RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
DENGARKAN AKU, WAHAI INSAN


__ADS_3

...***...


Perlahan-lahan matanya mulai mengedip, ingin membuka. Karena merasa terlalu lama tertidur. Dengan kesadaran yang berusaha ia ambil kembali, ia membuka matanya dengan pelan. Apalagi kepalanya yang terasa sangat sakit.


"Kegh." Ia meringis sakit, karena seluruh tubuhnya yang sulit untuk digerakkan. Kaku, dan semakin sakit jika semakin digerakkan.


"Kau jangan banyak bergerak dulu. Luka yang kau alami sangat parah." Suara seorang wanita begitu ramah, dan terdengar mengkhawatirkan dirinya. "Tenanglah. Kau aman di sini." Lanjutnya lagi.


Sedangkan pemuda yang terluka itu tak lain adalah Raden Kencana Prabakara. Ternyata ia diselamatkan oleh prajurit dari, dan membawanya ke sebuah istana. Matanya melirik ke arah seorang putri yang terlihat sangat cantik menurutnya saat ini. "Kau tenang saja. Kau telah ditolong oleh tabib istana. Jadi tubuhmu saat ini butuh istirahat yang sangat cukup."


"Aa-." Sepertinya Raden Kencana Prabakara sulit untuk berbicara, karena pita suaranya yang sangat bermasalah.


"Kau mengalami luka yang sangat parah. Tubuhmu hampir terbakar hangus seperti Sambaran petir yang sangat dahsyat." Ia merasa miris, saat pertama kali melihat tubuh itu dibawa ke istana.


Sedangkan Raden Kencana Prabakara teringat dengan apa yang terjadi pada hari itu. Dimana ia berhadapan dengan seorang pendekar bertopeng yang memiliki tenaga dalam yang luar biasa hebatnya.


"Karena itulah kau harus banyak beristirahat, agar bisa memulihkan seluruh tenaga dalammu." Dengan senyuman yang sangat ramah, ia berkata lembut pada Raden Kencana Prabakara.


"Sial!. Suatu hari nanti, jika keadaanku sudah membaik. Akan aku cari dia, dan akan aku bunuh dia." Hatinya kembali memanas, mengingat apa yang telah terjadi padanya.


Satu dua hari telah berlalu, Putri Suliswati Suri Bulan dengan sabarnya merawat, dan menjaga Raden Kencana Prabakara. Tujuh hari, hingga empat belas hari, keadaanya sudah terlihat membaik dari yang sebelumnya. Raden Kencana Prabakara sudah bisa berjalan dengan baik, dan bahkan bisa berbicara seperti sedia kala.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin, keadaanmu sudah membaik." Putri Suliswati Suri Bulan sangat senang melihat perkembangan yang dialami oleh Raden Kencana Prabakara.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin nimas. Keadaan ku sudah lebih baik dari yang sebelumnya." Raden Kencana Prabakara sangat senang. Ia tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagia yang ia rasakan saat ini. Apalagi hatinya tertuju pada wanita yang telah mencuri hatinya. Siapa lagi kalau bukan pada Putri Suliswati Suri Bulan.


Begitu juga dengan putri cantik yang telah jatuh hati pada Raden Kencana Prabakara. Perasaan cinta yang tumbuh begitu cepat diantara keduanya. Membuat hari mereka merasa lebih baik lagi.

__ADS_1


Dan hari itu mereka pergi jalan-jalan berdua di Padang ilalang untuk melihat pemandangan di sana. Namun siapa sangka mereka malah bertemu dengan seseorang yang mengenakan topeng.


"Kau!. Bukankah kau adalah orang yang waktu itu berhadapan denganku?." Perasaan itu kembali bergejolak. Dan kemarahan masih menyelimuti dirinya.


"Alhamdulillah kau masih selamat dari jurus cakar naga cakar petir. Jika orang biasa sudah tewas karena tidak kuasa menahan sengatan petir."


"Diam kau!. Tidak ada yang patut disyukuri dari kejadian mengerikan itu." Amarahnya membuncah dan hampir saja meledak.


"Apakah raden mengenali orang bertopeng itu?."


"Aku sempat bergaung dengannya. Aku tidak menyangka jika dia masih hidup setelah menerima tusukan panah tiga dewa milikku."


