
...***...
Putri Cahya Candrakanti saat ini menundukkan wajahnya. Rasanya ia tidak sanggup untuk menatap mata Jaya Satria. Namun ia berusaha bersikap tegar untuk menerima semua kenyataan bahwa dirinya memang tidak bisa memiliki Jaya Satria, ataupun nama aslinya Raden Cakara Casugraha.
"Maafkan saya jaya satria. Saya ke sini karena saya menolak perjodohan yang dilakukan ayahanda prabu guntur herdian. Karena laki-laki yang akan menjadi calon imam saya, sama sekali tidak bisa berkelakuan baik. Ia hanya bersikap sopan jika dihadapan ayahanda prabu saja." Putri Cahya Candrakanti mengatakannya?.
"Jangan sekali-kali kau berani berkata seperti itu cahya candraknati!. Aku tidak akan memaafkanmu!." Emosinya sangat bergejolak, karena ia tidak terima dengan apa yang dikatakan Putri Cahya Candrakanti.
"Dengan sikap kurang ajar seperti itu. Kami semua dapat mengambil kesimpulan, jika kau memang lelaki kurang ajar!." Raden Jatiya Dewa sangat kesal, hingga menunjuk marah. "Kau jangan memberikan kesan buruk pandangan laki-laki pada seorang wanita. Aku juga laki-laki, aku memiliki seorang ibu yang merupakan seorang wanita, dan juga kakakku seorang wanita. Jika kau tidak bisa bersikap sopan pada wanita, sebaiknya kau jangan menikahi dia!. Karena kau hanya akan membuat hidupnya menderita!. Kau telah mencemarkan nama baik laki-laki di dunia ini dengan bersikap kasar pada wanita!." Raden Jatiya Dewa terbawa suasana. Ia memang bersikap sombong, ia akui itu. Namun ia tidak akan sampai hati bersikap kurang ajar pada wanita.
"Diam saja kau rakyat miskin. Aku akan memberikan hukuman padamu!. Karena kau telah berani ikut campur dengan urusan ku!." Raden Pradhana Angkasa sangat marah dengan apa yang ia dengar.
"Maaf raden. Sebaiknya raden pulang dulu. Biar kami yang akan mengantar tuan putri. Kami takut raden melakukan sesuatu pada tuan putri nantinya." Jaya Satria masih bersikap sopan.
"Tidak bisa!. Kau tidak bisa mengatur diriku sesukamu hanya karena kau orang kepercayaan raja suka damai!." Masih tidak terima?.
"Maaf gusti prabu. Biarkan hamba yang memberikan orang bodoh ini sedikit pelajaran khusus." Raden Jatiya Dewa berbisik ke telinga Jaya Satria. Tangannya sangat gatal ingin menghajar Raden Pradhana Angkasa yang sangat angkuh.
"Jangan terlalu berlebihan raden. Nanti akan menimbulkan masalah." Jaya Satria hanya memperingati Raden Jatiya Dewa agar tidak terburu amarahnya.
"Ini hanya sapa tanding saja. Hamba tidak akan berlebihan." Raden Jatiya Dewa langsung mengarahkan pukulannya ke arah Raden Pradhana Angkasa. Pertarungan kembali terjadi, membuat mereka merasa cemas melihat itu.
"Maaf tuan putri. Sebaiknya tuan putri menjelaskan secara baik-baik pada paman prabu. Supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Hamba takut, jika masalah yang tuan putri hadapi akan melebar sampai ke kerajaan suka damai. Maaf jika hamba lancang." Jaya Satria memberi hormat. Ia hanya tidak ingin terlibat dalam masalah asmara. Apalagi sampai melibatkan kerajaan Suka Damai.
__ADS_1
"Maafkan saya jaya satria. Saya tidak bisa mengatakannya. Karena ayahanda prabu telah percaya dengan sikap baik yang ditunjukkan oleh raden pradhana angkasa. Jadi saya tidak memiliki bukti apapun untuk menunjukkan sikap buruknya." Putri Cahya Candrakanti sangat sedih, karena ia sama sekali tidak bisa melakukannya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Ini sangat berbahaya." Jaya Satria merasa sangat gelisah. "Jika saya yang mengatakan pada paman Prabu, itu nantinya akan menimbulkan fitnah. Karena setelah apa yang terjadi, saya ragu apakah paman prabu akan mendengarkan apa yang saya sampaikan pada beliau." Jaya Satria jadi ragu, dan ia tidak mau terjadi kesalahpahaman yang menimbulkan perpecahan antara kerajaan tapak Dewa dengan kerajaan Suka Damai.
