RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MIMPI BURUK SANG PRABU


__ADS_3

"Jaya satria?. Mengapa kita berada di sini?. Sebenarnya apa yang terjadi?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit kebingungan, mengapa ia bisa bersama jaya satria.


Di tempat serba putih, seakan ia sedang berada di atas awan sehingga tubuh mereka berdua seperti diterpa angin yang cukup kencang.


Namun Jaya Satria malah menatap aneh pada dirinya. Tatapan itu begitu tajam, dan terlihat aneh. Saat itu ia menyadari jika ada yang aneh dengan dirinya.


"Ada apa jaya satria?. Kenapa kau menatapku seperti itu?."


Jaya Satria hanya diam saja. Tidak menanggapi pertanyaan sang prabu. Tapi apa yang terjadi?. Saat itu Jaya Satria berubah menjadi sebuah cermin besar yang memperlihatkan dirinya.


DEG


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat terkejut melihat dirinya sendiri.


"Bagaimana mungkin aku bisa aku mengenakan pakaian jaya satria?." Ia bertanya-tanya pada dirinya.


Setelah itu, cermin itu kembali ke wujud Jaya Satria. Menatap marah pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Jaya satria!. Apa yang terjadi sebenarnya?. Mengapa semua ini bisa terjadi?."


"Aku terlahir karena kau!. Tidak kah kau lupa dengan semua itu?. Atau kau berpura-pura lupa. Dan bahkan kau melupakan dirimu yang lama." Sorot mata itu semakin tajam menatap dirinya. Seakan menusuk jauh ke dalam lubuk hatinya.


"Kau yang sekarang, telah melupakan diriku yang hanyalah wadah busukmu. Kau benar-benar tidak sadar diri. Kau yang dulu adalah seorang bajingan busuk!."


"Kau bukan jaya satria. Kau bukan dia. Siapa kau!" Sang prabu merasakan ada yang berbeda. Sebab ia tidak bisa merasakan hubungan batin yang kuat dengan Jaya Satria.


"Lihatlah!. Betapa sombongnya kau yang sekarang, hingga kau melupakan dirimu yang lain. Aku tidak akan pernah mengampunimu." Kemarahan menguar begitu saja dari tubuh Jaya Satria. Menghasilkan hawa kemarahan yang luar biasa membara, sehingga menyembur mengenai Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Kegh." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meringis sakit, hawa itu begitu panas.


"Kau yang sedang dikuasai oleh kemarahan, dan rasakanlah kemarahanmu sendiri." Ucap Jaya Satria dipenuhi kemarahan.


Tapi apa yang terjadi?.

__ADS_1


CHEQH


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana seperti kehilangan kata-kata. Karena tiba-tiba Jaya Satria berubah menjadi sebuah tombak. Menusuk dalam dada kirinya, tepat di jantungnya. Sakit yang luar biasa ia rasakan saat ini. Apalagi tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali.


"Kau akan mati diujung tombak ini." Suara kemarahan itu masih membekas membayangi benaknya, hingga tanpa diduga ia malah terbangun dari tidurnya?.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Begitu ia bangun, ia langsung menyentuh dadanya yang terasa sakit.


"Ya Allah. Apa yang terjadi sebenarnya?. Mengapa tiba-tiba saja hamba bermimpi aneh?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk menangkan dirinya. Keringat telah membasahi tubuhnya saking takutnya ia mengalami mimpi itu.


Dalam mimpi itu ia mengatakan jika dirinya telah melahirkan jaya satria?. Sungguh ia tidak mengerti maksud dari mimpi itu. Namun saat kebingungan melanda dirinya. Jaya Satria datang, mengalihkan pandangannya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, gusti prabu."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh. Jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana segera turun dari tempat tidurnya. Melihat keadaan Jaya Satria yang sama dengan dirinya.


Seakan tenaga mereka sedang terkuras habis, seperti habis bertarung dengan seseorang. Ah tidak!. Ia seperti bertarung dengan dirinya sendiri.


"Duduklah jaya satria. Mari kita tenangkan diri, atur hawa murni agar merasa lebih baik."


Bukan hanya prabu Asmalaraya Arya Ardhana saja yang cemas. Jaya Satria juga cemas setelah mengalami mimpi yang aneh itu.


