
...***...
Dalam keadaan marah yang luar biasa, Raden Cakara Casugraha mencari keberadaan Raden Ganendra Garjitha serta saudara-saudaranya. Ia sangat marah, hingga ia tidak lagi merasakan gatal yang mendera tubuhnya. Hanya kemarahan yang ia rasakan, karena ia tidak terima kakaknya juga kena imbasnya.
"Mereka sepertinya ingin menguji kesabaran cakara casugraha." Ucapnya dengan penuh amarah yang luar biasa. "Sepertinya mereka ingin aku hajar sampai mati, baru mereka akan berhenti mengganggu yundaku." Emosi telah menguasai dirinya. Ia tidak terima jika kakaknya disakiti oleh mereka semua.
Namun ketika ia ingin masuk ke dalam kaputren, ia melihat ayahandanya yang kebingungan melihat dirinya yang sedang diselimuti hawa kemerahan.
"Putraku cakara casugraha. Apa yang terjadi padamu nak?. Mengapa wajah nanda terlihat memerah seperti itu nak?. Katakan pada ayahanda."
"Aaa. Ini...." Raden Cakara Casugraha kebingungan mau menjawab apa pada ayahandanya. Ia tidak mungkin mengatakan pada ayahandanya jika ini adalah ulah Raden Ganendra Garjitha.
"Ada apa nak?. Mari kita obati, ayahanda takut terjadi sesuatu padamu nak. Baju nanda juga terlihat basah kuyup. Apa yang terjadi sebenarnya?." Prabu Kawiswara Arya Ragnala sangat mencemaskan keadaan anaknya.
"Ini semua ulah raka ganendra garjitha juga saudara-saudaranya yang lain ayahanda." Raden Cakara Casugraha mencoba untuk menekan amarahnya. Tidak mungkin rasanya ia meledakkan amarahnya dihadapan ayahandanya.
"Rakamu ganendra garjitha yang melakukannya?."
"Benar ayahanda. Bukan hanya pada nanda saja. Tapi yunda agniasari ariani, mereka juga melakukannya pada yunda."
"Yundamu juga?. Lalu dimana yundamu sekarang nak?. Apakah yundamu baik-baik saja?. Dimana yundamu sekarang nak?."
"Saat ini yunda sedang diobati oleh tabib istana. Karena nanda yang meminta tabib istana untuk mengobati yunda." Tanpa sadar ia menangis. "Nanda tidak tega melihat yunda kesakitan seperti itu ayahanda. Tega sekali mereka memperlakukan yunda dengan jahatnya ayahanda." Raden Cakara Casugraha menangis sedih. Sungguh hatinya tidak terima kakaknya diperlakukan tidak baik oleh mereka semua.
"Oh putraku. Nanda cakara casugraha." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tidak tega melihat anak bungsunya sampai menangis menahan perasaannya yang membuncah. "Ayahanda mengerti, jika nanda sangat menyayangi yundamu. Tapi ayahanda mohon, nanda bisa mengendalikan emosi nanda." Prabu Kawiswara Arya Ragnala memeluk anaknya dengan sayang. Ia sangat sedih melihat anak bungsunya dipenuhi amarah.
"Tenangkan dirimu putraku." Ia mengelus kepala anaknya dengan sayang, dan tak lupa mencium puncak kepala anaknya. "Mari kita ke ruang pengobatan. Nanda juga harus segera diobati."
"Tapi ayahanda."
__ADS_1
"Percayalah pada ayahanda. Apakah nanda tidak kasihan pada yundamu, yang nanda tinggal sendirian di ruang pengobatan?."
"Baiklah ayahanda." Akhirnya Raden Cakara Casugraha mengalah. Ia pasrah dibimbing oleh ayahandanya menuju ruang pengobatan.
Saat itu juga, kebetulan Ratu Dewi Anindyaswari lewat. Ia terkejut melihat ruam merah di wajah anaknya. "Putraku cakara casugraha. Apa yang terjadi padamu nak?. Mengapa wajah nanda bisa seperti ini?." Ratu Dewi Anindyaswari sangat mengkhawatirkan keadaan anaknya.
"Nanda baik-baik saja ibunda." Raden Cakara Casugraha mencoba untuk menahan tangisnya. Ia tidak mau ibundanya merasa khawatir pada dirinya.
"Kanda prabu. Apa yang terjadi pada putra kita?. Mengapa wajah putra kita memerah seperti ini?. Serta pakaiannya basah begini?. Apa yang terjadi kanda prabu?."
"Tenanglah dulu dinda dewi. Mari kita bawa putra kita ke ruang pengobatan. Kasihan putra kita yang dari tadi menahan rasa gatalnya."
"Oh putraku. Mari kita obati nak." Ratu Dewi Anindyaswari membimbing anaknya menuju ruang pengobatan. Ia tidak tega melihat anaknya yang meringis sakit. Selain itu, anaknya sedang diselimuti oleh hawa kemerahan. "Apa yang terjadi sebenarnya nak?. Mengapa nanda terlihat marah?." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari merasa gelisah. Pasti ada sesuatu yang membuat anaknya seperti ini. Jika tidak, mana mungkin anaknya semarah itu.
