
* * *
Pertarungan antara Jaya Satria dengan kelompok sengkar iblis masih berlanjut, meskipun dikeroyok bukan berarti Jaya Satria mundur.
Malahan dengan kemarahan yang sedang menguasai dirinya, membuat mereka kewalahan menghadapinya. Serangan-serangan yang mereka lakukan seakan tidak berarti sama sekali.
Jaya Satria berhasil memukul mundur mereka satu persatu?. Sebenarnya aura kemarahan itu aura kemarahan apa?.
"Ukhuk."
Narumi Putih terbatuk darah, karena menerima beberapa pukulan serta hantaman di tubuhnya. ia tidak dapat menahan serangan, dari jurus Jaya Satria yang sangat mematikan.
"Nimas."
Raksa Bumi terkejut melihat Narumi Putih terluka, akibat serangan dari orang misterius itu. Ia segera menolong Narumi Putih dari pada wanita itu mati ditangan orang itu.
"Bedebah!. Dia memang benar-benar kuat." Ki Dharma Seta tidak menyangka, jika ia akan kewalahan menghadapi Jaya Satria?.
"Kalian!. hadapi dia!. Sementara aku akan menyiapkan jurus andalanku." perintah Ki Dharma Seta dengan suara keras. Ia harus menghadapi orang misterius itu, dengan jurus telapak dewa kematian. Ya, ia akan mencoba menggunakan jurus itu, untuk menghabisi nyawa Jaya Satria.
"Baiklah Ki."
Semara Layana dan Raksa Bumi mengerti. Namun keadaan Narumi Putih tidak mungkin bisa menghadapi Jaya Satria. Sehingga mereka terpaksa melawan orang bertopeng itu, tanpa temannya.
"Heh!. Kalian pikir, kalian bisa mengalahkan aku?." Jaya Satria begitu merendahkan mereka semua.
"Siap-siap saja, kalian akan aku ringkus!. Setelah itu, akan aku hukum kalian, dengan hukuman yang berat." Jaya Satria yang masih diselimuti amarah, masih bertahan, kekuatan aneh telah merasuki tubuhnya.
Senyumnya yang menyeringai membuat bulu kuduk merinding melihat betapa garangnya ia saat ini karena amarahnya yang sudah tidak terkendali lagi.
"Jangan sombong dulu kau!. Siburuk rupa yang bersembunyi dibalik topeng." Semara Layana sungguh tidak suka, dengan apa yang dikatakan Jaya Satria, ia merasa tersinggung.
"Kami lah yang akan meringkusmu terlebih dahulu!."
Raksa Bumi sangat marah, karena Jaya Satria melukai kekasihnya Narumi Putih. Karena itulah ia harus membalaskan, apa yang telah dilakukan oleh Jaya Satri. Dan ia tidak akan melepaskan orang itu dalam keadaan hidup.
"Tidak usah banyak bicara kalian!. Maju saja, dan buktikan ilmu kanuragan yang kalian miliki."
Sepertinya tidak ada kesabaran dalam dirinya. Kemarahan telah mengendalikan dirinya yang tadinya masih mengingat Allah SWT. Sekarang kesabaran itu seakan telah sirna dari dirinya.
Disatu sisi, sepertinya Ki Dharma Seta telah selesai dengan jurusnya. Ia hanya menunggu Jaya Satria lengah, setelah itu ia akan menghajarnya.
Benar saja, saat Jaya Satria sedang fokus menghadapi kedua anak buahnya. Ki Dharma Seta menyerang Jaya Satria dengan pukulan telapak tangan dewa kematian.
Jaya Satria yang tidak menyadari serangan itu, berteriak kesakitan karena dari empat arah, tangan raksasa mengapit tubuhnya.
"Eqhaaaaak." Jaya Satria berteriak keras, rasanya tubuhnya sangat sakit.
Seperti biasanya, Sang prabu juga merasakan sakit yang sama. Namun saat ini ia tidak berada di istana, ia sedang berada di sebuah tempat.
"Eghaaak." Sang prabu juga berteriak kesakitan, sungguh. Tubuhnya sulit untuk digerakkan.
"Ya Allah. Berikanlah hamba kekuatan, untuk melangkah. Hamba ingin menyelamatkan jaya satria ya Allah." Hatinya sangat sedih, karena tubuhnya yang sakit, membuatnya sulit untuk bergerak.
Sementara itu. Jaya Satria merasakan kesakitan yang luar biasa. Ia tidak bisa menahan rasa sakit itu.
