
...***...
"Aku ini seorang pendekar yang berkelana, ingin mengenal dunia." Jaya Satria mengayun pedangnya. Tak lupa tangan kirinya yang seperti membentuk sebuah cakar Naga. Karena diiringi dengan pedang itu, angin sekitar benar-benar berubah ganas. Mengandung aliran petir yang berbahaya.
"Kegh! Jurus apa itu? Kenapa terasa sakit?."
Meskipun sudah berada di jarak jauh Prabu Guntur Herdian, Ratu Cahya Bhanurasmi, dan Putri Cahya Candrakanti merasakan hembusan angin sekitarnya.
"Siapa dia? Aku sungguh tidak mengerti." Prabu Guntur Herdian bertanya-tanya. "Dia memiliki jurus-jurus pendekar golongan hitam."
Sementara itu.
"Kegh. Gerakan ku?! Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku!."
"Tubuhku seperti mati rasa kakang!."
"Keluarkan semua tenaga dalammu adi! Kita serang dia menggunakan ajian pamungkas kita."
Situasinya semakin tegang karena jurus Jaya Satria. Pedang pelebur sukma digabung dengan jurus cakar naga cakar petir.
"Ternyata menggunakan menggabungkan kedua jurus ini memang sangat menguras tenaga dalamku." Batin Jaya Satria, ia mencoba untuk bertahan. "Tapi aku tidak memiliki pilihan lain."
Setelah itu ia tebas pedang itu ke arah Betung Sekata. Dengan dua kali tebasan hawa murni yang ia salurkan melalui pedang itu ke arah Betung Sekata.
"Keghakh!."NBetung Sekata tidak berteriak kesakitan, tidak dapat menghindari serangan itu. Tubuhnya seakan terkena sengatan petir dengan kekuatan yang sangat luar biasa.
"ADI!." Bandana Sekata sangat terkejut melihat kondisi adiknya yang menggelepar kesakitan. Tubuh adiknya hangus terbakar, matanya melotot lebar, dengan mulut menganga. Setelah itu tidak bergerak lagi, tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi di tubuh itu.
"Satu telah tumbang." Jaya Satria seperti tidak memiliki perasaan lagi ketika itu.
"Bedebah! Apa yang kau lakukan pada adikku?!." Bandana Sekata sedang dikuasai oleh amarah menyerang Jaya Satria. "Aku tidak akan mengampuni kau!." Ia memaksakan dirinya untuk bergerak, tidak peduli dengan arus aliran petir itu melukai tubuhnya.
Satu hal hang pasti, hatinya dipenuhi oleh keinginan untuk membalas apa yang telah dilakukan Jaya Satria pada adiknya.
"Pedang ini? Seperti hendak menghancurkan tubuh seseorang." Jaya Satria merasakan betapa ganasnya pedang pelebur Sukma.
Dan benar saja, pedang itu memiliki gerakan sendiri, seperti naga yang sedang meliuk-liuk di udara mencari mangsa. Pedang itu sangat ganas seiring dengan jurus-jurus yang dimainkan Jaya Satria.
"Tenyata benar apa yang dikatakan oleh pendekar pembunuh bayaran itu." Dalam hatinya dapat merasakannya. "Bahwa aku tidak perlu mempelajari jurus khusus darinya." Ucapan itu masih terngiang-ngiang di kepalanya. "Karena pedang pelebur Sukma ini akan merespon jurus apa saja, asalkan masih bisa menyerap hawa kegelapan orang jahat." Jaya Satria masih ingat dengan apa yang pesan pendekar pembunuh bayaran Langitya Sukmana.
"Kau akan membayar nyawa adikku! Aku bunuh kau!."
Kemarahan itu sangat terasa menyakitkan. Ia menggunakan Cambuk Sakti Dewi. Dalam keadaan yang kalut ia melecutkan cambuk itu ke arah Jaya Satria.
Namun Jaya Satria masih bisa menghindarinya. Hingga yang terjadi adalah ledakan-ledakan efek dari lecutan cambuk itu. Jaya Satria tidak akan membiarkan itu berjalan terlalu lama. Apalagi Istana Kerajaan Telapak Tiga bisa hancur berantakan karena lecutan Cambuk Sakti Dewi.
