
...***...
Setelah Raden Cakara Casugraha bersimpuh dihadapan ibundanya, ia bangkit menuju Singgasana. Ia berdiri tepat dihadapan Singgasana itu, memberi hormat.
"Hormat ananda, ayahanda prabu." Dengan segenap hati, jiwa, dan perasaannya, ia mengucapkan kata itu. Seakan-akan ia memang melihat ayahandanya sedang duduk di Singgasana itu seperti dulu ketika ayahandanya masih hidup.
Sedangkan mereka yang melihat itu merasa aneh, apa yang dilakukan oleh Raden Cakara Casugraha?. Bukankah tidak ada siapa-siapa di singgasana itu?. Apakah Raden Cakara Casugraha sedang membuat sandiwara, mengulur waktu agar tidak terlalu mempermalukan dirinya jika ia gagal?. Atau hanya sekedar menarik simpati mereka saja?.
"Rayi, sepertinya kau sangat kehilangan ayahanda. Kuatkan dirimu rayi." Putri Agniasari Ariani merasa sedih melihat apa yang dilakukan oleh adiknya. Ia tahu bahwa adiknya sangat dekat dengan ayahandanya, bahkan sebelum adiknya menjalani hukuman buang.
"Ayahanda. Ananda tahu ini adalah tanggung jawab yang tidak mudah." Raden Cakara Casugraha seperti sedang berbicara dengan ayahandanya. "Ananda yang masih muda belum mengetahui apa-apa. Namum ayahanda prabu telah mengajarkan banyak hal kepada ananda. Bahwa hidup ini bukan masalah muda atau dewasa, tetapi ini tentang keputusan yang bijak untuk melangkah ke depan." Raden Cakara Casugraha mengingat semua yang dikatakan oleh ayahandanya. Ia belajar semua dari ayahandanya. Tidak sedikit ilmu yang ia pelajari dari perkataan dan perbuatan ayahandanya. "Ucapan ayahanda adalah panutan bagi ananda, juga rakyat. Tindakan ayahanda adalah cambuk semangat kami untuk bergerak. Semangat jiwa ayahanda adalah kobaran api yang membakar jiwa kesatria kami." Tanpa sadar Raden Cakara meneteskan air matanya. Ia menangis mengatakan itu, namun tetap tegar, hingga yang mendengar merasa tersentuh hatinya.
"Putraku cakara casugraha." Rasanya Ratu Dewi Anindyaswari tidak kuasa mendengarkan apa yang dikatakan oleh putranya, ia merasakan sentuhan setiap kata yang diucapkan putranya.
"Karena itulah ayahanda prabu, izinkan ananda untuk meneruskan perjalanan ayahanda. Bimbinglah ananda selalu agar ananda tidak lepas dari jalur yang seharusnya." Raden Cakara Casugraha dengan segenap hatinya yang tulus meminta izin kepada ayahandanya untuk meneruskan perjuangan ayahandanya sebagai raja, bukan bermaksud untuk menggantikannya. Disaat itulah, mereka yang menjadi saksi dari acara penobatan raja baru melihat sebuah keajaiban yang tak terduga di dalam hidup mereka selama ini.
"Ayahanda terima hormatmu, putraku cakara casugraha." Sosok Prabu Kawiswara Arya Ragnala sedang duduk di singgasana. Senyuman tulus, serta suaranya yang penuh kasih sayang menyambut hormat putranya.
"Kanda prabu?." Ketiga permaisuri Raja tidak menyangka akan melihat sosok yang sangat ingin mereka lihat. Sosok yang memberikan cinta kasih sayang yang tulus kepada mereka semua.
"Ayahanda prabu?." Begitu juga dengan ketiga putrinya yang tidak ingin kehilangan sosok ayah yang paling mereka cintai. Mereka semua melihat sang Prabu bangkit dari singgasananya. Mendekap tubuh putranya Raden Cakara Casugraha?. Membimbing putranya agar duduk di singgasana dan berkata dengan lembutnya.
