
...***...
Di Istana Kerajaan Mekar Jaya. Putri Ambarsari telah disetujui menjadi Ratu di Kerajaan Mekar Jaya. Dua besok akan diadakan pangangkatannya, meskipun tidak memiliki nama gelar seperti di kerajaan Suka Damai. Saat ini ia ditemani kedua adiknya yang masih setia bersamanya.
"Selain pengangkatan ratu, mereka juga telah menetapkan hukuman mati untuk ibunda ratu, raka ganendra garjitha, juga raka gentala giandra. Saya tidak bisa menolaknya rayi prabu."
"Itu tergantung yunda. Sebagai ratu, yunda harus mengambil keputusan yang tepat, disertai dengan alasan yang kuat tentunya."
"Benar yang dikatakan oleh rayi prabu. Jika yunda bisa meyakinkan mereka. Maka yunda bisa memberi hukuman buang pada mereka. Dengan alasan mungkin bisa merubah sikap. Alasan itu bisa yunda berikan pada mereka semua.
"Kalau itu saya agak ragu rayi. Sebab sudah dua kali mereka melakukan kesalahan yang sangat besar rayi." Putri Ambarsari menghela nafasnya yang terasa sangat berat. "Ketika mereka menyerang kakek prabu, mereka melakukan kekejaman pada rakyat, dan yang kedua mereka lakukan lebih parah lagi rayi. Mereka malah membunuh kakek prabu." Hatinya sangat sakit mengingat kejadian itu. "Jika kita mereka memberikan kesempatan lagi, suatu hari nanti saya yakin mereka akan kembali datang. Entah siapa lagi yang akan mereka bunuh. Dan yang paling saya takutkan adalah mereka mencelakaimu rayi prabu."
"Yunda harus banyak bersabar. Jika memang yunda menerima keputusan, maka yunda akan kehilangan ketiganya sekaligus. Yunda harus berlapang dada untuk menerima apa yang telah diputuskan oleh dewan istana."
"Pikirkanlah baik-baik yunda. Manusia pernah melakukan kejahatan, dan bisa jadi ibunda, juga raka bisa merubah pikiran mereka selama di pulau buangan."
Putri Ambarsari kembali menghela nafasnya. "Sejujurnya saya sangat takut kehilangan ibunda, serta raka. Namun keadilan tetap harus ditegakkan rayi. Siapa saja yang berbuat salah, memang harus dihukum. Keputusan dewan istana tidak salah, tetapi mereka yang memang berbuat salah, sehingga mereka mendapatkan hukuman itu rayi."
"Jika itu memang keputusan dari yunda. Aku tidak bisa mencegahnya. Namun satu hal yang harus yunda ketahui, yunda tidak boleh menyesali apa yang telah yunda putuskan hari ini. Berjanjilah yunda."
"Benar yunda. Sebaiknya yunda tidak terlalu memaksakan diri. Kami akan selalu ada bersama yunda. Jadi yunda tidak perlu khawatir atau merasa sendirian."
"Terima kasih banyak rayi prabu, rayi hadyan hastanta." Putri Ambarsari tersenyum kecil. "Jika tidak ada rayi berdua, mungkin saya tidak akan bisa berdiri hari ini, mungkin saya juga tiada karena rencana jahat dari mereka." Hatinya kembali merasa sedih. "Saya sangat heran dengan ibunda, juga raka. Mengapa mereka sama sekali sulit untuk diajak pada kebaikan?." Tatapan mata itu mengandung kesedihan yang luar biasa. "Padahal kita dulu juga sama-sama jahat pada rayi prabu, rayi agniasari ariani, juga ibunda. Tapi mengapa mereka tidak bisa diberi masukan rayi hadyan hastanta. Sebenarnya apa yang salah pada mereka rayi prabu?."
"Hati, yang salah itu hati, serta pikiran mereka yunda. Pada dasarnya hati manusia itu baik. Namun pikiran mereka yang tidak baik."
"Pikiran?."
__ADS_1
"Ya. Pikiran kita yang selalu memikirkan hal-hal yang buruk terhadap orang lain, sehingga menimbulkan titik noda hitam dihati kita, maka akan menjadi jahat dan sulit untuk diberi nasehat yunda."
"Lalu apa yang harus kita lakukan rayi?."
