RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PERLAWANAN TERAKHIR


__ADS_3

...***...


Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih berusaha untuk menekan kekuatan jin dengan kekuatan mereka. Akan tetapi jin itu masih saja melakukan perlawanan.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Berikanlah hamba kekuatan untuk memusnahkannya ya Allah." Jaya Satria tak habis pikir bagaimana caranya menekan kekuatan jin itu.


Dalam keadaan kacau itu, mereka semua menyaksikannya. Jaya Satria menggunakan jurus meringankan tubuh, tubuh keduanya melayang di udara. Terus menekan kekuatan jin yang berusaha lepas dari jurus cakar naga cakar petir.


"Kita tidak bisa mendekat. Sayang sekali, petir dan api ini sangat panas." Prabu Lingga Dewa tidak mengerti bagaimana mungkin raja muda itu memiliki jurus yang sangat berbahaya itu?.


"Apakah kita sama sekali tidak bisa membantu gusti prabu asmalaraya arya ardhana ayahanda?." Raden Jatiya Dewa ingin sekali membantu, akan tetapi, kilat dan api itu seakan menghalangi mereka untuk mendekat lebih jauh lagi.


"Kita hanya bisa melihat saja apa yang akan mereka lakukan." Prabu Lingga Dewa juga tidak tahu harus berbuat apa dalam keadaan seperti ini. Ia tidak bisa membantu sama sekali dengan keadaan yang mengerikan.


"Kegh." Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meringis sakit. Perlahan-lahan ada darah segar yang meleleh dari sudut bibir mereka. Hawa jin yang akan mereka segel ternyata sangat kuat. Bahkan gabungan jurus cakar naga cakar petir dan Keris pusaka kembar keris naga penyegel sukma tidak berpengaruh sama sekali padanya.


*Gunakanlah pedang sukma naga pembelah bumi, serta cambuk sakti dewi yang ada di dalam tubuhmu cucuku. Semoga dengan itu kau bisa menghancurkannya cucuku.* Suara itu, suara yang berasal dari kakek tua yang menjaga sumber mata air dewa.


"Terima kasih eyang. Terima kasih atas izin Allah SWT, melalui eyang. Mudah-mudahan kami bisa menghancurkan jin ini eyang." Jaya Satria sangat bersyukur kepada Allah SWT.


"Mari kita lakukan bersama-sama jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menekan kuat keris kembar yang ada di tangannya. Ia mengatur tenaga dalamnya, supaya lebih stabil lagi.


Jaya Satria melakukan hal yang sama, ia menekan kuat keris itu agar gerakan Jin itu masih tertahan oleh keris itu. Ia juga mengatur hawa murninya, agar lebih stabil dari yang sebelumnya.

__ADS_1


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengeluarkan cambuk Sakti Dewi. Sedangkan Jaya Satria mengeluarkan Pedang Sukma Naga Pembelah Bumi.


"Demi Dewata yang agung. Aku baru kali ini melihat ada raja yang memiliki banyak benda pusaka di dalam tubuhnya." Prabu Lingga Dewa sangat tercengang dengan apa yang terjadi di depan matanya.


"Bagaimana mungkin ia bisa menggunakan banyak benda pusaka dalam waktu yang bersamaan seperti itu?." Raden Jatiya Dewa juga terkesan dengan kesaktian yang dimiliki Jaya Satria.


"Sungguh luar biasa sekali dia." Raden Antajaya Dewa bahkan juga terkesan dengan kemampuan yang dimiliki Jaya Satria.


Namun mereka semua terpaksa semakin mundur, saat mereka mendengarkan suara takbir yang saling bersahutan antara Jaya Satria dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"hghaa!. Kurang ajar!. Bagaimana mungkin kalian bisa mengalahkan aku!. Sakit!. Ampun!. Jangan cambuk aku!." Jin itu merintih sakit, saat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana melecut kan cambuk Sakti Dewi ke arah tubuh Jin itu. Sehingga terdengar suara menggelar minta ampun. Namun yang herannya, ketiga sukma naga itu masih saja melilit kuat tubuh Jin itu. Mereka sama sekali tidak merasa terganggu dengan lecutan cambuk itu. Malahan jin itu yang semakin berteriak kesakitan.


