
...***...
Syekh Asmawan Mulia telah berada di Istana, ia segera memeriksa keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Tadi siang prabu Asmalaraya Arya Ardhana sudah bangun. Namun ia masih mengeluh sakit pada matanya, bahkan ia tidak bisa melihat apapun. Mereka semua harap-harap cemas, dengan apa yang akan dikatakan syekh Asmawan Mulia tentang sang prabu.
"Maafkan hamba gusti ratu. Sepertinya nanda prabu sedang mengalami kebuntuan, karena serangan beracun mengenai matanya. Hamba tidak bisa mengobatinya untuk sementara waktu."
"Oh putraku." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk putranya, yang saat ini duduk di tempat tidurnya, dengan mata yang ditutupi kain.
"Ibunda." Sang prabu juga memeluk ibundanya, ia merasakan kecemasan yang dirasakan oleh ibundanya.
"Rayi prabu."
Mereka tak kuasa mendengar kabar buruk itu, mereka menangis tersedu-sedu. Sakit sang prabu memang sangat aneh, bagaimana mungkin sang prabu bisa mengalami hal tersebut sementara ia masih berada di istana?.
"Lakukan sesuatu syekh. Saya mohon lakukan sesuatu untuk menyembuhkan nanda prabu."
"Hamba akan berusaha gusti ratu. Hamba harap gusti ratu dapat bersabar."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Ratu Dewi Anindyaswari sangat gelisah karena kondisi anaknya yang sekarang.
"Syekh. Saya mohon lakukan yang terbaik untuk rayi prabu." putri Andhini Andita juga ikut menangis, begitu juga dengan putri Agniasari Ariani sebagai kakak kandungnya.
"Ya Allah. Sebenarnya apa yang terjadi pada nanda jaya satria?. Mengapa ia belum juga kembali?. Apakah terjadi sesuatu padanya, hingga nanda prabu seperti ini ya Allah." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia bertanya-tanya. Tidak mungkin terjadi sesuatu pada Jaya Satria, jika sang prabu dalam kondisi yang sekarang.
"Nanda prabu. Ibunda mohon, katakan sesuatu nak. Kenapa ananda bisa dalam kondisi seperti ini." Ratu Dewi Anindyaswari dengan cemasnya bertanya pada anaknya.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terdiam sejenak. Ia mencoba untuk bersikap biasa saja pada ibundanya. Karena ia merasa keberatan untuk menjawab pertanyaan dari ibundanya.
"Benar rayi prabu. Katakan pada kami semua apa yang kau terjadi, sehingga kondisimu seperti ini?."
"Aku mohon rayi prabu, untuk tidak menutupi apapun dari kami semua. Sungguh!. Kami merasa sangat mencemaskan kondisi rayi prabu yang tiba-tiba kesakitan. Jangan buat alasan yang membuat kami tenang, hanya karena rayi prabu tidak ingin kami mencemaskanmu rayi prabu."
Mereka semua berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan dari sang prabu, namun disisi lain.
"Ibunda, yunda, maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud, untuk menutupi kejadian apapun yang menimpa diriku, tetapi-." Ia menatap mereka dengan wajah yang sangat sedih. Karena ia tidak bisa mengatakan kebenaran itu pada mereka semua.
"Tetapi apa nak?. Jangan buat hati ibunda merasa sedih, nak."
"Ibunda." Sang prabu mencoba meraba kedua tangan ibundanya, ia pegang erat tangan ibundanya. "Bukan ananda bermaksud, untuk membuat hati ibunda bersedih, ampun ibunda." Sang prabu menangis terisak mendengarkan apa yang dikatakan ibundanya.
"Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari juga tidak tega melihat anaknya menangis, hatinya semakin bersedih.
"Ibunda. Untuk saat ini ananda tidak bisa mengatakan apa yang terjadi. Namun ananda hanya berharap do'a dari ibunda."
"Tentu saja ibunda akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, putraku." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk memahami, mengapa anaknya tidak mau menceritakan apa yang ia alami sebenarnya. Ia takut membuat mereka semua terkejut dengan kenyataan yang ia alami.
"Jaya satria. Aku harap kau baik-baik saja. Aku hanya berdo'a kepada Allah SWT. Kau akan bisa mengatasi rasa sakit yang kau alami." Dalam hati sang prabu sangat berharap, Jaya Satria tidak mengalami kesulitan. Meskipun ia tahu jika Jaya Satria lebih merasakan sakit dari pada dirinya.
...***...