"Putraku cakara casugraha. Kau pantas menjadi penerus ayahanda. Pegang teguhlah dengan apa yang telah kau yakini selama ini." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum lebar menatap putranya yang terlihat gagah di singgasana itu. "Jadilah raja yang asih, asuh, serta mengayomi rakyatnya dengan tangan cinta perdamaian, kesejahteraan. Semoga kelak kau menjadi raja hebat, putraku." Sang Prabu mengelus kepala putranya, mencium puncak kepala putranya, ia lagi-lagi tersenyum menatap putranya. "Ayahanda percayakan kerajaan suka damai padamu, putraku cakara casugraha." Setelah berkata seperti itu, sang Prabu menghilang dari pandangan, membuat mereka semua terkejut. Namun yang membuat mereka semakin terkejut adalah, mahkota muncul di kepala Raden Cakara Casugraha. Jubah kebesaran raja terpakai dengan gagahnya. Juga di hadapan Raden Cakara Casugraha muncul sebuah nampan emas, dan di atasnya terdapat sebuah daun lontar.
Pendeta agung segera mengambilnya, ia memegangnya dengan eratnya. Ia terlihat tersenyum saat melihat tulisan yang tertera di sana. Sementara mereka bertanya-tanya, senyuman sang pendeta agung istana terlihat begitu sumringah sekali. "Wahai hadirin sekalian, sepertinya raja baru kita telah terpilih. Dipilih langsung mendiang gusti prabu kawiswara arya ragnala." Pendeta Agung Istana menatap mereka semua, dan keputusan ini telah ditetapkan. Mereka juga menyaksikan bersama bahwa mendiang Gusti Prabu Kawiswara Arya Ragnala yang telah mengangkat putranya menjadi seorang raja baru. "Raden bahuwirya cakara casugraha, telah diangkat menjadi raja. Dengan nama gelar asmalaraya arya ardhana. Semoga dengan nama gelar ini prabu asmalaraya arya ardhana bisa membawa perdamaian bagi kita semua sesuai dengan arti nama gelar yang gusti prabu dapatkan." Pendeta Agung istana membacakan gelar raja yang didapatkan oleh Raden Cakara Casugraha setelah menjadi Raja. Mereka yang mendengarkan itu ada yang merasa bahagia, ada juga yang tidak bisa menerima keputusan itu. Tetapi takdir telah memilih Raden Cakara Casugraha menjadi seorang Raja baru di kerajaan Suka Damai, suka atau tidak itu semua telah terjadi.
"Putraku cakara casugraha menjadi seorang raja?." Ratu Dewi Anindyaswari hampir tidak percaya melihat penampilan anaknya yang sekarang. Ia berjalan menghampirinya, memberi hormat kepada anaknya.
__ADS_1
"Tidak ibunda. Jangan menyembah padaku ibunda. Berdirilah!." Sang prabu membantu ibundanya untuk berdiri, dan membimbing ibundanya duduk di sebelah Singgasananya.
"Ananda lah yang pantas menyembah kepada ibunda. Bagaimanapun juga, derajat seorang ibu lebih tinggi di dunia ini dari pada pangkat seorang raja sekalipun. Apalagi seorang anak." Sang prabu begitu memuliakan ibundanya, membuat Ratu Dewi Anindyaswari merasa terharu dengan sikap putranya. Bahkan mereka juga dapat melihat kasih sayang yang ditunjukkan oleh sang Prabu kepada ibundanya.
Hari itu adalah sejarah besar bagi kerajaan Suka Damai karena telah memiliki Raja baru dengan gelar Asmalaraya Arya Ardhana yang artinya anak dari surga yang terlahir sebagai seorang bangsawan yang membawa perdamaian. Sungguh nama gelar yang sangat terhormat, mengagumkan, sebagai seorang raja agung.
...***...
Sementara itu, di kerajaan kegelapan yang dipimpin oleh raja Wajendra Bhadrika. Saat ini ia dalam keadaan lemah setelah bertarung dengan Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Sudah banyak tabib yang mencoba mengobatinya, namun belum ada tanda-tanda prabu Wajendra Bhadrika akan sembuh. Membuat mereka semua gelisah. Dengan cara apalagi mereka dapat menyelamatkan junjungan mereka?.
