
...***...
Di ruang pribadi Raja.
"Akhir-akhir ini ada kejadian aneh, yang membuat hamba berpikir ada hubungannya, dengan apa yang dikatakan oleh kakek misterius itu." Jaya Satria berdiri di belakang sang Prabu.
"Aku sangat berharap, kau mampu mengatasi masalah di luar sana. sementara aku di sini, juga bisa mengatasinya." Wajahnya sang prabu terlihat cemas.
"Hamba akan selalu berusaha. Semoga Allah SWT, selalu melindungi hamba, dan meridhoi apa yang hamba lakukan." ia juga cemas.
"Roditubillahi robba wabil islami dina wabimuhammadin sallallahu a'laihiwasallama nabia."
Jaya Satria Satria dan prabu Asmalaraya Arya Ardhana membaca kalimat itu sebanyak tiga kali, berharap Allah SWT akan selalu diridhai oleh-Nya.
"Lalu bagaimana dengan mimpi gusti prabu, yang bertemu dengan eyang prabu?. Apa yang dikatakan oleh eyang prabu?."
"Aku hanya melihat wajahnya saja. Namun ketika aku ingin bertanya, ada cahaya yang terang menghalangi pandanganku sehingga aku terbangun."
"Jadi begitu?. Semoga saja ini pertanda baik. Selain gusti prabu kawiswara arya ragnala, semoga saja eyang prabu membantu kita, dalam menyelesaikan masalah yang akan menimpa kerajaan ini."
"Ya, semoga saja." Sang prabu mencoba untuk menekan perasaan yang sedang ia rasakan saat ini.
"Tapi ada satu hal yang membuat hamba gelisah, yaitunya yunda andhini andita, yang ingin menjalankan tugas bersama hamba." Ia menghela nafasnya dengan pelan.
"Aku sedikit khawatir padanya, tapi aku juga tidak bisa menolak permintaannya." Sang prabu juga berat untuk mengatakannya.
"Rasanya lebih berat menghadapi keinginan yunda andhini andita, dari pada hamba menghadapi masalah perampokan." Itulah yang ia rasakan, hingga ia hampir saja goyah karena Putri Andhini Andita.
"Hum, rasanya aku ingin tertawa. Namun disisi lain aku juga mengkhawatirkanmu. Aku juga sedang bimbang, apalagi yunda andhini andita tidak akan menyerah begitu saja. Jika ia sudah mempunyai keinginan." Rasa bimbang dan gelisah, juga heran, telah bercampur aduk saat ini.
"Karena itulah hamba tidak bisa berada di istana ini untuk sementara waktu. Hamba hanya akan datang pada gusti prabu, untuk melaporkan kejadian apa saja di luar istana. Maafkan hamba gusti prabu."
"Baiklah jika memang itu yang terjadi. Aku mengerti jaya satria. Tapi aku harap kau baik-baik saja di luar sana. Dan kau harus tetap jaga amarahmu." Itulah pesan sang prabu pada jaya satria. "Karena kita ini terhubung satu sama. Jika kau dalam bahaya, maka aku akan juga kena bahaya juga. Karena itulah jaya satria. Kau harus bisa menjaga tubuh itu dengan baik seperti apa yang dikatakan oleh ayahanda prabu." Sang prabu mengingatkan Jaya Satria agar lebih berhati-hati dalam bertindak.
"Hamba akan berusaha menjaganya dengan baik gusti prabu. Hamba akan terus mengingatkan apa yang dikatakan oleh ayahanda prabu." Jaya Satria tidak akan melupakannya.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin jaya satria. Semoga saja kau baik-baik saja berada di luar istana." Sang prabu sangat senang mendengarnya.
"Aamiin, semoga saja gusti." Jaya Satria juga berharap, ia mampu melakukannya dengan baik.
"Hamba pamit dulu gusti prabu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."
