RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KONDISI SETELAH PERTARUNGAN


__ADS_3

...***...


Istana Kerajaan Suka Damai.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria perlahan-lahan berhasil menyerap semua kegelapan itu, hingga suasana fajar juga terlihat dengan sangat jelas.


"Terima kasih atas bantuannya ayahanda Prabu, eyang Prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat bersyukur.


"Kami akan selalu membantumu nanda Prabu."


"Kami akan selalu mengawasi kalian."


Setelah berkata seperti itu Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta dan Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghilang.


Brukh!.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria ambruk setelah berhasil menyelesaikan itu.


"Uhuk!." Keduanya terbatuk memuntahkan darah.


"Rayi Prabu! Jaya Satria!." Putri Andhini Andita segera mendekati keduanya ketika ia merasa aman.


"Ohokh!." Lagi-lagi keduanya muntah darah. Kondisi tubuh mereka sangat melemah, dan ambruk ke tanah?.


"Rayi prabu!." Raden Hadyan Hastanta segera menopang tubuh adiknya. "Rayi Prabu? Katakan padaku apa yang harus aku lakukan?." Hatinya sangat cemas.


"Jaya Satria?!." Putri Andhini Andita juga bergegas mendekati Jaya Satria. Ia segera menutupi wajah Jaya Satria dengan menggunakan selendang miliknya.


"Gusti Putri?." Jaya Satria sedikit terkejut, dan pasrah.


"Tuan jaya satria?." Lanang Sejagad, Rapi Jaga dan beberapa pendekar lainnya mendekati Jaya Satria yang terbaring di tanah, namun kepalanya menopang di pangkuan Putri Andhini Andita, hanya saja wajahnya ditutupi oleh selendang hitam. Seakan-akan Putri Andhini Andita tidak mengizinkan siapapun selain pihak istana yang melihat wajah Jaya Satria?.


"Terima kasih karena kalian telah membantu kami." Putri Andhini Andita tersenyum kecil menatap mereka. "Sisanya biar kami yang urus, aku mohon bantuan kalian untuk melihat keadaan tempat kalian jaga, aku takut masih ada sisa pasukan jin yang masih ingin menyerang di desa tempat kalian jaga."


Untuk sesaat mereka saling bertatapan satu sama lain, dan akhirnya mengerti dengan apa yang dikatakan Putri Andhini Andita.


"Baiklah kalau memang begitu Gusti Putri." Mereka memberi hormat pada Putri Andhini Andita.


"Jika terjadi sesuatu di istana? Jangan sungkan untuk memanggil kami."


"Kami akan selalu berjaga-jaga di setiap desa."


"Ya, tentu saja bantuan kalian sangat kami perlukan tuan pendekar."


"Kalau begitu kami pamit dahulu Gusti Putri, sampurasun."


"Rampes."


Setelah itu mereka semua pergi meninggalkan halaman Istana, mereka menyerahkan masalah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria pada pihak Istana.


...***...


Di sebuah tempat.


Putri Agniasari Ariani baru saja selesai melaksanakan sholat subuh, suasana hatinya lebih tenang dari yang sebelumnya.


"Gejolak getaran pedang panggilan jiwa telah tenang, apakah semuanya telah baik-baik saja?." Dalam hatinya dapat merasakan itu.


Deg!.


Putri Agniasari Ariani masuk ke dalam alam sukma pedang panggilan jiwa pedang warna kehidupan.


"Gusti Putri tenang saja, semuanya baik-baik saja." Dengan senyuman ramah Sukma Prabu Laksamana Dewantara berkata seperti itu. "Pedang panggilan jiwa pedang sukma naga pembelah bumi telah tenang sekarang."


"Alhamdulillah hirobbil'alamin jika memang seperti itu, rasanya aku sangat senang mendengarnya."


"Jika memang seperti itu? Gusti Putri bisa meneruskan pengembaraan, jangan ragu lagi untuk melangkah."


"Baiklah, aku akan terus melangkah, aku tidak akan ragu lagi."


Dengan penuh tekad yang sangat kuat Putri Agniasari Ariani menguatkan tekadnya agar terus berusaha dengan baik dalam pengembaraan yang akan ia lakukan nantinya.


...***...


Istana Kerajaan Mekar Jaya.


