RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
JAWABAN


__ADS_3

...***...


Istana Kerajaan Suka Damai, bilik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati sedang menjaga Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria yang masih seperti yang sebelumnya.


"Maafkan aku yunda, putra putri yunda jadi ikut kerepotan karena membantu nanda Prabu."


"Jangan berkata seperti itu rayi dewi, kita semua melakukan ini karena menginginkan kesembuhan nanda Prabu."


"Aku hanya cemas saja yunda, aku takut mereka juga terluka."


"Tenanglah rayi dewi, percayakan semua ini sebagai ujian untuk kita." Ratu Gendhis Cendrawati telah melapangkan hatinya. "Sebelumnya kita tidak pernah seperti ini, sebelumnya kita bermusuhan, mungkin saja Dewata Agung sedang menguji seberapa dekatnya ikatan kita di saat nanda Prabu sedang sakit seperti ini."


Ratu Dewi Anindyaswari terharu mendengarnya, hatinya sangat tersentuh dengan ucapan itu. "Yunda benar, ini adalah ujian untuk kita semua." Hampir saja Ratu Dewi Anindyaswari tidak dapat menahan air matanya. "Mari kita hidup bersama sebagai keluarga yang saling menyayangi yunda."


"Tentu saja rayi dewi."


Ya, itulah jawaban dari Ratu Gendhis Cendrawati, hatinya tidak lagi membenci keluarga Ratu Dewi Anindyaswari. Dendam masa lalu telah ia kubur dalam-dalam, hatinya ingin berubah ke arah yang lebih baik lagi.


...****...


Di sebuah pondok kecil.


"Nama saya mayang suri." Wanita itu memperkenalkan namanya. "Terima kasih atas bantuan nini terhadap saya."


"Saya hanya bisa melakukan yang bisa saja."


"Itu karena dia seorang pendekar pengembara, makanya dia mau membantumu."


Deg!.


Mayang Suri sangat terkejut mendengarnya, ia kembali menunduk karen merasa sedih mendengarkan ucapan itu.


"Jangan berkata seperti itu nyi." Putri Agniasari Ariani merasa tidak enak hati. "Tidak ada manusia di dunia ini yang kuat menghadai cobaan hidup yang berat." Raut wajahnya terlihat sangat sedih. "Namun Allah SWT tentunya tidak akan membiarkan hamba-Nya menderita."


"Sepertinya keyakinan kita berbeda sangat jauh anak muda." Nyai Senada masih terlihat marah.


"Jika nyai tidak suka-."


"Aku hanya melindungi anak gadis ini dari lelaki jahanam itu, dan aku tidak peduli sama sekali padamu!." Dengan cepat Nyai Senada berkata seperti itu, seakan-akan mengerti dengan apa yang akan dikatakan Mayang Suri padanya. "Kau telah aku beri peringatan saat itu! Namun kau mengabaikan peringatan dariku! Bahkan kau tidak peduli dengan nasihat kedua orang tuamu yang melarangmu untuk mendekati lelaki jahanam itu!." Amarahnya keluar begitu saja.


Sedangkan Putri Agniasari Ariani telah menemukan jawaban kenapa semua orang membenci Mayang Suri.


"Tenanglah nyai, semua masalah memang tidak bisa dihindari."


Terlihat Nyai Senada menghela nafasnya dengan lelahnya. "Jika saja ia mau mendengarkan nasihat kami dengan baik? Maka nasibnya tidak akan seburuk itu."


"Apakah tidak ada pihak istana yang curiga pada Senopati itu nyai? Rasanya sangat menakutkan sekali apa yang ia lakukan." Putri Agniasari Ariani sangat tidak suka dengan itu.


"Kami telah mencoba melakukannya, malah kami mendapatkan ancaman darinya." Kembali Nyai Senada terlihat menghela nafasnya.


Mereka sama sekali tidak berdaya untuk menghentikan Senopati Bumi Sejagad. Apakah akan terus seperti itu?. Simak terus ceritanya.


...****...


Istana Kerajaan Mekar Jaya.