Sedangkan Ki Dharma Seta dan anak buahnya tertawa keras melihat itu, mereka senang karena berhasil mengalahkan orang misterius itu.
Di saat yang bersamaan, Ki Dharma Seta dan anak buahnya mendapatkan serangan dari arah yang tidak mereka duga, mereka terjajar menjauhi Jaya Satria.
Mereka melihat ada sosok hitam yang tidak mereka ketahui telah menyelamatkan Jaya Satria, membawanya dari sana.
"Bedebah, siapa lagi orang itu!."
Ki Dharma Seta merasa kesal, ia harusnya bisa membunuh orang misterius itu. Tetapi ada sosok lain, yang mencoba menyelamatkan orang itu?
Ketika Ki Dharma Seta menerawang dengan mata batinnya, lagi dan lagi ia tidak bisa mendeteksi keberadaan orang itu.
"Kurang ajar!. Siapa lagi orang misterius itu?."
Ki Dharma Seta marah, ia tidak menyangka jika penerawangannya tidak bisa menemukan keberadaan kedua orang itu?. Ajian halimun apa yang mereka gunakan, sehingga mata batinnya tidak bisa mendeteksi keberadaan mereka?.
"Setidaknya, kita tau dimana keberadaan mayang sari. Aku akan meminta bantuan nini kabut bidadari, untuk memasuki daerah hutan belati raga."
Ya, ia rasa cukup pertarungannya hari ini. Ia akan segera membebaskan anak buahnya itu.
"Dan kalian!. Segera kembali, pulihkan tenaga dalam kalian, agar bisa ke sana besok."
Ki Dharma Seta memberi perintah kepada anak buahnya.
"Baiklah ki."
Balas mereka bertiga dengan patuhnya. Mereka segera meninggalkan tempat itu, untuk melakukan persiapan besok, Yaitunya ke hutan belati raga.
...***...
__ADS_1
Sementara itu.
Orang yang membawa Jaya Satria tadi tak lain adalah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. ia berhasil menyelamatkan Jaya Satria dari pukulan mematikan milik Ki Dharma Seta.
Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sama-sama terbatuk, keringat membasahi kening mereka. Bukan hanya itu saja, mereka sama-sama mengalami luka.
"Kau baik-baik saja jaya satria?. tenangkan dulu amarahmu."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menenangkan Jaya Satria, yang masih dipengaruhi oleh aura kemarahannya.
Jaya Satria duduk bersila, mereka saling berhadapan. Jaya Satria mencoba memusatkan pikirannya, dan ia mengatur hawa murninya. Tak lupa ia mengucapkan kalimat takbir, tahmid, dan tahlil agar bisa mengendalikan dirinya.
Setelah agak tenang, ia membuka matanya perlahan. Tanpa sadar ia menitikkan air mata kesedihan. Tentunya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasakannya, merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Jaya Satria.
"Hamba memang sangat tidak berguna, gusti prabu. Hamba telah membuat gusti prabu juga ikut terluka. Sungguh, maafkan hamba."
Hatinya sedih, sesak, melihat kondisi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang pucat pasi. Tidak ada tenaga sedikitpun atau aura wibawa, dari seorang raja kecuali wajah lesu menahan sakit.
"Kau tidak perlu berkata seperti itu. Ayahanda pernah mengatakannya. Jadi kau tidak perlu bersedih atau merasa menyesal."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk tidak membuat Jaya Satria merasa sedih. Semua ini adalah ujian bagi dirinya, juga Jaya Satria.
"Lalu bagaimana setelah ini?. Mereka telah mengetahui, dimana keberadaan temannya." Ada bentuk penyesalan di dalam dirinya.
"Mereka juga mengetahui siapa aku, bahkan kelompok sengkar iblis mengetahui dimana ia menyembunyikan salah satu anggota kelompok sengkar iblis." Lanjutnya lagi.
"kalau begitu. Aku segera ke sana untuk sementara waktu." Ucap sang Prabu. "Sementara itu, kau pulihkan tenaga dalammu. Agar bisa bertarung dengan mereka nantinya."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana telah memutuskan akan membasmi kelompok sengkar iblis, ia tidak akan membiarkan kejahatan mengintai kerajaan yang ia pimpin sekarang.
"Sandika gusti prabu. Jika itu yang gusti prabu inginkan. Hamba akan melakukannya, sesuai dengan perintah gusti prabu."
Jaya Satri setuju dengan apa yang dilakukan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, ia juga tidak akan membiarkan para perusuh membuat keonaran di wilayah kerajaan Suka Damai.
