
...***...
"Putraku. Apa yang terjadi padamu nak?. Kenapa nanda bisa dalam keadaan tertotok seperti ini?." Ratu Dewi Anindyaswari menangis sedih. Ia tidak sanggup mendengar penjelasan Syekh Asmawan Mulia tentang anaknya. "Kenapa kau selalu saja mengalami hal yang buruk putraku?."
"Hamba harap Gusti Ratu bersabar, ini adalah ujian untuk nanda Prabu." Syekh Asmawan Mulia merasa tidak enak.
"Bagaimana bisa itu terjadi syekh?. Bagaimana bisa rayi prabu tertotok seperti itu?." Raden Hadyan Hastanta tidak mengerti sama sekali.
"Apakah ada seseorang yang berilmu tinggi, melakukan hal yang seperti itu dari jarak jauh syekh?." Putri Agniasari Ariani ingin tahu penyebabnya. Ia sangat khawatir dengan keadaan adiknya.
"Katakan pada kami penyebabnya syekh? Lakukan sesuatu, agar rayi prabu bisa terbebas dari totokan itu." Putri Andhini Andita masih menangis, ia tidak bisa menahan perasaan gelisahnya. Rasanya ia ingin segera membebaskan totokan adiknya.
"Katakan pada kami syekh, atau syekh bisa menyelamatkan rayi prabu. Lakukan sesuatu untuk menyelamatkannya syekh." Rasanya, Raden Hadyan Hastanta ingin menangis karena mencemaskan adiknya.
"Ya Allah. Apa yang harus hamba katakan pada mereka tentang nanda prabu?." Ia bimbang mau menjelaskan apa pada mereka semua. "Hamba sedang memikirkannya, mohon bersabar."
"Bertahanlah nak. Ibunda yakin nanda bisa bertahan." Ratu Dewi Anindyaswari berusaha untuk menguatkan hatinya. Ia tidak sanggup melihat keadaan anaknya. "Ibunda akan selalu berdoa kepada Allah supaya nanda baik-baik saja."
"Mereka semua mencemaskan keadaan nanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati melihat bagaimana kecemasan di raut wajah mereka semua. "Bahkan putriku yang dulu tidak pernah perduli dengan siapapun, saat ini menangis?." Rasa sakit aneh menyelimuti hatinya. "Putraku yang keras hati, tidak pernah memikirkan siapapun? Saat ini mengkhawatirkan adiknya cakara casugraha?." Ia merasakan perubahan sikap kedua anaknya. "Baru sebentar aku tinggalkan istana ini namun kedua anakku telah berubah tanpa adanya diriku." Rasanya ia ingin menangis melihat kenyataan ini. "Itu artinya aku yang membuat kedua anakku menjadi orang jahat, yang tidak punya perasaan sama sekali pada saudaranya." Dalam keadaan seperti ini, hatinya merasa perih, membayangkan bagaimana ia mengeluarkan kata-kata pada anaknya di masa lalu. Sehingga sampai terakhir ia berpisah dengan anaknya ketika terjadinya perang. "Rayi, tenangkan dirimu. Aku yakin nanda prabu akan baik-baik saja." Hanya itu yang bisa ia katakan pada Ratu Dewi Anindyaswari saat ini. "Aku yakin nanda Prabu akan baik-baik saja." Ucapanya sambil memberikan semangat.
"Aku sangat mencemaskan keadaan putraku yunda. Nanda prabu tidak sadarkan diri." Ia menangis sedih, hatinya pilu tidak sanggup menerima kenyataan ini. "Tentunya yunda mengerti perasaan cemas itu."
"Aku mengerti. Tapi tenangkan dirimu, doakan saja agar nanda prabu bisa terbebas dari totokan itu." Ratu Gendhis Cendrawati mencoba untuk menenangkan Ratu Dewi Anindyaswari.
"Astagfirullah hala'zim ya Allah. Kuatlah hati hamba-Mu ya Allah." Ia menghela nafasnya, ia mengucap kalimat istighfar untuk menenangkan dirinya.
