
...***...
Gema takbir malam itu terdengar sangat keras dan indah. Membuat siapa saja yang mendengarnya ingin menangis. Semua umat Islam yang berada di kerajaan Suka damai merasakan kebahagiaan tersebut. Termasuk keluarga istana.
Malam itu setelah sholat isya, mereka berkumpul di ruang keluarga. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Raden Cakara Casugraha. Malam ini ia menggunakan raga aslinya. Malam ini ia sungkeman pada ibundanya.
"Mohon maaf lahir ibunda." Keduanya mencium tangan ibundanya dengan penuh kasih sayang. "Maafkan nanda, jika nanda selama ini telah mengecewakan ibunda. Nanda telah membuat ibunda merasa cemas. Sungguh, nanda sangat menyayangi ibunda." Jaya Satria mencoba untuk tersenyum. Meskipun air matanya tak bisa ia tahan lagi.
"Kau adalah putra ibunda. Putra yang selalu memberikan kebahagiaan pada ibunda. Kau selalu menepati janji dengan baik nak. Ibunda bangga padamu." Ratu Dewi Anindyaswari juga tidak dapat menahan air matanya. "Ibunda juga menyayangimu nak." Ratu Dewi Anindyaswari mencium puncak kepala anaknya dengan sayang. "Ibunda akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu nak. Terima kasih karena telah hadir untuk ibunda. Betapa beruntungnya ibunda memiliki putra yang baik seperti mu." Ratu Dewi Anindyaswari memeluk anaknya.
Mereka semua melihat dan merasakan kasih sayang yang tulus, antara ibu dan anak. Meskipun sempat terpisah, namun kasih sayang mereka tidak akan ikut terpisah juga. Kerinduan yang mereka rasakan selama ini menguatkan hati mereka untuk tetap bersama selamanya.
Setelah itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sungkeman pada Ratu Gendhis Cendrawati. "Mohon maaf lahir dan batin ibunda ratu." Ia mencium tangan Ratu Gendhis Cendrawati. "Maafkan atas kesalahan selama ini yang telah nanda lakukan pada ibunda. Sungguh, nanda tidak bermaksud untuk membuat ibunda bersedih atas sikap nanda selama ini."
"Oh putraku nanda prabu." Ratu Gendhis Cendrawati tidak tahan lagi, dan ia memeluk Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan sayang. Ia menangis sedih mendengarkan pengakuan kesalahan yang telah dilakukan anaknya ini?. "Semuanya salah ibunda juga nak. Kita semua pernah melakukan kesalahan termasuk ibunda. Ibunda juga minta maaf padamu nak." Ratu Gendhis Cendrawati juga mengatakan meminta maaf pada anaknya. Kesalahannya dimasa lalu, sehingga membuat ia bermusuhan dengan anak tirinya ini. "Ibunda sangat berterima kasih padamu nak. Karena berkat kesabaran yang nanda miliki. Nanda telah membawa ibunda ke arah yang lebih baik. Agama islam, agama yang telah memberikan ketenangan batin pada ibunda. Sekali lagi ibunda ucapkan terima kasih padamu nak." Ratu Gendhis Cendrawati juga mengucapkan terima kasih, atas apa yang telah ia dapatkan.
"Tentu saja ibunda. Semoga ibunda selalu berada di dalam kebaikan Islam." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang mendengarnya.
Sepertinya bukan hanya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saja yang sungkeman pada Ratu Dewi Anindyaswari dan Ratu Gendhis Cendrawati. Namun Raden Hadyan Hastanta, Putri Bestari Dhatu, Putri Andhini Andita, Putri Agniasari Ariani dan Raden Rajaswa Pranawa juga.
"Mohon maaf lahir dan batin ibunda. Maafkan semua kesalahan nanda pada ibunda. Semoga dengan ridho ibunda, kami semua bisa menjalankan apa saja dengan baik." Raden Hadyan Hastanta mencium tangan Ratu Dewi Anindyaswari.
__ADS_1
"Ibunda juga minta maaf ya nak. Maafkan atas kesalahan ibunda. Semoga nanda menjadi ayah yang baik." Ratu Dewi Anindyaswari mencium puncak kepala Raden Hadyan Hastanta.
