
...***...
Begitu sampai di ruang pribadi Raja. Prabu Guntur Herdian tidak melihat keberadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Apakah dirinya sedang dipermainkan oleh mereka?.
"Maaf gusti prabu, silahkan duduk." Jaya Satria duduk di tempat biasa Prabu Asmalaraya Arya Ardhana duduk.
Prabu Guntur Herdian sedikit bingung, namun ia hanya menurut saja ketika dipersilahkan duduk oleh Jaya Satria.
"Maaf jaya satria. Dimana nanda prabu?. Saya tidak melihatnya berada di sini?."
"Maafkan saya gusti prabu." Jaya Satria membuka topeng yang menutupi wajahnya. Tentu saja Prabu Guntur Herdian terkejut melihat itu. Ia tidak menyangka jika Prabu Asmalaraya Arya yang berada dibalik topeng itu.
"Nanda prabu?. Apa yang nanda prabu lakukan dengan mengenakan pakaian seperti jaya satria?."
"Sekali lagi maafkan saya. Tadi saya hanya ingin memastikan jika gusti prabu ingin bertemu dengan saya."
"Tapi kenapa nanda prabu sampai menyamar begitu. Saya jadi bingung karena tidak mengenali nanda prabu."
Mereka tertawa kecil, untuk menghilangkan rasa canggung. "Pantas saja rayi dewi mengucapkan kata nanda pada jaya satria. Karena ia mengetahui yang berada dibalik topeng itu adalah anaknya." Dalam hati Prabu Guntur Herdian mengingat di ruang keluarga istana tadi.
"Memangnya apa yang membuat gusti prabu ingin bertemu dengan saya?. Tapi sebelumnya saya minta maaf, karena saat gusti prabu berkunjung ke istana ini, saya tidak ada di tempat. Itu karena saya sebagai kepala keluarga istana mengiringi acara lamaran raka saya raden hadyan hastanta."
"Tidak apa-apa nanda prabu. Mungkin kami yang berkunjung tidak pada waktunya." Ia juga merasa bersalah pada saat itu. "Ada hal yang ingin saya sampaikan pada nanda prabu mengenai sesuatu yang mungkin akan mengejutkan nanda prabu."
Jaya Satria merasa tidak enak. Jantungnya berdebar-debar aneh. Apa yang akan ia dengar dari Prabu Guntur Herdian?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Raden Cakara Casugraha saat ini sedang dalam perjalanan menuju Istana Kerajaan Mekar Jaya. Saat ini mereka sedang beristirahat, karena mereka agak kelelahan.
"Rayi, sebenarnya apa yang dilakukan rayi prabu?. Mengapa ia begitu lama?."
"Tenanglah yunda. Mungkin rayi prabu sedang melakukan sesuatu yang penting."
Raden Hadyan Hastanta dan Putri Ambarsari sedang mengamati apa yang dilakukan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Sedangkan dalam penglihatan Prabu Asmalaraya Arya yang benar-benar terhubung dengan Jaya Satria. Ia melihat keseriusan raut wajah Prabu Guntur Herdian. Sang prabu juga merasakan perasaan yang sama dengan Jaya Satria.
"Jaya satria, tenangkan dirimu. Dengarkan baik-baik, apa yang akan disampaikan oleh gusti prabu guntur herdian."
"Baiklah gusti prabu. Tapi apakah gusti prabu baik-baik saja selama diperjalanan menuju istana kerajaan mekar jaya?."
__ADS_1
"Jangan cemaskan aku. Tetaplah fokus dengan apa yang ada didepanmu jaya satria."
"Sandika gusti prabu."
...***...
Kembali ke ruang pribadi Raja.
"Sebenarnya saya ingin mengatakan, jika saya ingin menjodohkan jaya satria dengan putri saya nanda putri cahya candrakanati. Karena itulah saya minta izin pada nanda prabu sebagai raja yang membawahi jaya satria."
DEG
Jantung Jaya Satria dan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hampir saja melompat dari tempatnya, mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Guntur Herdian.
"Di-di-dijodohkan?." Keduanya refleks berdiri karena saking kagetnya dengan apa yang mereka dengarkan. Wajah mereka memerah karena malu mendengarkan kata perjodohan.
Di tempat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Rayi prabu."
Putri Ambarsari dan Raden Hadyan Hastanta segera menghampiri adik mereka karena terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh adik mereka.
