
...***...
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana beserta keluarga telah sampai di Istana. Kebahagiaan yang masih menyelimuti suasana Kerajaan Suka Damai. Berita pernikahan Raden Hadyan Hastanta telah tersebar di seluruh negeri Kerajaan Suka Damai. Keluarga istana membagikan sembako pada rakyat yang membutuhkan, sebagai ungkapan kebahagiaan mereka. Mereka membagikannya di halaman istana.
"Selamat atas pernikahannya gusti raden. Kami akan selalu mendoakan kebahagiaan gusti raden berserta keluarga. Terima kasih atas bantuan yang gusti raden berikan."
"Terima kasih gusti ratu, gusti prabu, gusti putri. Semoga Allah SWT selalu memberikan limpahan rezeki kepada kita semua."
"Aamiin ya Allah. Semoga saja kesejahteraan selalu diberikan Allah SWT kepada kita semua."
Kebahagiaan yang mereka dapatkan, adalah karena Allah SWT. Karena itulah mereka juga memberikannya kepada yang lain juga. Namun rasa haru, rasa yang berbeda menyelimuti hati Raden Hadyan Hastanta.
"Raka, kenapa raka menangis?. Apakah ada sesuatu yang salah?."
"Ada apa kanda?. Mengapa kanda menangis?."
"Ada apa nak?. Apakah ada yang membuat hati nanda merasa sedih?."
"Tidak rayi prabu, dinda bestari dhatu, ibunda. Rasanya air mataku mengalir begitu saja. Ketika melihat mereka tersenyum bahagia."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, itu artinya Raka juga merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan."
"Benar yang dikatakan yunda agniasari ariani. Raka dapat merasakannya, sehingga tanpa sadar raka merasa terharu. Itulah nikmat berbagi raka." Sang prabu tersenyum kecil menatap mereka semua. "Begitu banyak manfaat bersedekah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”
"Rayi prabu benar. Namun ada sedekah yang paling mudah dilakukan oleh seseorang."
"Benarkah?. Sedekah apa itu?."
"Senyuman."
"Senyuman?." Putri Bestari Dhatu, Ratu Gendhis Cendrawati, Raden Hadyan Hastanta, Putri Andhini Andita merasa heran.
"Senyuman yang tulus kepada sesama. Senyuman yang membawakan kebahagiaan pada saudaranya juga termasuk sedekah."
"Lalu bagaimana jika senyuman itu kepada kekasih kita?."
"Itu termasuk senyum sedekah yunda. Asalkan jangan senyum menggoda saja. Itu akan menimbulkan dosa, karena senyumnya berbeda."
Mereka semua tertawa aneh, mendengarkan ucapan Putri Agniasari Ariani. Ada-ada saja ucapannya yang mengundang gelak tawa mereka semua.
__ADS_1
Apakah mereka masih bisa merasakan kebahagiaan itu?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu, disisi lain. Ada seorang pendekar yang hampir memasuki kawasan kerajaan Suka Damai. Wilayah yang lumayan jauh dari pusat kerajaan Suka Damai. Akan tetapi ia mencoba untuk mengamati sekitar dulu.
"Jadi ini adalah wilayah kerajaan suka damai?. Apakah benar jaya satria, ah lebih tepatnya raden cakara casugraha menjadi raja?." Ia berbicara sendirian. Ia mengingat bagaimana pertemuannya dengan Raden Cakara Casugraha di masa lalu.
"Aku hanya perlu mengamatinya. Karena aku ingin melihat bagaimana perkembangan yang ia alami, sehingga ia bisa menjadi raja?. Kekuatan kutukan itu bisa hilang kah?. Dari tubuhnya, sehingga menjadi raja sangat mudah baginya?." Ia mencoba untuk menduga-duga. "Cakara casugraha. Nama itu tidak akan pernah aku lupakan. Bagaimana saat itu aku bertarung dengannya. Bagaimana dengan kekuatannya yang sangat ganas itu menghajar diriku." Rasa sakit hati muncul begitu saja dari hatinya yang paling dalam mengingat masa lalu yang ia alami.
