satria tentang Ratu Dewi Anindyaswari.
"Kalau begitu kita juga ikut bergabung." Raden Hadyan Hastanta memberi ide pada mereka.
"Ya, raka benar. Aku yakin ibunda sangat ingin berbincang-bincang dengan putra-putrinya." Putri Agniasari Ariani setuju dengan itu
"Sepertinya ada sesuatu yang harus hamba kerjakan. Maaf, hamba tidak bisa ikut." Jaya Satri hendak melangkah pergi meninggalkan mereka namun lengannya ditarik oleh putri Andhini Anditam
"Kau juga ikut bersama kami. Karena kau juga bagian dari keluarga ini." Putri Andhini Andita menarik lengan Jaya Satria, dan menggandeng erat mengikuti arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Ratu Dewi Anindyaswari.
"Tapi gusti putri" jaya Satri berusaha melepaskan diri, namun tetap ditahan oleh Putri Andhini Andita.
Sedangkan Putri Agniasari Ariani dan Raden Hadyan Hastanta hanya melihat tingkah putri Andhini Andita yang berusaha menarik perhatian dari Jaya Satria.
"Apakah hanya perasaanku saja, atau memang yunda andhini andita sedang ingin menarik hati jaya Satria." Entah mengapa dari tingkah lakunya memang begitu yang terlihat.
"Entahlah rayi. Kita lihat saja kedepannya." Raden Hadyan Hastanta tidak mengerti. Namun apakah ia akan rela adiknya bersama Jaya Satria, yang bahkan tidak pernah ia ketahui seperti apa wajahnya.
__ADS_1
Hanya satu yang pasti, Jaya Satria bukanlah orang yang jahat, dan dia orang kepercayaan prabu Asmalaraya Arya Dirja.
...***...
Kita tinggalkan mereka yang baru saja berkumpul, dan kita lihat kerajaan yang sedang mengincar kerajaan Suka Damai.
Hatinya saat ini sedang di penuhi kemarahan yang luar biasa. "Waktu itu aku menantang prabu kawiswara arya ragnala untuk bertarung dengannya." Ia masih ingat bagaimana kedatangannya yang mendadak ke istana itu, hingga terjadi pertarungan besar antara ia dan prabu Kawiswara Arya Ragnala.
"Aku memancingnya masuk ke istanaku, dan aku menjebaknya. Meskipun itu agak membutuhkan waktu yang lama. Karena ada seseorang yang bertopeng membantunya. Tapi orang bertopeng itu malah dicegah membantunya." Ia sangat ingat bagaimana saat itu.
"Jangan-jangan orang yang bertopeng itu adalah orang itu?." Ia menduga-duga. "Jika benar, aku sepertinya dalam masalah besar." Batinnya lagi.
"Ia pernah sempat bertarung dengan orang bertopeng itu. Kekuatannya sangat besar. Apalagi saat dia marah." Ia ingat ketika ia terkena jurus berbahaya dari prabu Kawiswara Arya Ragnala, ada seseorang yang menyerangnya.
"Aku ingin tahu, siapa orang itu sebenarnya." Rasa penasarannya keluar begitu saja, dan ia tidak tau caranya untuk melihat atau menerawang wajah asli orang itu.
"Bahkan nini kabut bidadari tidak bisa melihat, seperti apa orang itu sebenarnya." Ia juga heran. Orang berilmu tinggi seperti Nini Kabut Bidadari tidak bisa melakukannya.
"Kalau begitu aku pancing saja dia. Dan jika ia lengah, akan aku buka topeng itu." Ya, mungkin saja itu bisa, ia tidak tahu lagi caranya.
Namun apakah ia akan berhasil melakukannya?. Temuan jawabannya.
"Ayahanda." Putri Gempita Bhadrika datang menghampiri ayahandanya.
"Oh putriku." Ia melihat ke arah putrinya, dan mengernyit heran.
"Ada apa denganmu putriku?. Kenapa kau berpakaian seperti itu." Ia heran melihat penampilan anaknya, tidak menggambarkan seorang putri kerajaan sama sekali.