Untuk saat ini mereka berusaha untuk menenangkan diri. Mengatur hawa murni mereka agar kembali normal, setelah mereka mengalami hal yang mengejutkan hati nurani, serta pikiran mereka.


Setelah agak tenang. Keduanya saling bertatapan, seakan saling mengamati satu sama lain. Apalagi ketika Jaya Satria membuka topeng penutup wajah itu. Memang wajah yang sama, tidak ada perbedaan diantara mereka.


"Hamba mengalami mimpi yang aneh. Mimpi itu mengatakan jika hamba terlahir dari kemarahan busuk gusti prabu, setelah itu hamba menusuk tubuh gusti prabu dengan menggunakan tombak itu." Wajah Jaya Satria terlihat pucat saat menceritakan apa yang ia alami dalam mimpinya.


"Rasanya hamba sangat berdosa sekali karena telah menggunakan tangan ini untuk membunuh tubuh gusti prabu." Tangannya sampai bergetar ketakutan saking takutnya dengan apa yang ia lakukan di alam mimpinya itu.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Tenanglah jaya satria, tenangkan dirimu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak tega melihat bagaimana keadaan Jaya Satria saat ini.


"Rasanya aku sangat berdosa padamu jaya satria. Sehingga aku melimpahkan semua beban hidupku padamu."

__ADS_1


Entah karena memiliki perasaan yang sama atau, memang perasaan menyesal itu lahir dari hatinya yang paling dalam. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berkata seperti itu.


"Sungguh, maafkan aku jaya satria." Begitu tulus permintaan maaf itu, sehingga mengena sampai ke hati Jaya Satria.


Kata-kata itu membuat Jaya Satria menangis, meneteskan air mata kesedihan.


"Gusti prabu jangan berkata seperti itu. Pada dasarnya kita adalah satu. Jadi gusti prabu tidak boleh menyalahkan diri gusti." Jaya Satria berusaha menguatkan hatinya.


"Tapi tetap saja jaya satria. Jika saja dimasa lalu aku bisa mengendalikan diriku. Pasti aku tidak akan menyebabkan engkau menderita seperti ini jaya satria." Perasaan sedih telah menusuk hatinya. Sama seperti yang dikatakan oleh tombak itu padanya. Bahwa dirinya akan membawa penderitaan bagi jaya satria. Apalagi ketika ia mengingat bagaimana ia mengancam Jaya Satria, ketika pedang Sukma Naga Pembelah Bumi hampir direbut oleh orang lain.


"Tanpa perasaan aku mengancammu, hingga membuat amarahmu memuncak." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat mengingat dengan baik bagaimana ia yang waktu itu. "Hanya karena melindungi sebuah benda pusaka. Aku telah memancing amarahmu jaya satria. Aku telah berdosa padamu jaya satria."


"Hamba mohon gusti prabu. Hati hamba semakin sedih mendengarkan apa yang gusti prabu katakan." Jaya Satria tidak mau menyalahkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Lihatlah air mata ini. Air mata kesedihan dari lubuk hati gusti prabu. Rasa sesak ini juga kita rasakan bersama." Jaya Satria berusaha meyakinkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Hamba mohon, agar kita sama-sama menenangkan diri. Mungkin ini adalah pengaruh dari tombak kelana jaya."


"Rasanya aku sangat gelisah jaya satria."


"Hamba juga merasakannya gusti prabu. Hamba merasakan apa yang gusti prabu rasakan." Jaya Satria menguatkan hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berusaha untuk menenangkan dirinya kembali.


"Kalau begitu hamba akan mencari tahu tentang tombak kelana jaya itu gusti." Ya, Jaya Satria akan mencoba mencari petunjuk tentang tombak itu.


"Hamba akan menemui guru jarah setandan. Semoga saja beliau bisa menjawab dari kegelisahan yang kita rasakan saat ini."


"Baiklah jaya satria. Aku mohon bantuan darimu. Semoga saja kegelisahan kita terjawab."


"Aamiin, aamiin ya rabbal aalaamiin."


Keduanya sangat berharap, semoga mimpi itu hanyalah Bunga tidur, namun bunga tidur yang menebarkan ketakutan pada keduanya. Bisakah keduanya menemukan jawaban dari mimpi mereka?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


Mohon dukungannya ya,,, pembaca tercinta.


__ADS_2