"Kurang ajar! Tidak akan aku biarkan kau selamat dari serangan ku, bedebah!." Ia lempar Cambuk itu, kemudian ia ganti dengan Tombak. Ia benar-benar geram karena tidak bisa melukai Jaya Satria.
Namun, dengan gerakan yang sangat cepat, menggunakan jurus tapak angin gempar, ia merajam tubuh Bandana Sekata dengan pedangnya.
"Ghakh!." Bandana Sekata dapat merasakan sayatan pedang tajam itu melukai tubuhnya, menghasilkan rasa sakit yang luar biasa.
"Aku hanya mengikuti keinginan pedang ini yang akan meleburkan Sukma mu tanpa sisa." Jaya Satria berdiri dihadapan Bandana Sekata, setelah itu ia salurkan tenaga dalamnya ke pedang itu. selanjutnya ia tebas kuat dengan sekali tebasan, membuta Bandana Sekata berteriak keras.
Tubuhnya terjatuh di tanah, dalam keadaan gosong. sama halnya dengan Betung Sekata tadi. Setelah itu Jaya Satria mencoba menenangkan hawa murninya, dan suasana kembali tenang setelah ia menyimpan kembali pedang pelebur Sukma itu ke dalam tubuhnya.
"Jaya satria?."
Prabu Guntur Herdian, Putri Cahya Candrakanti, dan Ratu Cahya Bhanurasmi mendekati Jaya satria. Mereka tentunya sangat cemas melihat pertarungan Jaya Satria yang sangat ganas itu.
Namun tiba-tiba pusaka-pusaka yang ada di dalam tubuh Bandana Sekata keluar semua, dan mereka terlihat lepas kendali, karena tuan mereka telah tiada hingga benda-benda pusaka itu berontak.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Jaya Satria menghindari tombak Kelana jaya menyerangnya.
"Kita harus membantunya ayahanda." Putri Cahya Candrakanti melihat jaya satria yang sedang kewalahan.
"Ya, mari kita bantu." Prabu Guntur Herdian setuju, ia langsung menyusul putrinya yang duluan melompat ke halaman istana.
"Berhati-hatilah kanda prabu, putriku." Ratu Cahya Bhanurasmi mencemaskan keadaan anak dan suaminya.
"Gusti Prabu? Gusti Putri?." Jaya Satria melihat mereka membantunya.
Prabu Guntur Herdian, dan putri Cahya Candrakanti menyalurkan tenaga dalam mereka untuk menghentikan pusaka-pusaka itu agar tidak terlalu berontak. Jaya Satria mengatur hawa murninya, ia berdiri tegap, setelah itu ia mengumandangkan adzan. Seketika pusaka-pusaka itu tenang, tidak berontak lagi.
"Subhanallah! Mereka semua tenang mendengarkan suara adzan dari jaya satria?." Putri Cahya Candrakanti terkagum-kagum melihat itu
"Subhanallah! Benar sekali putriku, mereka terlihat lebih tenang."
Bukan hanya sampai disitu saja kekaguman mereka. Benda pusaka itu satu persatu masuk ke dalam tubuh jaya satria?.
Ya, ada Tombak Kelana Jaya, Cambuk Sakti Dewi, Keris Naga Pertapa, panah Semara Naga, Pedang perintis Buana, dan Batu Nirwana Dewa. Masuk ke alam bawah sadar jaya satria, dan di sana juga ada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.
"Sembah hormat kami gusti prabu."
Benda pusaka tersebut berubah menjadi wujud manusia. Mereka memberi hormat pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
"Mengapa tuan-tuan sekalian masuk ke dalam tubuh kami?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tampak cemas. "Tuan-tuan terlalu banyak untuk bersemayam di dalam tubuh kami, belum lagi pedang sukma naga pembelah bumi, keris kembar naga penyegel sukma dan ada dua senjata yang lainnya juga yang telah menempati tubuh kami."
"Kami mohon gusti prabu, terimalah kami dengan baik."
