RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PERTARUNGAN DI ISTANA KERAJAAN MEKAR JAYA


__ADS_3

...***...


Begitu sampai di gerbang Istana, Putri Ambarsari dan Raden Hadyan Hastanta sangat terkejut, karena melihat kondisi prajurit Istana yang banyak menjadi korban akibat diserang oleh banyak pendekar?.


"Hentikan!. Apa yang telah kalian lakukan pada mereka?. Mengapa kalian para pendekar malah menyerang istana ini?."


"Aku yang memerintahkan mereka untuk melakukan itu semua. Memangnya kau mau apa hah?."


"Raka ganendra garjitha?."


"Ibunda ratu ardiningrum bintari?."


Putri Ambarsari dan Raden Hadyan Hastanta tidak menyangka akan melihat siapa yang memerintahkan para pendekar itu menyerang Istana Kerajaan Mekar Jaya.


"Apa yang telah kalian lakukan?. Apakah kalian tidak bisa bersimpati pada kakek prabu yang saat ini sedang sakit?."


"Hadyan hastanta. Aku tidak menduga kau ada di sini. Apakah kau dimintai tolong ambarsari untuk berperang melawan kami?."


"Aku tidak perlu dimintai tolong ganendra garjitha. Aku pasti akan membantu yundaku, aku pasti akan menyelamatkan yundaku dari orang biadab seperti kau!."


Raden Ganendra Garjitha malah tertawa mendengarnya, seakan apa yang dikatakan itu adalah Raden Hadyan Hastanta.


"Terserah!. Terserah kau mau berkata apa mengenai diriku!. Namun yang pasti adalah, aku berhasil menguasai istana ini."


"Bfuh."


"Apa yang kau tertawakan hadyan hastanta!."


"Rayi hadyan hastanta tertawa?." Dalam hati Putri Ambarsari sedikit heran mengapa adiknya itu tertawa?.


"Kau ini adalah manusia paling menyedihkan ganendra garjitha. Penuh hayalan yang sangat tidak wajar. Aku rasa otakmu yang setengah itu sudah tidak waras lagi."


"Hadyan hastanta!. Berani sekali kau menghina anakku!." Ratu Ardiningrum Bintari sangat murka mendengarkan ucapan itu. "Nanda prabu, bunuh dia yang telah berani menghina nanda prabu." Hatinya tidak terima, merasa sakit hati yang luar biasa mendengarkan perkataan itu.


"Tentu saja ibunda. Perintah ibunda adalah keinginanku." Ia juga marah, karena ucapan itu sangat merendahkan dirinya. "Berani sekali kau berkata seperti itu hadyan hastanta. Akan aku pastikan kalau kau akan mati hari ini juga!." Begitu juga dengan Raden Ganendra Garjitha. "Kalian semua, serang dua orang tidak berguna itu." Perintah Raden Ganendra Garjitha pada para pendekar yang dari tadi telah siap dengan perintahnya.


"Berhati-hatilah yunda. Sepertinya mereka bukan orang sembarangan."


"Ya, rayi juga berhati-hatilah. Saya akan terus bersama rayi, kita akan menghadapi mereka semua."


"Baiklah yunda. Aku akan selalu bersama yunda."


Keduanya telah berjanji akan saling melindungi. Akan tetapi sepertinya keduanya dalam bahaya, karena ada sekitar sepuluh orang pendekar golongan hitam berwajah sangar ikut dalam penyerangan itu.

__ADS_1


Lima melawan Raden Hadyan Hastanta, dan lima lagi melawan Putri Ambarsari. Mereka harus berhati-hati, jika mereka masih ingin selamat. Pertarungan itu sangat tidak adil, tapi keduanya berusaha sekuat tenaga untuk menghadang mereka semua.


"Mari ibunda. Mari kita masuk ke dalam istana."


"Mari nak."


Raden Ganendra Garjitha mempersilahkan ibundanya memasuki istana. Mereka tidak peduli dengan pertarungan itu. Yang pasti, mereka bisa masuk ke dalam istana tanpa adanya hambatan yang berarti.


...***...


Sementara itu, di dalam istana.


Brak!.


Pintu bilik itu digebrak dengan kuat, membuat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang mengobati Prabu Rahwana Bimantara terkejut.


"Oh, rupanya kau di sini cakara casugraha."


"Raka gentala giandra?."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Jaya Satria yang terhubung dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga terkejut melihat itu. 


