RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEPERCAYAAN YANG SANGAT KUAT


__ADS_3

...***...


Saat ini Jaya Satria mengikuti kakek tua yang mengajaknya menuju sebuah tempat. Sebuah rumah yang sudah lama tidak ditunggui oleh manusia. Tempat yang sangat terpencil, jauh dari keramaian. Meskipun ini adalah wilayah kerajaan Suka Damai, namun Jaya Satria belum pernah melihat ada tempat seperti ini. Apakah ia tidak melihat tempat ini selama meronda?. Atau wilayah Kerajaan Suka Damai terlalu luas, sehingga ia tidak menyadari tempat ini?.


Tapi yang menjadi pertanyaan, mengapa Raden Cakara Casugraha selalu berhubungan dengan dunia gaib?. Itulah yang tidak banyak diketahui oleh orang. Ini adalah rahasia antara dirinya dengan ayahandanya mendiang Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Sebenarnya keturunan dari Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta bisa melihat dua alam, dunia manusia dan dunia gaib. Karena ini adalah kemampuan yang sangat khusus, makanya setiap dari keturunannya harus merahasiakan ini dari siapapun, kecuali memang ada hang mengetahuinya. Karena Raden Cakara Casugraha menjadi seorang raja, maka ia juga menjadi salah satu rahasia sang prabu dari rahasia lain yang belum diketahui.


Namun fakta yang tersembunyi dari keturunan Prabu Bahuwirya Jayantaka Byakta adalah kekuatan matanya yang mampu melihat alam gaib tanpa harus masuk ke dalam alam sukma. Tapi itulah sangatlah berbahaya, karena sangat sensitif. Mendiang Prabu Kawiswara Arya Ragnala menutup semua kemampuan anaknya ketika anaknya berusia tiga tahun. Karena masa-masa itu sangat rawan untuk anak-anak. Tapi sayangnya, berbeda dengan Raden Cakara Casugraha yang tidak bisa ditutup meskipun telah ia coba beberapa kali. Mendiang ayahandanya Prabu Guindara Arya Jiwatrisna mengatakan, jika tidak bisa ditutup, itu artinya ada kemungkinan ia akan menjadi calon raja. Calon raja yang akan memimpin dua alam, baik itu manusia, dan juga alam gaib. Seperti kemampuan untuk menguasai benda pusaka yang diisi dengan kekuatan gaib. Itulah alasan mengapa pedang pelebur Sukma dengan mudahnya menuruti apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha. Begitu juga dengan benda pusaka lainnya. Ini juga rahasia sang prabu yang tidak diketahui oleh siapapun.


Mungkin itu penjelasan singkat mengapa Raden Cakara bisa melihat alam gaib tanpa harus melakukan semedi. Sudah sangat jelas, bahwa Raden Cakara Casugraha memang ditakdirkan menjadi raja di kerajaan Suka Damai. Hanya saja, kutukan kekuatan yang ada di dalam tubuhnya itu menjadi penghalang terbesar di dalam hidupnya untuk menjadi seorang raja. Ia harus berusaha dengan tangannya sendiri untuk menjadi seorang raja harus melewati banyak rintangan yang tidak mudah ia lewati begitu saja. Tentunya ada perjuangan yang berat menuju tahta yang ia pegang saat ini. Namun saat menjadi seorang raja pun, banyak rintangan yang ia hadapi. Mulai dari menyatukan keluarganya kembali, bahkan sampai harus kehilangan keluarganya. Ibundanya Ratu Ardiningrum Bintari, serta kedua kakaknya meninggalkan dunia ini sebagai pengkhianat. Banyak lagi cobaan yang ia hadapi ketika rahasia yang ia simpan selama ini terbongkar begitu saja disaat ia menghadapi hidup dan mati. Begitu banyak masalah yang ia hadapi selama ini.


Dan salah satu masalah yang akan ia atasi setelah menjadi raja. Saat ia mengikuti seorang kakek yang ternyata telah lama meninggal di dalam gubuknya dalam keadaan mengenaskan. Kemampuan yang ia miliki untuk melihat alam lain, saat ia melihat seorang kakek tua rentan yang berjalan dalam keadaan tidak menentu, dan akhirnya membawanya pada sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi eyang?. Kenapa eyang berakhir seperti ini?. Siapa yang melakukan kejahatan ini pada eyang?." Ingin rasanya Jaya Satria menangis melihat ada sosok tengkorak. Dada kirinya tertancap sebuah golok yang telah lama berkarat.

__ADS_1


"Ini terjadi sudah sangat lama sekali. Disaat kepemimpinan raja pertama. Gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta." Sukma kakek tua itu menangis sedih. "Kala itu aku masih sangat muda sekali. Dan aku salah satu abdi setia mendiang gusti prabu. Seorang senopati yang dipercayai oleh mendiang gusti prabu untuk memusnahkan kejahatan yang terjadi di wilayah kerajaan suka damai." Kakek tua itu mencoba mengingat semua yang ia alami ketika masa hidupnya saat itu.