"Kalau begitu, aku akan segera kembali ke istana. Aku takut, ibunda akan mencemaskan keadaanku."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ingat, bahwa ia tadi berpesan pada prajurit untuk melarang siapapun juga untuk mendekati ruang pribadinya.
"Kalau begitu, berhati-hatilah gusti prabu saat pulang. Hamba akan segera ke hutan taring belati raga."
Jaya Satria hanya menganggukkan kepalanya, ia mengerti apa yang dicemaskan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Setelah itu mereka pergi dengan menggunakan ilmu Kanuragan. Mereka menuju tempat mereka masing-masing.
...****...
Di kamar Raden Ganendra Garjitha.
"Akhir-akhir ini, rayi prabu sering berada di ruang pribadinya. Sebenarnya apa yang ia lakukan"
Raden Ganendra Garjitha sedikit penasaran, mengapa adiknya sering berada di ruang pribadi raja?. Rasa penasaran telah menggelitik hatinya, sama seperti ayahandanya dulu yang sering menghabiskan waktu di ruang pribadinya. Tetapi pekerjaan istana tetap berjalan dengan baik dan lancar.
"Entahlah raka. Aku juga tidak tahu, aku juga heran. Apakah setiap raja melakukan hal yang sama?."
Raden Gentala juga bertanya-tanya, apa saja yang dilakukan oleh seorang raja di ruangan pribadinya?.
Putri Ambarsari terlihat berpikir sejenak, ia mengingat cerita dari adiknya Putri Andhini Andita.
"Rayi andhini andita pernah berkata kepadaku. Jika ia dulu pernah mengintip ruang pribadi raja. Ia melihat ayahanda prabu bersama sosok misterius, begitu juga dengan rayi prabu yang sekarang."
Ucap putri Ambarsari dengan herannya. Selama ini ia memang tidak berani mendekati ruangan itu, karena tidak mau mendapatkan masalah.
"Melihat ayahanda prabu bersama sosok misterius?. Dan rayi prabu juga?."
Raden Ganendra Garjitha dan Raden Gentala Giandra saling berpandangan. Apakah adiknya ini tidak salah dalam berbicara?.
"Iya raka. Rayi andhini andita yang berkata seperti itu padaku waktu itu."
Putri Ambarsari tidak mungkin salah, mendengarkan apa yang dikatakan putri Andhini Andita padanya.
"kita selidiki saja raka. Kita bekerjasama dengan rayi andhini andita. Kita bisa memanfaatkan kesempatan yang ada, untuk menjatuhkan rayi prabu."
Raut wajah Raden Gentala terlihat senang, ia memiliki ide di kepalanya saat ini. Ia tahu caranya untuk membuat wibawa adiknya Cakara Casugraha atau prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak dipercayai oleh rakyat.
"Kau memang rayiku yang pintar, bisa memanfaatkan kesempatan."
Raden Ganendra Garjitha malah berbangga hati, memiliki adik seperti Raden Gentala Giandra. Begitu juga dengan Putri Ambarsari.
Sepertinya mereka memiliki rencana, yang dapat menjatuhkan wibawa prabu Asmalaraya Arya Ardhana, dihadapan semua rakyat Suka Damai.
Apakah yang akan mereka lakukan?. Temukan jawabannya.
...* * * ...
Setelah menunggu agak lama, akhirnya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana akhirnya keluar dari ruangan pribadinya. Ratu Dewi Anindyaswari yang melihat kedatangan anaknya merasa lega.
"Oh putraku cakara casugraha. Nanda baik-baik saja nak?."
__ADS_1
Ratu Dewi Anindyaswari sangat senang melihat keadaan putranya baik-baik saja.
"Ibunda."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendekati ibundanya, ia mencium tangan ibundanya penuh dengan kasih sayang.
"Nanda baik-baik saja ibunda."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencium tangan ibundanya, dengan segenap perasaan kasih sayangnya. Ia merasa bersalah karena telah membuat ibundanya cemas.
"Maafkan nanda, karena telah membuat ibunda cemas."
Suara Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terdengar lirih. Namun setidaknya ia sudah tidak pucat lagi, saat menemui ibundanya. Ia tidak mau, membuat ibundanya semakin cemas.
"Syukurlah nak. Ibunda lega mendengarnya."
Ratu Dewi Anindyaswari merasa lega, anaknya baik-baik saja. Tangannya mengelus kepala putranya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Anaknya yang sangat ia cintai, anaknya yang sangat peduli padanya.