"Apakah saya boleh meminta izin pada kakek Prabu? Jika saya ingin mencoba kembali menerima mereka sebagai keluarga, mencoba merangkul kembali mereka." Itulah jawaban dari Putri Ambarsari setelah melihat bagaimana pertunjukan sandiwara itu. "Saya percaya bahwa mereka bisa diajak ke arah jalan kebaikan."


"Apakah kau yakin dengan apa yang kau putuskan itu ambarsari? Apakah kau nantinya tidak akan menyesal karena mengambil keputusan itu?." Prabu Rahwana Bimantara sekali lagi meyakinkan cucunya tentang keputusan itu.


"Bagaimana pun dan apapun yang telah mereka lakukan? Raka ganendra garjitha, raka gentala giandara adalah saudara saya, begitu juga ibunda Ratu ardningrum bintari." Jawabnya dengan senyuman kecil. "Beliau tetaplah ibunda yang telah melahirkan saya, dan itu tidak akan bisa diubah, bahkan jika saya mati sekalipun."


Prabu Rahwana Bimantara tersenyum kecil. "Kalau begitu berusahalah dengan baik, aku pasti akan mendukung apapun yang akan kau lakukan nantinya."


"Terima kasih kakek Prabu, terima kasih atas semua yang telah kakek Prabu berikan pada kami selama ini." Putri Ambarsari menangis terharu. "Ketika kami menjadi pemberontak dari kerajaan suka damai? Kakek Prabu menampung kami, bahkan sampai sekarang kakek Prabu masih menerima kami dengan sangat baik."


"Jangan menangis, semuanya telah terjadi karena garis waktu yang telah ditentukan oleh Dewata yang Agung." Dengan lembut tangannya menghapus air mata cucunya. "Bukankah rayimu nanda cakara casugraha pernah berkata? Bahwa ujian terbesar di dalam hidupmu adalah menghadapi keluarga sendiri? Jadi? Kuatkan lah hatimu untuk menghadapi itu semua, ya?."


"Ya, benar yang dikatakan rayi cakara casugraha, dan sekarang saya telah merasakan itu." Hatinya sangat sedih mengingat apa yang telah terjadi selama ini.


Apakah Putri Ambarsari bisa menyatukan kembali keluarganya yang sedang berserak itu?. Simak dengan baik kisahnya.


...***...


Istana Kerajaan Suka Damai.


Saat itu Nyai Bestari Dhatu juga berada di bilik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Tentu saja memastikan keadaan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria baik-baik saja. Saat itu juga menceritakan apa yang ia alami ketika bersemedi.


"Jadi nyai bertemu mendiang Gusti Prabu bahuwirya jayantaka byakta?."


"Lalu apa saja yang dikatakan beliau mengenai petunjuk itu?."


"Hamba masih mencari petunjuk, tentang seorang ibu yang dapat menyambut anaknya, juga bacaan yang lebih indah dari syair manapun yang ada di dunia ini."

__ADS_1


Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati tampak memikirkan apa yang dikatakan Nyai Bestari Dhatu tentang petunjuk itu.


"Seorang ibu yang dapat menyambut anaknya.?" Ratu Gendhis Cendrawati melirik ke arah Ratu Dewi Anindyaswari.


"Bacaan yang lebih indah dari syair manapun di dunia ini?."


Kedua Ratu Agung malah mengulang apa yang diucapkan oleh Nyai Bestari Dhatu. Kedua Ratu Agung belum mengerti sama sekali dengan petunjuk itu.


"Kalau tidak salah? Nanda prabu pernah bercerita padaku." Ratu Dewi Anindyaswari mencoba mengingatnya. "Mengenai kisah seorang ibu, yang menyayangi anaknya melebihi dirinya sendiri." Matanya memperhatikan kedua putranya yang sedang terbaring di tempat tidur.


Tentunya hatinya sangat sedih melihat kedua putranya yang dalam keadaan seperti itu, hatinya ingin menangis karena tidak bisa membantu menyembuhkan anaknya.


