
...***...
Di Istana Kerajaan Angin Selatan.
"Alhamdulillah hirobbil 'alamin nanda sudah bangun nak." Ratu Dewi Anindyaswari sangat bersyukur, hatinya sangat cemas.
"Maafkan nanda ibunda. Lagi-lagi nanda membuat ibunda menangis." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Ibunda hanya mencemaskan nanda. Ibunda tidak mau nanda meninggalkan ibunda." Tangisnya pecah karena mengingat apa yang terjadi selama ini.
"Lalu bagaimana dengan rayimu nanda jaya satria?. Apakah nanda jaya satria baik-baik saja nak?." Bukan hanya mencemaskan keadaan prabu Asmalaraya Arya Ardhana saja. Hatinya juga mencemaskan putranya Jaya Satria.
"Keadaannya sekarang juga baik-baik saja ibunda." Entah mengapa pipinya memerah. Apa yang terjadi sebenarnya?. Mengapa sang Prabu merah merona?.
Mari kita intip apa penyebab sang Prabu tersipu malu seperti itu.
Di Kerajaan Suka Damai.
Jaya Satria yang baru saja terbangun karena sudah merasa baikan, mencoba untuk duduk. Namun siapa sangka, ia malah dipeluk oleh Putri Cahya Candrakanti yang sangat senang melihatnya telah sadarkan diri.
"Alhamdulillah hirobbil 'alamin kamu sudah bangun jaya satria." Putri Cahya Candrakanti memeluk erat leher Jaya Satria, ia menangis terisak. Melepaskan perasaan cemas, khawatir yang menghimpit dadanya saat melihat kondisi Jaya Satria. "Saya sangat mencemaskan kamu jaya satria." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Jaya satria. Kau jangan berani macam-macam dengan putri cahya candrakanti." Sang Prabu yang seakan merasakan pelukan itu merasa gugup. "Aku tidak akan mengampunimu jika kau bersikap kurang ajar padanya." prabu Asmalaraya Arya Ardhana bahkan mengancam Jaya Satria.
Sementara itu Jaya Satria yang tidak mengerti sama sekali hanya terdiam. Tubuhnya terasa sangat kaku. Karena baru kali ini dipeluk oleh wanita lain, selain ibundanya juga kakaknya. Dan saat ini sang prabu sedang mengancam dirinya jika berani berbuat kurang ajar pada Putri Cahya Candrakanti.
"Sungguh. Hamba meminta ampun beribu ampun gusti prabu. Tadi ketika hamba baru terbangun, tiba-tiba saja gusti putri cahya candrakanti memeluk hamba. Sungguh hamba tidak mengerti sama sekali gusti prabu." Jaya Satria seakan sedang berperang dengan dirinya yang tak lain adalah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Kalau begitu lakukan sesuatu." Perintahnya berusaha menahan perasaan malu itu. "Tidak mungkin saat ini aku menahan diriku, tersipu malu dihadapan ibunda. Apa yang akan aku katakan jaya satria." Sang prabu benar-benar tidak tahan lagi. Karena ia merasa sangat merasa canggung.
"Baiklah gusti prabu. Akan hamba usahakan, namun tidak menyinggung perasaannya." Jaya Satria mencoba memikirkan cara bagaimana agar Putri Cahya Candrakanti melepaskan pelukannya.
"Maafkan hamba gusti putri." Jaya Satria gugup, ia tidak mengerti mengapa irama jantungnya berdetak kencang tidak stabil seperti ini?. Pipinya merah merona dibalik topeng yang menutupi wajahnya. Sungguh, ini adalah hal yang belum pernah ia lakukan bahkan pada Nyai Bestari Dhatu.
"Ah. Maafkan saya jaya satria." Akhirnya Putri Cahya Candrakanti juga menyadari apa yang telah ia lakukan pada Jaya Satria?. "Maafkan sikap kurang ajar saya yang tiba-tiba memeluk kamu." Putri Cahya Candrakanti menundukkan wajahnya. Ia sangat malu pada Jaya Satria.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Ampunilah hamba. Jangan sampai hamba bersikap kurang ajar pada seorang wanita." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria yang selalu menjunjung tinggi harkat martabat ibundanya sebagai seorang wanita.