Dalam perjalanan menuju Gunung Menahan Bumi. Jaya Satria yang matanya dalam keadaan sakit masih melakukan sholat Zuhur.
"Memang luar biasa. Disaat kondisinya yang masih sakit, ia masih taat beribadah. Memang orang yang luar biasa." Kekagumannya pada Jaya Satria tidak dapat ia tepis lagi. Juga ingatannya ke masa itu. Ketika ia pertama kali bertemu dengan Jaya Satria.
...***...
Kembali ke masa itu.
Di sebuah kaki bukit. Suara seorang tertawa keras memenuhi sekitar bukit itu. Suara tawa itu sungguh tidak enak untuk didengar, karena tawa itu mengandung ajian pelebur pendengaran. Bagi siapa yang tidak tahan dengan suara itu, telinganya akan terasa sakit, dan mengalirkan darah, hingga berakhir tewas.
__ADS_1
Dan saat ini ada beberapa pendekar yang mencoba untuk menghentikan tawa itu. Namun tidak bisa mendekatinya, karena gelombang tawa itu menghambat langkah mereka. Namun saat itu ada seorang pemuda yang mengenakan topeng penutup wajah mendekati mereka.
"Hentikan!. Tawamu itu sama sekali tidak membawa manfaat apapun kecuali kerusakan!."
"Siapa kau?!. Berani sekali kau datang menghentikan tawaku!." Ia sangat marah, apalagi tawanya tidak berpengaruh pada pemuda itu.
"Siapa dia?. Kenapa dia tidak terlihat kesakitan sama sekali?. Sangat aneh!. Bahkan aku saja tidak sanggup menahan tawa jelek orang itu." Seorang pendekar wanita yang melihat itu merasa heran. Sedangkan ia dan teman-temannya yang lainnya tidak kuasa menahan suara tawa itu, bahkan ada yang telinganya sudah mengeluarkan darah.
"Entah nyai, kita lihat saja."
"Ya, benar nyai. Tenagaku benar-benar terkuras habis. Rasanya aku tidak sanggup lagi untuk bergerak."
"Hei kau!. Bocah kemarin sore!. Berani sekali ikut campur dengan urusanku!. Apakah kau sudah bosan dengan hidup, hah?."
"Astaghfirullah hal'azim paman. Aku hanya ingin untuk memperingatkanmu, untuk tidak berbuat kerusakan, serta kejahatan dengan suaramu itu." Ucapnya sedikit mengernyit heran. "Kasihan mereka yang tidak berdosa, mati dengan sia-sia karena ulah paman. Sedangkan Allah SWT telah mengatakan dengan jelas, dalam surah Ar rum ayat 41 42. Allah SWT sangat tidak menginginkan kerusakan yang diakibatkan oleh manusia. Jadi renungkanlah paman. Supaya karma tidak menimpa paman. Harusnya paman sadar, dengan umur paman yang sekarang. Pperbanyak berbuat kebaikan, namun bukan kejahatan yang paman turuti."
"Bedebah!. Bocah sialan!. Berani sekali kau berbicara seperti itu padaku!." Amarah telah menguasai dirinya, ia tidak pandang bulu lagi jika ia marah.
"Aku pendekar perapian suramuara. Akan aku bunuh siapa saja yang telah membuatmu marah." Setelah itu ia mengeluarkan jurus ajian yang sangat berbahaya, ajian tertawa penebus Maya pada.
Mereka semua yang berada di sana semakin kesakitan, suara tertawa itu lebih keras dan menyakitkan dari yang tadi, mereka semua tidak tahan. Bahkan ada yang sudah tumbang salah satu diantara mereka.
"Heqhhaaaa hentikan, telingaku rasanya sangat sakit."
"Berhenti kau Pendekar tua sialan!."
Mereka berteriak kesakitan, mereka berharap pendekar tua itu tidak membunuh mereka semua.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Jaya Satria merasa terganggu juga dengan itu. Ia mencoba mengatur hawa murninya, menyalurkan hawa murninya ke seluruh tubuhnya. Terutama di telinganya agar menghalangi getar suara berbahaya dari Pendekar tua itu. Jaya Satria menghela nafasnya pelan, dan ia membacakan Sholawat badar, dan ayat kursi untuk meminta perlindungan dari Allah SWT. Perlahan-lahan suara tawa itu mereda karena kalah dengan suara merdu milik jaya Satria.
"Oh jagat dewa batara. Aku tidak merasakan sakit lagi."