"Apa yang harus kita lakukan rayi prabu?. Katakan pada saya, apakah ada cara lain untuk menyembuhkan hati serta pikiran mereka rayi prabu?."
"Setiap ada penyakit, tentunya ada obatnya yunda, raka. Datang dari Allah, tentunya akan kembali pada Allah SWT." Jawabnya. "Kita harus me-rukiyah ibunda ratu, raka ganendra garjitah, serta raka gentala giandra."
"Rukiyah?." Putri Ambarsari dan Raden Hadyan Hastanta bertanya secara bersamaan.
"Mengobati mereka secara agama Islam. Mungkin mereka selama ini terpengaruhi oleh keinginan-keinginan yang tidak biasa, sehingga aura negatif mempengaruhi pikiran mereka yunda."
"Lalu apa yang akan terjadi jika mereka berhasil dirukiyahkan rayi prabu?."
"Katakan pada kami rayi prabu."
"Semoga saja Allah SWT, memberikan izin untuk kesembuhan mereka. Dan setelah itu tergantung keputusan yunda sendiri, apakah mereka akan tetap menjalani hukuman mati atau hukuman buangan."
"Bagaimanapun juga, mereka adalah keluarga kita yunda. Jangan sampai mereka mati dalam keadaan kafir, tidak menyembah Allah SWT. Azab Allah SWT itu sangat pedih yunda."
"Tapi bagaimana caranya saya menjelaskan pada dewan istana, jika saya mengatakan seperti itu rayi prabu?."
"Sebaiknya kita mencobanya yunda. Mungkin saja mereka mau menerima saran dari kita semua, terutama dari rayi prabu."
"Aku akan membantu yunda menjelaskan pada mereka semua. Yunda jangan khawatir, kami akan selalu bersama yunda."
"Baiklah kalau begitu rayi. Akan saya coba melakukan apa yang rayi katakan. Semoga saja mereka mau menerima apa yang kita sarankan."
__ADS_1
"Semoga saja yunda. Semoga Allah SWT meridhoi apa yang ingin yunda lakukan."
"Semoga saja rayi."
Mereka sangat berharap, jika keinginan mereka sesuai dengan harapan. Karena manusia bisa melakukan kesalahan bukan?. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu, di Istana Kerajaan Suka Damai.
"Jadi nanda benar-benar terhubung dengan nanda prabu?. Apakah nanda prabu melihat jika nanda bersama ibunda?."
"Benar ibunda. Akan tetapi, gusti prabu saat ini sedang mengurus masalah yang sangat serius ibunda ratu."
"Benarkah itu nak?. Maafkan ibunda mengganggu rakamu nak."
"Tidak apa-apa ibunda. Itu yang dikatakan oleh gusti prabu. Nanda akan selalu bersama ibunda. Doakan masalah di kerajaan mekar jaya cepat selesai. Nanda sangat merindukan ibunda. Begitu yang disampaikan oleh gusti prabu pada ibunda."
"Tentu saja nak, tentu saja ibunda akan selalu mendoakan yang terbaik buat nanda. Ibunda juga sangat merindukan nanda prabu." Ratu Dewi Anindyaswari hampir saja menangis. Ia hanya berbicara dengan anaknya, melalui Jaya Satria yang bisa terhubung langsung dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.
"Ibunda sangat mencintai nanda berdua. Karena itulah nanda harus kuat, karena selama ini nanda telah berjuang demi ibunda. Saatnya ibunda membalas kebaikan nanda berdua." Ratu Dewi Anindyaswari mengelus puncak kepala anaknya dengan sayang, dan tak lupa kecupan penuh cinta mendarat manis di puncak kepala anaknya.
"Nanda adalah permata hati ibunda. Karena itulah, jika ada masalah apapun, nanda katakan saja ibunda. Semoga ibunda bisa membantu nanda sebisa, dan semampu ibunda."
"Terima kasih ibunda. Namun doa ibunda adalah hal yang paling nanda harapkan. Sealin itu, nanda selalu berharap ibunda selalu tersenyum bahagia."
"Tentu saja ibunda tersenyum bahagia nak. Karena nanda selalu ada untuk ibunda." Ratu Dewi Anindyaswari selalu mengingat, bagaimana anaknya yang selalu melindungi dirinya ketika ia mau dijahati oleh Ratu Ardiningrum Bintari, juga Ratu Gendhis Cendrawati.
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa vote n komentar agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya 😘.
***