RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
TERHUBUNGNYA PERASAAN MEREKA


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita menatap bulan malam yang terlihat sangat indah. Saat ini ia sedang berada di hutan, dan bermalam di hutan. Rasanya hampir tiga hari telah berlalu, saat ia pergi meninggalkan tempat itu. Dimana ia telah memutuskan untuk menetapkan hatinya. Apakah ia telah menentukan ke arah mana ia akan melangkah?.


"Hanya kepada Allah SWT aku berserah diri. Jika kami berjodoh, aku yakin suatu hari nanti kami akan bertemu dengan cara yang baik." Dalam hatinya mencoba untuk tidak membayangkan hal-hal yang belum pasti di dalam hidupnya. "Lebih baik aku memikirkan, hal apa yang akan aku lakukan setelah ini." Ia tersenyum sambil memandangi bulan yang sangat indah.


Di saat yang bersamaan, Raden Jatiya Dewa dan Raden Raksa Wardhana sedang memandangi langit malam. Keduanya sedang memikirkan sosok yang telah mengisi jiwa mereka. Jiwa yang menggetarkan perasaan jiwa asmara mereka yang bergejolak di dalam dada mereka saat ini.


Raden Jatiya Dewa hanya tersenyum menatap langit malam yang hanya dihiasi bulan setengah saja bentuknya. "Apa yang kau lakukan saat ini andhini andita?. Apakah kau mendapatkan tempat yang layak saat ini untuk beristirahat malam?." Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah yang dilakukan Putri Andhini Andita ketika malam datang. "Apakah kau berada di tempat yang aman andhini andita?. Aku sangat mengkhawatirkan dirimu. Kenapa kau tidak segera kembali?. Aku akan katakan perasaan yang membuncah di dalam diriku ini." Perasaan yang ia rasakan saat ini sedang bercampur aduk, dan tidak enak sama sekali. Apa yang bisa ia lakukan disaat orang yang ia cintai berada sangat jauh dari pandangan matanya?. "Apakah dengan mengantarkan do'a, aku bisa membantumu andhini andita?. Apakah kau bisa mendengarkan bagaimana suaraku melalui ayat-ayat yang aku bacakan?." Setelah itu ia menatap kembali Al-Qur'an yang saat ini ia pegang. Ia tersenyum lembut sambil menatap tulisan ayat Al-Qur'an. Ia telah belajar dengan baik, sehingga ia fasih membaca Al-Qur'an. Ia kembali membacakan ayat suci Al-Qur'an untuk keselamatan Putri Andhini Andita yang sedang melakukan pengembaraan. Tentunya ia sangat berharap, jika wanita yang ia cintai akan baik-baik saja.


Sedangkan Raden Raksa Wardhana, saat ini ia sedang belajar tata negara yang memungkinkan peluangnya untuk menjadi putra mahkota. Karena setelah kejadian itu, akan diadakan kembali acara pertarungan kematian. Ia akan bertarung secara adil dengan kakaknya Raden Bumi Putra.


"Nimas putih. Mungkin itu bukan namamu, karena kau menyuruhku untuk datang ke istana kerajaan suka damai. Apakah kau seorang putri raja yang sedang melakukan pengembaraan?." Raden Raksa Wardhana sangat ingat dengan apa yang dikatakan oleh Putri Andhini Andita saat sebelum mereka berpisah. "Aku akan terus berusaha menjadi lebih baik lagi. Dan aku akan menjaga mata yang telah kau titipkan ini padaku. Aku sangat ingin bertemu dan menatap mu dengan mata yang telah kau selamatkan ini. Nimas putih, rasanya aku tidak sabar lagi ingin bertemu denganmu." Perasaan yang menggebu-gebu yang ia rasakan saat ini. Apakah ia bisa bertemu dengan orang yang ia cintai?. Hanya waktu yang akan menjawab semua ini. "Tunggulah aku nimas, semoga saja kita bisa bertemu suatu hari nanti dalam ikatan yang baik." Dalam hatinya merasakan kebahagiaan yang membuncah, sambil memikirkan wanita yang ia cintai.