__ADS_1
"Suara adzan guti prabu sangat menenangkan kami semua, kami dapat merasakan kedamaian gusti prabu."
"Benar gusti prabu, kami direbut paksa dari tuan kami sebelumnya oleh mereka, merasakan kegelisahan karena kami digunakan untuk kejahatan, gusti prabu." Keluh Keris Naga Pertapa. "Kami sangat gelisah! Namun saat mendengarkan suara adzan dari gusti prabu, kami merasakan ketentraman, kedamaian yang membuat kami menangis, hingga kami masuk ke dalam tubuh gusti prabu.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria saling bertatapan satu sama lain, apakah tubuh keduanya sanggup menerima semua benda pusaka itu?. Banyak sekali Sukma Naga yang ada di dalam tubuh mereka, apakah itu tidak akan berbahaya?.
"Untuk sementara waktu kita terima saja dulu, dan kau?! Cepatlah kembali ke istana! Ibunda sangat mencemaskanmu!."
"Sandika Gusti Prabu."
"Tuan-tuan semuanya? Untuk saat ini kalian boleh berada di dalam tubuh kami, tapi suatu hari nanti ada kemungkinan kami akan mengembalikan kalian pada pemilik aslinya."
"Akan berbahaya jika kalian semua berada di dalam tubuh kami."
"Kami mengerti gusti prabu."
"Terima kasih atas kebaikan gusti menerima kami semua."
"Semoga kami membawa manfaat untuk Gusti prabu."
"Jaya satria? Apakah kau mendengarkan saya?. Jaya satria!." Prabu Guntur Herdian mencoba untuk membangunkan jaya Satria. Ia pingsan karena semua benda pusaka itu masuk ke dalam tubuhnya.
Untung saja Prabu Guntur Herdian menyadari itu, dan menyambut tubuh Jaya Satria agar tidak limbung ke tanah. Perlahan-lahan Jaya Satria membuka matanya, ia melihat raut wajah khawatir dari prabu Guntur Herdian.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin ya Allah, akhirnya kamu bangun juga jaya satria." Putri Cahya Candrakanti dan prabu Guntur Herdian merasa lega melihat Jaya Satria sudah bangun.
"Kamu baik-baik saja jaya satria? Apakah kamu terluka?."
"Hamba baik-baik saja gusti prabu, tadi hamba hanya terkejut karena tiba-tiba benda pusaka itu masuk ke dalam tubuh hamba." Jaya Satria bersikap sopan pada prabu Guntur Herdian.
"Jaya Satria? Maaf jika saya kurang sopan, namun bolehkah saya bertanya padamu?."
"Apa yang hendak gusti prabu tanyakan pada hamba?."
"Saya tadi mendengar percakapanmu dengan mereka yang menyinggung tentang pedang sukma naga pembelah bumi, siapakah engkau sebenarnya jaya satria?." Prabu Guntur Herdian sangat penasaran. "Apakah kau sebenarnya raja dari kerajaan suka damai?."
Deg!.
Jaya Satria sangat terkejut mendengarnya, apakah ia harus berkata jujur mengenai tentang identitasnya?. "Tidak! Ini tidak boleh diketahui oleh siapapun juga." Dalam hati Jaya Satria sangat takut dengan itu.
"Apakah benar kau adalah Raja muda yang baru saja diangkat menjadi Raja itu? Nanda Prabu asmalaraya arya ragnala, atau nama aslinya Raden cakara casugraha?." Desaknya.
"Kanda prabu?." Ratu Cahya Bhanurasmi mendekati mereka semua.
"Bagaimana jaya satria? Apakah benar kau adalah Raden cakara casugraha?." Putri Cahya Candrakanti juga penasaran dengan jawaban dari Jaya Satria.
"Mohon ampun gusti prabu, hamba tidak bisa menjawabnya." Jaya Satria memberi hormat. "Karena itu adalah sebuah rahasia yang harus hamba simpan, amanat dari gusti prabu asmalaraya arya ardhana yang menyuruh hamba untuk menjaga indentifikasi hamba."
"Benar Gusti Prabu, hamba tidak mungkin melanggar sumpah hamba pada prabu asmalaraya arya ardhana."