Jaya Satria hanya diam, karena ia masih menyimak apa yang akan disampaikan oleh kakek tua itu padanya. Ia membiarkan kakek tua itu mengingat apa yang telah membuat ia seperti itu.


"Selain itu, aku juga dipercayai oleh mendiang gusti prabu untuk mengamankan beberapa pemberontakan yang saat itu ingin menggulingkan tahta beliau. Aku bekerja dengan segenap hatiku. Karena mendiang gusti prabu sangat baik, dan aku bersumpah atas nama dewata yang agung, bahwa aku akan melakukan apapun demi kerajaan ini." Lanjutnya lagi. Ingatannya saat itu masih sangat bagus, dan seakan-akan ia merasakan kembali jiwanya hidup sambil mengingat semua yang terjadi. Namun senyumannya kini hilang saat ada kenangan buruk yang hinggap dihatinya.


"Karena aku berhasil melakukan tugas yang diberikan mendiang gusti prabu, aku mendapatkan banyak penghargaan. Hingga gusti prabu mengangkat aku sebagai patih terhormat yang menyelesaikan tugas dengan baik." Ada kebanggan serta kesedihan yang ia rasakan disaat yang bersamaan.


"Apakah kau tahu apa yang terjadi setelah aku menjadi Patih nak?." Tatapan matanya menggambarkan kesedihan mendalam yang ia rasakan saat itu.


"Aku mendapatkan sebuah fitnah yang sangat kejam. Bahwa apa yang aku lakukan selama ini hanyalah sebuah sandiwara yang telah aku siapkan. Kabar itu sampai terdengar oleh mendiang gusti prabu. Hatiku sangat hancur sekali. Karena aku dianggap sebagai dalang pemberontak yang selama ini terjadi. Hatiku sangat hancur berantakan atas kejadian hari itu." Ia menangis sedih menceriakan yang ia alami. "Yang membuat aku semakin menangis adalah, ketika mereka mengatakan. Bahwa gusti prabu memerintahkan mereka untuk membunuh aku. Aku selama ini bersembunyi di sini. Tapi mereka sangat berambisi untuk membunuhku. Beramai-ramai mereka menyerang aku di gubuk ini, setelah itu mereka tancapkan golok itu di dadaku dalam keadaan seperti itu. Rasanya sangat sakit sekali, hingga aku terjebak dalam rasa sakit yang sakitnya membuat aku menderita." Kakek tua itu menangis sesenggukan mengingat terakhir kali ia hidup.


"Oh eyang. Malang sekali nasibmu. Eyang dituduh yang tidak-tidak, maafkan apa yang terjadi eyang." Jaya Satria merasakan kesedihan yang dirasakan oleh kakek tua itu ketika ia hidup.

__ADS_1


"Kenapa kau yang minta maaf padaku anak muda?. Kesalahan apa yang telah kau lakukan sehingga kau minta maaf padaku?." Kakek tua itu mencoba menghentikan tangisnya yang sangat pilu itu.


"Saya adalah salah satu dari keturunan mendiang eyang prabu bahuwirya jayantaka byakta. Saya minta maaf, jika memang eyang prabu yang memerintahkan mereka untuk membunuh eyang." Jaya Satria dengan berat hati menjawabnya.


"Tidak!. Itu bukanlah salah mendiang gusti prabu bahuwirya jayantaka byakta. Aku sangat yakin itu anak muda." Tidak ada perasaan dendam yang ia rasakan saat ini.


"Kenapa eyang sangat yakin jika itu bukanlah perintah dari eyang prabu?." Jaya Satria ingin mendengarkan alasan dari Kakek tua. Itu.


"Karena mendiang gusti prabu sangat percaya pada kesetiaan ku. Hanya mereka saja yang tidak suka padaku membuat itu seakan-akan itu adalah perintah dari mendiang gusti prabu. Mendiang gusti prabu adalah orang yang sangat bijak, dan mampu membedakan siapa saja yang bersalah. Jadi tidak mungkin gusti prabu memerintahkan pembunuhan itu. Apalagi dengan cara yang sangat kejam seperti itu." Kakek tua itu sangat yakin dengan apa yang ia katakan.


"Tapi eyang. Kenapa eyang bisa mengetahui, jika eyang prabu bahuwirya jayantaka byakta telah meninggal?." Jaya Satria penasaran bagaimana mungkin orang tua itu mengetahuinya?.


"Meskipun aku hanyalah roh gentayangan, namun aku bisa melihat semuanya anak muda." Jawabnya dengan senyuman kecil.

__ADS_1


Namun apakah yang akan terjadi setelah ini?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.


...***...


__ADS_2