
...***...
"Nanda prabu." Syekh Asmawan Mulia melihat sang prabu menunduk di tanah. Ia tidak tahu harus berbuat, apa untuk menenangkan sang prabu.
"Rayi prabu." Terdengar suara Raden Hadyan Hastanta dari gerbang istana yang baru saja datang dari luar. "Ada apa rayi prabu?." Ia begitu mencemaskan keadaan adiknya.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendongakkan kepalanya, ia melihat kedatangan Jaya Satria, ia terlihat sedih.
"Ada apa gusti prabu." Jaya Satria langsung merendahkan dirinya di hadapan sang prabu. Namun sang prabu malah menyambutnya dengan pelukan, membuatnya sedikit kaget, apalagi sang prabu menangis?.
Raden Hadyan Hastanta, Raden Ganendra Garjitha, dan Syekh Asmawan Mulia hanya diam melihat itu.
"Ya, hamba mengerti. Gusti prabu telah bertemu dengan orang yang telah membunuh mendiang prabu kawiswara arya ragnala." Jaya Satria mengerti arti tangisan sang prabu. "Namun kita tidak boleh mengeluarkan amarah itu. Gusti prabu kawiswara arya ragnala akan marah, jika kita lepas kendali." Lanjutnya.
"Kita?. Apa maksudnya?." Raden Hadyan Hastanta dan Raden Ganendra Garjitha merasa sedikit heran.
"Aku tidak bisa menahan diriku. Aku tidak bisa menahan diriku, jaya satria." Sang prabu menangis pilu. ia melepaskan pelukannya, menatap mata Jaya Satria.
"Aku merasa sangat menyesal, karena tidak bisa membantu ayahanda prabu pada saat itu. Harusnya aku bisa menyelamatkan ayahanda prabu pada saat itu jaya satria." Tangisnya terdengar terisak, ia tidak bisa menahan perasaannya.
"Andai saja waktu itu ayahanda tidak mengurungku. Aku bisa membantunya menyerang prabu wajendra bhadrika. Aku yakin ayahanda masih bersama kita jaya satria." Rasa penyesalan yang begitu dalam, membuatnya menangis seperti anak kecil kehilangan mainannya.
"Rayi prabu." Raden Hadyan Hastanta dapat merasakan kesedihan itu, ia juga menyesal karena tidak bisa membantu ayahandanya.
"Kau tidak usah berpura-pura sedih atas kematian ayahanda, cakara casugraha." Raden Ganendra Garjitha muak melihat itu, ia sangat marah?.
"Raka." Raden Hadyan Hastanta tidak menyangka dengan suasana seperti itu, kakaknya masih berkata seperti itu?.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Termasuk syekh Asmawan Mulia, ia terkejut mendengarnya.
Jaya Satria bangun dan matanya melotot menatap Raden Ganendra Garjitha. "Bukankah sudah aku katakan jaga ucapanmu?. Apakah perlu aku perlihatkan bagaimana kesedihannya padamu?." Jaya Satria benar-benar emosi tingkat tinggi.
"Sudahlah jaya satria. Tidak ada gunanya kau marah-marah padanya." Sang prabu menghapus air matanya, ia mencoba untuk bangkit.
"Maafkan hamba gusti Prabu. Hanya saja ucapannya tidak bertempat." Jaya Satria ingin menghajar Raden Ganendra Garjitha yang tidak bisa menjaga ucpannya.
"Biarkan saja jaya satria." Sang prabu tidak ingin terjadi perkelahian di istana ini, karena itulah ia berusaha mencegahnya.
"Asal kau tahu rayi prabu. Aku mempercepat perang ini, karena kau telah mengirim dukun teluh untuk mencelakai kakek prabu. Dan aku akan menuntutmu, karena kau telah berbuat curang sebelum perang." Jadi itu alasan ia ikut dengan mereka tadi?.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya pelan, dan ia lakukan untuk menenangkan dirinya.
"Raka!. Kau masih saja menuduh rayi prabu yang telah berbuat kejahatan?!." Raden Hadyan Hastanta sungguh tidak mengerti mengapa kakaknya menuduh seperti itu?.
"Aku tidak menudu!. Hanya berkata yang sebenarnya" Raden Ganendra Garjitha membela dirinya.
"Aku dan jaya satria pernah terkena santet, yang dikirim oleh prabu wajendra bhadrika. Aku dan jaya Satri masih bisa menahannya." prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih ingat itu.
