RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KASIH SAYANG


__ADS_3

Perlahan-lahan mata itu mulai terbuka, menyesuaikan dengan cahaya sekitarnya. Mencoba merasakan diri kembali setelah terjebak di alam sukma. Mencoba merasakan sekitar, apakah mereka sudah bisa bergerak atau belum.


Semen itu Ratu Dewi Anindyaswari, Nyai Bestari Dhatu dan Syekh Asmawan Mulia menunggu reaksi dari keduanya. Mereka sangat was-was menunggu keduanya bergerak.


"Ibunda." Setelah agak lama tidak bereaksi, namun kata pertama yang keduanya ucapkan adalah ibunda. Karena mata keduanya menangkap sosok ibunda yang sangat mereka rindukan. Wajah ibunda mereka yang tampak cemas dengan kondisi kedua anaknya.


Keduanya mencoba bangun dengan pelan, duduk sambil menatap wajah ibundanya yang mencoba untuk tersenyum walaupun terasa pahit setelah melihat kedua anaknya berhasil kembali dari alam sukma.


"Ibunda." Keduanya memeluk erat Ratu Dewi Anindyaswari yang duduk diantara kedua anaknya. Karena tadi ia duluan yang terbangun setelah cahaya terang menerpa tubuh mereka. Cahaya itu membawa kembali sukma ke dalam raga mereka.


"Putraku. Alhamdulillah hirobbil a'lamin kalian kembali nak." Ratu Dewi Anindyaswari menangis terharu. Ia peluk erat kedua anaknya. Hatinya sangat lega. Kegelisahan yang ia rasakan perlahan-lahan sirna setelah ia memastikan bahwa kedua anaknya telah kembali dengan selamat.


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin ya Allah. Nanda prabu dan nanda jaya satria kembali." Syekh Asmawan Mulia juga merasa senang. Ia bersyukur kepada Allah SWT, karena tanpa izin Allah. Semuanya tidak akan berjalan dengan lancar.


"Syukurlah, kita berhasil menyelamatkan gusti prabu, juga jaya satria." Nyai Bestari Dhatu juga bersyukur. Usaha yang mereka lakukan tidak sia-sia. .


"Maafkan kami telah membuat ibunda menangis." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencium lembut tangan ibundanya. Terselip rasa penyesalan dihatinya saat melihat ibundanya menangis.


"Sungguh maafkan kami ibunda." Begitu juga dengan Jaya Satria.


"Saat ini ibunda menangis karena ibunda bahagia bisa melihat kedua putra ibunda." Ratu Dewi Anindyaswari tersenyum lembut menatap kedua anaknya. Tangannya tak henti-hentinya mengelus kepala anaknya, mencium puncak kepala mereka penuh dengan kasih sayang yang tiada batas.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria dapat merasakan kasih sayang yang diberikan Ratu Dewi Anindyaswari. Mereka hanya tidak ingin ibunda yang mereka sayangi bersedih hati karena kondisi yang mereka alami.


"Ibunda sangat takut sekali nak. Ibunda tidak sanggup untuk kehilangan kalian berdua. Cukup ketika masa itu saja ketika ibunda kehilangan putra ibunda bernama cakara haryatma." Ratu Dewi Anindyaswari mengungkapkan apa yang ia rasakan saat ini.

__ADS_1


"Tapi Allah SWT, masih menyayangi ibunda dengan menghadirkan dirimu nak. Terima kasih nanda jaya satria." Hatinya sangat pilu. Sangat pilu karena anak yang ia cintai hadir dalam wujud belahan dari anaknya Raden Cakara Casugraha.


Sebenarnya rahasia itu harus dijaga dari siapapun, termasuk ibundanya. Namun sepertinya tidak bisa dilakukan. Karena kasih sayang seorang ibu. Perasaan yang dimiliki seorang ibu sangatlah kuat sehingga menyadari keberadaan anaknya.


Tapi Rahasia sang prabu masih aman karena ibundanya telah berjanji akan menjaga rahasia itu agar tetap aman. Semoga saja.


"Mohon ampun gusti prabu. Maafkan hamba jika lancang mengganggu." Nyai Bestari Dhatu berucap.


Mereka semua melihat ke arah Nyai Bestari Dhatu dengan penuh tanda tanya.