"Aku hanya perlu mengamati saja. Setelah aku mengetahui alasannya, baru aku akan menemuinya. Akan aku bongkar kembali watak jahatnya, agar mereka semua tahu bagaimana rasanya memiliki kekuatan jahat di dalam tubuhnya." Sepertinya orang itu memiliki niatan yang tidak baik terhadap Raden Cakara Casugraha, atau kini dengan gelar prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Kita lihat saja, bagaimana dan apa saja yang bisa aku lihat nantinya." Dalam hatinya dipenuhi oleh ambisi-ambisi untuk menjatuhkan wibawa Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Kalau begitu, aku akan segera menuju istana kerajaan suka damai. Aku tidak sabar lagi ingin menyapa rajanya itu." Ia menyeringai lebar. Dalam pikirannya telah dipenuhi oleh rencana-rencana jahat untuk menjatuhkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Apa yang akan ia lakukan?. Siapakah orang itu?. Dendam masa lalu seperti apa yang dilewati olehnya, sehingga ia tidak bisa melupakannya?. Temukan jawabannya.
...***...
Kembali ke Istana Kerajaan Suka Damai. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria sedang berunding. Sedangkan yang lainnya sedang berusaha mendekatkan diri dengan Putri Bestari Dhatu. Mereka semua tertawa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Bestari Dhatu.
"Rasanya sangat canggung sekali dipanggil yunda. Karena sebelumnya saya dipanggil nyai. Jadi saya merasa malu."
"Tidak perlu malu seperti itu. Nanda putri memiliki banyak keluarga di sini."
"Semoga nanda putri kerasan berada di sini. Apalagi melihat pertengkaran nanda putri agniasari ariani dengan nanda andhini andita."
Kembali mereka tertawa, karena ucapan Ratu Gendhis Cendrawati. Mereka sudah faham kedekatan dua putri raja yang sering bertentangan, namun tidak sampai menimbulkan perang saudara seperti sebelumnya.
"Itu karena yunda sering mengejekku yunda bestari dhatu."
"Ish, jangan mengadu ya rayi. Jangan berikan kesan buruk tentangku pada yunda bestari dhatu."
"Sepertinya mulai kambuh lagi ibunda."
Kedua Ratu Kerajaan Suka hanya tertawa melihat tingkah keduanya yang tidak mau mengalah, namun masih bisa akur.
"Rasanya saya harus adil. Bisa bahaya jika saya tidak bisa mendengarkan keduanya kanda."
"Ahahaha abaikan saja. Nanti dinda pusing menghadapi mereka."
__ADS_1
"Ih, raka jangan seperti itu."
"Benar, kami bisa juga mengadu selain pada ibunda."
"Tapi nanda berdua jangan sampai membuat nanda putri bestari dhatu kewalahan."
"Iya, apakah nanda berdua tidak kasihan?. Hum?."
Keduanya malah menyeringai kecil, tentunya membuat mereka memandang aneh me arah keduanya.
"Hanya sedikit sih ibunda."
"Sedikit saja."
"Tidak boleh. Dinda bestari dhatu tidak boleh direpotkan siapapun juga."
"Pelit. Lihatlah ibunda, raka malah ingin menguasai yunda bestari dhatu."
Kedua Ratu Kerajaan Suka Damai hanya tertawa saja. Mereka memaklumi kedekatan mereka semua. Apakah mereka akan bisa akrab terus, atau hanya permulaan saja?. Temukan jawabannya.
...***...
Sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang dan Jaya Satria yang berada di ruang Pribadi Raja. Keduanya membahas tentang kegelisahan yang mereka rasakan sejak pagi setelah sholat subuh.
"Kegelisahan ini, rasanya akan terjadi sesuatu. Semoga saja bukan membawa bencana."
"Hamba sangat cemas sekali gusti prabu. Hamba takut, dan merasakan kita akan berpisah."
"Jangan berkata seperti itu jaya satria. Rasanya sangat sedih sekali. "
"Maafkan hamba gusti prabu. Hamba tidak bermaksud membuat gusti prabu merasa sedih. Hanya saja perasaan ini tidak biasa."
"Untuk saat ini kita harus menenangkan pikiran, serta hati kita. Karena sebentar lagi, yunda ratu akan datang ke istana ini."
"Hamba akan berusaha untuk menenangkan raga ini gusti prabu. Meskipun sulit rasanya."
"Tetaplah berdo'a kepada Allah SWT. Supaya kegelisahan ini berkurang jaya satria."
"Aamiin ya Allah."
__ADS_1
Apa yang mereka rasakan sebenarnya?. Mengapa keduanya merasakan kegelisahan yang tidak biasa?. Temukan jawabannya. Jangan lupa tinggalkan komentarnya.
...***...