RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
MEMINTA BANTUAN


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita dapat merasakan kemarahan dari sukma Dewi Suarabumi. Kemarahan itu sangat kental, sehingga menimbulkan tekanan kekuatan tenaga dalam yang sangat kuat. Hawa kemerahan yang sangat tidak biasa.


"Kau tidak boleh ragu andhini andita!. Jika kau ragu!. Maka kau akan celaka!." Sukma Dewi Suarabumi terdengar tinggi, karena ia sedang marah. "Kau tidak boleh mencintai saudaramu sendiri!. Maka kau akan celaka seperti aku!." Tiba-tiba saja sorot mata Sukma Dewi Suarabumi menjadi lebih tajam, sampai menusuk ke alam bawah sadar Putri Andhini Andita.


Deg!!!


Mata Putri Andhini Andita terbebalak terkejut. Tadi itu ia melihat sebuah gambaran yang membuat ia menyadari sesuatu. "Uhuk!." Putri Andhini Andita terbatuk darah. Dadanya terasa sakit, dan ia hampir saja kesulitan bernafas.


"Tenangkan dirimu, putriku." Suara itu, berasal dari arah depannya. Hati Putri Andhini Andita bergetar kuat, saat matanya menangkap sosok yang sangat ia rindukan selama ini.


"Ayahanda prabu." Putri Andhini Andita Segeran berdiri, dan ia memeluk ayahandanya.


"Tenanglah nak. Katakan pada ayahanda apa yang membuatmu bersedih." Sukma Prabu Kawiswara Arya Ragnala memeluk anaknya.


"Ayahanda. Apakah aku tidak boleh mencintai adikku sendiri?. Tapi kenapa ayahanda prabu?." Perasaan suasana hatinya yang sangat iba, setelah melihat gambaran dari Sukma Dewi Suarabumi.


"Semuanya telah berjalan sesuai dengan takdir putriku. Namun takdir yang kau lalui itu sangat bertentangan dengan yang pernah ada." Prabu Kawiswara Arya Ragnala mencoba menenangkan putrinya. "Adikmu juga memiliki takdir yang telah ia lalui dengan garis yang telah ditentukan oleh sang pencipta." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum lembut menatap anaknya. "Nanda harus mampu menahan perasaan itu. Nanda harus melakukan tapa puasa, menyendiri dan juga harus bisa mengendalikan perasaan nanda. Terutama pada adikmu, kau harus menanamkan, bahwa cinta itu bisa datang kapan saja. Sehingga nanda tidak berlebihan menanggapinya." Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum lembut, ia usap lembut rambut anaknya.

__ADS_1


"Apakah harus seperti itu ayahanda?. Apakah tidak ada cara lain?." Rasanya sangat sedih, jika harus menghilangkan perasaan cinta itu dihatinya.


"Kau harus bisa melakukannya putriku. Ayahanda yakin kau mampu melakukannya. Karena kau adalah putri prabu kawiswara arya ragnala yang sangat kuat." Sayup-sayup suara itu mulai terdengar sangat jauh. Putri Andhini Andita membuka matanya dengan pelan. Memastikan dirinya bahwa ia masih berada di dunia ini. Namun air matanya mengalir perlahan-lahan, dan terdengar isak tangisnya. "Apa yang harus aku lakukan." Dalam hati Putri Andhini Andita merasakan kegundahan yang luar biasa. Ia mengusap sudut bibirnya yang terasa aneh, dan ketika ia melihat tangannya ternyata itu adalah darah. Bagaimana tanggapan Putri Andhini Andita dengan kemarahan Sukma Dewi Suarabumi?. Temukan jawabannya.


...***...


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini sedang berada di ruang pribadi raja. Di waktu-waktu tertentu, biasanya ayahandanya akan selalu datang. Walaupun hanya sekedar lewat saja, atau bahkan menyapa dirinya. Dan kebetulan saat itu ia melihat ayahandanya masuk ke dalam ruangan pribadi raja.


"Sampurasun, ayahanda prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat pada ayahandanya.


"Rampes." Balas Prabu Kawiswara Arya Ragnala dengan senyuman lembut.


Prabu Kawiswara Arya Ragnala tersenyum lembut menatap putranya. "Katakan saja putraku, semoga saja ayahanda bisa membantumu." Prabu Kawiswara Arya Ragnala dapat menangkap maksud anaknya menemuinya.