"Aku yakin yang berbuat ulah adalah dia. Dia yang ikut masuk dalam perperangan ini, karena itulah ia ingin kita saling membenci dan membunuh satu sama lain." Sang prabu mencoba untuk menjelaskan padanya.
Tapi apa?.
"kau tidak perlu membela dirimu, hanya untuk menutupi kebusukanmu rayi prabu." Apa yang barusan ia katakan?.
Duakh.
Hantaman keras mendarat di bahu kiri Raden Ganendra Garjitha, namun bukan jaya Satria atau prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang melakukannya, namun Raden Hadyan Hastanta.
__ADS_1
"BEDEBAH!. KAU ITU MEMANG TIDAK BISA DIBERI KATA LEMBUT LAGI!. APAKAH KAU TULI?. DAN HATIMU SUDAH MATI?. HINGGA TIDAK MAU LAGI MENDENGARKAN PENJELASAN?!." kemarahannya memang tidak bisa ia kendalikan lagi.
"Raka." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak menyangka akan melihat itu?.
"Raden." syekh Asmawan Mulia juga terkejut melihat itu, melihat pertengkaran mereka.
"Tunggu saja pembalasanku!. Akan aku bunuh kalian semuanya!." Tubuhnya terasa sangat sakit akibat hantaman itu, dan ia pergi dari sana, ia meninggalkan istana itu.
"Aaa fhuuuu." Raden Hadyan Hastanta menghela nafasnya. "Terbuat dari apa hatinya, hingga ia tidak lagi mau mendengarkan perkataan, yang jelas begitu sesuai dengan faktanya." Ia tidak habis pikir, ada orang yang seperti itu, bahkan kakaknya?.
"Raka." prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendekati Raden Hadyan Hastanta.
"Rayi prabu. Aku harap kau tidak memikirkannya." tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja.
"Baiklah raka. Tapi tenangkan diri raka terlebih dahulu." Balas sang prabu. "Mari kita masuk raka. Obati luka raka." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membimbing Raden Hadyan Hastanta menuju ke dalam istana.
"Terima kasih rayi prabu." Raden Hadyan Hastanta menyeka air matanya. Ia berjalan beriringan dengan sang prabu, sedangkan Jaya Satria dan Syekh Asmawan Mulia mengikuti mereka dari belakang.
...****...
Namun masih ada satu lokasi yang masih belum selesai masalahnya, dan ia adalah Senopati Mandaka Sakuta, ia masih bertarung dengan Raden Gentala Giandra.Matahari benar-benar telah condong ke barat, sebentar lagi akan berganti malam.
"Kau akan mengingat hari ini senopati bodoh!. Kau akan menjemput kematianmu!." Tubuh mereka benar-benar telah terluka, namun masih saja bertarung.
"Diam kau pengkhianat!. Meskipun aku mati, namun aku mati membela negeriku!. Sedangkan kau mati sebagi seorang pengkhianat busuk!." Ia tidak lagi memberi hormat pada Raden Gentala Giandra, ia sangat marah karena telah menghina rajanya.
Dan mereka kembali bertarung, mengadu kesaktian mereka, mereka tidak peduli lagi ketika mereka bertarung malam telah menyapa.
Raden Gentala Giandra memberikan pukulan keras ke dada Senopati Mandaka Sakuta, pukulan yang dilambari dengan tenaga dalam. Pukulan batu menghantam bumi, itulah nama pukulan itu, hingga Senopati Mandaka Sakuta terjajar beberapa langkah ke belakang. Ia tidak dapat lagi menghindari serangan itu dan terlempar jauh ke belakang.
"Rasakan kau." Ada kepuasan di dalam dirinya karena berhasil menghajar Senopati Mandaka Sakuta.
"Bersiaplah untuk menerima ajalmu." mata itu melotot tajam, seakan-akan ia hendak menelan Senopati Mandaka Sakuta hidup-hidup.
Setelah itu ia melakukan beberapa gerakan jurus yang hendak ia lepaskan ke arah Senopati, namun seorang prajurit istana datang
"Mohon ampun gusti senopati. Gusti prabu asmalaraya arya ardhana, menyuruh gusti untuk kembali ke istana. Perang ini telah selesai." Lapor prajurit istana yang membawa perintah sang prabu.