"Benar rayi prabu. Kenapa rayi prabu mengatakan kata dijodohkan?. Memangnya siapa yang dijodohkan?."
Kedua kakaknya terlihat bingung, memangnya apa yang terjadi sehingga adik mereka mengatakan kata dijodohkan.
Sedangkan Jaya Satria yang berada di istana Kerajaan Suka Damai.
Jaya Satria mencoba menenangkan dirinya dengan duduk kembali. Ia tadi hanya kaget luar biasa dengan apa yang ia dengar.
"Maaf, jika saya membuat nanda prabu terkejut. Memang apa yang saya katakan membuat nanda prabu sulit mempercayainya."
"Tentu saja aku terkejut, karena aku adalah jaya satria. Ya Allah gusti prabu. Apa yang harus hamba katakan?."
"A-aku juga terkejut mendengarnya jaya satria. Kau juga dapat mendengarkan jika raka dan yunda bertanya mengapa aku mengucapkan kata itu."
Dalam komunikasi yang terjalin itu, keduanya merasakan kebimbangan yang luar biasa. Apa yang akan mereka lakukan?.
"Mari kita mencoba untuk menenangkan diri jaya satria. Kita selesaikan ini dengan hati yang tenang."
__ADS_1
"Mari gusti prabu."
Keduanya mencoba untuk konsentrasi, mengatur nafas mereka dengan pelan, kemudian mencoba untuk berbicara.
"Tapi mengapa nimas cahya candrakanti dijodohkan dengan jaya satria?. Bukankah mereka jarang bertemu?. Apa yang membuat nimas cahya candrakanti menyukai jaya satria?."
"Jika nanda prabu bertanya masalah itu. Saya juga kurang faham mengenai perasaan wanita. Terutama anak gadis saya."
Jaya Satria sedikit merasa heran, ia memang jarang bertemu dan dikatakan hanya beberapa kali bertemu dengan Putri Cahya Candrakanti. Tentunya ia merasa penasaran, apa yang membuat Putri Cahya Candrakanti ingin dijodohkan dengan dirinya?.
"Akan tetapi nanda putri cahya candrakanti mengatakan, jika sejak bertemu dengan jaya satria. Hatinya merasa berdebar-debar. Selalu memikirkan bagaimana wajah misterius dibalik topeng jaya satria. Hatinya selalu tertuju pada jaya satria." Itulah alasan mengapa Putri Cahya Candrakanti ingin dijodohkan Jaya Satria?.
"Itu masih belum bisa menjadi alasan seseorang untuk mencintai orang lain." Dalam hati Jaya Satria masih bingung dengan apa yang membuat seorang putri raja mencintainya sementara ia tidak pernah memperlihatkan wajahnya pada siapapun. Bahkan dihadapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ia sering mengenakan topeng penutup wajahnya.
"Kalau masalah ini tidak perlu terburu-buru. Nanda putri cahya candrakanti mengatakan jika dirinya memang ingin mengenali Jaya Satria. Saat umur mereka cukup untuk ke sana, ya jika memang jodoh, saya akan merestui hubungan mereka. Itupun jika nanda prabu berkenan memberi restu."
"Ji-jika masalah itu, saya serahkan pada jaya satria. Karena masalah perasaan, tanyakan saja pada jaya satria."
"Terima kasih nanda prabu. Maaf jika saya datang jauh-jauh dari kerajaan telapak tiga hanya untuk menyampaikan hal yang seperti ini."
"Ah tidak apa-apa gusti prabu. Anggap saja kita sedang menjalin tali persaudaraan." Jaya Satria jadi bingung harus berkata apa. Karena disini posisinya yang akan dijodohkan.
Sementara itu sang Prabu yang sedang mendapatkan pertanyaan dari kedua kakaknya.
"Tadi saya mendapatkan penglihatan, jika salah satu dari keluarga kita akan dijodohkan."
"Keluarga kita?."
"Iya raka."
"Tapi siapa?."
"Itu belum terlihat jelas yunda. Semoga saja itu hanya penglihatan biasa."
Sang Prabu juga merasa bimbang. Bagaimana mungkin Prabu Guntur Herdian menginginkan anaknya dijodohkan dengan Jaya Satria?.
Apakah itu kabar yang baik baginya juga Jaya Satria?. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
(Selamat kepada pemenang ya. Hadiah akan dikirim melalui chatt pribadi 😁. Semoga bermanfaat 🙏)
__ADS_1
...***...