"Izinkan hamba untuk membuka kembali aliran tenaga dalam gusti prabu, juga jaya satria. Karena masih ada sisa racun yang berada di dalam tubuh gusti prabu dan jaya satria." Agak ragu ia ingin mengatakannya, tapi akan berbahaya jika tidak ia katakan dengan benar.


"Lakukan sesuatu pada keduanya agar bisa sembuh, nyai." Ratu Dewi Anindyaswari sangat cemas mendengarnya.


"Hamba mohon gusti prabu untuk duduk bersemedi. Setelah itu saya akan mengobati gusti prabu dan juga jaya satria bersamaan." Balas Nyai Bestari Dhatu menjelaskan pada mereka cara mengeluarkan racun itu.


"Baiklah nyai. Mohon bantuannya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria turun dari tempat tidur, duduk di bawah lantai dengan duduk bersemedi.


Memejamkan mata mereka mencoba untuk menenangkan diri sambil mengatur hawa murni mereka.


"Semoga saja putraku benar-benar sembuh ya Allah." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari sedikit gelisah. Tubuh kedua naknya masih menyimpan racun?. Hati ibu mana yang tidak khawatir mendengar kabar buruk itu.


"Baiklah gusti prabu. Cobalah untuk mengambil nafas dengan pelan, hamba akan mencoba melakukannya." Nyai Bestari Dhatu memberikan arahan pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Dengan tenang prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengikuti apa yang diarahkan Nyai Bestari Dhatu.

__ADS_1


Setelah itu Nyai Bestari Dhatu menotok beberapa titik aliran darah sang prabu. Beberapa kali totokan, tubuh sang prabu bereaksi. Tubuh itu sedikit menggamang, dan akhirnya sang prabu memuntahkan darah hitam kental yang mengandung racun yang sangat berbahaya.


"Ohokh."


Bukan hanya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saja yang muntah darah, namun juga Jaya Satria. Keduanya muntah darah. Meski yang diobati adalah sang Prabu. Namun dampaknya berpengaruh juga pada Jaya Satria yang merupakan belahan tubuh sang prabu.


"Oh putraku." Ratu Dewi Anindyaswari tidak sampai hati melihat kondisi anaknya yang seperti itu. Ia segera mendekati kedua anaknya. Menyeka darah yang tersisa di bibir anaknya dengan menggunakan kain kecil.


"Kalian adalah putra ibunda yang sangat kuat." Ucapnya sambil menyeka darah di sudut mulut Jaya Satria dengan lembutnya.


"Ibunda sangat bersyukur memiliki anak sepertimu nak." Senyuman itu, senyuman yang sangat tulus. Tak lupa tangannya yang selalu memberikan belaian kasih sayang pada anaknya. Juga ciuman hangat dipuncak kepala Jaya Satria.


"Ibunda percaya. Bahwa nanda adalah orang yang kuat dalam menghadapi apapun. Termasuk ketika menghadapi amarah yang mencoba menguasai diri ananda." Kali ini ia menyeka sisa darah yang ada di sudut mulut Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia menyentuh lembut pipi anaknya yang masih terlihat pucat.


"Ibunda akan selalu mendoakan nanda prabu dengan doa yang baik, karena ibunda selalu berharap nanda melakukan yang terbaik demi perdamaian kerajaan suka damai." Lanjutnya lagi. Ia melakukan hal yang sama pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Terima kasih ibunda. Terima kasih untuk semua yang ibunda berikan pada ananda dari anada lahir hingga sekarang. Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik pula untuk ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana kembali menangis, merasa terharu dengan apa yang dilakukan serta diucapkan oleh ibundanya.


Bagaimana ia tidak bahagia memiliki ibunda sebaik Ratu Dewi Anindyaswari?. Apalagi kekurangannya sebagai anak memiliki ibunda seperti ini?.


"Kami sangat menyayangi ibunda." Keduanya memeluk Ratu Dewi Anindyaswari dengan eratnya. Mereka tumpahkan perasaan mereka setelah beberapa hari tidak bisa merasakan seperti ini.


Sedangkan Syekh Asmawan Mulia dan Nyai Bestari Dhatu juga ikut terharu melihat bagaimana kasih sayang ibu dan anak saat ini begitu nyata dihadapan mereka.


Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Jadilah pembaca yang baik dengan meninggalkan jejaknya. Salam cinta untuk pembaca tercinta.

__ADS_1


__ADS_2