"Jadi dia yang telah berbuat jahat pada raden?." Perasaan gelisah menyelimuti dirinya. Mengapa orang bertopeng itu menyerang Raden Kencana Prabakara?. Apa kesalahan yang ia miliki?.


"Ho, sepertinya kau memiliki seseorang yang mencemaskan kedaanmu. Sangat malang sekali dia."


"Tutup mulutmu orang bertopeng!. Kau akan aku bunuh jika kau berani berkata yang tidak-tidak!."


"Jadi kau memang menyukai wanita itu?. Maka berubah lah, sebelum kau mendapatkan karma atas apa yang telah kau lakukan."


"Apa maksud dari ucapan itu?. Kau mencoba ingin menasihatiku?." Raden Kencana Prabakara mencoba untuk menyerang Jaya Satria, namun berhasil dihindari. Pertarungan yang sangat menguras tenaga dalamnya.


Sedangkan Putri Suliswati Suri Bulan mencoba untuk bersikap tenang, menyimak apa yang kedua orang itu lakukan.


"Aku hanya dimintai tolong oleh seorang ayah, yang menginginkan kepulangan anaknya. Sehingga ia membuat sayembara. Barang siapa yang bisa membawa anaknya kembali, akan diberi hadiah." Jaya Satria menjelaskan mengapa ia menemui Raden Kencana Prabakara. "Apakah kau tidak dapat merasakan bagaimana kesedihan yang dirasakan oleh seorang ayah ketiak berpisah dari anaknya?." Jaya Satria selalu memperhatikan bagaimana ayahandanya prabu Kawiswara Arya Ragnala yang menangis ketika mencium dirinya saat kembali ke istana.


"Aku sudah muak dengan ceramah yang keluar dari mulut busuk mu itu!."

__ADS_1


"Dengarkan apa yang aku katakan padamu." Jaya Satria terlihat sangat marah yang luar biasa. "Kau akan menjadi anak durhaka. Sebagai seorang muslim kau harusnya mengetahui dosa apa yang akan kau terima, jika kau berani melawan pada orang tua."


Keduanya menyimak apa yang dikatakan Jaya Satria pada keduanya. Dan memang benar apa yang dikatakan oleh Jaya Satria.


"Kembali lah kau ke istana mu, dan perbaiki kesalahan yang telah kau lakukan."


"Tapi aku berencana ingin membawa nimas suliswati ke istana."


"Sebaiknya kau perbaiki diri dulu. Apakah kau masih marah saat diberi nasihat oleh siapa saja. Apakah kau tidak akan khilaf, jika istrimu nanti menasihati dirimu, kau malah marah-marah. Sebaiknya kau perbaiki semua, dan kau bisa meniatkan untuk siapa kau berubah."


"Raden. Sebaiknya raden dengarkan apa yang dikatakan oleh orang bertopeng itu." Senyuman itu begitu tulus, membuat Raden Kencana Prabakara tidak dapat lagi melawan, ataupun mencari alasan untuk bergerak, atau membantahnya.


"Apakah aku boleh mengetahui namamu?. Akan aku ingat, siapa yang telah merubah jalan pasangan ku."


"Namaku jaya satria. Cepat temui lah ayahanda mu yang saat ini menunggu di istana. Kembalilah, aku akan mengawalmu."


"Apakah raden akan pergi?." Terlihat dengan jelas, bagaimana khawatir, dan cemas yang ia rasakan saat ini. Karena ia akan berpisah dari orang yang ia cintai.


"Setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Tuan putri tenang saja. Percaya saja, jika raden kencana prabaswara akan kembali pada tuan putri. Setelah ia berhasil memperbaiki dirinya."


"Apakah itu benar raden?."


"Aku janji padamu nimas. Semoga saja aku bisa berubah ke arah yang lebih baik lagi."


"Aku akan menunggu raden, jika raden telah berjanji akan kembali ke sini."


"Semoga saja nimas. Maaf aku tidak bisa mengantarkan nimas ke gerbang istana."

__ADS_1


"Tidak apa-apa raden. Semoga saja Allah SWT mengabulkan apa yang kita harapkan." Itulah harapan mereka semua. Apakah yang akan terjadi?. Baca terus ceritanya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.


...***...


__ADS_2