
...***...
"Jadi raden adalah seorang raja?." Kembali Prabu Sajana Reswara bertanya.
Jaya Satria menghela nafasnya. Ia masih tampak ragu untuk mengatakannya. "Jawab saja jaya satria. Tidak apa-apa. Tapi jangan sebutkan yang lainnya pada mereka." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang berada di Istana juga merasakan kebimbangan hati Jaya Satria.
"Tapi mengapa kau datang ke sini, dan mengatakan kau sebagai utusan raja?. Sementara engkau sendiri adalah rajanya?." Prabu Tenggala Putih mewakili mereka semua bertanya.
"Tujuanku datang ke sini. Karena dalam mimpi burukku. Aku bertemu dengan prabu maheswara jumanta, melalui kutukan tombak pusaka kelana jaya." Akhirnya Jaya Satria menjawabnya.
"Melalui kutukan tombak pusaka kelana jaya?." Putri Haspari Iswara sedikit heran.
"Suatu hari. Ketika aku berada di kerajaan telapak tiga. Aku berhadapan dengan dua orang pendekar pemburu benda pusaka. Setelah aku berhasil mengalahkannya, benda pusaka yang mereka curi itu menjadi liar." Jaya Satria menatap mereka semua.
"Aku hanya berencana menenangkan mereka dengan suara adzan. Tapi siapa sangka, mereka semua malah masuk ke dalam tubuhku. Termasuk tombak pusaka kelana jaya." Tambahnya lagi.
"Jadi, saat ini banyak benda pusaka yang ada di dalam tubuhmu?." Tanya mereka lagi.
"Ya. Ada banyak benda pusaka saat ini di dalam tubuhku. Dan ada kemungkinan, akan aku kembalikan setelah aku kembali dari kerajaan angin selatan." Jawabnya.
"Hanya orang-orang berilmu tinggi. Yang mampu menampung lebih banyak benda pusaka di dalam dirinya. Sebenarnya raden keturunan raja mana?." Mpu Mahaprana juga penasaran.
"Nama asliku. Bahuwirya cakara casugraha." Jawabnya.
"Oh, Dewata yang agung. Hamba tidak menyangka. Akan bertemu dengan keturunan langsung dari salah satu raja besar." Mpu Mahaprana merasa terharu?.
"Sebenarnya siapa dia eyang mpu?." Pupuh Ayu heran dengan sikap MpU Mahaprana.
"Hadirin sekalian. Beliau adalah raja agung dari keturunan raja pertama di bumi muara damai. Beliau cucu buyut dari gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta." Sepertinya MpU Mahaprana telah melebihkan sejarah yang ada?.
__ADS_1
Tentunya mereka semua terkejut, apalagi mereka yang mengetahui tentang kerajaan Suka Damai.
"Kesaktian dari prabu bahuwirya jayantaka byakta sudah tidak bisa diragukan lagi." Lanjut sang MpU. "Apalagi dengan pedang pusaka panggilan jiwa yang merupakan turunan dari sifatnya. Itu sangat luar biasa." Sepertinya MPU Mahaprana sangat mengetahui kisah dari keturunan Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.
"Jika hamba boleh tahu. Pedang panggilan jiwa apa yang gusti prabu miliki?." Mpu Mahaprana ingin mengetahui sampai ke sana?.
Jaya Satria nampak berpikir. "Bagaimana ini gusti prabu?. Apakah hamba juga akan menjawabnya?." Jaya Satria benar-benar gelisah.
"Pedang hanyalah alat. Alat bisa kuat, jika hati kita kuat." Sang prabu melalui Jaya Satria menjawabnya. "Kita tidak perlu menunjukkan pada siapapun, benda pusaka apa yang mengiringi kita. Cukuplah Allah SWT. Menjadi saksi apa yang kita kerjakan." Lanjutnya lagi.
Mereka benar-benar terpaku dengan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria. Begitu sangat merendahkan diri dihadapan mereka.
"Kita ini hanyalah manusia. Yang diberi kelebihan masing-masing oleh Allah SWT. Karena itulah. Kendalikan diri kita masing-masing. Jangan sampai terlena dengan kelebihan yang kita miliki." Jaya Satria masih menatap mereka dengan senyuman ramah.
