
...***...
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Putri Ambarsari dan Raden Hadyan Hastanta saat ini sedang bertarung dengan Raden Gentala Giandra dan Raden Ganendra Garjitha. Mereka tidak mengenal kata keluarga lagi, yang ada di hati mereka saat ini hanya perasaan amarah luar biasa. Mereka benar-benar menuruti hawa kemarahan yang meluap di dalam diri mereka masing-masing. Sementara itu, Ratu Ardiningrum Bintari yang melihat itu merasa gelisah. Apakah kedua anaknya bisa mengalahkan mereka bertiga?.
"Aku yakin kedua putraku mampu melakukannya." Dalam hatinya sangat yakin jika kedua anaknya bisa?.
Sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan gencarnya menyerang Raden Ganendra Garjitha. Sebenarnya ia ingin menggunakan jurus cakar naga cakar petir sekali lagi, tetapi jarak pertarungan kedua kakaknya sangat dekat, jadi ia tidak mau menanggung resiko kedua kakaknya akan terkena jurusnya juga.
"Baiklah, kalau begitu akan aku gunakan jurus hempasan angin di tengah badai."
"Ya, itu keputusan yang tepat gusti prabu." Jaya Satria mencoba menutup matanya, agar Prabu Asmalaraya Arya Ardhana benar-benar fokus dalam pertarungan itu. Akan berbahaya jika pikiran sang Prabu bercabang disaat seperti ini.
"Kau tenang saja jaya satria. Meskipun aku dikuasai oleh kemarahan, namun setidaknya, dengan tubuh ini aku masih bisa mengendalikan kemarahan itu."
"Gusti prabu benar. Hamba akan mendoakan keselamatan gusti prabu, yunda, serta raka."
"Terima kasih jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memainkan jurus itu dengan lihainya, membuat Raden Ganendra Garjitha terkejut dengan kecepatan jurus yang ia lihat.
"Sial!. Mataku jadi pusing karena jurus yang ia mainkan terlalu cepat, sehingga aku sulit menyimak gerakannya." Raden Ganendra Garjitha merasa kesal, ia mencoba untuk fokus melihat gerakan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Jangan sampai ia lengah, dan akhirnya kalah?. "Tidak!. Aku tidak akan kalah darinya!. Aku yang akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!."
Pertarungan sengit terjadi antara Raden Ganendra Garjitha dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Mereka mengadu ilmu kanuragan serta ilmu kadigjayaan yang mereka miliki. Sayangnya Raden Ganendra Garjitha kalah cepat dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, sehingga ia terkena totokan mematikan.
Deg!!!.
Gerakan Raden Ganendra Garjitha terhenti, kaku seperti patung yang tidak bisa bergerak sama sekali.
"Hentikan gentala giandra!. Jika kau ingin rakamu mati ditanganku sekarang juga!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengancam Raden Gentala Giandra, ia arahkan ujung pedang Sukma Naga Pembelah Bumi ke leher Raden Ganendra Garjitha.
"Raka prabu \ Nanda prabu!." Ratu Ardiningrum Bintari dan Raden Gentala Giandra sangat terkejut melihat itu.
"Kau sangat pengecut cakara casugraha!."
"Lepaskan putraku, atau aku tidak akan mengampunimu cakara casugraha!."
"Sebut saja aku seorang pengecut, karena aku telah berhasil menangkap seorang pemberontak, seorang pengkhianat yang tidak tahu diuntung."
__ADS_1
"Aku peringatkan sekali lagi cakara casugraha!. Lepaskan anakku!."
"Ibunda ratu yang terhormat, tidak perlu membentak ku. Aku ini tidak tuli sama sekali, aku masih bisa mendengarkan apa yang ibunda ratu katakan dengan jelas." Sang Prabu menatap tajam kearah Ratu Ardiningrum Bintari. "Hanya saja, jika ibunda ratu atau raka gentala giandra berani maju. Maka akan tembus lehernya ini dengan pedang sukma naga pembelah bumi."
"Jangan sekali-kali kau menyentuh putraku cakara casugraha!." Hatinya sangat panas, mendengarkan ancaman dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Sementara itu, Putri Ambarsari dan Raden Hadyan Hastanta tercengang melihat apa yang dilakukan adik mereka.
"Rayi prabu sangat serius, sehingga ia menggunakan cara itu, agar menghentikan tindakan mereka."
"Rayi prabu sangat mengagumkan. Aku saja tidak berpikiran sampai ke sana."