"Benar nyai. Suara pemuda itu menutupi getaran dari pendekar tua bedebah itu."
Mereka semua merasa aman, karena suara keras itu berhasil diredakan oleh suara pemuda bertopeng itu.
"Gawat!. Suara tawaku malah meredam, karena suara pemuda itu. Kenapa bisa?." Perapian Suramuara menghentikan tawanya. Ia merasakan jurusnya tidak lagi berfungsi dengan baik.
"Bedebah!. Apa yang kau bacakan tadi?!. Syair apa yang kau lantunkan, sehingga suaraku tidak berguna sama sekali."
"Ya, suara tawa paman sangat berguna sama sekali. Tawa itu hanya lah tawa yang merusak. Sementara yang aku bacakan tadi adalah sholawat badar, yang memiliki banyak manfaat."
"Tutup mulutmu!. Kau jangan berkata seakan-akan, aku ini tidak berguna sama sekali!."
"Jika paman menyadari itu tidak berguna, harusnya paman menghentikannya. Jangan hanya nama saja yang bagus, perapian suramuara. Namun kelakuan paman tidak sama sekali bermanfaat." Ucap Jaya Satria berusaha mengingatkan Perapian Suramuara. "Segeralah bertaubat, Allah SWT selalu menerima taubat dari hamba-Nya. Tidak ada kata terlambat, jika paman memiliki niat ingin kembali ke jalan yang benar."
"Bocah sialan!. Skan aku bunuh kau!." Karena tidak menerima apa yang dikatakan oleh Jaya Satria. Pendekar tua itu marah, dan ia malah menyerang Jaya Satria. Pertarungan itu disaksikan oleh mereka yang tadinya mau menghentikan pendekar Perapian Suramuara.
Mereka sangat gerah dengan sikap sombong pendekar tua itu yang mengumbar kesaktiannya. Menantang siapa saja, hingga membawa kematian yang mengerikan. Berita itu sudah sampai di telinga Jaya Satria, dan ia meminta izin pada prabu Kawiswara Arya Ragnala untuk menghentikan Pendekar itu.
...***...
Kembali ke masa ini.
Ia masih ingat pada saat itu, ketika ia berhasil dikalahkan oleh jaya Satria, ia mengatakan.
"Janganlah engkau berjalan dimuka bumi ini dengan penuh kesombongan. Sesungguhnya di atas langit masih ada langit. Kesombongan hanya akan menjatuhkanmu. Kesombongan hanya milik Allah, manusia tidak berhak untuk sombong. Ia akan mati terhina karena kesombongannya itu." Ucapan itu masih ia ingat, hingga ia menyadari kesalahannya. Jaya Satria yang saat itu dengan penuh kesabaran menyadarkan dirinya, ia bertaubat dan melakukan banyak sekali kebaikan-kebaikan.
"Meskipun aku sekali melihat wajahmu yang waktu itu mengambil air wudhu, aku masih ingat. Kalau yang menjadi raja di kerajaan Suka Damai adalah engkau, jaya Satria. Namun aku tidak mengerti mengapa engkau yang sekarang hanyalah-." Ia tahu kalau yang ia lihat saat ini adalah Jaya Satria yang dulunya pernah menyelamatkan hidupnya dari Kegelapan.
__ADS_1
"Aku dapat merasakan aura wibawa yang luar biasa waktu itu darimu. Namun yang saat ini, hanyalah sekumpulan kemarahan, yang tidak akan pernah engkau perlihatkan kepada siapapun." Ucapnya dengan perasaan simpati yang luar biasa. "Kali ini aku pasti akan menyelamatkanmu, apapun wujudmu sekarang. Karena aku yakin yang satunya lagi mengalami hal yang sama. Namun yang sangat perlu di selamatkan adalah engkau, jaya Satria." Itulah yang ia tanamkan di dalam hatinya saat ini. Yaitunya membantu Jaya Satria sampai sembuh.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Jaya Satria baru saja menyelesaikan sholatnya, ia berdoa kepada Allah SWT agar ia baik-baik saja. Ketika ia siap berdoa, sayup-sayup ia mendengar suara yang sangat ia kenali.
"Jaya satria. Jaya satria. Apakah kau mendengarkan aku?. Jawablah jaya Satria. Jawablah panggilan dariku." Ia mencoba memfokuskan pikirannya, menangkap panggilan itu.
"Ya. Hamba mendengar suara gusti prabu dengan jelas."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, aku sangat senang. Apakah kau baik-baik saja, jaya satria?. Aku sangat mencemaskan keadaanmu."
