RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PERASAAN KUAT


__ADS_3

...***...


Raden Cakara Casugraha menghela nafasnya dengan pelan. Risih juga lama-lama ditatap seperti itu oleh seorang Raja.


"Mohon ampun gusti prabu. Jika hamba bersikap kurang ajar terhadap putri gusti prabu." Raden Cakara Casugraha memberi hormat pada Prabu Mahardika Bandana. "Sebenarnya hamba hanyalah seorang pengembara. Kebetulan lewat, dan tidak sengaja melihat putri gusti dianiaya oleh pemuda yang mengaku menjadi kekasihnya." Lanjutnya lagi. Ia tidak mau terjadi kesalahpahaman antara dirinya dengan sang Prabu.


"Mari duduk. Aku ingin mendengarkan ceritamu." Prabu Mahardika Bandana penasaran dengan cerita Raden Cakara Casugraha.


Saat mereka duduk di Pandopo. "Ceritakan padaku. Bagaimana bisa kau membawa putriku sampai ke istana ini?. Ceritakan dari awal kau melihat apa yang terjadi. Katakan padaku semuanya." Prabu Mahardika Bandana ingin mengetahui semuanya.


Raden Cakara Casugraha lagi-lagi menghela nafasnya. Sepertinya Raja yang duduk di hadapannya saat ini sangat tidak sabaran.


"Seperti yang hamba katakan. Hamba hanyalah seorang pengembara yang kebetulan lewat." Raden Cakara Casugraha menjelaskan siapa dirinya. "Kebetulan hamba melewati sebuah tempat, yang mereka sebut sebagai padang bunga petik setangkai." Jika ia tidak salah ingat. "Hamba tidak tertarik dengan acara yang seperti itu. Karena itulah hamba memilih untuk pergi dari sana." Lanjutnya lagi. "Namun siapa sangka. Hamba melihat seorang pemuda dengan teganya menganiaya seorang wanita. Hati hamba merasa panas melihat perlakuan kasarnya pada seorang wanita." Raden Cakara Casugraha melanjutkan ceritanya.


"Siapa sangka, wanita itu adalah putri gusti prabu." Ia hampir tidak percaya. "Ketika emban itu mengajaknya pulang, ia tidak mau. Makanya saya menggendongnya. Meskipun tadi hamba sempat mengancamnya. Maafkan kelancangan hamba gusti prabu." Raden Cakara Casugraha memberi hormat pada Prabu Mahardika Bandana.


"Jadi begitu yang terjadi." Prabu Mahardika Bandana menyimak cerita itu dengan baik.


"Maaf jika hamba lancang, gusti prabu." Raden Cakara Casugraha agak ragu. "Katakan. Apa yang yang kau ingin tanyakan." Sang Prabu melihat gelagat Raden Cakara Casugraha yang dipenuhi oleh tanda tanya.


"Hamba melihat ada aneh dengan mata gusti putri. Seperti mengalami kebutaan." Agak ragu ia mengatakan apa yang ia lihat tadi.


Prabu Mahardika Bandana terlihat menghela nafasnya. Ada kesedihan diraut wajahnya itu. "Kebutaan yang dialami oleh putriku tanjung raya. Itu karena ku sendiri." Jawabnya dengan berat hati.


"Apa maksud gusti prabu?." Raden Cakara Casugraha sedikit heran.


Lagi-lagi Prabu Mahardika Bandana menghela nafasnya. "Kekasihnya itu benar-benar lelaki biadab. Aku sudah tidak tahan lagi dengan perlakuannya." Jawab sang Prabu dengan perasaan marah. "Namun hatiku lebih sedih lagi. Karena dengan tangan ini. Aku telah membuat mata putriku buta. Putriku melindungi lelaki biadab itu." Perasaan sang Prabu bercampur aduk, saat menceritakan apa yang telah ia lakukan pada putrinya.

__ADS_1


"Rasa cintanya terlalu besar. Sehingga ia masih mau menemui lelaki itu dalam keadaan buta. Aku sungguh tidak mengerti anak muda." Prabu Mahardika Bandana tidak mengerti. Mengapa anaknya sampai seperti itu karena percintaan?.


"Lalu apa yang akan gusti prabu lakukan pada pemuda itu?." Raden Cakara Casugraha penasaran dengan tindakan sang Prabu.


"Aku akan menangkap pemuda itu. Akan aku hukum gantung dia. Karena dia telah berani bersikap kurang ajar pada Putri seorang raja." Dengan perasaan marah. Sang Prabu berkata seperti itu.