"Ya Allah. Hamba mohon selamatkan putra hamba. Bebaskan ia dari jeratan yang tak kasat mata ya Allah. Sesungguhnya pertolonganmu, adalah pertolongan yang sangat luar biasa, dari pertolongan apapun di duni ini. Lahaula walakuata illabillahil a'liyila'zim. Hamba serahkan semuanya padamu ya Allah." Ratu Dewi Anindyaswari berdoa berharap anaknya akan baik-baik saja. Begitu juga dengan putri agniasari ariani yang ikut berdoa.
Mereka semua sangat mengkhawatirkan keadaan sang Prabu. Mereka hanya berharap, sang prabu bisa membebaskan dirinya dari totokan itu.
...***...
Sementara itu di bawah alam sadar prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Kali ini berjalan di desa?. Ia tidak mengerti mengapa ia berada di sini, dan ia tidak bisa menghentikan langkahnya.
"Kau bisa melihat keadaan desa ini cucuku.?" Suara seseorang mengalihkan pandangannya ke arah samping kirinya.
"Eyang prabu?." Tidak salah lagi, itu adalah prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta. "Eyang prabu. Hormat nanda untuk eyang prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat pada Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta.
"Kau tidak perlu kaku seperti itu cucuku, mari kita nikmati perjalanan ini untuk sejenak." Ia tersenyum kecil menatap cucunya. Menepuk pelan pundak cucunya.
"Baiklah eyang prabu." Mau tidak mau ia mengikutinya. Meskipun tubuhnya terasa kaku, namun itu tidak menjadi penghalang baginya.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana benar-benar melihat kondisi kerajaannya dari alam bawah sadarnya. Ia dapat merasakan semua perasaan yang tersampaikan melalui apa yang ia lihat.
"Nanda prabu harus memperhatikan mereka semua, sama seperti raja-raja sebelumnya. Aku yakin nanda bisa menjalani tahta kerajaan ini dengan baik. Teruslah berusaha nanda prabu." Itulah yang dikatakan oleh Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta pada cucunya.
...****...
Disisi lain.
Jaya Satria telah sampai di tempat dimana sumber suara teriakan itu. Namun tidak ada seorangpun terlihat di tempat itu.
"Apa yang terjadi, mengapa aku tidak ada satu orangpun di sini?." Matanya memastikannya, sudah agak lama ia menyusuri hutan itu. Tidak ada siapa siapapun, yang ada lama-lama hutan itu berkabut, ditutupi oleh asap aneh.
"Apa yang terjadi?. Kenapa asapnya semakin tebal?."
Pandangannya benar-benar terhalangi oleh kabut itu, dan perlahan-lahan ia batuk karena tidak tahan menghirup udara di sekitar.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!."
Lama kelamaan batuk itu semakin keras, ia menutupi mulutnya, karena sudah tidak tahan lagi. perutnya juga terasa sakit dan keram karena menahan batuk. Namun siapa sangka, ketik ia melihat telapak tangannya, ia melihat darah kental. Matanya terbelalak kaget melihat itu.
__ADS_1
"Aakh!." Ia berteriak sakit karena tubuhnya yang terasa sakit menyiksa. Lama-lama kepalanya juga terasa sakit. "Apa yang terjadi padaku?. Kenapa rasanya sakit semua?." Dalam kepanikannya ia mencoba berpikir, ada apa dengan tubuhnya?.
Belum sempat ia berpikir atau bertindak untuk menenangkan dirinya, tiba-tiba ia mendapatkan serangan dari seseorang. Ia mendapatkan pukulan keras di punggungnya sehingga tubuhnya limbung ke depan. Dengan tenaga yang masih tersisa ia mencoba untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh, dan ia cepat membalikkan tubuhnya melihat siapa yang menyerangnya dalam keadaannya yang lemah sekarang?.