"Cakara casugraha!. Lepaskan putraku!." Ratu Ardiningrum Bintari mendekati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Kegh." Raden Ganendra Garjitha meringis sakit, karena lehernya terluka karena gertakan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang hendak menusuk dalam lehernya.
"Cakara casugraha!." Ratu Ardiningrum Bintari dan Raden Gentala Giandra terkejut melihat itu. Rupanya itu bukan hanya gertakan saja, itu adalah sungguh-sungguh.
"Kau sangat keterlaluan cakara casugraha!." Jantung Ratu Ardiningrum Bintari hampir saja melompat dari tempatnya, disaat ia melihat leher anaknya mengalir darah segar.
"Cakara casugraha!. Lepaskan rakaku!." Raden Gentala Giandra juga mendekati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, dan melupakan dirinya, jika ia tadinya bertarung dengan Putri Ambarsari, dan Raden Hadyan Hastanta.
Begitu mereka lengah. Keduanya terkena totokan, sehingga keduanya tidak bisa bergerak sama sekali.
"Kurang ajar!. Kenapa aku juga kena?." Dalam hati Raden Gentala Giandra merasa kesal.
"Kurang ajar!. Mereka benar-benar kurang ajar!. Mereka telah berbuat curang padaku, pada rayiku, juga pada ibunda." Raden Ganendra Garjitha merasa marah dengan apa yang mereka alami.
"Kita akhiri pertarungan ini yunda, raka. Karena ada hal yang lebih penting, yang harus kita lakukan."
"Apa itu rayi prabu?. Katakan pada kami."
"Benar rayi prabu. Tidak biasanya rayi prabu menggunakan cara seperti ini dalam bertarung."
"Kakek prabu. Kita tidak boleh membiarkan kakek prabu terlalu lama dengan keris yang menancap di perutnya."
"Kakek prabu." Ya, mereka ingat, bahwa Prabu Rahwana Bimantara harus segera dimakamkan.
__ADS_1
"Dari pada kita bertarung dengan orang berhati batu seperti mereka, lebih baik kita unsur jenazah kakek prabu." Perasaannya kembali bergemuruh, ketika mulutnya mengucapkan kata jenazah. Rasanya sangat berat untuk mengatakannya.
"Rayi prabu sangat benar. Maafkan saya rayi."
"Maafkan aku rayi. Karena terbawa amarah, aku hampir saja melupakan kakek prabu."
Raden Hadyan Hastanta dan Putri Ambarsari merasakan kembali perasaan sedih, karena mereka terbawa suasana saat bertarung dengan Raden Gentala Giandra.
"Prajurit!. Prajurit!."
Suara panggilan dari Prabu Asmalaraya Arya Ardhana didengar oleh lima orang prajurit yang masih bertahan?. Entahlah, lupakan saja. Yang pasti mereka datang saat dipanggil.
"Hamba gusti raden."
"Tolong urus jenazah kakek prabu dengan baik. Selain itu, bawa ketika orang ini ke dalam penjara istana. Jangan sampai mereka melarikan diri."
"Sandika gusti raden."
Tiga dari mereka membawa Ratu Ardiningrum Bintari, Raden Ganendra Garjitha, dan Raden Gentala Giandra menuju penjara. Sementara itu, dua sisanya membantu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Raden Hadyan Hastanta membawa jenazah Prabu Rahwana Bimantara untuk segera dimandikan, setelah itu dimakamkan.
...***...
Sementara itu di Istana Kerajaan Suka Damai.
Ratu Dewi Anindyaswari sangat gelisah dengan keadaan putranya Raden Cakara Casugraha, atau yang kini bernama Jaya Satria. Ia menuju wisma kesatria untuk melihat keadaanya. Namun ia kebetulan bertemu dengan Perapian Suramuara dan Syekh Asmawan Mulia yang juga hendak menemui Jaya Satria.
"Apakah gusti ratu merasa khawatir dengan nanda jaya satria?."
"Sebagai seorang ibu, tentunya saya sangat mengkhawatirkannya syekh. Saya tidak sampai hati melihat wajahnya yang pucat setelah bertemu dengan raka prabu."
"Kalau begitu, mari kita sama-sama melihat keadaannya gusti ratu."
"Mari paman, syekh."
Mereka bertiga ingin memastikan Jaya Satria baik-baik saja. Tapi apakah sesuai dengan keinginan mereka?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya. Komentarnya sangat memacu author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya.
__ADS_1
...****...