"Jadi begitu?. Saya tidak bisa memaksamu jika kamu telah bersumpah pada seorang raja."
"Terima kasih atas pengertiannya gusti prabu."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini jaya satria?."
"Hamba mohon diri kembali ke kerajaan suka damai, hamba tidak bisa berlama-lama berada di sini."
"Kalau begitu sampaikan salam saya pada prabu asmalaraya arya ardhana, sampaikan salam saya bahwa saya akan datang ke sana untuk berkunjung."
"Salam gusti prabu akan hamba sampaikan dengan baik, pada junjungan hamba, gusti prabu asmalaraya arya ardhana, assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Setelah itu jaya Satria pergi meninggalkan kerajaan Telapak Tiga. Ia tampak terburu-buru meninggalkan halaman istana, ia seperti ketakutan jika ada orang lain yang mengetahui identitasnya sebagai Raden Cakara Casugraha.
"Pantas saja auranya berbeda." Prabu Guntur Herdian sangat terkesan. "Ternyata ia adalah orang kepercayaan gusti prabu asmalaraya arya ardhana, Raden cakara casugraha putra bungsu mendiang Gusti Prabu kawiswara arya ragnala yang sangat terkenal." Prabu Guntur Herdian pernah sekali bertemu dengan raja bijak itu di suatu kesempatan perjamuan para raja yang ingin silaturahmi atau sekedar saling mengobrol. Dimasa itu ketika acara dekat akrab para raja.
"Ayahanda prabu mengenali ayahanda dari Prabu asmalaraya arya ardhana?."
"Ya, lumayan kenal."
"Apakah kanda Prabu benar-benar akan ke sana?."
"InsyaAllah dinda" Balasnya.
"Tapi jaya satria sangat kuat, dia sangat hebat." Dalam hati Putri Cahya Candrakanti sangat kagum dengan kehebatan Jaya Satria. "Entah kenapa aku sangat suka dengan sikapnya, sepertinya dia pemuda yang sangat baik dan bertanggung jawab." Dalam hatinya begitu mengagumi Jaya Satria. "Entah kenapa aku merasa berdebar-debar ketika melihat ia bertarung tadi." Itulah yang ia rasakan ketika melihat itu.
...*****...
Sedangkan di Istana kerajaan Suka Damai
Ratu Dewi Anindyaswari melepaskan pelukannya, ia merasakan bahwa putranya sudah tenang.
"Nanda hadyan hastanta, tolong lepaskan totokanmu nak? Ibunda yakin nanda prabu sudah baikan."
"Baiklah ibunda." Raden Hadyan Hastanta melepaskan totokannya. Setelah itu prabu Asmalaraya Arya Ardhana perlahan-lahan membuka matanya.
Sosok yang ia lihat untuk pertama kali adalah senyuman ibundanya.
__ADS_1
"Ibunda?."
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, nanda sudah baikan."
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin ibunda, maafkan nanda karena membuat ibunda cemas."
"Tidak apa-apa nak, ibunda tadi memang cemas, namun saat ini ibunda bersyukur karena nanda prabu sudah baikan."
"Benar rayi Prabu, kami sangat mencemaskan keadaanmu." Putri Agniasari Ariani dan putri Andhini Andita merasa tenang sekarang.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu rayi prabu?." Raden Hadyan Hastanta penasaran.
"Jaya satria bertarung melawan pendekar pemburu benda pusaka, mereka memaksa untuk mengeluarkan pedang sukma naga pembelah bumi dari tubuh jaya satria."
"Astaghfirullah hal'azim, pantas saja rayi prabu kesakitan seperti itu."
"Memaksa benda pusaka keluar dari tubuh seseorang memang menyakitkan."
Putri Agniasari Ariani dan Raden Hadyan Hastanta sangat mengerti itu, karena mereka juga memiliki satu benda pusaka di dalam tubuh mereka.
"Lalu bagaimana dengan jaya satria? Apakah dia akan baik-baik saja?."
"Yunda tenang saja, jaya satria sudah baikan juga."