Sementara itu, Ratu Ardiningrum Bintari dan ratu Gendhis Cendrawati melihat itu dari kejauhan.
"Lihatlah rayi. Mereka baru saja terpisah hanya karena nanda prabu Asmalaraya Arya Ardhana bersemedi di ruang pribadinya, rayi dewi anindyaswari malah bersikap berlebihan mengkhawatirkan putranya."
Ratu Ardiningrum Bintari sangat muak melihat pemandangan itu. Sama sekali tidak enak untuk dilihat, betapa lemahnya mental mereka hanya karena seperti itu malah membuat drama menangis tidak jelas.
"Yunda benar. Harusnya rayi dewi anindyaswari, menyadari posisi anaknya. Tapi malah bersikap seperti itu?."
Ratu Gendhis Cendrawati sungguh tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Namun yang tidak mereka mengerti mengapa ada adegan menangis khawatir di istana ini hanya karena ketidaktahuan mereka apa yang terjadi pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana sehingga ibundanya ratu Dewi Anindyaswari menangis.
... * * *...
Keesokan harinya, seperti biasa. sidang pertemuan antara menteri, Adipati, lurah membahas apa saja yang menjadi keluhan rakyat apalagi memasuki satu bulan masa jabatan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sebagai raja.
Namun mereka sedang menunggu sang prabu karena menunaikan ibadah sholat Dhuha, hingga rapat sedikit tertunda.
"Lihatlah!. Sebagai seorang raja, harusnya tepat waktu. Tapi mengapa malah membuat kita menunggu."
Salah satu Adipati tidak sabar menunggu dilaksanakan rapat tersebut.
"Raja kita adalah seorang muslim, jadi wajar saja jika beliau melakukan kewajibannya."
Lurah Raweyai mengerti, jika di istana ini belum banyak yang memeluk agama Islam. Jadi banyak yang belum mengerti, apa yang dilakukan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Sudahlah!. Tidak baik berdebat masalah keterlambatan gusti Prabu. Kita sebagai abdi yang baik, haruslah memberikan waktu untuk gusti Prabu."
Salah satu menteri setuju dengan apa yang dikatakan oleh lurah tentang prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Tak lama kemudian saat mereka membahas keterlambatan sang prabu, ia muncul dengan mengucapkan salam kepada mereka semua.
"Sampurasun."
Sang Prabu yang datang dari arah luar berjalan dengan santai, menuju singgasananya, dan mereka yang melihat kedatangan sang prabu langsung memberi hormat kepada mereka.
"*R*ampes"
Balas mereka semua dengan nada sopan, menyambut kedatangan sang Prabu.
setelah sang Prabu duduk di singgasananya. Ia menatap satu persatu bawahannya yang telah menunggu kedatangannya.
"Maafkan saya, jika saya terlambat datang."
Sang Prabu meminta maaf pada mereka, dan mereka hanya diam, mencoba memaklumi keterlambatan sang Prabu.
"Mohon maaf gusti prabu. Ada apa gerangan kiranya, gusti prabu memanggil kami semua untuk berkumpul di sini?."
Mentri Moja Pribadio bertanya apa gerangan, yang membuat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memanggil mereka semua.
"Benar gusti prabu. Bukankah kita sudah membahas beberapa masalah yang terjadi di negeri ini gusti."
Adipati Sena Byakta ingin mengetahui mengapa sang prabu memanggil mereka semua hari ini.
"Saya memanggil kalian semua, karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada kalian." Sang Prabu menatap lurus ke depan.
"Beberapa hari yang lalu, saya telah menangkap, salah seorang kelompok sengkar iblis yang dulunya pernah membuat keonaran di wilayah kerajaan Suka Damai. Ketika ayahanda prabu kawiswara arya ragnala masih hidup."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengatakan jika ia telah menangkap salah satu anggota kelompok sengkar iblis?.
"Mohon ampun gusti prabu, mengapa musti Prabu baru mengatakannya sekarang?."
Mereka heran mengapa prabu Asmalaraya Arya Ardhana baru mengatakan kepada mereka masalah itu?.
"Lalu dimana tahanan tersebut?. Mengapa kami tidak mendengar, ada tahanan baru yang masuk ke penjara istana?."
Ya, itu benar, jika memang sang prabu menahan salah satu dari mereka?. Apa jawaban dari sang Prabu?.
Apakah pembaca tercinta penasaran?.
__ADS_1
Bagaimana kelanjutannya?. Jangan lupa tinggalkan jejak, semangat membaca ya.