RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
PEMBUKTIAN


__ADS_3

...***...


Keesokan harinya. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana telah ditunggu oleh mereka semua. Keluarga besar Istana hadir dalam pertemuan pagi itu. Mereka semua masih penasaran mengapa Raden Cakara Casugraha menggunakan dua raga?. Apa yang membuat putra bungsu dari mendiang Gusti Prabu Kawiswara Arya Ragnala sampai menggunakan dua raga?.


"Silahkan duduk semuanya." Dengan senyuman ramah ia mempersilahkan mereka semua untuk duduk. "Saya telah mendengarkan apa yang menjadi perdebatan para sepuh, senopati, patih, serta penggawa istana lainnya." Dengan tenang ia menatap mereka semua. "Baik, akan saya jelaskan mengapa saya menggunakan raga kedua saya untuk memegang tahta. Dan mengapa selama ini, raga asli saya bersembunyi dibalik topeng dengan nama jaya satria."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengatur tenaga dalamnya, setelah itu ia melakukan belah raga. Keduanya sangat berbeda, satunya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan satunya lagi adalah Jaya Satria?. Jaya Satria melepaskan topeng penutup wajahnya, membuat mereka semua terkejut dan tidak percaya sama sekali. Mereka seperti bermimpi saat melihat kedua raga itu memiliki wajah yang sangat mirip sekali.


"Maafkan hamba, jika lancang gusti prabu. Apakah ada yang bisa gusti prabu jelaskan?."


"Kami hanya tidak ingin menimbulkan fitnah nanda prabu. Manusia boleh memiliki kepala yang sama hitamnya, namun pikiran mereka siapa yang tahu bukan?."


"Baiklah sepuh. Sebelumnya saya minta maaf, jika saya merahasiakan ini. Namun ini semua karena permintaan dari ayahanda prabu." Jaya Satria yang berbicara. "Namun bukan berarti kami menjadikan ayahanda prabu sebagai alasan kami untuk melakukan ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga ikut membantu menjelaskan.


"Hal yang perlu kalian ketahui adalah, nama jaya satria itu adalah nama pemberian dari ayahanda prabu. Sesuai arti namanya, ayahanda selalu berharap pada saya agar membawa kejayaan pada kerajaan ini, meskipun saya bersembunyi dibalik topeng ini." Jaya Satria mengangkat topeng itu, dan menunjukkan pada mereka semua. "Serta topeng ini diberikan oleh ayahanda prabu, bahkan jauh ketika saya sebelum menjadi raja. Saat saya mengembara, topeng ini telah diberikan oleh ayahanda pada saya. Bukan untuk menutupi identitas siapa saya, melainkan untuk menutupi atau membatasi kekuatan jahat kutukan yang saya terima sejak saya masih bayi." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria mencoba untuk menjelaskan pada mereka semua.


Mereka semua menyimak apa yang dikatakan oleh Jaya Satria, atau yang aslinya adalah Raden Cakara Casugraha. Begitu juga dengan Nini Cahaya Mutiara yang masih berada di sana.


"Jauh sebelum saya menjadi raja, saya membantu ayahanda dari luar untuk menjaga keamanan desa-desa yang jauh dari pantauan istana. Dan saya tidak perlu menyebutkan masalah apa saja yang dikeluhkan oleh ayahanda prabu pada saat itu." Lanjutnya lagi. "Nama gelar asmalaraya arya ardhana, bukan semata-mata saya dapatkan hanya karena menjadi anak yang baik setelah masuk islam. Setelah masuk islam, saya membutuhkan waktu untuk memperbaiki diri. Melihat sekeliling, bahkan saya mengembara sampai ke kerajaan setapak dewa, kerjaan jala besi, kerajaan muara karang, dan kerajaan lainnya."


"Maaf jika kami meragukan gusti prabu. Kami hanya bertanya mengapa tidak menggunakan raga pertama. Maaf jika kami menyinggung perasaan nanda prabu."


"Seperi yang saya katakan. Ini semua adalah permintaan dari mendiang ayahanda prabu. Namun jika para sepuh masih ragu, bahwa saya tidak ada masalah dengan raga pertama." Jaya Satria menatap mereka semua. "Alasan lain saya menggunakan dua raga adalah, jika saya pergi dari istana ini. Atau ada hal yang mendesak yang harus saya hadiri. Jika raga asli saya yang pergi, maka raga kedua saya masih bisa menjaga istana ini, supaya tidak dikuasai oleh orang lain. Hanya karena mereka mengetahui jika saya tidak berada di salam istana." Jaya Satria menjelaskan alasan itu pada mereka semua.


"Putraku. Semoga Allah SWT selalu melindungi mu nak." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari berdua untuk anaknya.


Sementara itu Jaya Satria dengan langkah yang mantap, ia menduduki singgasana itu, dan tak lupa kata yang baik ia ucapkan dalam hatinya. "Bismillahirrahmanirrahim." Dalam hatinya mengiringi apa yang ia lakukan itu adalah hal yang baik.


Mereka semua menjadi saksi apa yang dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha. Ketika ia menduduki singgasana itu, mereka semua melihat ada perubahan yang terjadi. Mereka tidak menyangka, jika Raden Cakara Casugraha berubah seperti Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Pakaian yang sama persis, dan itu memang Raja yang asli, karena memiliki aura yang sangat berbeda.