Putri Ambarsari juga merasakannya, sasana hatinya telah mulai tenang dari yang sebelumnya.


"Getaran pedang panggilan jiwa mulai tenang, apakah mereka semuanya baik-baik saja?." Dalam hatinya bertanya-tanya.


"Gusti Putri tenang saja, semuanya telah kemabli aman, kerajaan suka damai telah aman seperti biasanya, begitu juga dengan pedang panggilan jiwa pedang sukma naga pembelah bumi."


"Syukurlah jika memang seperti itu, aku merasa lega."

__ADS_1


"Hamba juga bersyukur Gusti, saudara-saudara hamba sesama pedang panggilan jiwa tidak merasa terusik lagi."


Putri Ambarsari saat itu terdiam sambil memikirkan apa yang terjadi, ia masih penasaran dengan alasan kenapa leluhurnya memiliki pedang panggilan jiwa untuk melindungi kerajaan Suka Damai?.


"Apakah aku boleh bertanya padamu? Rasanya aku masih penasaran makna pedang panggilan jiwa yang telah ditinggalkan oleh eyang Prabu, walaupun dahulu ayahanda Prabu menjelaskannya padaku."


"Pedang panggilan jiwa, bagi Gusti Prabu bahuwirya jayantaka byakta? Itu seperti menyelamatkan jiwa-jiwa yang tersakiti ketika mereka hendak menemui kematian mereka, pedang panggilan jiwa, bukan sembarangan sukma yang diciptakan Gusti Prabu bahuwirya jayantaka byakta untuk menjadi sebilah pedang." Jawabnya dengan senyuman lembut. "Pedang panggilan jiwa memiliki perannya masing-masing, dan akan bergetar jika keturunan Gusti Prabu bahuwirya jayantaka untuk memiliki sifat seperti yang ada di dalam pedang panggilan jiwa, hanya saja ada kelemahan yang terapat di sana."


"Kelemahan?."


"Ya, kelemahan terbesar dari pedang panggilan jiwa adalah? Menurunkan takdir yang telah dibawa oleh sukma yang mengisi pedang tersebut, menurunkan takdir yang pernah ia jalani selama hidupnya kepada siapapun yang menggunakannya."


"Menurunkan takdir kepada yang menggunakan pedang panggilan jiwa?."


Putri Ambarsari tercengang mendengarnya, ia tidak menduga jika pedang panggilan jiwa memiliki kelemahan yang seperti itu?.


"Artinya aku akan menjalani takdir pengkhianatan dari orang-orang yang sangat ingin aku lindungi?." Tiba-tiba saja hatinya bergetar dengan apa yang pernah ia dengar tentang akhir dari Sukma Dewi Darmani.


"Itu hanyalah kelemahan saja, belum tentu sama, jadi Gusti Putri jangan terlalu memikirkannya." Dengan senyuman lembut Sukma Dewi Darmani mencoba menghibur Putri Ambarsari. "Sebab, Gusti Prabu bahuwirya jayantaka byakta mengatakan, setiap manusia yang lahir membawa takdir masing-masing, tidak mungkin semuanya memiliki kesamaan, tetaplah berusaha walaupun hasilnya menyakitkan."


Putri Ambarsari terkesima mendengarkan penjelasan itu, ia tersenyum kecil. "Ya, aku rasa memang seperti itu." Ia mencoba untuk melapangkan hatinya atas apa yang akan terjadi pada keluarganya yang saat ini sedang berserakan entah berada di mana kedua saudaranya saat ini.


"Gusti Putri tidak perlu memikirkan hal yang rumit, cukup jalani saja takdir yang telah Dewata Agung tuliskan untuk Gusti Putri."


"Ya, semoga saja aku bisa menjalaninya." Putri Ambarsari hanya berharap saja. "Ibunda, raka, apakah kalian tidak bisa kembali dengan damai? Apakah kita tidak bisa berkumpul seperti sebelumnya?." Dalam hatinya sangat sakit memikirkan bagaimana keadaan keluarganya saat ini. "Apakah ibunda? Raka? Membenci diriku hanya karena tahta? Apakah kita harus menjalani takdir seperti ini?." Dalam hatinya semakin gelisah, dan tidak tenang setelah mendengarkan penjelasan dari Sukma Dewi Darmani mengenai takdir yang diturunkan pedang panggilan jiwa?.


