
...***...
Suasana halaman Istana Kerajaan Suka Damai sedang gaduh, karena pertarungan. Ratu Dewi Anindyaswari sangat khawatir dengan keselamatan kedua anaknya. Ia memanggil prajurit untuk membantu mereka.
"Prajurit!. Prajurit!."
"Kami menghadap gusti ratu."
"Bantu mereka semua. Segera usir mereka semua dari istana ini."
"Sandika gusti ratu."
Prajurit istana segera membantu mereka. Pertarungan semakin ramai, karena prajurit banyak yang berdatangan.
"Tenanglah ibunda dewi. Tetaplah di sini. Nanda yakin, mereka semua mampu mengatasi masalah ini."
"Ibunda hanya khawatir pada adikmu nak. Ibunda tidak mau nanda prabu lagi-lagi sakit setelah bertarung. Ibunda tidak kuasa melihatnya terluka nak."
"Tenanglah rayi dewi. Kami juga tidak mau nanda prabu terluka."
"Ya Allah. Lindungilah kedua putra hamba. Hamba hanya memohon padamu ya Allah." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari terus berdoa untuk keselamatan kedua anaknya. "Kanda prabu. Dinda mohon, agar kanda juga melindungi putra kita." Dalam kondisi seperti ini, ia mengingat mendiang suaminya. Kecemasannya yang berlebihan, ketakutan akan terjadi sesuatu pada putranya.
Sementara itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria yang sedang berhadapan dengan Pendekar Segala Tahu. Dengan gencarnya mengincar Jaya Satria. Begitu juga dengan Sang Prabu yang berusaha untuk melindungi Jaya Satria.
Namun sayangnya Pendekar Segala Tahu sepertinya lebih lihai, sehingga ia berhasil membuka topeng yang dikenakan oleh Jaya Satria. Tentu saja Jaya Satria sangat terkejut, ia tidak menyangka jika musuhnya itu berhasil mengambil topeng itu.
"Heh!. Sudah aku duga, kau adalah raden cakara casugraha yang asli."
"Kau!. Berani sekali kau mengambil topeng pemberian ayahandaku!.
"Tenanglah jaya satria. Jangan terbawa amarah."
Pendekar Segala Tahu malah tertawa mendengarkan ucapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Sementara itu, mereka yang bertarung terkejut, mendengarkan suara keras Jaya Satria.
"Yunda."
"Rayi."
__ADS_1
Putri Agniasari Ariani mendekati kakaknya, setelah ia berhasil memukul mundur salah satu pendekar yang berhadapan dengannya. Begitu juga dengan Raden Hadyan Hastanta dan Nyai Bestari Dhatu.
Sedangkan beberapa Pendekar melarikan diri, karena tidak sanggup berhadapan dengan Paman Perapian Suramuara.
"Sipalsu mencoba untuk menghibur yang asli. Ini sungguh lucu sekali ahaha!."
"Diam kau!. Suara tawamu sungguh tidak enak didengar."
"Hoooo sekarang aku tahu raden cakara casugraha. Aku tahu mengapa kau bisa menjadi dua."
Deg!!!
Keduanya sangat terkejut. Pendekar Segala Tahu sungguh lawan yang sangat tidak ingin diinginkan untuk diajak untuk bertarung.
"Rayi cakara casugraha ada dua?." Putri Andhini Andita penasaran, namun ia dihadang oleh seorang pendekar, sehingga ia tidak bisa bertanya lebih lanjut.
"Yunda." Putri Agniasari Ariani membantu kakaknya. Ia tidak akan membiarkan kakaknya diserang seorang diri.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Jangan sampai pendekar itu mengetahui semua rahasia dari nanda prabu." Syekh Asmawan Mulia sangat panik, namun dua orang pendekar yang berhadapan dengannya tidak membiarkannya begitu saja mendekati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, ataupun Jaya Satria.
"Jaya satria, gusti prabu." Begitu juga dengan paman Perapian Suramuara yang ingin membantu keduanya, namun dihalangi oleh tiga orang pendekar lainnya.
Mereka semua kembali bertarung, termasuk Raden Hadyan Hastanta dan Putri Bestari Dhatu. Mereka semua dibuat sibuk oleh Para pendekar yang ikut bersama Pendekar Segala Tahu. Meskipun telah dibantu oleh prajurit, namun tetap saja tidak membantu sama sekali.
"Siapa pendekar itu?. Mengapa ia mengatakan rayi cakara casugraha ada dua?." Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara sempat mendengarkan apa yang dikatakan oleh Pendekar Segala Tahu.