"Sembah hormat kami gusti prabu asmalaraya arya ardhana." Mereka spontan memberi hormat pada sang Prabu. Sementara itu keluarga sang prabu hanya menyaksikan itu.


"Duduklah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mempersilahkan mereka semua untuk duduk kembali.

__ADS_1


Mereka semua sekarang telah percaya, memang tidak ada masalah dengan raga pertama Raden Cakara Casugraha. Mereka juga melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menganggukkan kepala pada raga keduanya untuk masuk ke dalam tubuhnya. Mereka kembali menyatukan raga, menjadi satu raga.


"Saya harap, setelah ini tidak akan ada lagi permasalahan yang dapat membuat kita berpecah belah." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap mereka semua. "Saya hanya berharap, semuanya akan kembali berjalan seperti biasa." Lanjut Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Sandika gusti prabu." Mereka kembali memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Pada pertemuan itu, mereka semua telah percaya, jika Raden Cakara Casugraha memang pantas menjadi Raja di Kerajaan Suka Damai.


...***...


Sementara itu, Nini Cahaya Mutiara izin pamit. Karena ia ingin kembali pada kedua orang tuanya di padepokan melati putih. Karena sebentar lagi mau memasuki bulan suci ramadhan, makanya ia kembali ke rumahnya untuk menyambung kembali cinta suci mereka.


"Maaf jika hamba tidak bisa bersama dalam waktu dekat ini gusti prabu. Jika memang berjodoh, hamba akan benar-benar menyerahkan hidup hamba untuk mengabdi pada gusti prabu beserta keluarga." Nini Cahaya Mutiara tidak ingin memaksakan diri hanya untuk mendapatkan cinta dari seorang raja muda. Apalagi dengan adanya pertentangan, suasana hatinya merasa sangat tidak enak.


"Semoga Allah meridhoi apa yang nini lakukan. Semoga Allah SWT melindungi nini selama diperjalanan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. "Maaf jika aku tidak bisa mengantar nini ke padepokan melati putih.


"Berhati-hatilah nini selama diperjalanan. Kami hanya memiliki sedikit perbekalan." Ratu Dewi Anindyaswari memberikan buntalan perbekalan pada Nini Cahaya Mutiara.


"Terima kasih atas kebaikan gusti ratu. Semoga puasa tahun ini kita mendapatkan kemudahan."


"Kalau begitu hamba pamit dulu. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."


"Sampurasun."


"Rampes."


Nini Cahaya Mutiara meninggalkan kerajaan Suka Damai, karena ia hanya tidak ingin menimbulkan perselisihan. Ia dapat menangkap ada api cemburu, dan ia tidak mau terjebak dalam api itu. Meskipun ia tidak menyangka, jika Putri Andhini Andita dan Jaya Satria adalah saudara kandung beda ibu. Mungkin cinta itu ada pada siapa saja, hanya saja ia tidak pernah menduga, jika cinta itu datang pada dua saudara beda ibu.


...***...


Disisi lain, ada rombongan yang menuju istana kerajaan Suka Damai. Siapakah rombongan itu?. Apakah yang mereka inginkan di kerajaan Suka Damai?.

__ADS_1


"Apakah masih jauh paman?." Salah satu dari mereka bertanya karena merasakan jenuh luar biasa.


"Tidak raden, sebentar lagi juga akan sampai." Sebagai orang yang yang menentukan jalan, ia sangat yakin. Ia tidak akan melakukan kesalahan.


"Kalau begitu agak cepat sedikit." Perintah dari wanita itu.


"Baik gusti ayu." Balasnya dengan senyuman ramah luar biasa.


Kusir penarik bedati itu mengangguk mengerti, karena memang sebentar lagi mereka akan sampai. Mereka telah memasuki kerajaan Suka Damai, hanya saja belum memasuki kota raja.


"Apakah ini akan baik-baik saja raden?." Wanita itu merasa waspada saat keadaan dalam seperti ini.


"Nimas tidak perlu khawatir, karena ini adalah kunjungan pertama kita ke kerajaan ini, aku yakin mereka adalah orang yang baik." pemuda itu meyakinkan dirinya, bahwa ia tidak akan merinrah.


"Semoga saja seperti itu raden."


Singkatnya mereka telah memasuki kota raja, dan telah sampai di gerbang kerajaan Suka Damai. Namun mereka belum bisa masuk, karena prajurit istana ingin mengetahui alasan mereka datang ke sini.


"Maaf tuan, dari manakah tuan berasal?. Ada keperluan apa tuan ingin memasuki istana ini?."


"Maaf tuan prajurit. Saya hanya membawa dua orang yang sangat penting. Beliau ingin bertemu dengan raja agung kerajaan suka damai."


"Memangnya mereka siapa?."


"Raden dari kerajaan matalaga, juga kerajaan tapak agung."


"Baiklah, tapi kami akan melapor ke dalam dulu. Apakah gusti prabu mengizinkan masuk atau tidak."


"Baiklah. Kalau begitu saya harap tidak terlalu lama."


"Tentu."


Siapakah kedua orang tersebut?. Dari kerajaan mana?. Mereka ingin mengetahuinya. Bagaimana kelanjutan?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


Selamat menunaikan ibadah puasa. Semangat pagi, dan pagi-pagi harus semangat.


...***...


__ADS_2