
...***...
Kita lupakan sejenak masalah yang sedang terjadi. Entah itu di Kerajaan Suka Damai, ataupun Kerajaan Mekar Jaya. Kita lihat situasi Kerajaan Angin Selatan, dimana hari ini mereka menyambut kedatangan pengantin dari Kerajaan Suka Damai. Hari ini adalah pernikahan Raden Hadyan Hastanta, dengan Putri Bestari Dhatu.
Penyambutan yang sangat meriah dari pihak kerajaan Angin Selatan, membuat Kerajaan Suka Damai merasa terhormat.
Acara pernikahan itu berjalan dengan dengan lancar hingga keduanya dibimbing di bawah pemangku adat melakukan ritual perkawinan. Raut wajah bahagia melewati hari bahagia ini.
Setelah itu mereka meminta restu kepada kedua orangtua masing-masing, agar di kehidupan baru, mereka dapat melewati hari-hari mereka dengan baik.
"Ibunda, terima kasih karena ibunda selalu baik pada nanda. Maafkan jika Nanda telah membuat ibunda bersedih hati dengan kepergian nanda selama ini. Terima kasih atas kasih sayang yang ibunda berikan selama ini. Sungguh. Nanda sangat menyayangi ibunda. Rasa rindu yang selalu nanda sampaikan melalui angin, semoga ibunda dalam keadaan sehat."
Keluarga besar Istana Kerajaan Angin Selatan terharu mendengarkan apa yang diucapkan Putri Bestari Dhatu merasa terharu. Karena memang sudah sangat lama ia tidak berada di istana ini. Setelah itu ia sungkeman pada ayahanda, Prabu Kawanda Labdagati.
"Tentu saja, ibunda akan memaafkan nanda putri. Semoga nanda putri berbahagia dengan kehidupan baru. Ibunda juga selalu merindukan nanda, menginginkan kepulangan nanda ke istana ini."
"Terima kasih ibunda. Doa ibunda sangat berharga bagi nanda. Rasanya sangat bahagia sekali ananda hari ini."
Keduanya berpelukan dengan eratnya, seakan melepas rindu yang selama ini terpendam di dalam hati masing-masing. Setelah itu ia sungkeman pada ayahandanya Prabu Kawanda Labdagati. Seorang ayah yang sekian lama tidak bersama putrinya, karena anaknya yang memutuskan untuk meninggalkan kehidupan istana.
"Maafkan nanda, jika nanda selama ini tidak pulang dan memberi kabar pada ayahanda prabu. Maafkan nanda ayahanda prabu. Namun sungguh, kasih sayang nanda pada ayahanda prabu tidak berkurang sedikitpun, walaupun jarak memisahkan kita ayahanda. Rasa sayang yang ada di dalam hati nanda semakin membuncah, ketika nanda melihat wajah ayahanda nan gagah tersenyum di hari bahagia ini. Terima kasih karena telah memberikan restu pada ananda untuk melangkah lebih jauh lagi. Terim kasih ayahanda prabu. Ananda akan selalu menyayangi ayahanda prabu dengan segenap hati, jiwa dan perasaan, di manapun ananda berada."
"Ayahanda pun menyayangimu. Dengan sepenuh hati ayahanda, jiwa dan raga. Ayahanda selalu memberikan kasih sayang padamu." Rasanya sangat berat ia ingin melepaskan kepergian anaknya. Tapi apa daya, takdir anaknya yang telah dibawa oleh seorang pangeran, untuk menjadi pendamping yang baik. "Kini ayahanda harus melepaskan langkah nanda lebih jauh lagi. Ayahanda hanya berharap, engkau akan menjadi istri dan menantu yang baik. Semoga pernikahan kalian diberkahi dewata yang agung."
"Nanda akan selalu melakukan sesuai dengan keinginan kanda hadyan hastanta. Semoga saja nanda bisa menjadi istri yang baik. Terima kasih atas restu yang ayahanda prabu berikan pada nanda."
Rasa haru menyelimuti suasana pernikahan itu. Mereka dapat mendengarkannya dengan jelas. Bagaimana orang tua melepaskan anaknya untuk pergi jauh, namun masih dalam jangkauan. Berpisah bukan berarti tidak bisa bersama lagi. Hanya waktu berdekatan saja tidak seperti biasanya.
Setelah itu Raden Hadyan Hastanta yang meminta sungkeman pada ibundanya.
"Ibunda. Terima kasih karena telah menghadirkan nanda ke dunia ini. Telah memberi restu untuk meminang seorang wanita cantik, untuk menemani hidup nanda." Rasanya ia ingin menangis, saking bahagianya ia saat ini. "Terima kasih, ibunda selalu berada di dekat nanda, membimbing nanda untuk selalu menghormati wanita. Semoga saja nanda bisa menjunjung tinggi pernikahan nanda dengan dinda bertsari dhatu. Mohon doa restunya ibunda."