...****...


Istana Kerajaan Suka Damai.


Keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria masih melemah, karena tenaga dalam keduanya terkuras untuk menyedot kegelapan itu.


"Raka?." Mata sang Prabu terasa sangat berat. Kepalanya terasa sangat sakit, juga tubuhnya terasa sangat lemah tak berdaya sampai tiduran dipangkuan kakaknya Raden Hadyan Hastanta.


"Rayi prabu? Bertahanlah rayi! Bertahanlah! Aku yakin kau masih kuat rayi!." Raden Hadyan Hastanta mencoba untuk menguatkan adiknya. Namun suasana hatinya saat itu sedang bergemuruh takut.


"Raka? Bagaimana keadaan ibunda? Apakah raka sudah membawa ibunda ke tempat aman?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang dalam keadaan setengah sadar bertanya seperti itu?. Meskipun tubuhnya terasa sangat lemah, namun pikirannya belum tenang jika ia belum memastikan keadaan ibundanya.


"Tenanglah rayi prabu." Hampir saja ia menangis mendengarkan pertanyaan itu. "Jika masalah ibunda? Kedua ibunda kita baik-baik saja, karena rayi Prabu yang memerintahkan kami, untuk membawa kedua ibunda kita ke tempat aman." Rasanya sangat tidak tega melihat adiknya yang sedang kesakitan seperti ini, tapi adiknya masih saja memikirkan keselamatan kedua ibundanya?.


"Terima kasih raka, terima kasih karena telah menyelamatkan ibunda kita." Tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya. "Alhamdulillah hirobbil'alamin, ibunda kita baik-baik saja." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa lega.


"Hatimu sangat baik sekali rayi prabu, bertahanlah rayi Prabu!." Raden Hadyan Hastanta tidak dapat lagi menahan tangisnya. "Kau sangat perhatian atas keselamatan ibunda kita, rasanya aku sangat tidak berguna sekali sebagai seorang raka yang seharusnya bisa melindungi semuanya." Ia terisak sedih mengingat apa saja yang telah terjadi.


"Jaya satria?." Putri Andhini Andita mencoba memangku kepala Jaya Satria dipangkunya, ia buka selendang hitam yang tadinya menutupi wajah Jaya Satria agar tidak dilihat Lanang Sejagad dan teman-temannya.


"Gusti Putri?." Jaya Satria sedikit heran melihat Putri Andhini Andita.


"Jaya satria?." Ia menangis melihat kondisi Jaya Satria. "Kenapa kau selalu membahayakan dirimu untuk melindungi kami semua?." Hatinya sangat sedih melihat kondisi Jaya Satria. "Hatiku sangat sakit melihat wajahmu yang seperti ini, hiks! Kenapa kau memiliki wajah yang sama dengan rayi cakara casugraha? Apakah kau tidak bisa menggantikan wajahmu ini?."


"Jangan menangis, Gusti Putri." Rasa kantuk melanda dirinya. "Dan hamba tidak bisa lagi mengubah wajah ini, karena itulah hamba menggunakan topeng untuk menutupi wajah ini, supaya Gusti Putri tidak membenci hamba." Suara Jaya Satria hampir tidak terdengar karena menahan sakitnya. "Jangan menangis Gusti Putri."


"Aku menangis karena aku sangat mencemaskan keadaanmu jaya satria." Ia tidak tega melihat wajah Jaya Satria yang kesakitan. "Aku sedih melihat kondisimu yang seperti ini." Ia juga berusaha menahan tangisnya agar tidak sesegukan. "Rasanya aku tidak sanggup melihat keadaanmu yang seperti ini" Balas Putri Andhini Andita sesegukan karena menahan tangis. "Bagaimana mungkin aku tidak menangis? Hatiku sangat sakit melihat kondisimu yang melemah seperti ini." Hatinya semakin sesak.


"Hamba baik-baik saja, jangan menangis!." Suara Jaya Satria terdengar sangat lemah, hampir saja tidak bisa didengar sama. Tidak ada tenaga sama sekali, membuat Putri Andhini Andita semakin bersedih hati.


"Jaya satria." Putri Andhini Andita berusaha menekan perasaan sedihnya dengan menggenggam kuat tangan Jaya Satria yang terlihat semakin pucat. Tangan itu sama sekali tidak berdaya, hanya pasrah saja ketika berada digenggaman tangan Putri Andhini Andita.