"Cucu durhaka seperti kau, mau apa lagi kau ke sini dengan membawa pendekar golongan hitam."


"Astaghfirullah hal'azim, raka gentala giandra."


"Kau memang cucu durhaka!. Aku kutuk kau dalam lubang kehancuran!."


Kemarahan Prabu Rahwana Bimantara sudah mencapai puncaknya. Ia tidak habis pikir dengan perilaku cucunya itu. Mengapa mereka sangat ingin menguasai istana ini?.


"Raka gentala giandra. Apakah raka tidak malu dengan apa yang raka lakukan?. Apakah raka tidak bisa melihat bagaimana keadaan kakek prabu saat ini?."


"Gusti prabu hamba mohon jaga kakek prabu dengan baik." Jaya Satria yang berada di istana Kerajaan Suka Damai merasakan ada hawa tidak baik yang akan terjadi.


"Tentu saja aku aku akan melindungi kakek prabu, jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga merasa gelisah karena ada tiga orang pendekar golongan hitam yang mengiringi Raden Gentala Giandra.


"Kau tidak perlu ikut campur cakara casugraha. Ini bukan wilayah kekuasaanmu. Jadi kau segera menyingkir, karena aku tidak punya urusan denganmu. Jadi kembalilah kau suka damai!."


"Tentu saja aku memiliki urusan denganmu gentala giandra. Kau adalah penghianat dari dua kerajaan. Jadi aku tidak akan membiarkan kau melakukan kejahatan di istana ini. Kau akan mendapatkan hukuman, atas apa yang telah kau lakukan!."


"Diam kau cakara casugraha!. Rupanya kau ingin mati!." Raden Gentala Giandra memberi kode pada ketiga pendekar itu, untuk menyerang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Terpaksa Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghindari, meladani serangan ketiganya.

__ADS_1


"Nanda prabu!." Prabu Rahwana Bimantara sangat mengkhawatirkan keselamatan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Kami akan menguasai istana ini. Istana ini sudah kami kepung semua penjuru kakek tua. Meskipun dibantu oleh cakara casugraha, tapi itu tidak akan cukup." Matanya melirik ke arah Prabu Asmalaraya Arya yang sedang bertarung dengan ketiga pendekar itu.


"Kau sungguh memalukan gentala giandra. Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan keinginan busukmu itu."


Raden Gentala Giandra malah tertawa terbahak-bahak. Rasanya ada sesuatu yang menggelitiknya, sehingga ia tidak dapat menyembunyikan tawanya.


"Terserah kau mau berbicara apa kakek tua!. Istana ini akan menjadi milik kami setelah ini kami akan menguasai kerajaan suka damai."


"Kau benar-benar tidak tahu diuntung!." Prabu Rahwana Bimantara yang masih dalam keadaan sakit, ia mencoba menyerang Raden Gentala Giandra. Hatinya benar-benar terasa sakit mendengarkan rencana busuknya.


...***...


Kembali ke pertarungan Raden Hadyan Hastanta dan Putri Ambarsari yang melawan para pendekar golongan hitam. Keduanya sedang terdesak, karena jumlah yang tidak seimbang.


"Kegh."


"Yunda, bertahanlah yunda. Kita harus menghadapi mereka."


"Rayi benar. Tapi kita tidak mungkin menghadapi mereka semuanya. Tenaga kita bisa terkuras habis rayi."


"Kalau begitu kita gunakan pedang panggilan jiwa yunda. Kita harus mengusir mereka semua dari istana ini. Karena kita harus membantu rayi prabu juga di dalam."


"Ya, saya setuju. Mari kita lakukan bersama rayi."


Putri Ambarsari dan Raden Hadyan Hastanta mengatur tenaga dalam mereka dengan baik, setelah itu mereka berusaha mengeluarkan pedang panggilan jiwa dari tubuh mereka.


"Apa yang ingin mereka lakukan kakang."


"Tidak tahu adi. Kita lihat saja, apa yang akan mereka lakukan."


"Tapi kita harus segera meringkus mereka, supaya pekerjaan kita cepat selesai."


"Itu benar. Kita tidak perlu menunggu mereka mau berbuat apa."


"Mari kita akhiri pertarungan ini."


Mereka semua setuju menyerang Raden Hadyan Hastanta dan Putri Ambarsari. Karena mereka sudah muak terlalu lama bermain dengan bocah.


Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya. Salam cinta untuk pembaca tercinta.


...***...

__ADS_1


__ADS_2