__ADS_1
"Oh putraku. Tentu saja ibunda akan selalu memberikan restu pada nanda. Bahkan ketika nanda mengatakan dengan jelas, ingin meminang putri bestari dhatu. Ibunda sangat bahagia, karena nanda memikirkan hal yang lebih serius."
"Terima kasih ibunda. Terima kasih atas kasih sayang yang ibunda berikan."
"Cinta ibunda akan selalu untuk nanda. Juga kanda prabu akan selalu memberikan cinta untuk nanda." Ratu Gendhis Cendrawati mencium puncak kepala anaknya dengan sayang.
"Ibunda ratu dewi. Nasihat ibunda yang baik, akan selalu nanda ingat. Terima kasih karena kasih sayang yang ibunda berikan, nanda bisa melangkah lebih jauh. Maafkan kesalahan nanda selama ini. Sungguh, nanda sangat menyayangi ibunda."
"Ibunda juga menyayangi nanda. Karena itulah, jaga istri nanda dengan baik. Karena jika nanda melakukan itu, sama saja nanda telah menyayangi ibunda dengan sepenuh hati, tanpa mengabaikan kasih sayang pada ibunda. Selamat hidup berbahagia, putraku hadyan hastanta. Ibunda akan selalu bersama nanda." Ratu Dewi Anindyaswari mencium puncak kepala Raden Hadyan Hastanta. Rasanya ia hampir ingin menangis, ketika Raden Hadyan Hastanta berkata seperti itu.
"Rayi prabu. Sebagai pengganti ayahanda prabu. Terima kasih karena rayi prabu, telah memberikan aku limpahan kebahagiaan. Maafkan kesalahanku selama ini rayi. Tiada kata yang bisa aku ucapkan, selain terima kasih, atas apa yang rayi prabu berikan padaku."
"Raka jangan berkata seperti itu. Raka tetaplah raka yang aku hormati dan yang aku sayangi. Kebahagiaan raka adalah kebahagiaan ku juga. Karena itulah, selamat berbahagia raka."
"Terima kasih rayi prabu." Raden Hadyan Hastanta memeluk adiknya, ia tidak dapat lagi menahan perasaannya. Ia menangis haru, ucapan adiknya yang menyentuh hatinya.
Hari ini, hari pernikahan yang membahagiakan kedua belah pihak. Mereka saling menyayangi satu sama lain. Menjalin hubungan keluarga yang akan mereka bawa sampai mati.
Namun ada kejadian yang mengesankan disaat bersamaan. Putri Agniasari Ariani tidak sengaja bersenggolan dengan seseorang.
"Maafkan aku."
Keduanya saling minta maaf, namun ketika mata itu saling bertatapan.
"Nimas cempaka putih?."
"Kakang dewarasa?."
Sepertinya keduanya saling mengenal, tapi mengapa mereka menyebut nama itu?. Saat itu juga, Putri Andhini Andita mendekati mereka. Ia tidak sengaja melihat adiknya yang bertabrakan dengan seseorang.
"Ada apa rayi?. Apakah terjadi sesuatu?."
__ADS_1
"Tidak apa-apa yunda. Aku tidak sengaja menabraknya. Maafkan aku sekali lagi."
"Ah, tidak apa-apa. Saya yang salah, saya tidak melihat ada seseorang di belakang saya."
"Meminta maaf, dan mengakui kesalahan. Itu adalah gambaran laki-laki yang baik. Jadi aku memaafkan atas apa yang telah kau perbuat pada adikku."
"Yunda."
"Terima kasih karena telah dimaafkan." Ia tersenyum kecil melihat ke arah keduanya.
"Putraku rajaswa pranawa. Apa yang terjadi?. Ayahanda tidak sengaja, melihat nanda bertabrakan dengannya." Raut wajahnya terlihat cemas. "Apakah nanda putri baik-baik saja?. Maafkan putraku yang menabrak nanda putri."
"Tidak apa-apa paman...?"
"Namaku prabu nitisara pranawa. Dari kerajaan derajat jati. Sekali lagi maafkan putraku nanda putri."
"Tidak apa-apa paman prabu. Saya juga salah, karena telah menabrak kakang dewarasa."
"Kakang dewarasa?."
"Itu nama yang nanda gunakan ketika mengembara ayahanda." Raden Rajaswa Prabawa terlihat gugup. "Nimas cempaka putih. Sebaiknya kita jangan menggunakan nama samaran saat ini."
"Nimas cempaka putih?." Kali Putri Andhini Andita yang terkejut mendengarkan nama adiknya disebut seperti itu?.
"Itu nama yang aku gunakan ketika mengembara yunda."
"Oooh begitu." Akhirnya Putri Andhini Andita mengerti. Ternyata adiknya dan Raden yang menabrak adiknya saling kenal?. Namun menggunakan nama samaran ketika mereka mengembara?.
Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa komentarnya, sebagai pemacu semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih atas dukungannya ya pembaca tercinta.
Penuh cinta untuk pembaca tercinta.
__ADS_1
...***...