
...***...
Di dunia nyata, mereka semua terkejut melihat raga Raden Cakara Casugraha berpisah menjadi dua?. Tapi bagaimana bisa itu terjadi?. Apakah itu tidak akan berbahaya?. Mereka semua bertanya-tanya pada diri mereka masing-masing mengenai keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Raden Cakara Casugraha.
"Syekh, nanda bestari dhatu. Apakah ini tidak apa-apa?. Aku sangat mencemaskan keadaan putraku." Ratu Dewi Anindyaswari sangat takut terjadi sesuatu pada anaknya.
"Tenanglah dulu ibunda. Pengobatannya belum selesai. Kita tunggu apa yang akan terjadi. Nanda harap ibunda bersabar sebentar." Putri Bestari Dhatu mencoba meyakinkan Ratu Dewi Anindyaswari bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Benar gusti ratu dewi. Sepertinya ia belum selesai melakukan pengobatan. Berdo'a saja, semoga nanda prabu bisa disembuhkan." Syekh Asmawan Mulia tidak mengerti cara pengobatan yang dilakukan oleh pendekar tabib wanita itu.
"Tapi bagaimana bisa raga nanda prabu bisa menjadi dua lagi?. Apakah itu pertanda baik atau akan ada masalah seperti itu?" Ratu Gendhis Cendrawati juga sangat mengkhawatirkan keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Iya syekh. Ini sangat luar biasa membingungkan." Putri Agniasari Ariani sangat cemas dengan keadaan adiknya.
Mereka semua menyaksikan bagaimana raga Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria terbaring di tempat tidur. Karena perasaan yang cemas mereka rasakan, membuat mereka semakin panik akan kemungkinan-kemungkinan yang akan mereka terima nantinya.
"Semoga saja kau baik-baik saja rayi prabu. Aku mohon padamu jangan membuat kami cemas lagi." Dalam hati Putri Andhini Andita merasa cemas yang luar biasa. Rasanya ia tidak tega melihat keadaan adiknya seperti itu.
Sedangkan di alam sukma. Raden Cakara Casugraha menatap raganya yang kedua. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, yang kini tersenyum kecil padanya.
"Benarkah itu engkau gusti prabu?." Ada perasaan hatinya yang penuh harapan
"Ini aku jaya satria. Aku adalah engkau, dan engkau adalah aku."
"Alhamdulillah hirabbli'alamin ya Allah." Jaya Satria memeluk erat raga keduanya. Ia sangat bersyukur jika ia kembali melihat raga keduanya.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin." Pendekar tabib wanita itu juga terlihat sangat senang. "Kita harus segera kembali jaya satria. Akan berbahaya jika kita terus berada di alam sukma. Aku merasakan jika hawa jahat akan segera mendekati kita."
Keduanya saling melepaskan pelukan, setelah itu mengangguk mengerti. Memang resiko besar ditanggung begitu berat, ketika berada di alam sukma. Pendekar tabib wanita itu menepuk pundak keduanya dan mereka segera kembali ke dunia nyata.
Kembali ke dunia nyata. Mereka semua menunggu dengan perasaan berdebar-debar. Apakah benar raga Raden Cakara Casugraha kini menjadi dua?. Namun ekspresi mereka berubah bahagia, ketika mereka melihat keduanya perlahan-lahan membuka mata. Dan mencoba untuk duduk?.
__ADS_1
"Nanda prabu." Ratu Dewi Anindyaswari langsung memeluk erat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Oh putraku Nanda prabu." Ratu Anindyaswari mencium puncak kepala anaknya dengan sayang. Air matanya telah mengalir membasahi pipinya sebagai ungkapan betapa sedihnya perasaannya saat ini.
"Jaya satria." Sedangkan Putri Andhini Andita langsung memeluk Jaya Satria. "Jaya satria. Syukurlah kau baik-baik saja. Aku sangat mencemaskan jaya satria. Tidak bisakah kau tidak membuatku takut kehilanganmu jaya satria." Ucapan itu sertai tangisan pilu. Sehingga mereka yang ada di sana merasakan betapa sedihnya hati Putri Andhini Andita saat ini.
"Putriku andhini andita. Dia itu adalah adikmu nak. Kenapa kau malah mencintai adikmu sendiri nak." Dalam hati Ratu Gendhis Cendrawati merasa resah, sedih, bercampur heran. Anaknya yang dulunya sangat membenci Raden Cakara Casugraha, namun kini malah mencintainya?.
Sedangkan Pendekar tabib wanita itu juga mendekati mereka semua. Melihat bagaimana keharuan mereka saat dua raga Raden Cakara Casugraha telah kembali. Ia tersenyum bahagia karena keduanya bisa diselamatkan.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin, kau kembali putraku. Kau kembali nak. Ibunda sangat mencemaskan mu." Ratu Dewi Anindyaswari menangis sedih. Kedua tangannya menangkup wajah anaknya dengan lembut. Tak kecupan kecil di puncak kepala anaknya. "Ibunda sangat takut sekali nak. Ibunda mohon jangan seperti ini lagi." Itulah yang diharapkan oleh Ratu Dewi Anindyaswari.
"Nanda selalu bersama ibunda. Bukankah nanda sendiri adalah nanda cakara casugraha. Putra ibunda, putra ratu dewi anindyaswari." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berusaha untuk meyakinkan ibundanya.