"Apa kau bilang?. Perang sudah selesai?." Ia tidak percaya itu. "Lalu bagaimana dengan keadaan rakaku ganendra garjitha, dan rayiku ambarsari?." Ada perasaan cemas di dalam dirinya.
"Mohon ampun raden. Yang hamba tahu bahwa raden ganendra garjitha kembali ke istana kerajaan mekar jaya. sementara gusti putri ambarsari belum diketahui. Karena kondisi perang ini sangat kacau, karena kerajaan jin yang dipimpin oleh prabu wajendra bhadrika, ikut serta dalam perang ini raden." Begitulah keterangan dari prajurit itu, membuat Raden Gentala Giandra shock tidak percaya.
"Mari gusti senopati. Gusti prabu asmalaraya arya ardhana sangat mencemaskan keadaan gusti senopati." Prajurit itu membantu Senopati Mandaka Sakuta untuk meninggalkan tempat itu.
"Rayi ambarsari." mendadak hatinya merasa sedih, karena prajurit itu mengatakan tidak mengetahui keberadaan adiknya?.
"Jagat dewa batara, rayi ambarsari." Hatinya yang gelisah mencoba mencari keberadaan adiknya. Ia akan menuju ke sana, ia ingin tahu bagaimana nasib adiknya, apakah masih bisa diselamatkan atau tidak.
...***...
Kita tinggalkan dulu Raden Gentala Giandra yang mencemaskan adiknya, mari kita lihat keterlibatan Prabu Wajendra Bhadrika dalam perperangan itu. Kembali dua hari sebelum perperangan.
"Apa?." Ia terkejut mendengar kabar yang disampaikan oleh bawahannya itu.
"Apakah kau tidak salah?. Kau sudah memastikan itu?." Ia tidak ingin salah menerima laporan yang ia dengar.
"Benar gusti Prabu. Hamba sangat jelas mendengarkan pembicaraan penduduk suka damai, yang mengatakan rajanya akan berperang dengan raja rahwana bimantara, dari kerajaan mekar jaya." Itulah laporannya.
__ADS_1
Sang prabu nampak sedang berpikir, ia menatap Nini Kabut Bidadari yang duduk di sebelah kirnya.
"Mohon ampun gusti prabu. Itu terdengar menguntungkan bagi kita." Seakan ia mengerti arti tatapan sang prabu, ia langsung memberi hormat pada sang prabu dan berbicara
"Keuntungan apa yang akan kita dapatkan dari perang itu nini?." Sang prabu ingin mendengar kelanjutannya.
"Kita bisa memanfaatkan kelengahan mereka di saat berperang. Dengan mengerahkan pasukan jin, yang tidak bisa lihat secara mata biasa. Aku yakin mereka tidak akan bisa menghindari serangan itu, hasilnya mereka semua akan saling membunuh satu sama lain." Ide yang cukup cemerlang menurutnya. "Kita serang pihak prabu rahwana bimantara. Biar pekerjaan lebih mudah." Lanjutnya lagi.
Sang prabu memikirkan kembali apa yang dikatakan abdi setianya itu, apakah ia akan melakukannya?. "Mengapa seperti itu?." Ia sedikit penasaran.
"Jika kita menyerang pihak prabu rahwana bimantara. Hamba yakin mereka akan menuduh prabu asmalaraya arya ardhana yang telah berbuat kecurangan sebelum berperang. Itulah yang harus kita manfaatkan sebaiknya gusti prabu." Jawab Nini Kabut Bidadari.
Sang prabu nampak berpikir lagi, ide itu memang bagus. "Nagaimana dengan istana itu?." Ia masih bertanya, ingin mendengar ide lainnya tentang penaklukan istana.
"Gusti prabu bisa mengerahkan sebagian pasukan untuk menyerbu istana. Atau mengacau di kota raja, untuk mengalihkan mereka dari yang masih tersisa di istana agar keluar untuk menghentikan kerusuhan itu. Dan sebagian pasukan lainnya menghancurkan istana. Hamba yakin, istana benar-benar kosong, Karena tidak mungkin raja tidak ikut dalam perperangan." Nini Kabut Bidadari menjelaskan semuanya.
"Mohon maaf ayahanda prabu, bolehkah aku menyarankan sesuatu?." putri Gempita Bhadrika juga ingin berbicara.
"Silahkan putriku, katakan." Ia mempersilahkan putrinya untuk berbicara.