Jaya Satria meninggalkan tempat, ia akan kembali bertugas. Ia akan selalu menjadi bayangan sang prabu. Janjinya pada Prabu Kawiswara Arya Ragnala akan selalu ia tepati dengan baik.
...***...
Di Sebuah pondok kecil.
"Jadi kau adalah utusan dari ayahandaku untuk membantuku?." Putri Gempita Bhadrika yang saat ini sedang menyamar menjadi rakyat biasa. Wanita yang waktu itu ditolong oleh jaya Satria waktu itu.
"Betul tuan putri. Hamba adalah utusan prabu Wajendra Bhadrika" jawabnya dengan pasti.
"Jadi ayahanda sudah merencanakan sesuatu?." Ia nampak berpikir.
"Gusti prabu ingin aku membunuh orang bertopeng itu. Jika tuan putri sudah dekat dengan dia."
"Aku belum bertemu dengannya, tapi aku akan mengusahakannya."
"Kalau begitu, apa yang harus hamba lakukan tuan putri."
"Untuk sementara waktu kau kembali saja ke istana. Katakan pada ayahandaku, bahwa aku akan secepatnya menarik perhatian orang bertopeng itu. Sedangkan ayahanda bisa menjalankan rencana lainnya."
"Baiklah tuan putri. Akan hamba sampaikan pesan tuan putri pada gusti prabu." Raja Teluh dari negeri asap berkabut itu pergi meninggalkan tempat itu, ia kembali ke kerajaan Kegelapan.
"Jadi ayahanda benar-benar berencana untuk membunuh orang bertopeng itu?." Ia masih memikirkan apa yang dikatakan oleh utusan ayahandanya.
"Tujuanku juga ingin membunuh orang bertopeng itu. Karena mantram-mantram yang ia bacakan waktu itu membuatku kepanasan. Dan juga jurusnya itu, hampir saja membunuhku, karena aliran darahku terhenti karena jurus berbahaya miliknya." perasaan sakit hati yang ia rasakan waktu itu, membuat ia berpikir akan membalas langsung dendam pada orang bertopeng itu.
"Aku bersumpah!. Akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!." Itulah tekadnya yang saat ini sedang membara karena kemarahan. Ia tidak terima begitu saja dikalahkan oleh orang bertopeng itu.
Apakah ia akan berhasil melakukannya?. Temukan jawabannya.
...***...
Di istana kerajaan Suka Damai.
__ADS_1
"Apakah yunda sudah memutuskannya dengan baik?." Putri Agniasari Ariani mendekati kakaknya, yang sedang berbaring di tempat tidurnya dengan posisi menelungkup. "Jangan terburu-buru mengambil keputusan yunda." Ia tersenyum kecil sambil membelai rambut kakaknya itu.
"Mungkin jaya satria, sedang melakukan tugas penting dari rayi prabu."
"Tapi akhir-akhir ini, dia tidak lagi menemuiku di taman istana. Biasanya dia selalu menghampiriku jika aku duduk di sana." Wajahnya yang manyun saat ini terlihat lucu, dan menggemaskan. Membuat putri Agniasari Ariani tertawa kecil.
"Aku sangat kesal padanya. Dan dia tidak mau membantuku untuk berlatih ilmu kanuragan. Selain itu dia juga menolak untuk aku bantu, dalam melakukan tugas dari rayi prabu."
"Bersabarlah yunda. Aku yakin dia memiliki alasan."
"Unm." Ia semakin tidak enak hati karena itu, karena ia bukan tipe orang yang sabar.
"Mungkin jaya satria sedang menguji kesabaran yunda." Ucapnya putri Agniasari Ariani mencoba memikirkan alasannya.
"Benarkah?." Putri Andhini Andita bangun dan langsung duduk. Menatap adiknya yang sedang tersenyum padanya. "Tapi kenapa?. Kenapa dia menguji kesabaranku?."