"Kau? Bukankah kau wanita yang waktu itu?." Mata itu terbelalak terkejut, karena ia diserang oleh wanita muda yang pernah bertarung dengannya ketika di tempat hiburan malam itu.
"Bagus! Kau masih ingat denganku!." Wanita itu tampak ganas, dan garang karena menahan dendam yang ia rasakan. "Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari sini dalam keadaaan hidup!. Aku pasti akan membunuhmu dengan tanganku ini!." Ambisinya yang sangat besar, membuatnya terlihat semain menyeramkan.
"Kau memang seorang pengecut!." Jaya Satria masih meringis kesakitan. Ia tidak menyangka, jika dirinya bisa masuk dalam jebakan seperti itu?.
"Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan!. Namun yang pasti, aku bisa membunuhmu!." Ia menyeringai lebar. Hatinya sangat puas dengan apa yang ia dapatkan hari ini.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah."
"Kau telah terkena asap kabut beracun dari raja teluh. Dan akan aku pastikan kau akan mati!. Namun sebelum kau mati, akan aku siksa kau terlebih dahulu, karena telah berani membacakan mantram aneh padaku!. Sehingga membuat seluruh tubuhku kepanasan, dan kupingku hampir pecah!." Ia menuangkan semua kemarahan yang ia rasakan.
"Eqhak! Aku mohon jangan bunuh aku!." Dalam kesakitan yang ia rasakan ia memohon pada musuhnya agar tidak membunuhnya.
Sedangkan wanita itu malah tertawa bahagia mendengarkan jaya satria yang meminta pengampunan darinya. "Memangnya siapa yang akan mengampunimu bodoh!." Ia tertawa dalam kebahagiaan karena telah berhasil mengalahkan musuhnya.
...
Deg!.
Mata itu terbelalak kaget melihat gambaran itu. Tapi mengapa tubuhnya masih belum bisa ia gerakkan?.
"Begitulah yang terjadi, jika kau tadi masuk ke dalam hutan itu." Ucap seseorang dengan perasaan cemas yang luar biasa. "Kau bisa terbunuh dengan cara yang tidak menyenangkan."
"Bukankah kisanak adalah kakek yang waktu itu?." Ia tidak salah mengenali seseorang.
"Kau masih mengingatku anak muda." Kakek itu tersenyum kecil padanya. "Ingatanmu sangat bagus sekali, luar biasa sekali."
"Apa yang terjadi sebenarnya?. Kenapa kakek membawaku ke sini?." Ia hanya cemas, jika dirinya diculik oleh orang jahat. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh orang jahat itu pada dirinya, ketika ia tidak sadarkan diri.
"Siapakah kisanak ini sebenarnya?. Sudah dua kali kinasak mengatakannya, jika aku ini seorang pemimpin! Mengapa kisanak mengetahui siapa aku sebenarnya?." Jaya Satria sedikit waspada dan bingung.
"Kau tidak perlu tau siapa aku, namun bagiku melindungi junjunganku adalah sebuah kehormatan bagiku." ia hanya tersenyum ramah. Setelah itu ia berjalan pelan, meninggalkan Jaya Satria.
"Kisanak?!." Jaya Satria sangat terkejut, karena kakek itu menghilang secara tiba-tiba. Ia tidak bisa mengejar laki-laki itu karena dalam keadaan tertotok.
"Jika kau ingin bebas, maka tenangkan dirimu, tenangkan amarah yang bersemayam di dalam tubuhmu, atau dia yang satunya lagi akan merasakan apa yang kau rasakan." Meskipun wujudnya tidak terlihat, namun suara itu memberikan kata-kata yang membuat Jaya Satria sadar akan satu hal yang sangat penting.
"Astagfirullah hala'zim ya Allah." Jaya Satria hampir saja lupa dengan kenyataan itu. Ia yang kini dalam keadaan duduk besila, mencoba menenangkan dirinya. Ia memejamkan matanya, melafal kalimat istighfar, kalimat takbir, tahmid dan tahlil menyebut nama Allah, memohon agar terbebas dari totokan itu.