"Kalau begitu. Izinkan hamba untuk menangkapnya gusti prabu. Hamba sangat mengutuk perbuatannya yang tidak menghargai perasaan seorang wanita." Raden Cakara Casugraha menawarkan diri untuk meringkus pemuda itu.


"Mohon bantuannya tuan pendekar. Aku akan mengangkat engkau sebagai senopati agung istana, jika kau berhasil menangkapnya." Prabu Mahardika Bandana sangat berharap banyak pada Raden Cakara Casugraha.


"Sandika gusti prabu." Raden Cakara Casugraha menerima tawaran itu?. Apakah benar ia akan menerima jabatan itu jika ia berhasil menangkapnya?.


***


Raden Cakara Casugraha mulai bergerak. Karena sudah malam, ia mencari penginapan untuk bermalam. Namun siapa sangka, saat ia singgah di kedai makan. Ia melihat beberapa orang pemuda yang sedang asyik berbincang-bincang. Mereka bahkan sesekali tertawa karena cerita yang menurut mereka itu layak untuk dijadikan bahan tertawaan.


"Tidak salah lagi. Dia itu benar-benar kumbang serakah."


Mereka lagi-lagi tertawa dengan keras. Hingga kedai itu dipenuhi oleh tawa mereka saja. Tanpa melihat di sekitarnya, ada yang terganggu karena tawa mereka.


"Kita lihat saja besok. Tapi aku yakin sibedebah itu pasti akan ikut." Mereka terus bercerita. Sedangkan Raden Cakara Casugraha hanya menyimak apa yang mereka bicarakan. Mungkin ia dapat informasi penting mengenai keberadaan pemuda itu.


...***...


Hingga keesokan harinya.


Di Padang petik bunga setangkai. Mereka yang semua menyaksikan seorang pemuda yang sedang menganiaya seorang wanita yang sudah lemah tak berdaya. Mereka semua merasa bersimpati padanya. Namun tidak ada satupun dari mereka yang berniat membantunya?.

__ADS_1


"Akh." Wanita itu meringis kesakitan. Tubuhnya benar-benar dihajar habis-habisan oleh pemuda itu.


"Gusti putri." Seorang wanita tua masuk ke arena itu. "Oh gusti putri." Wanita itu menangis karena melihat keadaan putri Tanjung Raya yang sudah tidak berdaya.


"Kenapa gusti putri masih mau menemui lelaki biadab itu." Wanita tua itu tidak kuasa menahan tangisnya.


"Berani kau perempuan tua!." Pemuda itu sangat marah. Ia hendak menyerang wanita tua itu. Namun tangannya ditendang oleh seseorang dari arah samping. Tentunya ia terkejut karena mendapatkan serangan dadakan itu.


"Lagi-lagi kau!." Pemuda itu terlihat sangat marah. Ia masih ingat dengan wajah orang yang telah berani ikut campur dengan urusannya.


Raden Cakara Casugraha mendekati wanita tua itu. "Mengapa ia bisa berada di sini emban. Apakah gusti prabu mengetahui jika putrinya ada di sini?." Hatinya sangat cemas melihat keadaan Putri Tanjung Raya yang terluka parah.


"Tidak tuan. Gusti prabu tidak mengetahuinya sama sekali." Wanita tua itu menangis. Ia sangat sedih karena memang itu kenyataannya.


"Fhuuuh." Raden Cakara Casugraha menghela nafasnya dengan panjangnya. Ia tidak habis pikir dengan cara berpikir tuan putri satu ini. Namun ia dikejutkan oleh suara pemuda yang sempat ia abaikan.


"Hei!." Teriak pemuda itu dengan suara yang sangat kerasnya. Sehingga Raden Cakara Casugraha melihat ke arahnya. "Bagaimana jika kita mengadakan sebuah permainan yang menarik?." Ucapnya tanpa adanya perasaan bersalah sedikitpun.


"Emban. Jagalah gusti putri untuk sementara waktu. Akan aku hajar lelaki biadab itu." Raden Cakara Casugraha berkata pada wanita tua itu.


"Baik tuan. Saya mohon, segera kembali untuk menolong gusti putri." Wanita tua itu sangat berharap, jika Raden Cakara Casugraha akan segera membantunya.


"Tenanglah. Ini tidak akan lama." Ucapnya sambil menepuk pelan pundak wanita tua itu agar bersabar, karena ia akan segera menyelesaikan masalah yang sedang terjadi.


Raden Cakara Casugraha menghampiri pemuda itu. "Berani sekali kau berkata permainan padaku setelah apa yang telah kau lakukan pada gusti putri tanjung raya." Raden Cakara Casugraha terlihat marah.


Apa yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2