Kembali ke Istana Kerajaan Angin Selatan. Kita lupakan sejenak rasa gugup yang dirasakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. Kita melihat kondisi sang Prabu.
Prabu Kawanda Labdagati dan keluarganya juga melihat keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Seperti yang dikatakan oleh putrinya Bestari Dhatu, bahwa Raja muda itu akan segera bangun besok pagi. Karena ia berhasil menutup aliran racun yang berusaha untuk melukai bagian tubuh dalam sang prabu.
"Syukurlah nanda prabu sudah bangun. Saya sangat mengkhawatirkan kondisi nanda Prabu." Prabu Kawanda Labdagati merasa lega melihat kondisi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sudah baikan.
__ADS_1
"Terima kasih atas perhatiannya paman prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bersyukur karena mereka masih diizinkan berada di sini. "Maaf, jika saya telah merepotkan paman prabu beserta keluarga di acara yang sangat penting ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa tidak enak. Ia telah membuat mereka panik. Termasuk ibundanya.
"Nanda prabu tidak perlu sungkan. Keluarga raden hadyan hastanta calon suami putri saya adalah keluarga saya juga. Jadi nanda jangan merasa sungkan." Ucap Prabu Kawanda Labdagati dengan senyuman yang ramah.
"Kami justru berterima kasih pada nanda prabu." Ratu Gendari Cendramaya menatap ramah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Ratu Dewi Anindyaswari. "Jika bukan karena nanda Prabu. Mungkin putri kami bestari dhatu saat ini belum kembali. Terima kasih atas kebaikan nanda prabu beserta keluarga." Lanjutnya lagi.
"Sebagai sesama sahabat yang telah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Saya juga merasakan bagaimana rasanya berpisah dari orang-orang yang kita cintai." Sang Prabu mengatakan apa yang ia rasakan.
"Kami hanya membantu sesama saja. Alhamdulillah hirobbil 'alamin. Kami juga bersyukur bisa menjalin kekeluargaan bersama kanda prabu. Kami sangat berterima kasih atas bantuan nimas bestari dhatu yang telah menyelamatkan nanda prabu." Ratu Dewi Anindyaswari juga mengungkapkan rasa terima kasihnya yang telah menyelamatkan putranya.
"Semoga dengan terjalinnya hubungan baik ini. Kita benar-benar menjadi keluarga besar yang dapat menjalin keharmonisan yang luar bisa kanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati juga ikut berbicara. Meskipun ia hanya menyimak, namun rasanya ia juga menjadi bagian penting dari hubungan yang sedang terjalin saat ini.
Mereka semua sangat berharap, akan ada kebaikan yang akan mereka dapatkan setelah ini.
"Mohon maaf semuanya." Ucap Putri Bestari Dhatu, sehingga ia menjadi pusat perhatian mereka semua. "Ada apa nak?. Sepertinya ada sesuatu yang ingin nanda putri sampaikan pada kami semua." Ratu Gendari Cendramaya merasa ada sesuatu pada putrinya.
"Izinkan ananda putri untuk menyampaikan sesuatu hal penting pada gusti prabu asmalaraya arya ardhana." Jawabnya. "Karena ada hal yang hanya kami berdua saja yang boleh mengetahui rahasia ini. Mohon ampun ayahanda prabu. Ibunda ratu, juga semuanya yang hadir di sini." Sorot mata itu terlihat serius, sehingga mereka saling bertatapan satu sama lain.
Apa yang sebenarnya yang hendak disampaikan oleh Putri Bestari Dhatu pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sehingga mereka saja yang boleh mengetahui rahasia itu.
"Ananda mohon sekali lagi. Ini demi keselamatan nyawa gusti prabu." Sepertinya Putri Bestari Dhatu sangat serius memohon kepada mereka semua.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya. Maaf jika lama updatenya. Karena kondisi author yang tidak berwujud ini sedang down banget. Terima kasih atas dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...