"Bagaimana dengan keadaan ayahandaku?." Seorang wanita cantik terlihat cemas, ayahandanya yang belum kunjung membuka matanya. Ia tidak menyangka bahwa pertarungan antara ayahandanya melawan melawan prabu Kawiswara Arya Ragnala membuat ayahandanya terluka parah.
"Mohon maaf tuan putri, agak membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkan gusti prabu karena hantaman jurus dari lawannya." Tabib istana juga kewalahan mengatasinya, tapi ia akan berusaha sekuat tenaga agar junjungannya bisa sembuh.
"Kalau begitu lakukan apapun untuk menyembuhkan ayahandaku, jika tidak nyawamu sebagai gantinya." Putri Gempita Bhadrika terlihat marah, ia bahkan mengancam tabib istana jika ia tidak bisa menyembuhkan ayahandanya.
"Akan hamba usahakan tuan putri." Tentunya tabib itu merasa takut dengan ancaman itu. Ia akan berusaha, jika tidak nyawanya sebagai taruhannya. "Kalau begitu hamba pamit dulu, mencari obat penawarnya, hamba pergi dulu tuan putri." Tabib tersebut segera meninggalkan putri Gempita Bhadrika, ia akan segera mencari obat yang dapat menyembuhkan junjungannya.
"Ayahanda. Aku harap ayahanda bisa bertahan." Putri Gempita Bhadrika menangis terisak, ia takut kehilangan orang yang paling ia cintai. orang tua satu-satunya yang ia miliki. "Aku bersumpah, jika ayahanda belum kunjung sembuh, aku sendiri yang akan membunuh musuh ayahanda, prabu Kawiswara Arya Ragnala." Dan kini hatinya telah dipenuhi dendam, ia tidak rela ayahandanya terluka seperti ini. ia telah berjanji akan membalas perbuatan orang yang telah menyakiti ayahandanya.
...****...
Malam telah menyapa, masih di wilayah kerajaan Suka Damai. Sepertinya kabar kematian Prabu Kawiswara Arya Ragnala telah tersebar di beberapa tempat, termasuk pada kawasan hutan sengkar iblis. Dimana tempat para pemberontak pendekar golongan hitam yang membuat kejahatan dimana-mana, termasuk incaran mereka yaitu kerajaan Suka Damai. Mereka mulai bergerak, disunyinya malam, disaat para penduduk sedang beristirahat setelah seharian bekerja di ladang, di kebun, atau di sawah mereka. Namun sepertinya malam ini tidur mereka terganggu karena lima orang dari kelompok sengkar iblis telah membuat kerusuhan. Mereka yang terkejut mendengar suara keributan langsung keluar dari rumah masing-masing dengan keadaan panik.
"Ahahaha ini adalah hal yang menyenangkan saat melihat mereka semua berlari ketakutan."
Seorang wanita tertawa keras, ia tertawa melihat para penduduk berlari ke sana ke mari sambil berteriak-teriak minta tolong. Sedangkan beberapa diantara mereka yang lainnya juga melakukan hal yang sama. Tidak hanya menakuti para penduduk, bahkan mereka membunuh para penduduk yang melewati mereka. Didalam kepanikan itu tiba-tiba ada sekelebat bayangan hitam yang menghampiri mereka semua. Tentunya menjadi pusat perhatian dari kelompok sengkar iblis yang terdiri dari tiga orang laki-laki dan dua orang wanita. "Hei!. Siapa kau!." Wanita berpakaian biru muda dipadu hitam terlihat kaget karena kedatangan orang asing itu. Mereka semua mendekati orang berjubah hitam serta mengenakan penutup wajah itu.
__ADS_1
"Kalian yang siapa. Berani sekali kalian membuat kekacauan di daerah ini." Orang misterius itu malah balik bertanya pada mereka semua. Ia juga baru melihat pendekar yang telah berbuat kerusuhan dimalam hari. Mereka tertawa mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang asing itu. Entah dimana letak kelucuannya, mereka malah tertawa keras.
"Kami adalah kelompok sengkar iblis yang suka berbuat kerusuhan, dan kau mau apa hah?." Wanita satunya lagi sepertinya menantang orang asing itu, ia masih tertawa, begitu juga dengan keempat temannya.