"Yunda,,,, Menjadi seorang pendekar itu, bukan hanya sekedar melatih ilmu kanuragan saja yunda. Melainkan melatih kesabaran juga sangat penting."
"Kesabaran?." ia sedikit cemberut, karena ia memang tidak sabaran selama ini. Jadi itu adalah hal yang mustahil ia lakukan di dalam hidupnya.
"Mungkin jaya satria ingin melihat, seberapa sabarnya yunda menghadapi setiap masalah. Karena menjalani tugas sebagai seorang pendekar itu juga butuh kesabaran." putri Agniasari Ariani mencoba memberikan penjelasan pada kakaknya. "kesabaran mengambil keputusan saat bertindak misalnya. Jangan sampai salah bertindak. Jika salah-salah maka kita yang akan celaka." lanjutnya lagi dengan senyuman ramah.
"jadi begitu ya." Ia menyadari sikapnya yang satu itu, ia memang sulit untuk melakukan itu.
"jika yunda sudah menyadari salah satu alasan, mengapa jaya satria tidak mau mengajak yunda tugas di luar. Maka yunda berusahalah untuk mengubahnya dengan pelan-pelan."
"kau benar rayi. Aku akan mencobanya, walaupun terasa berat."
"Aku yakin yunda bisa melakukannya.''
"Terima kasih rayi. Kau memang adikku yang baik dan pengertian." Ia memeluk adiknya itu ddengan eratnya, sehingga muncul perasaan bersalahnya karena selama ini telah memusuhi adiknya.
"Sama-sama yunda. Aku senang berbicara seperti ini dengan yunda." Rasanya sagat bahagia setelah bertahun-tahun hidup bersama. Namun akhirnya bisa berbincang-bincang dengan baik seperti ini, tanpa adanya rasa curiga atau perasaan marah yang terdapat di hati mereka masing-masing.
Semoga saja hubungan mereka akan terus berjalan dengan baik sampai kapanpun.
...***...
Sementara itu disisi lain.
Raden Hadyan Hastanta saat ini sedang berada di kaputren, menemani kedua ibundanya yang sedang berusaha berbaikan.
"Benar yang dikatakan oleh nanda hadyan hastanta, yunda. Maafkan kesalahanku selama ini. Meskipun tuduhan itu sangat menyakitkan, aku akan terus menyimpan rasa sakit itu.''
"Ibunda." Raden Hadyan Hastanta menggenggam erat tangan ibundanya.
"Rayi prabu pernah mengatakan. Jika tuhan selalu memaafkan kesalahan hambanya. Baik itu tidak disengaja ataupun disengaja. Tuhan selalu mendengarkan kata permintaan maaf hambanya. Kenapa kita manusia yang banyak dosa ini, tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain?." Ia tersenyum lembut menatap ibundanya. Ia hanya tidak ingin ibundanya menyimpan dendam atau kemarahan pada Ratu Dewi Anindyaswari.
"Putraku." Ratu Gendhis Cendrawati dapat merasakan perubahan yang luar biasa dari putranya.
"Lagipula, tidak baik rasanya menyimpan dendam ibunda. Hidup kita tidak akan tenang, karena memikirkan kesalahan-kesalahan orang lain. Dendam hanya akan menimbulkan penyakit hati. Dimana duduk kita tidak pernah merasa tenang, karena kegelisahan yang terpendam di dalam hati." Lanjutnya lagi.
"Nanda hadyan hastanta memang telah berubah. Rasanya sangat senang melihat perubahan yang luar biasa ini." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari sangat bersyukur akan perubahan itu. Ia sangat tenang karena Raden Hadyan Hastanta dengan penuh kelembutan menjelaskan pada ibundanya.
"Bagi nanda, siapapun istri ayahanda. Nanda akan menghormatinya sebagai ibunda ananda." Kali ini ia menatap Ratu Dewi Anindyaswari dengan senyuman ramah.