"Seorang ibu yang rela mati demi melindungi anaknya yang telah menyengsarakan dirinya." Namun di sisi lain hatinya juga sedih dengan kisah itu. "Namun sang ibu selalu membela anaknya, hingga menemui ajalnya." Ratu Dewi Anindyaswari terlihat sedang menahan perasaan sedih yang semakin bertambah di hatinya. "Karena ia bersembunyi di dalam lonceng besar, demi meredam suara lonceng besar itu, sungguh mulia yang dilakukan oleh ibu itu untuk anaknya." Tanpa sadar air matanya menetes begitu saja karena saking terharunya ia membayangkan bagaimana kisah itu terjadi.


Ratu Gendhis Cendrawati dan Nyai Bestari Dhatu yang mendengarkan itu juga merasa simpati, dan sangat tersentuh dengan ucapan Ratu Dewi Anindyaswari.


"Seorang ibu akan selalu menyayangi anak-anaknya, tidak ada seorang ibu yang tega menyakiti anaknya, aku yakin itu." Ratu Gendhis Cendrawati yang merasa khawatir dengan kepergian kedua anaknya.


"Rasanya aku sangat merindukan ibunda." Dalam hati Nyai Bestari Dhatu merasakan perasaan rindu pada ibundanya. Namun ia harus menguatkan dirinya, karena saat ini keselamatan gusti prabu dan Jaya Satria sangat penting.


"Hamba akan segera mungkin mencari petunjuk itu." Nyai Bestari Dhatu tersenyum kecil. "Semoga saja sebelum Gusti Putri andhini andita dan raden hadyan hastanta kembali? Hamba bisa telah menemukan jawabannya." Nyai Bestari Dhatu sangat berharap itu terjadi.


"Kami juga akan membantu nyai." Mereka semua akan bekerjasama untuk memecahkan masalah ini. Apakah mereka bisa?. Temukan jawabannya.


...***...


Sementara itu.


Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta telah sampai di Telaga Warna Bidadari. Suasana di sana cukup sepi, adem dan menenangkan.


"Raka, menurut cerita? Dulu telaga warna bidadari ini dikuasai oleh nini kabut bidadari."


"Maksud rayi? Wanita yang waktu itu dikalahkan oleh jaya satria ketika kita menyerang kerajaan Kegelapan?."


"Ya, raka benar."


"Jadi? Telaga warna bidadari ini saat ini aman karena tidak ada yang menghuninya?." Raden Hadyan Hastanta dan Putri Andhini Andita meninggalkan Telaga Warna Bidadari setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan?.


Tidak!. Belum sempat Putri Andhini Andita menjawab, tiba-tiba saja ada dua orang yang menghadang mereka.


"Berani sekali kalian mengambil air telaga warna bidadari tanpa izin dari kami!."


Saat itu ada sepasang pendekar yang mencegat Raden Hadyan Hastanta dan Putri Andhini Andita.


"Maaf saja? Aku tidak bisa menuruti perkataan kalian! Karena air ini sangat berguna untuk kami."


"Sebaiknya kalian menyingkir! Karena kami sedang terburu-buru! Jangan membuat urusan dengan kami."


Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta terlihat sangat kesal, tidak menduga sama sekali jika ada yang menghalangi mereka?. Tapi sepertinya sepasang pendekar itu tidak akan membiarkan musuhnya membawa air telaga bidadari itu dari tempatnya.


"Bedebah! Berani sekali kau berkata seperti itu padaku! Kalau begitu akan kami habisi kalian!."


"Kita bereskan mereka dahulu raka."


"Ya."


Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta melawan sepasang pendekar itu, keduanya tidak akan mengalah begitu saja, karena air telaga bidadari sangat penting untuk menyelamatkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


...****...


Istana Kerajaan Suka Damai.


Nyai Bestari Dhatu mencoba untuk mengelilingi Istana. Mungkin dengan mengelilingi Istana ia bisa menemukan jawabannya, tentu saja ia tidak akan berlama-lama duduk begitu saja.


Sayup-sayup ia mendengar suara seseorang?. Semakin lama semakin jelas ia mendengar suara itu. Hatinya bergetar mendengarkan suara Syekh Asmawan mulia yang sedang membaca Alquran.