"Rasanya sangat malu dan tidak pantas lagi, hamba meminta maaf pada gusti prabu." Air matanya menetes membasahi pipinya. Rasa sedih menyelimuti hatinya yang saat ini sedang gelisah memikirkan prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Kau jangan berkata seperti itu jaya satria. Aku merasa sedih mendengarnya."
"Sungguh!. Hamba telah berusaha untuk melakukan yang terbaik. Namun sepertinya wanita itu memang menginginkan kematian hamba gusti prabu."
"Ya Allah. Lalu bagaimana keadaanmu?. Kau berada dimana?. Apakah kau bisa kembali ke istana?. Apakah aku harus menjemputmu ke sana?."
"Tenanglah gusti Prabu. Hamba saat ini sedang dalam perjalanan menuju gunung menahan bumi."
"Apa yang hendak kau lakukan dalam keadaan seperti itu?. Bukankah itu sangat berbahaya jika kau pergi ke sana?. Kau bisa terbunuh di jalan karena kau tidak bisa melihat untuk saat ini."
"Gusti Prabu tidak usah cemas masalah itu. Saat ini hamba sedang bersama paman perapian suramuara. Ia yang akan membawa hamba ke sana."
"Paman perapian suramuara?. Kau bertemu dengannya?."
"Ya. Ternyata kakek misterius itu adalah paman perapian suramuara. Dia yang menyelamatkan hamba dari serangan jahat itu. dan sekarang ia mau mengantar hamba ke gunung menahan bumi. Jadi gusti Prabu tidak perlu cemas lagi."
"Alhamdulillah hirobbila'lamin ya Allah. Masih ada orang yang berbuat baik padamu, pada kita jaya satria."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin gusti prabu."
"Aku harap kau baik-baik saja selama diperjalanan. Aku takut ada orang yang berbuat jahat pada kalian."
"Do'akan saja hamba akan baik-baik saja. Semoga pengobatan ini berjalan dengan lancar. Dan kita akan segera sembuh. Hamba harap gusti prabu bersabar. Paling tidak satu dua hari, hamba akan segera sampai di sana, dan segera diobati oleh temannya paman perapian suramuara."
"InsyaAllah, aku akan selalu mendo'akanmu. Berhati-hatilah jaya satria."
"Hamba akan mengusahakannya gusti prabu."
"Oh iya jaya satria. Kebetulan kau akan ke ke sana. Jika bisa, ambil benda pusaka kembar keris naga penyegel sukma di sana. Akan aku jelaskan kegunaan keris itu padamu nantinya."
"Sandika gusti prabu."
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."
Setelah itu mereka kembali ke normalnya. Dengan harapan keduanya akan baik-baik saja.
"Aku akan berusaha untuk melakukan yang terbaik untukmu, gusti Prabu." Dalam hatinya bertekad dengan baik. Ia merasa bersalah, karena ia yang ceroboh membuat sang prabu ikut terkena dampak yang ia rasakan.
Sementara itu di istana.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana setelah melaksanakan sholat Zuhur. Merasa lega karena telah berhasil berkomunikasi dengan Jaya Satria, dan memastikan keadaannya baik-baik saja. Meskipun matanya masih ditutupi oleh kain, obat untuk mengurangi rasa sakit di matanya.
"Ya Allah, hamba hanya berserah diri padamu. Hamba tidak menyalahkan beban hidup yang hamba jalani. Karena engkau yang maha pengasih lagi maha penyayang, telah memberikan cobaan yang bisa dilalui umatnya. Dan tidak mungkin engkau ingin menyiksa umat-Mu dengan penderita yang bertubi-tubi." Ucapnya dengan nada sedihnya.
"Hamba percaya. Selalu percaya bahwa, setelah kesulitan ada kemudahan. Setelah rasa sakit, pasti ada kebahagiaan yang menanti hamba, aamiin aamiin ya rabbal aalaamiin." Begitu besar rasa percaya sang prabu terhadap sang pencipta, yaitunya Allah SWT. Kepercayaan yang ia yakini sejak ia memutuskan untuk masuk agama Islam, karena ingin mengubah semua yang ada di dalam dirinya, termasuk perangainya di masa lalu.
__ADS_1
Apakah Jaya Satria akan berhasil sampai di Gunung Menahan Bumi?. Apakah sang prabu juga akan sembuh?. Bagaiman kelanjutan dari kisah ini?. Spakah sang prabu masih bisa menjaga rahasianya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...