"Ayahanda prabu tidak mungkin salah memilih seorang wanita. Jadi tidak ada alasan lagi bagi ananda untuk membencinya." Dulu memang ia akui, bahwa kebencian itu lahir dari hatinya, kerana pengaruh dari ibundanya yang selalu mengatakan hal-hal buruk kepadanya tentang Ratu Dewi Anindyaswari.
"Begitu juga dengan pemilihan raja di kerajaan ini." Ingatannya kembali pada hari itu. "Ananda rasa sudah tepat, alasan mengapa rayi prabu menjadi raja." Lanjut Raden Hadyan Hastanta dengan senyuman tulus.
"Ibunda. Nanda mohon, agar ibunda tidak lagi memikirkan alasan-alasan, atau penyebab yang telah terjadi pada ibunda ratu dewi anindyaswari, rayi prabu dan rayi agniasari Ariani." Ia sangat memohon pada ibundanya.
"Kita ini satu keluarga. Nanda yakin, ayahanda akan menangis di alam sana. Jika keluarga yang ayahanda tinggalkan, saling membenci dan saling bermusuhan hingga menimbulkan perang." Hatinya sagat sedih stelah mengingat bagaimana perang itu terjadi kerena ingin merebut tahta.
"Oh putraku. Maafkan ibunda nak." Ratu Gendhis Cendrawati menangis, ia merasa sedih karena anaknya lebih berpikir baik dari pada dirinya.
"Ibunda." Raden Hadyan Hastanta memeluk ibundanya dengan erat. Ia bersyukur jika apa yang ia sampaikan bisa menyentuh hati ibundanya.
Sedangkan Ratu Dewi Anindyaswari memperhatikan itu, ia dapat merasakan perasaan haru.
"Maafkan aku rayi dewi anindyaswari. Aku selama ini telah berbuat salah padamu." Setelah ia melepaskan pelukannya, ia menatap malu pada Ratu Dewi Anindyaswari. "Aku yang selama ini dengan mudahnya dihasut, oleh yunda ardiningrum bintari. Rasanya sangat malu padamu rayi dewi." Lanjutnya lagi dengan hati yang sedih.
"Tidak apa-apa yunda. Aku telah lama memaafkanmu. Aku hanya berharap tidak ada dendam diantara kita lagi yunda."
Ratu Gendhis Cendrawati semakin menangis karena ucapan itu. rasa bersalah semakin besar menyelimuti hatinya.
"Ibunda." Raden Hadyan Hastanta mencoba menenangkan ibundanya.
__ADS_1
"Kau memang sangat baik rayi. Aku semakin merasa berdosa, mengingat apa yang telah aku lakukan padamu selama ini." Ia mencoba mendekati Ratu Dewi Anindyaswari, ia meminta maaf padanya.
"Sudahlah yunda. Masa lalu biarlah berlalu. Aku juga mungkin membuat yunda marah selama ini."
Hari itu Raden hadyan Hastanta berhasil membuat kedua ratu kerajaan Suka Damai berbaikan lagi. Rasanya sangat bahagia yang luar biasa karena itu. Apakah ia akan terus merasakan kebahagiaan itu?. Temukan jawabannya.
...***...
Kita tinggalkan dulu mereka yang berada di istana, mari kita lihat Jaya Satria.
Saat ia sedang berada di kawasan hutan yang tak jauh dari pemukiman penduduk desa, sayup-sayup ia mendengar suara teriakan seseorang.
"Astagfirullah hal'azim ya Allah." Ia sangat cemas mendengar suara teriakan itu.
"Dari mana arah suara itu berasal?." Ia mencoba mencari arah suara itu dengan memfokuskan pendengarannya. "Arah itu berasal dari sana." Ia dapat menangkapnya. Ia harus segera ke sana melihat apa yang terjadi. Namun ketika ia hendak melompat, tiba-tiba ada seseorang yang menotok tubuhnya dari arah belakang, hingga ia tidak bisa bergerak.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Matanya terbelalak terkejut, karena tubuhnya tidak bisa digerakkan. Ia sangat panik sekali. Apalagi ketika orang itu membuatnya pingsan, dan membawanya entah kemana.