"Ya Allah, hanya kepadamu aku berserah diri. Bebaskanlah gerakan ini ya Allah, lahaula walakuata illanillahil aliyila'zim, Allahuakbar!."
Totokan itu lepas darinya, ia sudah bisa bergerak dengan bebasnya, ia juga tidak lagi mengalami sakit.
"Alhamdulillah hirobbil alamin ya Allah." Ia tersenyum senang karena itu. "Semoga saja gusti prabu baik-baik saja ya Allah." Doa dan harapannya sangat besar, ia takut jika apa yang ia alami terjadi pula pada prabu asmalaraya arya ardhana.
...****...
DEG!
Mata yang tadinya terpejam, kini telah terbuka paksa dengan lebarnya.
"Putraku?!." Ratu Dewi Anindyaswari terkejut melihat anaknya yang membuka matanya.
"Rayi prabu?!.
"Nanda prabu?.”
__ADS_1
Mereka tidak percaya dengan apa yang terjadi, namun mereka senang melihat sang prabu bangun.
"Putraku? Alhamdulillah hirobbil'alamin kau sudah sadar nak." Ratu dewi Anindyaswari memeluk anaknya, hatinya sangat cemas. Ia menangis sedih dengan apa yang terjadi pada anaknya.
"Ibunda?." Ia belum mengerti mengapa ibunya memeluknya. kesadarannya baru kembali, tetapi ia menangkap kecemasan dari ibundanya.
"Putraku, ibunda sangat mencemaskanmu nak." Ia tidak kuasa menahan tangisnya. Ia melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah putranya. "Nanda membuat kami semua merasa cemas, nanda tiba-tiba saja pingsan, dan syekh asmawan mulia mengatakan, jika nanda prabu pingsan dalam keadaan tertotok. Ibunda sangat khawatir nak." Ratu Dewi Anindyaswari menangis terisak sambil menjelaskan apa yang dialami putranya.
"Ibunda, maafkan nanda karena telah membuat ibunda cemas." Ia merasa bersalah, ia menggenggam tangan ibundanya yang mengusap wajahnya.
"Tapi sekarang kau baik-baik sajak kan rayi prabu?." Putri Andhini Andita yang dari tadi menahan rasa khawatirnya, ia duduk di sebelah adiknya, memeriksa keadaan adiknya. "Rayi prabu, kau sungguh tidak apa-apa kan?." Putri Agniasari Ariani juga mendekati adiknya.
"Rayi prabu, katakan sesuatu jika kau merasakan sakit, kami akan segera mengobatimu rayi prabu." Raden Hadyan Hastanta juga mendekati adiknya.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, nanda baik-baik saja ibunda, yunda, raka." Ia tidak mau mereka semua berwajah sedih karena keadaanya. "Maafkan aku karena membuat kalian semua cemas." Ia mencium tangan ibundanya penuh kasih sayang. "Maafkan nanda, ibunda, sungguh nanda tidak bermaksud untuk membuat ibunda merasa cemas." Begitu tulus ucapan itu, hingga menyentuh hati mereka yang mendengarnya.
Ratu Dewi Anindyaswari mengelus kepala putranya. "Setidaknya nanda prabu sudah bangun. Kami semua merasa lega." Ia mencoba menahan perasaan cemas yang bersemayam di hatinya saat ini. "Semoga saja jaya satria baik-baik saja ya Allah." Dalam hatinya teringat dengan keadaan jaya satria yang kini entah bagaimana nasibnya.
"Katakan saja jika nanda prabu merasakan sesuatu. Rayi dewi sangat cemas, dari tadi ia beroda terus agar nanda prabu segera sadar." Ratu Gendhis Cendrawati kini bersuara. Hatinya mulai tersentuh melihat mereka semua yang mencemaskan keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Nanda, sungguh baik-baik saja ibunda Ratu, tadi mungkin ananda sedang kelelahan, karena ananda dari semalam belum makan apapun." Dengan pelan ia menjelaskan apa yang terjadi padanya.