Kembali pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
"Mustika naga merah delima. Itulah yang membuat kalian ada dua. Dan jika aku hancurkan yang ada di dalam tubuh kau!. Maka kalian berdua akan mati. Tapi jika hanya pada tiruannya saja, maka tiruan yang akan mati. Humm menarik juga."
"Kau pikir kau siapa?. Berani sekali kau berkata seperti itu padaku. Akan aku tunjukkan padamu, seberapa kemarahanku saat ini."
"Aku tidak takut padamu Cakara Casugraha. Aku telah memiliki jurus yang bisa aku gunakan untuk melawan amukan kutukanmu itu!."
"Jangan. Jangan turuti amarahmu jaya satria. Aku mohon, jangan sampai terpancing. Dia hanya ingin membuatmu marah saja. Aku mohon, tetaplah tenang."
Hawa kemerahan telah menguasai diri Jaya Satria. Ia seakan tidak lagi mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
Jaya Satria maju, ia berhadapan dengan Pendekar Segala Tahu. Mereka mengadu kesaktian mereka. Sementara itu, Prabu Kawiswara Arya Ragnala yang cemas, hanya bisa melihat sambil mengamati kelemahan dari musuhnya.
__ADS_1
"Dimasa lalu, dia memang dijuluki pendekar segala tahu. Tapi aku tidak menyangka, dia mencariku?." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya merasa cemas.
"Jaya satria, aku mohon dengarkan aku. Jangan sampai kita merugi karena menuruti amarah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba mengingatkan Jaya Satria. Tapi hasilnya percuma saja, Jaya Satria seakan tidak mendengarkan panggilan itu. Lama-lama Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga dikuasai kemarahan dari Jaya Satria.
"Kau memang keras kepala jaya satria." Dengan kesalnya, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga ikut menyerang Pendekar Segala Tahu. Sehingga pertarungan itu dua melawan satu.
"Berapapun jumlah kalian, aku tidak akan takut."
"Kau tidak usah banyak bicara. Jangan kau pikir, hanya karena kau bisa mengetahui kelemahan ku, kau bisa membunuhku begitu saja."
"Tentu saja aku akan mudah membunuhmu."
Mereka saling menyerang satu sama lain. Mengadu tendangan, pukulan, serta ilmu kanuragan yang mereka miliki. Pertarungan mereka semakin cepat, sehingga sulit untuk disimak dengan mata biasa.
"Nanda ratu. Bantu nanda prabu, juga nanda jaya satria. Ibunda hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka nak."
"Mohon ampun ibunda. Nanda tidak bisa mengikuti pertarungan mereka yang sangat cepat."
"Rayi dewi. Tenanglah. Nanda ratu juga bisa celaka jika tidak bisa mengikuti alur pertarungan mereka."
"Ya Allah. Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari merasa sangat cemas, hatinya tidak tenang melihat pertarungan anaknya yang semakin cepat.
DUAKH!!!
Entah itu Jaya Satria, ataupun Pendekar Segala Tahu sama-sama terkena serangan. Serangan yang mereka lakukan tepat mengenai lawannya, sehingga mereka kesakitan. Termasuk Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang terkena dampak dari Jaya Satria.
"Ohok."
Ketiganya terbatuk darah, karena hantaman tadi itu sangat keras mengenai Tubu mereka. Itu pukulan diisi dengan tenaga dalam yang sangat kuat, sehingga mereka terluka dalam.
"Putraku!." Ratu Dewi Anindyaswari melihat itu sangat merinding. Ia ingin mendekati kedua anaknya, akan tetapi tidak bisa. Langkahnya dihalangi oleh Ratu Gendhis Cendrawati dan Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara.
"Jangan ke sana ibunda. Berbahaya."
"Jangan ke sana rayi dewi. Kau bisa celaka."
"Tapi putraku sedang dalam bahaya." Perasaannya tidak tenang sama sekali. Ia hanya ingin menolong kedua anaknya.
"Bfuakh." Pendekar Segala Tahu kembali terbatuk darah. "Kau memang bedebah raden cakara casugraha. Kekuatan yang kau miliki sangat ganas. Tapi aku tidak akan menyerah." Ia berusaha bangkit, mendekati Jaya Satria meskipun dengan langkah tertatih. Tangan kanannya telah siap dengan dilambari tenaga dalam yang ia miliki, ia hendak membunuh Jaya Satria.
__ADS_1
Apa yang akan terjadi?. Temukan jawabannya. Bisakah Jaya Satria menahan serangan itu?. Sementara ia dalam keadaan terluka parah.
...***...