Siapakah yang membawa jaya Satria?. temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu di istana.
"Astaghfirullah hal'azim, nanda prabu." Syekh Asmawan Mulia langsung menangkap tubuh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang tiba-tiba limbung.
"Nanda prabu." Ia berusaha untuk membangunkannya, namun tidak ada respon dari sang prabu.
Di saat yang bersamaan, putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani kebetulan ingin bertemu dengan sang prabu.
"Astaghfirullah hal'azim, rayi prabu." putri Agniasari Ariani terkejut melihat adiknya yang digendong oleh syekh Asmawan Mulia.
"Rayi prabu. Rayi prabu!. Apa yang terjadi padanya syekh." putri Andhini Andita terlihat panik.
"Maafkan hamba gusti putri. Hamba tidak tahu apa yang terjadi pada nanda prabu. Tiba-tiba nanda prabu pingsan saat kami sedang berbincang-bincang tadi."
"Kalau begitu bawa rayi prabu ke biliknya. Periksa keadaannya syekh. Aku takut terjadi sesuatu padanya." Putri Andhini Andita mencoba untuk menekan perasaan cemasnya.
"Sandika gusti putri."
Mereka semua menuju bilik prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Begitu sampai di kamar sang Prabu.
"Periksa keadaannya syekh." Putri Andhini Andita sangat khawatir, hingga tanpa sadar ia menangis.
"Hamba akan mencobanya gusti putri." Syekh Asmawan Mulia memeriksa keadaan sang prabu, ia menyentuh tangannya.
"Putraku. Apa yang terjadi pada putrakum"
Tiba-tiba ratu Dewi Anindyaswari masuk bersama ratu Gendhis Cendrawati, dan Raden Hadyan Hastanta yang mendengar kabar tentang sang prabu.
"Ibunda. Biarkan syekh Asmawan Mulia memeriksa keadaan rayi prabu."
Putri Agniasari Ariani menarik pelan ibundanya, ia tau bagaimana rasa cemas yang dirasakan oleh ibundanya
"Putraku." Rasanya sangat sedih, sedih melihat anaknya yang tidak sadarkan diri.
"Ibunda." Putri Andhini Andita mendekati ibundanya, dan Kakaknya.
"Putriku." Ratu Gendhis Cendrawati menyambut putrinya, ia melihat anaknya menangis?.
"Rayi prabu. Apa yang terjadi pada rayi prabu?." Raden Hadyan Hastanta juga cemas.
"Tidak tahu raka. Syekh asmawan mulia berkata, jika rayi prabu tiba-tiba tidak sadarkan diri, saat ia sedang berbincang-bincang dengannya." Ia berusaha menahan tangisnya, ia takut terjadi sesuatu pada adiknya.
"Sama seperti waktu itu. Tapi kali ini apa penyebabnya." Dalam hati Hadyan Hastanta bertanya-tanya.
"Bagaimana keadaan putraku syekh?." Ratu Dewi Anindyaswari tidak kuasa menahan kecemasannya.
"Mohon ampun gusti ratu." syekh Asmawan Mulia memberi hormat pada Ratu Dewi Anindyaswari. "Saat hamba memeriksa nanda prabu, ia seperti keadaan tertotok. Hingga ia tidak sadarkan diri dan pingsan."
Penjelasan itu membuat mereka semua terkejut. Bagaimana bisa keadaan sang prabu seperti itu?.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, putraku." Ratu Dewi Anindyaswari langsung mendekati anaknya. Perasaan cemas menyelimuti hatinya.
"Rayi prabu." putri Andhini Andita langsung mendekati adiknya,
Apa yang terjadi sebenarnya?. Apa penyebabnya?. Bisakah sang prabu diselamatkan?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...