Sementara itu, mereka semua terkejut mendengarkan apa yang dikatakannya. Apakah itu bisa jadi penyebabnya pingsan?.
"Tapi kenapa rayi prabu bisa dalam keadaan tertotok begitu?." Putri Agniasari Ariani tentunya penasaran.
"Kalau soal itu, itu karena aku tidak muntah dihadapan syekh guru, makanya aku menotok diriku, aku takut muntahanku mengenai baju syekh guru, karena tidak mau dikatakan murid durhaka, murid kurang ajar, makanya aku menotok diriku sebelum pingsan. Sungguh maafkan aku syekh guru. Aku telah membuat syekh guru merasa cemas." Raut wajah itu sangat menggambarkan rasa penyesalan yang luar biasa dari raut wajahnya.
"Ya allah putraku." Ia tidak menyangka itu penyebabnya?. Karena tidak mau menjadi murid durhaka, ia malah menotok dirinya sendiri?.
"Astagfirullah hal'azim rayi prabu. Kau membuat kami sangat cemas." Ada rasa amarah yang bergejolak di dalam dirinya, setelah mendengarkan penjelasan adiknya.
"Dewata yang agung. Aku tadi sempat berpikir, ada pendekar berilmu tinggi menotokmu dari jarak jauh. Aku sangat cemas, hingga mendesak syekh asmawan mulia untuk mencari tahu penyebabnya. Rayi prabu, kau benar-benar keterlaluan!." Rasa cemas kini sekarang berganti bentuk kekesalan.
"Aku dari tadi tidak bisa duduk, karena memikirkan cara membebaskan totokan itu. Tapi ternyata kau sendiri yang melakukannya. Ya ampun rayi prabu kau berhasil membuat kami semua panik." Raden Hadyan Hastanta berdiri karena refleks. Sebenarnya ia merasa lega karena adiknya baik-baik saja.
"Sungguh, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat kalian semua mencemaskan aku. Syekh guru, aku juga minta maaf padamu syekh guru." Ia juga merasa menyesal, apalagi pada Syekh Asmawan Mulia yang merupakan gurunya.
"Tidak apa-apa nanda prabu. Tapi syukurlah nanda prabu baik-baik saja." Syekh asmawan maulia hanya tersenyum maklum.
"Lain kali perhatikan juga kesehatanmu nanda prabu. Akan berbahaya jika seorang raja mudah tumbang seperti itu." Ratu Gendhis Cendrawati merasa lega. Karena Prabu Asmalaraya Arya Ardhana baik-baik saja.
"Baiklah ibunda, nanda akan mengingat apa yang ibunda katakan." Balasnya dengan senyuman ramah.
"Aku yakin bukan itu alasannya. Ia hanya menutupi kebenaran yang menimpa dirinya. Disisi lain ia juga tidak mau mereka cemas. Dan rahasianya akan terbongkar jika ia berkata yang sebenarnya." Dalam hati syekh asmawan mulia memahami situasi ini.n"Mohon maaf nanda prabu. Kalau begitu syekh pergi ke ruang pengobatan dulu. Syekh guru juga akan mengecek situasi yang kita bicarakan tadi."
"Baiklah syekh guru, terima kasih karena syekh guru selalu membantu nanda." Ia mengerti maksud dari ucapan itu.
"Sama-sama nanda prabu, Kalau begitu syekh guru pamit dulu, assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh."
"Sampurasun."
"Rampes."
Syekh Asmawan Mulia pergi meninggalkan tempat. Ia ingin memastikan keadaan Jaya Satria baik-baik saja.
"Ya Allah. Semoga saja jaya satria baik-baik saja." Dalam hatinya berharap semuanya akan baik-baik saja tanpa ada luka atau hal yang tak diinginkan.
Bagaimana keadaan Jaya Satria?. Temukan jawabannya. Jangan lupa semangatnya ya pembaca tercinta. Next.
__ADS_1
...***...