"Apakah ini adalah bacaan yang lebih indah dari syair manapun yang ada di dunia ini?." Dalam hatinya merasakan perasaan yang nyaman. Perasaan yang damai ketika mendengarkan suara itu. Seperti ada kata-kata yang sama sekali tidak ia ketahui maknanya, namun bacaan itu mampu menggetarkan hatinya.


Nyai Bestari Dhatu mendekati Syekh Asmawan Mulia. Ia ingin mendengarnya lebih jelas lagi. Menghayati apa yang dibacakan oleh Syekh Asmawan Mulia. Tak berapa lama setelah itu, Syekh Asmawan Mulia menghentikan apa yang ia baca.


"Mengapa Syekh menghentikan bacaannya? Suara Syekh sangat indah, bacaannya sangat bagus, bahkan lebih indah dari syair yang pernah saya dengar di mana pun." Tanpa sadar Nyai Bestari Dhatu malah menyebutkan kata petunjuk itu.


"Subhanallah, sepertinya Allah SWT telah memberikan kita petunjuk." Syekh Asmawan Mulia tersenyum ramah.


Nyai Bestari Dhatu memikirkan apa yang telah dikatakan Syekh Asmawan Mulia, sepertinya ia sangat faham dengan ucapan itu.


"Al-Qur'an adalah pedoman hidup bagi umat manusia, petunjuk dari segala keraguan yang dirasakan oleh siapa saja, termasuk nabi-nabi terdahulu."


"Jadi bacaan yang lebih indah dari syair itu adalah bacaan Alquran?." Nyai Bestari Dhatu ingin memastikannya.


"Bisa jadi, karena hatilah yang menentukan semua." Syekh Asmawan Mulia tersenyum kecil. "Hati yang baik akan bisa membedakan mana yang indah, bisa jadi hati yang tidak tenang malah memilih syair lebih indah, karena hatinya belum tergerak ketika mendengarkan bacaan Alquran yang tidak ia ketahui sama sekali maknanya." Balas Syekh Asmawan Mulia.


"Jadi begitu?." Nyai Bestari Dhatu merasa lega.


"Seperti saya telah dapat petunjuk syekh, Gusti Prabu bahuwirya jayantaka byakta seperti telah memberikan saya gambaran itu setelah memecahkan teka-teki itu." Nyai Bestari Dhatu terharu, hngga ia menangis karena tidak kuasa menahan perasaannya saat ini.

__ADS_1


"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, semoga kita bisa menyelamatkan nanda prabu dan nanda jaya satria."


Bagaiman cara Nyai Bestari Dhatu menyembuhkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.? Temukan jawabannya.


...***...


Di Desa Rembung Hilir.


Di balai desa.


Pada saat itu mereka sedang berunding untuk memastikan sesuatu.


"Apa yang harus kita lakukan? Senopati biadab itu telah mengancam aku, jika aku tidak memberikannya dua wanita muda padanya untuk menemaninya berburu kali ini."


"Banyak anak gadis di desa ini, tapi aku tidak ingin mereka menjadi korban!."


"Lantas bagaimana dengan ancaman itu? Desa kita bisa mati kelaparan jika itu terjadi."


Mereka sangat bimbang dengan ancaman itu, namun di sisi lain mereka juga tidak ingin anak gadis di desa Rembung Hilir akan menjadi korban.


"Mohon maaf sebelumnya, kalau tidak salah kemarin malam aku melihat ada seorang pendekar wanita yang singgah di desa ini, bagaimana kalau dia saja kita korbankan?."


Tampak mereka memikirkan ucapan itu, apakah itu akan menjadi keputusan yang tepat?.


"Tapi apakah kita mampu menangkapnya? Bisa jadi dia pendekar yang hebat."


"Ya, kita juga harus waspada itu, dan bisa jadi dia telah mendengar kabar itu, dan kemungkinan saja ia telah meninggalkan desa ini."