"Terima kasih ibunda ratu dewi. Semoga ibunda selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT." Raden Hadyan Hastanta sangat senang mendengarnya.
"Aamiin ya Allah." Mereka semua bersama-sama mengucapkan rasa syukur tersebut.
"Ibunda." Raden Hadyan Hastanta memeluk ibundanya. Ibunda yang telah melahirkannya ke dunia ini. "Maafkan nanda. Jika selama ini nanda telah membuat ibunda bersedih, ataupun merasa kecewa pada nanda. Maafkan nanda ibunda." Raden Hadyan Hastanta tak dapat lagi menyembunyikan kesedihan yang ia rasakan.
"Ibunda juga minta maaf pada nanda. Ibunda telah mengatakan hal-hal yang membuat nanda menjadi anak yang tidak baik. Maafkan ibunda nak."
Malam itu mereka semua meminta maaf pada ibunda mereka dengan segenap hati dan perasaan yang mereka miliki. Mohon maaf lahir dan batin, ya. Itulah makna malam takbiran yang sebenarnya. Semoga kita selalu bisa memaafkan semua kesalahan yang telah kita lakukan, dan jangan lupa meminta maaf pada sang pencipta.
...***...
Meskipun belum semuanya masuk agama Islam. Namun gema takbir juga berkumandang di sana. Mereka juga merasakan kebahagiaan malam takbir setelah 30 hari lamanya berpuasa. Malam ini mereka mengumandangkan takbir dengan suara yang indah.
Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara merasa sedih, karena ia tidak dapat lagi bersama dengan orang-orang yang ia kasihi. Dan hanya berdoa saja dan sholat isya yang ia kerjakan saat ini.
"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Ampunilah dosa hamba. Dosa ayahanda serta ibunda hamba. Raka hamba, dan juga dosa kakek prabu, nenek ratu." Ia tidak dapat lagi menahan air mata kesedihan yang ia rasakan. Bagaimana ia selama ini bersama ayahanda, ibunda, kakaknya, serta kakeknya selama mereka hidup. "Ya Allah. Sampaikan rindu hamba pada mereka semua ya Allah. Hamba sangat ingin berkumpul bersama mereka suatu hari nanti dalam keadaan yang baik atas izin-Mu ya Robb." Siapa bilang ia tidak merasakan rindu pada kedua orang tuanya, juga kedua kakaknya?. Sejahat apapun mereka, tapi tetaplah mereka adalah ibunda dan kakak yang ia sayangi. Meskipun ia tidak sempat mengajak mereka menuju ke arah yang lebih baik lagi. Semoga saja ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara bisa melewati hari-harinya dengan baik. Doakan saja.
...***...
__ADS_1
Di padepokan Al-Ikhlas.
Gema takdir juga berkumandang di sini. Mereka semua dapat merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Mereka semua telah merayakan hari kemenangan. Termasuk Raden Jatiya Dewa yang merasa sangat terharu sekali. Meskipun ia belum mengucapkan kalimat syahadat, karena harus belajar banyak hal dahulu, baru mantap mengucapkan syahadat. Supaya tidak menyesal dikemudian hari.
"Entah kenapa aku menangis begitu saja saat mendengarkan gema takbir ini." Ungkapnya pada ketiga temannya. Ia sudah berusaha untuk menekan hatinya untuk tidak menangis, tapi tetap saja tidak bisa.
"Itu artinya raden termasuk golongan orang yang beriman. Raden jangan ragu lagi untuk masuk agama Islam." Mulni dengan semangatnya berkata seperti itu.
"Kenapa memangnya?. Apa hubungannya mendengarkan takbir dengan masuk agama Islam?." Raden Jatiya Dewa mencoba untuk menghapus air matanya.
"Itu semua telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam surah al-anfal ayat 2.
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal." Mulni, Barka, dan purna membacakan ayat dan arti secara bersamaan.
"Itu artinya Raden telah mantap untuk masuk agama islam. Tunggu apalagi raden. Segera tetapkan hati raden untuk memeluk agama islam." Mulni tersenyum ramah, begitu juga dengan Barka dan Purna.
Apakah yang akan dilakukan oleh Raden Jatiya Dewa?. Apakah ia akan masuk agama Islam dan pindah keyakinan?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1