RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
SEMANGAT PUTRI ANDHINI ANDITA


__ADS_3

...***...


Prabu Bumi Jaya tidak tinggal diam saja. Meskipun yang telah melakukan kejahatan itu adalah darah dagingnya, kejahatan tetaplah kejahatan. Dan yang disakiti bertahun-tahun juga anak kandungnya. Ia melompat ke arah Raden Telaga Bumi, membantu Putri Andhini Andita.


"Berani sekali kau berbuat kejahatan telaga bumi!. Kau tidak akan aku ampuni!." Prabu Bumi Jaya menyerang Raden Telaga Bumi. Ia terus menyerang anaknya karena perasaan marah yang menguasai dirinya saat ini. Sedangkan Putri Andhini Andita terdiam melihat kemarahan yang ditunjukkan oleh Prabu Bumi Jaya.


"Andhini andita. Biarkan saja mereka bertarung. Biarkan mereka melepaskan kemarahan yang mereka rasakan selama ini." Sukma Dewi Suarabumi memperingati Putri Andhini Andita.


"Sandika gusti putri." Putri Andhini Andita menuruti apa yang dikatakan oleh Sukma Dewi Suarabumi.


Sementara itu, Prabu Bumi Jaya terus menyerang anaknya. Terdengar suara dentingan senjata yang mereka genggam saat ini. "Kenapa kau malah melakukan ini telaga bumi!. Apa yang kau inginkan sebenarnya!." Dengan perasaan gemuruh, ia terus menyerang anaknya. Seakan-akan ia tidak akan memberikan kesempatan ada anaknya untuk membalas serangannya. "Kau itu adalah anak yang baik!. Tapi kenapa kau malah menipu ayahanda mu ini dengan kebaikan yang kau tunjukkan padaku!." Kemarahannya saat itu telah mencapai batas.


"Aku tidak peduli ayahanda!. Tidak ada yang boleh merebut tahta putra mahkota dariku!. Akan aku singkirkan siapa saja yang berani merebut tahta itu dariku!." Raden Telaga Bumi menangkis semua serangan yang datang padanya. Meskipun ia mengetahui ayahandanya adalah raja yang kuat, tapi ia memiliki makhluk gaib yang bisa melindungi dirinya.


"Oh putraku." Ratu Warna Tariwati sangat tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini. Ia tidak menyangka sama sekali. Apakah ini adalah karma untuk dirinya?.


"Aku tidak menyangka, jika raden telaga bumi melakukan itu semua." Senopati Mataraga sangat menyayangkan apa yang telah terjadi.


"Ibunda!. Sebaiknya ibunda semua masuk ke dalam istana!. Karena tempat ini sangat berbahaya!." Raden Bumi Putra menyuruh selir dan istri ayahandanya, serta ibundanya untuk segera berlindung di dalam istana. Tentunya mereka langsung masuk ke dalam istana. Karena mereka juga tidak ingin menjadi korban dalam pertarungan itu.


"Oh putraku. Maafkan ibunda nak. Ini semua salah ibunda." Meskipun begitu, Ratu Warna Tariwati tetap mencemaskan anaknya. Ia mengingat semua apa saja yang menyebabkan pemicu anaknya melakukan semua itu.

__ADS_1


Sedangkan Penggawa Istana saat ini masih bimbang, apakah mereka akan membantu Prabu Bumi Jaya atau tidak?.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?. Apakah kita harus membantu gusti prabu untuk menangkap raden telaga bumi?."


"Kita harus membantu gusti prabu."


"Ya, kita harus membantu gusti prabu."


Mereka semua mengambil ancang-ancang, dan ingin membantu Prabu Bumi Jaya. Namun apa yang terjadi?.


DUAKH!!!.


Tubuh mereka terlempar semua, karena serangan gaib yang mereka terima. Suasana halaman istana benar-benar sangat kacau. Sehingga menimbulkan kesan yang sangat menyeramkan saat ini.


"Nimas Putih. Apa yang harus kita lakukan?. Apakah kita hanya berdiam diri saja?. Apakah kita hanya menyimak pertarungan mereka?." Raden Raksa Wardhana mencoba mendekati Putri Andhini Andita.


"Tenanglah raden. Jika kita gegabah dalam menyerang raden telaga bumi saat ini. Bisa jadi kita akan bernasib sama seperti mereka." Putri Andhini Andita melihat penggawa Istana yang terbaring di tanah sambil meringis kesakitan setelah menerima serangan gaib tadi.