"Semoga saja semuanya tidak kacau. Mengapa mereka berbuat seperti itu pada cakara casugraha?. Apa kesalahannya?." Dalam hati Prabu Kawiswara Arya Ragnala juga merasakan kegelisahan. Ia hanya takut, anaknya Raden Cakara Casugraha akan mengamuk, itu akan sangat berbahaya.
Begitu sampai di ruang pengobatan.
"Oh putriku. Apa yang terjadi padamu nak." Ratu Dewi Anindyaswari segera menghampiri putrinya. "Nanda putri juga mengalami hal yang sama dengan adikmu?." Ratu Dewi Anindyaswari melihat ruam kemerahan yang sama di wajah putrinya.
"Tabib, segera obati putraku." Perintah Prabu Kawiswara Arya Ragnala pada tabib Istana yang masih berada di sana.
"Sandika gusti prabu." Tabib Istana segera meramu kembali obat yang ia buat tadi. Ia melakukannya dengan cepat, karena ia tidak mau mengecewakan junjungannya.
"Duduklah nak. Sebentar lagi tabib darsa akan mengobatimu." Prabu Kawiswara Arya Ragnala membimbing anaknya.
"Baiklah ayahanda." Raden Cakara Casugraha duduk di tempat tidur yang sebelahnya lagi.
Sementara itu, Ratu Dewi Anindyaswari sedang bertanya pada anaknya. Karena ia sangat mengkhawatirkan anaknya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa terjadi seperti ini nak?. Apa yang terjadi pada nanda putri?. Katakan pada ibunda." Hatinya sangat khawatir, ia tidak mengerti sama sekali mengapa anaknya bisa seperti ini?.
"Keadaan nanda sudah baikan setelah diobati ibunda. Rasa gatalnya sudah agak berkurang. Tabib darsa mengatakan hanya perlu membutuhkan waktu, untuk menghilangkan merahnya saja ibunda." Putri Agniasari Ariani menjelaskan keadaannya.
"Syukurlah nak. Ibunda sangat cemas sekali." Ratu Dewi Anindyaswari mengelus sayang kepalanya dengan lembut.
"Tadi ketika nanda putri sedang latihan ilmu kanuragan bersama rayi cakara casugraha. Tiba-tiba mereka menyiram kami dengan air aneh, sehingga kami merasakan gatal-gatal ibunda." Putri Agniasari Ariani menceritakan apa yang ia alami.
"Oh dewata yang agung. Tega sekali mereka memperlakukan putra putri ibunda seperti itu." Ratu Dewi Anindyaswari sangat terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh anaknya.
"Kanda prabu. Ini sangat keterlaluan kanda. Dinda tidak terima dengan apa yang mereka lakukan pada putra putri dinda." Ratu Dewi Anindyaswari mengadu pada suaminya, bahwa ia ingin keadilan.
"Tenanglah dinda dewi. Kita obati dulu putra putri kita." Prabu Kawiswara Arya Ragnala membantu tabib Darsa mengobati Raden Cakara Casugraha. "Kasihan putra putri kita, jika tidak segera diobati. Lihatlah putra kita cakara casugraha. Kulitnya sampai memerah seperti Dinda dewi. Untuk saat ini, kita fokus pada pengobatan mereka dulu." Prabu Kawiswara Arya Ragnala hanya tidak ingin, istrinya Ratu Dewi Anindyaswari terbawa amarah.
Ratu Dewi Anindyaswari menghela nafasnya dengan pelan. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Baiklah kanda prabu. Dinda akan mendengarkan apa yang kanda prabu katakan. Ini semua demi kesembuhan putra putri dinda." Ratu Dewi Anindyaswari mendekati putranya Raden Cakara Casugraha. Ia juga membantu mengolesi obat yang diberikan oleh tabib Darsa.
"Katakan pada ibunda. Mana yang sakit nak. Biar ibunda obati, agar nanda tidak merasakan sakit lagi nak." Dengan perasaan cemas ia bertanya pada anaknya.
"Nanda baik-baik saja, jika ibunda yang mengobatinya." Raden Cakara Casugraha merasa tersentuh dengan apa yang dilakukan oleh ibundanya.
"Nanda adalah putra ibunda yang kuat. Bertahanlah nak." Ratu Dewi Anindyaswari menghapus air mata putranya dengan lembut. Ia tidak ingin anaknya semakin merasa sakit.
"Hawa kemerahan itu menghilang. Sepertinya hanya dinda dewi, yang mampu menahan amarah putraku cakara casugraha." Dalam hati Prabu Kawiswara Arya Ragnala memperhatikan hawa kemerahan yang menyelimuti tubuh putranya itu perlahan-lahan menghilang.
Setidaknya untuk saat ini ia merasa lega, karena ia tidak mau anaknya menjadi ganas, jika tidak mampu mengendalikan amarahnya.
Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.
__ADS_1
...***...