Tampaknya perasaan cinta telah menghubungkan perasaan dua insan yang memiliki perasaan yang sama. Namun apakah Raden Jatiya Dewa akan mendapatkan atau menghubungkan perasaannya dengan Putri Andhini Andita?. Tidak bisa diketahui bagaimana jawabannya saat ini. Simak terus ceritanya agar dapat menemukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


Jaya Satria baru saat ini sedang mengikuti seorang laki-laki tua yang masuk ke dalam hutan. Kakek tua itu menyadari jika ia diikuti, dan ia menghentikan langkahnya. Ia ingin melihat siapa yang telah mengikutinya sejak tadi?.


"Anak muda. Apakah kau bisa melihat aku?. Kenapa kau mengikuti aku?. Apa yang kau inginkan dengan mengikuti aku anak muda?." Kakek tua itu bertanya tanpa membalikkan tubuhnya.


"Saya hanya cemas pada eyang. Apa yang eyang lakukan di hutan ini?. Kenapa eyang berjalan seperti itu?." Jaya Satria balik bertanya. Ia tadinya hanya sedang bertugas seperti biasanya. Ia tidak menyangka akan melihat seorang kakek tua yang masuk ke dalam hutan. Karena perasaan penasaran bercampur dengan khawatir lah yang membuat ia mengikuti kakek tua itu.


"Jadi kau memang dalat melihat aku anak muda?." Ia membalikkan tubuhnya. Ia penasaran, apakah Jaya Satria memang bisa melihatnya atau tidak.


"Kalau begitu, ikutlah denganku. Karena aku sudah tidak berdaya lagi untuk bergerak. Aku hanya bisa melayang seperti ini saja." Dengan perasaan yang sangat takut, ia mencoba untuk menunjukkan arah pada Jaya Satria.


"Baiklah eyang." Jaya Satria mengikuti kemana kakek tua itu pergi. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...

__ADS_1


Sementara itu, di Istana Kerajaan Suka Damai. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak dapat merasakan kontak batin dengan raga asli dari Raden Cakara Casugraha. Ia merasa gelisah, dan tidak bisa tenang sama sekali. "Raka prabu. Apakah terjadi sesuatu pada raka?. Kenapa aku tidak bisa merasakan kehadiran raka prabu?." Perasaan cemas yang ia rasakan saat ini membuatnya merasa tidak nyaman sama sekali. "Tadi aku melihat raka prabu berjalan mengikuti seorang laki-laki tua. Namun saat memasuki hutan itu, aku tidak lagi merasakan raka prabu." Ia sangat panik, ketika ia hilang kontak dengan raga asli Raden Cakara Casugraha.


"Ya Allah. Apa yang harus hamba lakukan jika hamba tidak bisa merasakan kehadiran raka prabu?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat gelisah.


"Tenanglah putraku." Prabu Kawiswara Arya Ragnala saat ini sedang berada di depan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Ayahanda prabu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mendekati ayahandanya, dan seperti biasa. Ia peluk ayahandanya dengan perasaan rindu yang sangat dalam.


"Tenanglah nak. Raga aslimu akan baik-baik saja. Percayalah, jika semuanya akan baik-baik saja. Kau tidak perlu mencemaskan masalah keselamatan raga aslimu nak." Prabu Kawiswara Arya Ragnala mengusap puncak kepala anaknya, dan tak lupa kecupan sayang di puncak kepala anaknya.


"Tapi ayahanda. Nanda sangat mencemaskan keselamatan raka prabu yang saat ini sedang memasuki alam sukma di sekitar hutan itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terlihat sangat cemas yang luar biasa.


"Kalau begitu banyak-banyaklah berdoa kepada sang pencipta. Semoga saja raga aslimu baik-baik saja nak." Setelah berkata seperti itu Prabu Kawiswara Arya Ragnala pergi dari sana. Karena ia hanya singgah saja, tapi dapat merasakan kegelisahan yang dirasakan oleh anaknya, sehingga ia singgah walaupun hanya sebentar.


"Terima kasih karena ayahanda telah membantu nanda untuk mengingatkan nanda untuk selalu waspada." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba melakukan apa yang dikatakan oleh ayahandanya. "Semoga raka prabu baik-baik saja ya Allah. Hamba hanya memohon pada-Mu." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat berharap, jika semuanya akan baik-baik saja. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2