"Jangan mena-." Suara Jaya Satria semakin melemah, dan akhirnya terputus karena ia tertidur?. Entahlah, Putri Andhini Andita juga tidak mengerti. Namun satu hal yang membuat putri Andhini Andita semakin menangis adalah, ketika Jaya Satria tidak bergerak lagi, atau mengatakan jangan menangis padanya?.


"Rayi prabu! Rayi Prabu!." Raden Hadyan Hastanta juga merasa sedih karena adiknya juga tidak sadarkan diri. Ia menangis melihat kondisi adiknya yang sekarang. Mereka semua sedih melihat kondisi Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. Apa yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.


...****...


Di tempat pengungsian sementara.


Ratu Dewi Anindyaswari duduk di depan pondok kecil itu hatinya masih belum tenang sama sekali. Hatinya masih saja memikirkan keadaan anaknya.


"Mohon ampun Gusti Ratu?." Suara seorang emban sedikit mengejutkannya.


"Ada apa emban?."


"Mohon ampun Gusti Ratu? Hamba telah menyiapkan sarapan pagi untuk Gusti, mari makan dahulu Gusti."


"Baiklah, aku akan menyusul, dan jangan lupa siapkan untuk prajurit juga."


"Sandika Gusti Ratu." Setelah memberi hormat, emban tersebut masuk ke dalam duluan.


"Rayi dewi?."


"Yunda?."


"Kau terlihat sangat pucat sekali rayi dewi, apakah kau tidak tidur malam tadi?."

__ADS_1


"Rasanya aku tidak bisa tidur yunda, aku sangat mencemaskan keadaan nanda Prabu."


"Kita semua tentunya sangat mencemaskan keadaan nanda Prabu." Ratu Gendhis Cendrawati mengajak Ratu Dewi Anindyaswari untuk masuk. "Tapi untuk saat ini kita jangan sampai membuat anak-anak kita cemas rayi, mereka akan bersedih jika menjemput kita nanti? Malah melihat kita dalam keadaan sakit seperti ini."


"Maafkan aku yunda."


"Baiklah, kalau begitu mari kita masuk, kita sarapan bersama."


"Mari yunda."


Ratu Dewi Anindyaswari hanya mencemaskan keadaan anaknya, dalam lubuk hatinya tentu saja sangat cemas dengan keselamatan anaknya.


"Semoga saja putraku nanda cakara casugraha baik-baik saja, aamiin ya Allah." Hanya seperti itulah harapannya.


...***...


Di alam bawah sadar Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. Keduanya berdiri dihadapan pedang pelebur Sukma yang memancarkan hawa kegelapan.


"Kalian berdua telah menjadi wadah kegelapan yang telah kalian hisap tadi." Pedang pelebur Sukma berubah menjadi sosok Langitya Sukmana. "Itu adalah risiko yang kalian terima, karena terlalu banyak hawa kegelapan yang disedot oleh pedang pelebur sukma." Lanjutnya.


"Apakah ini akan memakan waktu yang sangat lama?."


"Tapi kenapa pedang ini malah menjadi ganas? Apakah ada sesuatu yang tidak kami ketahui tentang pedang pelebur sukma?."


"Dulu memang pedang pelebur Sukma aman ditanganmu." Ia terlihat sedih dengan apa yang telah dialami Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. "Tetapi kegelapan yang ia terima dari ratu gempita bhadrika sangat berbeda, sehingga memaksamu untuk menjadi wadah hawa Kegelapan itu." Lanjutnya sambil menjelaskan risiko apa yang akan mereka dapatkan nantinya.


"Lalu bagaimana dengan tubuh kami? Mengapa aku tidak dapat merasakan tubuhku sendiri.?" Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memperhatikan tubuhnya yang tidak dapat merasakan apa-apa. "Rasanya aku tidak bisa kembali ke ragaku."


"Tidak merasakan sakit, ataupun merasakan terluka setelah apa yang kami alami, rasanya mati rasa sampai-sampai aku seperti hidup di alam roh yang aneh." Lanjut Jaya Satria. Tentunya ia juga merasakan apa yang dirasakan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Itu salah satu risikonya, terhadap fisik yang kau miliki." Jawabnya dengan perasaan bersalah. "Tubuhmu seperti mati rasa, karena sangat berbahaya setelah menyerap hawa kegelapan dalam jumlah yang sangat banyak." Langitya Sukmana menjelaskan pada keduanya.