Kembali mereka terlihat menghela nafas, rasanya masalah itu membuat mereka sangat tidak mengerti harus berkata seperti apa. Apakah yang akan mereka lakukan uuntuk menyelesaikan masalah itu?. Simak dengan baik kisahnya.


Sementara itu di tepian hutan.


Beberapa prajurit telah sibuk mendirikan tenda, tentu saja Senopati Bumi sejagad akan berburu di sana.


"Hei, jala!."


"Hamba Gusti Senopati?."


"Kau periksa keadaan sekitar, dan jangan biarkan ada yang mengganggu aku ketika berburu nantinya."


"Sandika Gusti Senopati."


Setelah itu Jala, orang kepercayaan Senopati Bumi Sejagad melakukan apa yang diminta tuannya.


"Setelah berburu tentunya yang ingin segar-segar." Senopati Bumi Sejagad tersenyum lebar. "Aku harap kepala desa itu telah menemukan gadis perawan untukku." Suasana hatinya semakin senang membayangkan itu semua.


Di satu sisi.


Putri Agniasari Ariani saat itu sedang mengambil air di tepian sungai kecil yang lumayan jauh dari pondok ia tinggali sementara waktu.


Deg!.


Namun saat itu ia mendengar langkah kaki, tanpa berpikir panjang ia segera menjauh dari sungai itu berlindung di semak-semak dan melompat ke atas pohon yang sangat tinggi agar kehadirannya tidak diketahui.


Deg!.


Matanya terbelalak terkejut ketika melihat ada beberapa orang prajurit yang membawa anjing berburu?.


"Apakah itu adalah rombongan senopati itu? Apakah mereka sedang berburu?." Dalam hatinya bertanya-tanya. "Aku tidak boleh terlibat dalam masalah mereka, begitu kata nyi senada." Tentunya ia masih ingat dengan ucapan itu.


Sedangkan di bawa?. Prajurit yang sedang memeriksa keadaan?.


"Sepertinya lokasi ini tidak berbahaya untuk lokasi berburu."


"Ya, aku rasa itu benar."


"Kalau begitu mari kita berikan laporan pada Gusti Senopati."


"Mari."


Setelah memastikan semuanya aman?. Kedua prajurit itu langsung pergi meninggalkan tempat itu. Putri Agniasari Ariani juga turun, tidak mungkin berlama-lama di atas pohon.


"Aku harus segera kembali ke pondok." Putri Agniasari Ariani hanya tidak ingin mencari masalah.


...***...


Istana Kerajaan Telapak Tiga.


Putri Cahya Candrakanti saat itu sedang termenung di biliknya, ia sedang memikirkan alasan kenapa ia bisa jatuh cinta pada orang yang belum ia kenal?.


"Apakah hatiku dengan mudahnya jatuh cinta pada seseorang?." Dalam hatinya bertanya seperti itu. "Tapi telah banyak pangeran yang aku temui, namun ketika aku bertemu dengan jaya satria?." Memikirkannya saja membuat ia semakin berdebar-debar dengan sangat kencangnya. "Astaghfirullah hal'azim ya Allah, ini sungguh tidak baik untuk kesehatan jantung hamba." Dalam hatinya mencoba menekan perasaan itu. "Sepertinya aku belum bisa menemukan jawaban, alasan kenapa aku bisa jatuh cinta pada jaya satria." Kepalanya terasa berasap ketika membayangkan Jaya Satria yang bersikap baik padanya. "Membayangkannya saja membuat aku seperti ini, apa lagi kalau benar-benar terjadi? Aku rasa pasti akan pingsan saking berdebarnya jantung ku ketika berada di sampingnya, berbicara dengannya."


Sepertinya Putri Cahya Candrakanti memang sangat mencintai Jaya Satria, hanya dengan memikirkan Jaya Satria membuat ia salah tingkah?. Apa lagi memang kalau berada di dekat Jaya Satria setelah merasakan perasaan yang istimewa seperti itu?. Apakah itu hanyalah perasaan sementara atau apa?. Hanya Putri Cahya Candrakanti saja yang merasakannya. Bagaimana lanjutan kisahnya?. Simak terus lanjutannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2