"Lahaula wala quata illabillahil ayil'azim. Allahuakbar!." Jaya Satria melompat lebih tinggi lagi ke arah jin yang tingginya kira-kira 10 meter itu. Ayunan pedang Sukma Naga Pembelah Bumi telah membelah tubuh Jin itu. Dengan diiringi suara teriakan yang keras, jin itu telah berhasil dimusnahkan untuk selamanya.


"Baiklah jaya satria. Aku pamit dulu, assamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."


Sukma Prabu Asmalaraya Arya Ardhana seakan menghilang dan masuk ke dalam tubuh Jaya Satria. Sehingga tidak menimbulkan rasa curiga bagi mereka yang segera mendekati Jaya Satria.


"Uhuk." Jaya Satria terbatuk. Dadanya terasa sangat sakit setelah menggunakan dua, ah tidak. Setelah menggunakan empat senjata pusaka disaat yang bersamaan.


"gusti prabu." Mereka semua sangat khawatir dengan keadaan Jaya Satria yang terbatuk. Apalagi saat melihat darah yang menempel di tangan Jaya Satria setelah ia terbatuk tadi.

__ADS_1


"Gusti prabu. Mari kita obati dulu luka gusti prabu. Jangan menahan sakitnya gusti prabu."


"Benar gusti prabu. Pasti tenaga dalam gusti prabu telah terkuras banyak setelah melawan jin tadi."


"Mari gusti prabu. Saya antarkan ke ruang pengobatan."


Mereka semua begitu perhatian pada Jaya Satria yang saat ini mengalami luka dalam akibat menyegel jin jahat. Namun Jaya Satria menolak kebaikan mereka semua. "Maaf semuanya. Masih ada yang harus diselesaikan di dalam. Jadi maafkan aku tidak bisa menuruti apa yang kalian katakan padaku saat ini." Mata Jaya Satria menatap ruangan yang terbuka lebar. Ia melangkahkan kakinya menuju ke dalam ruangan itu.


"Ayahanda prabu." Prabu Lingga Dewa teringat dengan ayahandanya Prabu Maharaja Dewa Negara yang kini terbaring di ruangan itu. Ia melangkahkan kakinya untuk mengikuti Jaya Satria yang terlebih dahulu memasuki ruangan itu.


"Eyang prabu." Raden Jatiya Dewa dan Raden Antajaya Dewa juga ingat dengan keadaan kakek Prabu mereka yang saat ini sedang sakit parah. Sudah cukup lama sakitnya, sejak Prabu Lingga Dewa naik tahta.


Jaya Satria melihat seorang laki-laki tua yang sedang terbaring di sebuah tempat tidur. Ia menyeka darah yang masih menempel di sudut bibirnya. Dan ia mencoba mendekati dengan cara duduk di pinggir dipan itu.


"Oh ayahanda prabu. Sungguh malang sekali nasib penderitaan yang ayahanda alami." Prabu Lingga Dewa menangis sedih melihat keadaan ayahandanya yang sama sekali tidak baik-baik saja.


Mereka semua yang berada di dalam ruangan itu merasa simpati yang luar biasa melihat keadaan kurus kering Prabu Maharaja Dewa Negara.


Jaya Satria mengangkat kedua tangganya. Memohon ampunan kepada Allah SWT. "Ya Allah. Sesungguhnya kami hanyalah manusia biasa yang banyak dosa. Maka dari itu ampunilah kami ya Allah. Jauhkanlah kami dari rasa sakit yang diakibatkan kejahatan jin yang menyesatkan. Hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan." Jaya Satria menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Prabu Maharaja Dewa Negara yang saat ini masih terbaring tak sadarkan diri, namun hawa hitam masih menyelimuti tubuhnya.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah Prabu Maharaja Dewa Negara bisa diselamatkan?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya. Like, komen, dan tambah favoritnya. Agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya. Salam cinta penuh membara dari Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


...***...

__ADS_1


__ADS_2