"Lantas? Bagaimana caranya kami menghilangkan hawa kegelapan ini? Tidak mungkin rasanya kami terus menyimpan kegelapan ini."


"Ya, itu benar! Paman langitya sukmana? Tolong katakan pada kami bagaimana caranya kami menghilangkan hawa kegelapan yang bersarang di dalam tubuh kami?."


"Harus ada seseorang yang bisa masuk ke dalam alam sukma kalian, dan membersihkannya dengan air suci."


"Menggunakan air suci?."


"Ya, hanya itu saja caranya." Jawabnya dengan sangat serius.


"Jika dalam beberapa hari ini kalian tidak juga mengeluarkan hawa kegelapannya? Sudah dipastikan kalian tidak akan selamat!."


Deg!.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria sangat terkejut, tentu saja keduanya tidak mau itu sampai terjadi.


"Kita tidak boleh berputus asa! Allah SWT selalu bersama kita! Percayalah kepada pertolongan Allah SWT!." Jaya Satria berusaha untuk menguatkan hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Ya, kau benar jaya satria."


"Kalian tidak memiliki waktu yang banyak, sebelum kegelapan itu mengambil alih tubuh kalian? Semoga saja ada seseorang yang bisa masuk ke dalam alam sukma kalian secepatnya." Setelah berkata seperti itu Sukma Pendekar Langitya Sukmana menghilang, dan kini telah berganti dengan pedang Pelebur Sukma yang memancarkan hawa kegelapan.


Sementara itu di dunia nyata.


Raden Hadyan Hastanta dan Putri Andhini Andita telah berhasil membawa Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria yang masih saja belum sadar.


"Raka, apa yang akan kita lakukan? Hawa kegelapan sepertinya masih menyelimuti tubuh mereka."


"Kita harus tenang rayi, tadi tabib istana telah memberikan obat dan penawar racun, jadi tenanglah."


"Tapi raka?."


"Aku mohon rayi andhini andita, tenanglah! Jika kau cemas seperti ini? Aku juga akan ikut cemas."


"Oh? Jaya satria, rayi Prabu."


Raden Hadyan Hastanta juga sangat cemas dengan keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria, dan perasaan cemas itu semakin menjadi-jadi karena adiknya Putri Andhini Andita.


"Jaya satria? Andai saja aku bisa mengobatimu? Pasti aku lakukan." Dalam hati Putri Andhini Andita sangat cemas. "Apakah kau tidak bisa membuat aku cemas seperti ini jaya satria? Kau ini sangat pandai sekali membuat hatiku berdebar-debar sakit ketika melihat kondisimu yang seperti ini." Dalam hatinya semakin gelisah dengan apa yang ia rasakan tentang Jaya Satria.


Deg!.


Kembali, dan lagi terjadi getaran gelombang yang sangat kuat berasal dari pedang panggilan jiwa pedang Pembangkit Raga Dewi Suarabumi yang merespon apa yang dirasakan oleh Putri Andhini Andita.


"Jangan! Jangan sampai kau merasakannya andhini andita! Jangan sampai kau menyimpan perasaan khusus pada jaya satria!." Hati Sukma Dewi Suarabumi bergetar sakit ketika merasakan itu. "Apakah kau tidak bisa menghilangkan perasaan itu andhini andita? Jangan sampai kau menyemaikan perasaan cintamu pada jaya satria, aku akan mengutukmu jika kau berani menaburkan perasaan khusus padanya!." Itu terdengar seperti sebuah ancaman.


Namun Putri Andhini Andita tidak merasakan itu, karena perasaannya pada Jaya Satria sangat murni, tidak bisa dilepaskan begitu saja.


"Aku mohon agar kau bertahan jaya satria, aku sangat yakin kau bisa melewati masalah ini dengan baik." Dalam hati Putri Andhini Andita hanya bisa berharap seperti itu.


Apakah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria masih bisa selamatkan?. Apa jadinya jika mereka terjebak didalam Kegelapan itu untuk selama-lamanya?. Lalu bagaimana dengan Putri Andhini Andita?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2