"Lalu apa yang harus kita lakukan nimas?. Tidak mungkin kita membiarkan ayahanda prabu bertarung sendirian." Perasaan gelisah menyelimuti hatinya.


"Raden benar. Kekuatan gaib itu sangat kuat. Gusti prabu bumi jaya saja sepertinya kewalahan menghadapinya." Putri Andhini Andita dapat melihat dengan sangat jelas, bagaimana pertarungan itu sepertinya tidak seimbang. "Jika saja aku memiliki pedang pelebur sukma, maka-." Dalam hati Putri Andhini Andita merasa ragu.

__ADS_1


"Heh!. Kau tidak ragu begitu andhini andita. Apakah kau meragukan kekuatan ku yang tersimpan di dalam pedang pembangkit raga dewi suarabumi?." Sukma Dewi Suarabumi terdengar sangat tidak suka dengan pikiran Putri Andhini Andita saat ini. "Apakah menurutmu gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta begitu saja memasukkan aku ke dalam sebilah pedang?. Apakah kau berani meremehkan aku andhini andita?!." Sukma Dewi Suarabumi terlihat sedikit marah.


"Maafkan hamba gusti putri, hamba tidak bermaksud untuk melakukan itu. Sekali lagi maafkan hamba." Putri Andhini Andita merasa sangat bersalah. "Serahkan masalah ini pada hamba raden. Hamba akan menebas habis setan yang telah berani merasuki hati manusia untuk melakukan kejahatan." Putri Andhini Andita telah menetapkan keputusannya setelah bertarung dengan batinnya juga pikiran pedang pembangkit raga Dewi Suarabumi.


"Baiklah kalau begitu nimas. Aku serahkan semuanya padamu nimas. Mohon bantuannya." Raden Raksa Wardhana sekali lagi meminta bantuan pada Putri Andhini Andita.


"Baiklah raden. Kalau begitu hamba harpa Raden bisa menunggu di sini dengan sabar." Putri Andhini Andita tersenyum kecil. Dan ia melihat pertarungan itu dengan perasaan yang sedang bergejolak.


"Baiklah nimas." Raden Raksa Wardhana hanya menurut saja. Karena pada saat ini ia juga tidak bisa melakukan apapun dengan matanya yang masih belum bisa melihat dengan jelas.


"Semangat yang sangat bagus sekali andhini andita. Aku suka dengan semangat yang kau miliki sekarang." Sukma Dewi Suarabumi tersenyum puas di dalam alam sukma pedang Pembangkit Raga Dewi Suarabumi saat ini. Ia seperti merasakan kehidupannya dulu yang memiliki semangat untuk berjuang.


"Terima kasih karena telah membangkitkan semangat hamba gusti putri. Hamba akan mengingat selama hamba hidup." Putri Andhini Andita memainkan jurus pedang pembangkit Raga Dewi Suarabumi. Ia meniru semua gerakan yang dilakukan oleh Sukma Dewi Suarabumi. Gerakan yang sangat cepat, dan saat itu matanya melirik tajam ke arah sosok yang terus mengikuti Raden Telaga Bumi. Setelah itu ia melompat ke arah Raden Telaga Bumi, ia sempat menebas satu ayunan pedang. Itu ia lakukan untuk menahan serangan gaib yang datang padanya. "Maaf saja. Aku memiliki mata yang bagus untuk melihat serangan gaib." Putri Andhini Andita tersenyum puas. Bukan hanya disitu saja, Putri Andhini Andita juga mengayun pedang yang ia genggam sekuat tenaganya. Sehingga hawa dari pedang panggilan jiwa menebas tubuh sosok makhluk gaib itu. Raden Telaga Bumi sangat terkejut, begitu juga dengan prabu Bumi Jaya.


"Keghaaaaaaaakh." Raden Telaga Bumi berteriak kesakitan, dan tubuhnya terasa sangat sakit.


"Apa yang kau lakukan?. Apa yang kau lakukan tadi?!. Kenapa putraku terlihat kesakitan?." Prabu Bumi Jaya sangat khawatir dengan keadaan anaknya.


"Maaf gusti prabu. Itu adalah karma yang ia terima, karena ia telah berani bermain-main dengan iblis yang seharusnya tidak bisa bersatu dengan manusia. Allah SWT bahkan telah melaknat iblis yang menyesatkan manusia." Dengan tegasnya Putri Andhini Andita membalas ucapan Prabu Bumi Jaya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2