"Ya. Nanda selalu bersama ibunda. Nanda tidak akan pernah menjauh dari ibunda." Balas Ratu Dewi Anindyaswari kembali mengecup kening anaknya dengan sayang.
Sementara itu disisi lain, Putri Andhini Andita yang sedang mencemaskan keadaan raga asli adiknya. "Rayi. Bagaimana keadaanmu rayi?. Apakah kau, kau merasakan merasakan sakit saat kedua raga mu terpisah?." Ketika Putri Andhini Andita melepaskan pelukannya ia langsung menghujani Jaya Satria dengan pertanyaan.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin, yunda. Aku baik-baik saja. Itu semua karena bantuan nini cahaya mutiara." Jaya Satria menatap ke arah Pendekar tabib wanita yang telah membantunya tadi.
"Apakah kalian saling kenal rayi?. Apakah kalian sebelumnya pernah bertemu?." Putri Agniasari Ariani yang duluan bertanya.
"Benar nanda jaya satria. Karena nanda menyebutkan namanya tadi." Bahkan Syekh Asmawan Mulia pun penasaran
"Yunda agniasari ariani, syekh guru. Memang kami sebelumnya pernah bertemu di suatu tempat, dan itu sudah sangat lama sekali." Jawab Jaya Satria. Sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya diam saja.
Sedangkan mereka semua tidak menyangka, jika Jaya Satria memang kenal dengan pendekar tabib wanita itu?. Dan ternyata memiliki nama yang sangat cantik, seperti orangnya?.Mereka ingin mengetahui lebih lanjut tentang pendekar tabib wanita yang telah menyelamatkan Jaya Satria, juga Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Benarkah itu?. Benarkah kau pernah bertemu dengan jaya satria?." Sepertinya Putri Andhini Andita masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Jaya Satria tadi.
"Kami bertemu saat itu hamba tidak sengaja melihat jaya satria dalam keadaan terluka parah."
"Terluka parah?. Apa yang dialami oleh jaya satria saat itu?."
__ADS_1
"Saat itu jaya satria terkena panah tiga dewa yang menembus bahu kirinya. Hamba menolongnya, dan Alhamdulillah masih sempat dicabut anak panahnya setelah dua hari dua malam."
Mereka kembali terkejut, mendekatkan apa yang dikatakan oleh Cahaya Mutiara?. Raden Cakara Casugraha mengalami luka separah itu?.
"Kapan nanda mengalami luka itu nak?. Kenapa tidak menceritakannya pada ibunda?."
"Maaf ibunda. Nanda hanya tidak mau ibunda khawatir. Sekali lagi maafkan nanda."
"Itulah sebabnya ibunda sangat melarang mu melakukan pengembaraan nak. Ibunda takut nanda mengalami hal yang paling berbahaya. Bersyukurlah karena masih ada yang membantu nanda saat itu." Ratu Dewi Anindyaswari sangat khawatir dengan keadaan anaknya. Kecemasan yang ia takutkan selama ini terhadap anaknya.
"Kali ini rayi prabu juga ditolong olehnya. Sepertinya ada takdir yang sedang terjalin diantara kalian."
Ucapan Putri Agniasari Ariani membuat mereka sedikit berpikir. Karena dua kali ditolong oleh orang yang sama. Apakah itu hanya kebetulan saja?.
"Memangnya seperti apa kejadian waktu itu Nanda jaya satria." Syekh Asmawan Mulia sedikit penasaran dengan kisah pertemuan keduanya.
"Pada saat itu, nanda mengikuti sayembara syekh guru."
"Sayembara?." Mereka semua bersamaan bertanya karena merasa heran. Sayembara apa yang diikuti oleh Raden Cakara Casugraha, sehingga membahayakan dirinya?.
"Pada saat itu, ada seorang raja kerajaan Islam yang membuat sayembara. Jika membawa anaknya kembali ke istana, maka ia akan diberikan hadiah yang sangat besar."
"Lalu rayi merasa tertarik dengan hadiah itu?."
"Bukan seperti itu yunda." Jaya Satria melirik ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang juga menyimak apa yang akan dikatakan oleh Jaya Satria. "Itu aku lakukan karena aku hanya merasa kasihan pada raja tersebut. Jadi aku mengikuti sayembara itu. Saat itu aku sempat bertarung dengannya. Aku terkena tembakan panah tiga dewa. Aku tidak mengetahui apa yang terjadi selama aku tidak sadarkan diri. Namun rasanya cukup lama juga aku terlelap, hingga akhirnya aku terbangun. Dan siapa sangka malah ditolong oleh nini cahaya mutiara."
Mereka semua menyimak dengan baik, apa yang diceritakan oleh Jaya Satria. Mereka hampir tidak percaya, namun setidaknya mereka semua merasa bersyukur. Jika tidak ditolong oleh Nini Cahaya Mutiara, mungkin saja mereka tidak akan pernah bertemu dengan Raden Cakara Casugraha lagi. Karena luka parah yang dialami olehnya saat itu. Alhamdulillah hirabbli'alamin, Allah SWT masih mengizinkan Raden Cakara Casugraha untuk bertemu dengan keluarganya dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apapun.
(semangat untuk puasa pertama ya pembaca tercinta. jangan lupa sahur biar puasa tidak lemes)
...***...
__ADS_1