"Syukurlah jika memang begitu." Ia sangat lega mendengarnya
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, putraku jaya satria baik-baik saja." Dalam hati Ratu Dewi Anindyaswari juga ikut merasa lega. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada kedua putranya. "Semoga Allah SWT selalu melindungi nanda berdua, hamba mohon ya Allah." Itulah harapan seorang ibu.
...*****...
Di satu sisi
Seseorang sedang merintih kesakitan, menahan luka yang cukup besar di tubuhnya. Pandangannya sudah hampir mengabur.
"Sebentar lagi aku akan sampai ke istana kerajaan suka damai." Kepalanya sudah terasa sakit, meskipun menaiki kuda namun tetap saja terasa sakit yang luar biasa.
"Nanda prabu asmalaraya arya ardhana." Sesekali bibirnya yang pucat itu menyebut nama itu. Hatinya ingin mengatakan agar cepat menemui sang prabu. Namun rasanya sangat lama karena kondisinya yang terluka parah saati ini.
Namun begitu kuda itu memasuki perkampungan yang ditempuh dua jam perjalanan. Tubuh itu oleng, dan jatuh dari kuda.
Kebetulan ada prajurit yang selalu berjaga mendengar dan melihat sosok manusia jatuh dari kuda.
"Ayo kita lihat!." Ia mengajak temannya untuk melihat siapa yang terjatuh dari kudanya.
Mereka mendekati sosok itu, tapi sosok itu tidak bergerak sama sekali. Salah satu prajurit itu mencoba melihatnya, mereka sangat terkejut saat mengenali sosok itu.
"Ayo kita segera bawa ke istana."
"Ya! Kita harus segera membawa ke istana."
Mereka segera membawa sosok itu ke istana kerajaan agar segera mendapatkan pengobatan. Jika dilihat dari lukanya?. Itu sangat parah, tentunya mereka merasakan adanya bahaya yang akan mereka dapatkan jika mengabaikan orang itu begitu saja. Siapa kah sosok itu?. Kenapa mereka begitu takut jika membiarkannya begitu saja?. Simak terus ceritanya.
...*****...
Di tempat lain
Terjadi kerusuhan di sebuah desa. Kerusuhan yang diakibatkan oleh seseorang yang baru saja menganut ilmu sesat, dan ia tidak bisa mengendalikan dirinya.
Tidak ada satupun orang yang mampu meredakan amukan orang yang kesurupan itu. bahkan dukun yang katanya sakti mandraguna di desa itu tidak juga bisa menghadapi amukan itu.
"Apa yang harus kita lakukan?."
"Aku tidak berani ikut campur, aku takut dia malah menyerang kita semua."
"Tapi jika dibiarkan begitu saja kita malah repot."
"Ah! Sial!."
Mereka yang menyaksikan itu tiba-tiba mendengarkan suara adzan yang membuat orang itu kesakitan. mereka semua mencari sumber suara itu. mereka semua melihat ada sosok bertopeng yang berdiri di atas atap rumah warga.
Mereka terpaku mendengar suara adzan itu, namun tidak dengan dukun juga orang yang kesurupan itu. Keduanya malah meronta sakit.
"Siapa orang bertopeng itu? Mengapa suaranya membuat keduanya kesakitan?."
Mereka bertanya-tanya, bacaan syair apa yang dibacakan orang itu?.
"Apakah dia dukun yang lebih hebat?."
"Mungkin saja seperti itu! Jika tidak? Mana mungkin aki sawitrah ikutan kesakitan seperti itu! Orang itu sakti mandraguna!."
"Tapi kita tidak kesakitan?!."
"Aku yakin dia seseorang yang memiliki ilmu kanuragan yang sangat hebat!."
"Sudahlah! Tunggu saja dia turun ke bawah!."
Mereka semua bertanya-tanya. Siapakah gerangan sosok itu?. Kenapa suara itu hanya membuat kedua orang itu saja, sementara yang lain tidak?. Mereka berdebat satu sama lain karena tidak mengetahui siapa anak muda yang mengundangkan suara Adzan itu.
Bagaiman kelanjutannya?. Siapakah sosok yang ditemukan oleh prajurit istana?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...****...