"Mengapa tidak kita santet saja prabu Rahwana Bimantara, aku yakin perang semakin berkobar. Karena pihak prabu rahwana bimantara akan menganggap bahwa pihak prabu asmalaraya arya ardhana telah melakukan kecurangan?." Jawabnya. "Mereka tidak akan menduga, pihak lain yang ikut campur. Karena pada saat ini, hanya pihak prabu asmalaraya arya ardhana yang menjadi musuh mereka. Perang akan segera terjadi, karena mereka tidak terima pihak lawan melakukan kecurangan." Itulah ide yang di kemukakan olehnya.
Prabu Wajendra Bhadrika juga nampak berpikir lagi. "Yang dikatakan putriku benar juga." Ia melirik ke arah Nini Kabut Bidadari. "Dari pada menunggu perang itu terjadi hanya karena lamanya persiapan perang." Ia merasa tertarik dengan ide anaknya. "Baiklah, aku akan menggabungkan ide kalian berdua." Seringaian lebar terlihat jelas di wajahnya, ia akan melakukan kedua ide itu.
"Kita santet prabu rahwana bimantara. Hingga perang akan segera dimulai, karena pemikiran mereka yang menuduh pihak lawan telah berbuat curang. Setelah itu kita habisi mereka semua saat lengah di medan perang nanti." Sang prabu sudah tidak sabar lagi untuk melakukan ide itu.
Dan kembali ke masa setelah perang selesai, dan ia terlempar jauh karena serangan prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Ia sangat marah karena serangan itu tidak sama sekali ia sadari. Membuat rohnya kembali dengan paksa ke jasadnya, yaitunya istana kerajaan kegelapan miliknya.
"Ayahanda." putrinya begitu mencemaskan keadaanya. "Bagaimana ayahanda prabu?. Apakah berhasil?." Ia penasaran, apakah ayahandanya berhasil atau gagal?.
"Aku benar-benar gagal melakukannya." Jawabnya dengan nada pelan. Dadanya terasa sakit karena hantaman kuat itu.
"Apa?. Ayahanda prabu gagal?." Ia tidak menyangka jika ayahandanya gagal?.
"Aku tidak menyangka jika sang prabu memiliki mantram aneh untuk menjaga istananya. Dan aku tidak menyangka dia berada di istana." Jawab sang prabu dengan gusarnya.
"Mantram yang mereka bacakan membuat pasukanku kesakitan. Dan mereka semuanya hancur lebur sebelum memasuki gerbang istana." Ia masih ingat kejadian itu.
"Bahkan tubuhku terasa panas, mendengarkan mantram yang ia bacakan." Bahkan ia juga merasakan kesakitan pada saat itu, namun ia masih bisa bertahan.
Seketika putri Gempita Bhadrika ingat ketika melawan orang bertopeng itu, dan ia ingat bahwa orang bertopeng itu juga membacakan mantram aneh yang membuat ia kepanasan.
"Aku rasa mereka juga memiliki ilmu dukun yang sakti mandraguna ayahanda prabu." Putri Gempita Bhadrika merinding jadinya.
"Ya, ayahanda kira seperti itu." Ia setuju dengan pendapat putrinya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini?." Ia bertanya pada ayahandanya.
"Kita masih punya kartu bagus, untuk mendapatkan salah satu kerajaan besar. Karena prabu rahwana bimantara, masih dalam pengaruh santet nini kabut bidadari." Ya, setidaknya ia bisa memiliki salah satu kerajaan besar, yang akan ia taklukkan dengan mengancam nyawa sang prabu.
"Betul sekali ayahanda prabu, kita tidak benar-benar kalah." putri Gempita Bhadrika mengerti ucapan ayahandanya.
"Kalau begitu, kita suruh nini labut Bidadari menguasai tubuh prabu rahwana bimantara, untuk menyerang keluarga mereka sendiri." Ia memberi saran pada ayahandanya untuk melakukan lebih.
"Tentu saja putriku." Ia tentunya tahu apa yang akan ia lakukan, selama Prabu Rahwana Bimantara masih berada di dalam genggamannya.
Bisakah ia melakukannya?. Lalu bagaimana dengan Raden Gentala Giandra yang mencari keberadaan adiknya?. Baca terus ceritanya. Mohon dukungannya ya, semoga bermanfaat untuk kita semua.
__ADS_1
Yok vote.
...***...