Duakh!
Raden Jatiya Dewa berhasil memukul mundur Raden Pradhana Angkasa. Meskipun tenaga dalamnya juga ikut terkuras, namun ia puas setelah berhasil mengalahkan musuhnya. "Hamba yang akan menjadi perwakilan gusti prabu. Hamba akan datang ke istana kerajaan tapak dewa. Akan hamba sampaikan sikap kurang ajarnya pada gusti prabu." Raden Jatiya Dewa memberi hormat pada Jaya Satria.
"Sebaiknya raden jangan terlalu melibatkan diri dengan urusan kerajaan." Jaya Satria hanya tidak ingin Raden Jatiya Dewa mendapatkan masalah.
"Apakah gusti tidak tega melihat seorang wanita menderita?. Bagaimana jika tuan putri andhini andita, ataupun tuan putri agniasari ariani yang diperlakukan kasar oleh calon suaminya. Apakah gusti prabu akan diam saja?. Tentunya tidak bukan?." Sorot mata Raden Jatiya Dewa terlihat sangat serius, hingga mereka semua dapat merasakannya.
Jaya Satria menghela nafasnya dengan pelan. Ia tidak memiliki alasan yang tepat untuk membantah ucapan Raden Jatiya Dewa. "Baiklah. Tapi aku mohon agar raden tidak terlibat masalah dengan kerajaan tapak tiga. Karena saat ini adalah tanggung jawab saya." Jaya Satria mengizinkan Raden Jatiya Dewa ke istana Tapak Dewa?.
"Baiklah. Kalau begitu iringi mereka berdua sampai ke kerajaan tapak dewa." Jaya Satria hanya memberikan pesan pada Raden Jatiya Dewa agar tidak bersikap gegabah. "Mohon raden agar bisa menjaga diri." Lanjutnya lagi.
"Sandika jaya satria. Doakan semoga saya bisa mengatasi masalah ini dengan lancar." Raden Jatiya Dewa seperti ingin bertarung saja. Hingga ia berkata seperti itu.
"Ya. Saya akan selalu mendoakan yang terbaik untuk raden." Jaya Satria hanya tersenyum kecil. "Baiklah kalau begitu, tuan putri ikuti saja raden jatiya dewa. Hamba yakin tuan putri akan aman bersamanya." Kali ini ia menatap Putri Cahya Candrakanti yang masih terlihat bersedih hati.
"Terima kasih atas perhatian gusti. Semoga saja saya bisa mengatasi masalah ini dengan baik." Rasanya sangat sedih. Namun ia tidak memiliki kekuatan untuk mengatakan pada Jaya Satria.
"Kalau begitu hamba pamit. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Raden Jatiya Dewa pamitan pada Jaya Satria.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Balas Jaya Satria.
"Mari tuan Putri." Raden Jatiya Dewa mempersilahkan Putri Cahya Candrakanti untuk berjalan duluan.
"Saya pamit dulu jaya satria. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Putri Cahya Candrakanti mengucapkan salam pada Jaya Satria.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Balas Jaya Satria.
Setelah itu ia menatap mereka semua pergi meninggalkan tempat. Begitu juga dengan Raden Pradhana Angkasa yang terpaksa untuk ikut dengan mereka.
"Maaf jaya satria. Apa yang akan kami katakan pada syekh guru. Jika kami pulang tanpa adanya raden jatiya dewa?. Apa yang akan katakan pada syekh guru nantinya?." Mulni agak takut-takut bertanya pada Jaya Satria.
"Benar itu jaya satria. Ini akan menjadi gawat bagi kami jika syekh guru mengetahui ini." Barka terlihat sangat takut, jika syekh Asmawan Mulia marah pada mereka bertiga.
"Apa yang harus kami lakukan jaya satria?." Begitu juga dengan Purna yang sama sekali tidak mengerti apa akar permasalahannya.
"Katakan saja pada syekh guru, jika raden jatiya dewa mendapatkan tugas penting dari jaya satria." Balas Jaya Satria. Ia mengetahui jika gurunya akan khawatir pada muridnya.
"Baiklah jaya satria. Kami akan menyampaikan pada syekh guru seperti yang engkau katakan." Mulni sangat lega, jika itu nantinya dapat membantu mereka menjelaskan pada Syekh Asmawan Mulia nantinya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1