"Aku memiliki rencana yang bagus ayahanda. Aku yakin ayahanda akan setuju dengan apa yang akan aku rencanakan ini." Dengan raut wajah yang sumringahnya, ia berkata seperti itu, seakan-akan ayahandanya pasti akan menyetujui idenya ini.
"Katakan pada ayahanda, rencana apa yang akan kau lakukan?."
Ia begitu penasaran, apakah rencana itu akan membawa keuntungan atau tidak? temukan jawabannya.
...****...
Di Istana kerajaan Mekar Jaya.
"Aku sudah mendengar dengan kata hatiku. Sama seperti aku dan mendiang menantuku prabu kawiswara arya ragnala." Prabu Rahwana Bimantara saat ini sedang berbincang-bincang dengan anak dan cucunya.
"Nanda prabu asmalaraya arya ardhana, juga memiliki watak yang sama dengan ayahandanya. Harusnya kau juga memiliki watak yang sama dengan mendiang ayahandamu, raden ganendra garjitha." Kali ini matanya melihat ke arah Raden Ganendra Garjitha.
"Saat aku menduduki singgasana itu, aku mengetahui satu hal." Ia mengingat kembali kejadian itu.
"Saat itu hatiku dipenuhi ambisi-ambisi jahat yang menguasai pikiranku. Seharusnya seorang raja tidak boleh memiliki sifat seperti itu." Hatinya merasa sedih mengingat bagaimana ia saat itu.
Mereka hanya mendengarnya saja, tanpa membantahnya, karena hati mereka sedang menimbang apa yang akan mereka lakukan setelah ini.
"Rasanya aku sangat malu pada nanda prabu asmalaraya arya ardhana. Setelah apa yang aku lakukan padanya, namun ia masih menolongku. Membebaskan aku dari kurungan teluh itu, dengan wajah yang masih tersenyum padaku."
Ia menghela nafasnya, rasanya ia tidak bisa membalas kebaikan yang dilakukan prabu Asmalaraya Arya Ardhana, apalagi perlakukannya di istana kerajaan Suka Damai.
"Aku harap kalian memikirkannya kembali. Jika kalian mau berubah, aku akan mengangkat salah satu dari kalian sebagai prabu Anom. Raja yang akan menggantikan aku sementara waktu. Aku akan melakukan tapa Brata untuk menyucikan diriku yang sudah terlanjur kotor ini."
Ia hanya tidak ingin kerajaannya dipimpin oleh orang yang salah, ia mengerti mengapa Raden Cakara Casugraha bisa menjadi raja.
"Aku bukan bermaksud membandingkan kalian dengan prabu asmalaraya arya ardhana. Tapi aku sudah melihat langsung bagaimana wataknya, sikapnya, tutur dalam kata yang diucapkan."
Memang ia akui, bahwa ia sempat meragukannya, apalagi ia termakan oleh hasutan anak dan cucunya. Karena itulah hatinya bersedih setelah mengetahui bagaimana prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sebenarnya.
"Aku hanya berharap kalian mau berubah. Aku yakin kalian akan menjadi raja atau pemimpin yang baik. Pemimpin yang dicintai oleh rakyatnya."
Prabu Rahwana Bimantara berusaha menguatkan hatinya, ia merasa berdosa setelah pada kebaikan prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia tidak menyangka begitu baiknya hati sang prabu padanya, sama seperti mendiang menantunya prabu Kawiswara Arya Ragnala yang memperlakukannya seperti ayahandanya sendiri. Begitu juga dengan prabu Asmalaraya Arya Ardhana memperlakukannya seperti kakeknya sendiri.
Apakah yang akan ia lakukan?. Apakah ia akan melakukan tapa Brata untuk melunturkan dosa yang ia lakukan pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Prabu Rahwana Bimantara sedang mengalami kebimbangan hati.
Mohon dukungannya kakak.
...***...
__ADS_1