"Ingatlah. Sebesar apapun masalah yang kita hadapi, tapi jika kita mengetahui siapa tuhan yang telah menciptakan kita. Selalu menyembah kepada-Nya. Tidak bersekutu dengan iblis. Maka hidup kita akan aman."
"Itulah salahnya. Seharusnya kalian menyembah Allah SWT, yang telah menciptakan kita semua." Jaya Satria terlihat kecewa. "Hidup kita menderita, karena kita yang menginginkannya dengan menyembah hal yang menyesatkan." Lanjutnya lagi.
"Apakah gusti prabu mempunyai saran untuk kami semua?." Prabu Sajana Reswara yang bertanya.
"Kenalilah kembali siapa yang menciptakan kita. Tinggalkan kebiasaan yang menyesatkan itu."
"Lalu bagaimana jika ratu penguasa kerajaan gaib teluk mutiara marah pada kami?. Kami sangat takut jika ia murka gusti."
"Takutlah kepada Allah SWT. Allah selama ini telah murka kepada kalian." Jawab Jaya Satria. "Bukan hanya melakukan perbuatan syirik. Akan tetapi kalian juga telah membunuh nyawa anak kecil malang yang tidak berdosa sebagai korban." Hati Jaya Satria merasa miris merasakan kejadian itu.
"Apa yang kalian lakukan itu hanyalah untuk memperluas kekuasaan istana kerajaan gaib yang berdiri di atas laut teluk mutiara ini. Astaghfirullah hal'azim." Jaya Satria menghela nafasnya dengan pelan. Sungguh ia merasa resah.
"Lihatlah!. Apa yang kalian dapatkan selama sepuluh tahun melakukan tumbal?. Apa yang kalian rasakan?. Katakan padaku!."
__ADS_1
Mereka semua tampak berpikir. Diam sambil memikirkan kembali apa yang telah diucapkan oleh Jaya Satria.
"Tidak ada. Selain kesengsaraan, hidup menderita, melarat, dibawah keputusasaan yang panjang." Jaya Satria yang menjawab.
"Lalu apa yang harus kami lakukan gusti prabu?." Mpu Mahaprana bertanya lagi.
"Seperti yang aku katakan tadi mpu." Jaya Satria menatap ke arah Mpu Mahaprana. "Bertaubatlah dengan sebenar-benarnya bertaubat. Semoga tali takdir kalian bisa putus dengan kerajaan gaib yang masih terhubung kuat." Ia menatap Putri Haspari Iswara dengan lekat.
"Carilah orang yang memahami agama dengan baik. Bangunlah kembali kerajaan ini dengan baik." Kali ini matanya menatap lurus ke arah laut.
"Secepatnya kalian harus memutuskan tali perjanjian dengan istana kerajaan gaib. Atau kerajaan ini akan menjadi kerajaan gaib. Karena kerajaan ini adalah bagian pecahan kerajaan itu." Jaya Satria sedikit merinding melihat tali gaib yang menjadi penghubung kerajaan ini.
"Karena aku takut. Suatu waktu, ratu penguasa kerajaan gaib akan kembali pada prabu maheswara jumanta. Menuntut pengabdian yang ia janjikan padanya. Dan kerajaan ini akan menghilang selamanya dari peradaban sejarah."
Mereka semua terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria.
"Apakah gusti prabu tidak bisa membantu kami?."
"Ya, bantulah kami untuk keluar dari masalah ini. Kami mohon gusti prabu."
Jaya Satria lagi-lagi menghela nafasnya. "Aku bisa saja membantu kalian." Jawabnya. "Tetapi, jika kalian memang ingin berubah. Tentunya itu dari diri kalian terlebih dahulu."
"Apa maksudmu?." Putri Haspari Iswara sangat tidak mengerti.
"Karena yang sedang kita hadapi ini adalah alam gaib. Apakah aku harus membuka mata batinmu, untuk melihat. Bagaimana istana ini telah diikat oleh tali gaib?. Bahkan sudah menjadi sarang tempat mereka tinggal. Roh-roh tersesat yang mereka tampung untuk menjadi pengikut setia mereka." Jaya Satria menatap tajam ke arah putri Haspari Iswara.
Mereka semuanya benar-benar terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria mengenai gambaran kondisi kerajaan Teluk Mutiara. Apa yang akan mereka lakukan?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1