"Terima kasih ayahanda prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana senang jika ayahandanya mengerti. "Ada suatu tempat di kerajaan ini, dimana tempat itu sama sekali tidak bisa dimasuki ayahanda prabu." Ia menjelaskan pada ayahandanya. "Tempat itu terlihat seperti sebuah desa yang sangat ramai, namun nanda tidak bisa memasukinya ayahanda prabu." Raut wajahnya terlihat sangat gelisah, dan ia merasakan ada keanehan di sana.


Sedangkan Prabu Kawiswara Arya Ragnala mencoba untuk mengingat apa yang terjadi ketika ia masih hidup. "Itu dulunya adalah desa damai abdi tiga. Namun karena penduduknya mempelajari hal-hal yang aneh dibawa oleh orang luar, sampai sekarang mereka terkurung di dalam sana sudah sejak mendiang ayahanda prabu guindara arya jiwatrisna." Pikirannya Prabu Kawiswara Arya Ragnala seakan kembali menerawang ke masa dimana ayahandanya menjadi raja, mendapati salah satu wilayah kerajaan Suka Damai tidak bisa dimasuki oleh siapapun juga termasuk Prabu Guindara Arya Jiwatrisna.


"Lalu apa yang harus nanda lakukan ayahanda prabu?. Konon menurut keterangan dari beberapa orang yang pernah lewat di sana. Mereka tidak sengaja mendengarkan suara minta tolong, bahkan menjerit kesakitan. Seakan-akan mereka sedang tersiksa ayahanda prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat sangat cemas. "Bukan hanya sampai disitu saja ayahanda prabu. Bahkan mereka yang tidak kuat menahan hawa disekitar tempat itu jatuh sakit, juga ada yang menghilang karena terseret oleh hawa di sana ayahanda prabu." Suasana hatinya sangat gelisah tak menentu.

__ADS_1


"Nanda harus segera mengatasi masalah itu. Karena itu bisa menjadi berbahaya. Jangan sampai mereka semua menjadi korban akibat keserakahan mereka yang haus akan sesuatu yang mereka cintai." Prabu Kawiswara Arya Ragnala juga merasakan kegelisahan itu.


"Tapi bagaimana caranya nanda bisa masuk ke sana ayahanda?. Nanda sama sekali tidak bisa masuk ke sana ayahanda prabu." prabu Asmalaraya Arya Ardhana meminta pendapat ayahandanya.


"Panah semara naga." Prabu Kawiswara Arya Ragnala melirik ke arah anaknya. "Hanya dengan panah itu, nanda bisa masuk ke sana. Panah yang mampu menembus apapun saja." Kali ini tatapannya lurus ke depan. "Namun ayahanda tidak mengetahui keberadaan keris itu. Tapi entah mengapa rasanya sangat dekat sekali." Setelah berkata seperti itu, sang prabu pergi meninggalkan putranya. Karena ia harus segera pergi dari sana.


"Terima kasih atas petunjuk yang ayahanda berikan pada nanda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi hormat pada ayahandanya yang pergi meninggalkan ruang pribadi Raja. "Jadi aku harus masuk ke alam sukma, menemui sukma naga yang mengisi panah Semara Naga?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bertanya pada dirinya sendiri. Sebab panah itu telah berada di dalam tubuhnya. "Baiklah, kalau begitu aku akan melakukannya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana duduk bersila di dipan kecil yang ada di ruangan pribadi raja. Ia melakukan semedi. Dengan membacakan ayat kursi, ia memasuki alam sukma, bertemu dengan Sukma naga dari panah Semara Naga.


Meskipun agak lama, namun Prabu Asmalaraya Arya Ardhana akhirnya bisa melihat wujud naga itu. Naga putih yang terlihat sangat ramah. "Sampurasun." Ucapnya memberi hormat pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Rampes." Balasnya.


"Apa gerangan yang membuat gusti prabu menemui hamba?. Apakah ada sesuatu yang bisa hamba lakukan untuk gusti prabu?." Dengan kerelaan hati, ia bertanya pada tuannya.


"Aku ingin minta bantuan padamu, wahai sukma naga yang mengisi panah semara naga." Balas Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Aku ingin memasuki sebuah tempat yang sulit untuk dijangkau." Lanjut sang prabu.


"Baiklah gusti prabu. Hamba akan melakukannya dengan baik." Sukma Naga Panah Semara Naga bersedia membantu sang prabu.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2