"Astaghfirullah hal'azim, ternyata kalian adalah kelompok sengkar iblis." Orang asing itu tentunya pernah mendengar nama itu, tapi ia tidak menyangka bahwa mereka akan berbuat kerusuhan di wilayah ini?.
"Ya, jika kau memang mengenal nama kelompok kami, pilihanmu hanya dua. Ikut bergabung dengan kami, atau kau akan menjadi musuh kami." Lelaki kurus namun berbadan tinggi itu suaranya terdengar keras, ia ingin memastikan bahwa orang asing itu musuhnya, atau kawannya.
"Allah SWT tidak pernah menyukai orang-orang zalim, seperti kalian yang membunuh hanya karena kesenangan. Begitu juga dengan aku yang tidak menyukai apa yang kalian lakukan di wilayah ini." Itulah yang dijawab oleh orang asing itu pada mereka, membuat mereka semua terkejut.
"Bedebah!. Jadi kau memilih menjadi musuh kami." Ucap lelaki berbadan tegap, amarah terlihat jelas di wajah sangarnya. Namun tidak membuat orang asing itu gentar atau takut kepada mereka yang main keroyokan.
"Aku berjalan di atas kebaikan. Jadi tidak mungkin aku mengikuti orang sesat seperti kalian. Aku lebih takut kepada Allah SWT, Tuhan yang memiliki kuasa diatas segalanya." Balasnya lagi. Ia hanya bersandar diri kepada Allah SWT. Ia tidak akan membiarkan dirinya goyah hanya karena gertakan seperti itu.
"Banyak bicara!." Laki-laki satunya lagi, merasa marah mendengarkan apa yang dikatakan orang misterius itu, seakan-akan ia direndahkan. Karena tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh orang misterius itu, mereka malah menyerangnya. Pertarungan pun terjadi, lima lawan satu, memang bukan lawan yang sebanding.
Akan tetapi orang asing itu tidak gentar, dalam hatinya selalu berdoa meminta perlindungan kepada Allah agar terhindar dari marabahaya yang akan menimpanya. Dua diantara mereka menyerang orang asing itu dengan senjata ditangannya, berupa pedang tajam. Mereka tebas ke arah orang misterius itu, tetapi orang asing itu bisa menghindarinya dengan ke kanan ke kiri, terkadang dengan menendang serangan mereka, atau menahan dengan hawa murninya agar pedang itu tidak melukai tubuhnya.
Akan tetapi, tiba-tiba dari arah sampingnya, ia melihat ada dua serangan berupa tenaga dalam yang hendak menghantam tubuhnya. Beruntung ia menyadarinya hingga masih sempat menghindarinya.
"Astaghfirullah hal'azim, benar-benar orang licik!." Orang misterius itu menoleh ke arah serangan yang tadi datang ke arahnya. Ia melihat raut wajah puas tergambar di sana. Orang asing itu benar-benar harus waspada karena sendirian melawan mereka.
Namun, tiba-tiba muncul kemarahan di dalam tubuhnya. Orang asing itu merasa marah karena mereka berbuat licik. Ia tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh dua orang itu, dan menyerangnya dengan gerakan cepat. Mereka terkejut tiba-tiba tubuh dua orang temannya terlempar jauh, dan mereka mengerang kesakitan. orang misterius itu menggunakan jurus nampak angin gempar, yaitunya jurus langkah cepat seperti angin. Namum mematuk tubuh lawannya dengan gerakan memukul aliran darah lawannya seperti sengatan listrik.
"Hei, kalian baik-baik saja?." Lelaki kurus itu terlihat panik, ia menyerang orang misterius itu namun gagal, dan ia malah terkena serangan dari orang misterius itu.
"Bedebah!." Umpat wanita berpakaian biru muda berpadu hitam itu dengan kesalnya. Bagaimana bisa mereka dikalahkan oleh orang misterius itu?. Siapa orang misterius itu?. Mengapa orang itu memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi?.
__ADS_1
Mampukah mereka mengatasinya?. Kemarahan apa yang dikeluarkan orang misterius itu?. Mengapa ia bertarung dengan kelompok sengkar iblis?. Temukan jawabannya dicerita berikutnya, semangatnya juga ditunggu loh ya.
...***...