RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
DIUSIR DARI ISTANA


__ADS_3

Raden Cakara Casugraha pasrah ketika tubuhnya dihajar oleh ayahandanya. Sedikitpun ia tidak melawan, atau menghindari serangan itu.


"Biarlah tubuh ini mati rasa, biarlah kemarahan ini larut bersamaan dengan pukulan yang aku terima. Asalkan yang melakukan itu adalah ayahanda prabu." Dalam hatinya memang telah pasrah, bahkan jika ia berakhir ditangan ayahandanya saat ini juga.


"Bagus ayahanda. Hajar saja sampai mati." Raden Ganendra Garjitha merasa senang melihat pemandangan itu. Hatinya sangat puas, terbayar sudah pengorbanannya untuk membuat Raden Cakara Casugraha menghajarnya tadi.


"Heh!. Tidak sia-sia apa yang kami lakukan tadi." Dalam hati Raden Hadyan Hastanta tersenyum puas.


"Rasakan kau bedebah busuk. Kau telah termakan jebakan kami. Inilah yang kami inginkan." Raden Gentala Giandra tertawa dalam hati. Menertawakan kemenangan yang telah berhasil mereka dapatkan.


"Kanda prabu. Dinda mohon hentikan." Ratu Dewi Anindyaswari tidak tahan menyaksikan anaknya saat ini dihajar oleh suaminya.


"Rayi." Putri Agniasari Ariani tidak tega melihat adiknya. "Ayahanda prabu. Ananda mohon jangan pukuli rayi cakara casugraha. Ayahanda prabu-." Putri Agniasari Ariani menangis sedih, ia ingin menolong adiknya.


Namun langkahnya terhenti karena tangannya ditahan oleh Putri Andhini Andita. Begitu juga dengan Ratu Dewi Anindyaswari yang ingin menolong anaknya, namun tangannya ditahan oleh Ratu Gendhis Cendrawati.


"Lepaskan!" Keduanya berusaha untuk melepaskan diri, tapi sepertinya tidak bisa mereka lakukan.


"Tetaplah disini. Biarkan anakmu merasakan hukuman langsung dari kanda prabu." Ucap Ratu Gendhis Cendrawati menatap tajam ke arah Ratu Dewi Anindyaswari.


"Oh tidak. Lepaskan aku yunda." Ratu Dewi Anindyaswari semakin cemas.


"Jangan harap kau bisa mendekati anakmu." Ratu Gendhis Cendrawati semakin menguatkan cengkraman tangannya.


Sementara itu, Raden Cakara Casugraha menerima pukulan telak di dadanya. Hingga ia terjajar beberapa langkah.


"Mohon ampun gusti prabu." Dengan sekuat tenaga Aki puasa memberanikan dirinya bersujud dihadapan Prabu Kawiswara Arya Ragnala yang sedang dikuasai oleh amarah.


"Aki puasa. Mengapa engkau melindunginya?." Prabu Kawiswara Arya Ragnala masih marah.


"Mohon ampun gusti prabu. Mohon jangan pukuli aden cakara casugraha. Kasihan aden. Hamba mohon ampun gusti. Bagaimanapun juga aden masih labil gusti." Aki puasa menangis sedih, air matanya berlinang membasahi pipinya yang terlihat mulai keriput.


Prabu Kawiswara Arya Ragnala menatap Aki puasa. Orang yang ia percayai untuk mengurus kuda Istana. Menurut dari beberapa gosip yang beredar, hanya Aki puasa yang dekat dengan putra bungsunya. Pasti Aki puasa sedikit banyak mengetahui bagaimana putra bungsunya. Bahkan putranya selalu meminta izin padanya untuk belajar naik kuda bersama Aki Puasa.


"Dia sudah keterlaluan. Tidak pantas berada di istana." Prabu Kawiswara Arya Ragnala berkata seperti itu?.

__ADS_1


"Uhuk." Raden Cakara Casugraha terbatuk, memuntahkan darah karena pukulan ayahandanya sangat kuat dan bertenaga.


"Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari semakin cemas melihat anaknya yang terbatuk darah. Ia ingin segera mendekati putranya, namun belum juga bisa.


"Apa maksud kanda prabu?." Ratu Ardiningrum Bintari yang bertanya.


"Cakara Casugraha. Kau aku usir dari istana ini. Kau tidak aku izinkan masuk ke istana ini kecuali kau mengakui semua kesalahan yang telah kau lakukan pada mereka."


"Kanda prabu." Ratu Dewi Anindyaswari sangat terkejut mendengar itu.


"Mohon ampun ayahanda. Ananda tidak akan pernah meminta maaf pada mereka yang jelas-jelas telah berusaha menjebak ananda."


"CAKARA CASUGRAHA." Suara bentakan itu sangat keras, membuat mereka semua terkejut. Termasuk Aki Puasa yang berada di depan Sang Prabu.


"Lepaskan!." Ratu Dewi Anindyaswari akhirnya berhasil melepaskan diri. Ia segera mendekati putranya. Sementara itu Ratu Gendhis Cendrawati membiarkan ia pergi begitu saja. Namum yang pasti, hatinya sangat senang karena mendapatkan keputusan yang sangat ia inginkan dari suaminya.


"Putraku." Ratu Dewi Anindyaswari menangis sedih melihat keadaan putranya. Ia seka darah disudut mulut anaknya dengan pelan, karena ia takut akan menyakiti anaknya.


"Ibunda. Maafkan nanda." Raden Cakara Casugraha menggenggam erat tangan ibundanya. Menangis sambil mencium tangan ibundanya dengan penuh kasih sayang.


"Tidak ibunda." Raden Cakara Casugraha mencoba untuk tersenyum kecil, walaupun hatinya terasa pahit.


"Tapi putraku-."


"Ibunda adalah wanita terhormat. Ibunda harus tetap berada di istana ini. Ibunda harus menguatkan hati ibunda selama nanda berada di luar istana ini. Bersabarlah ibunda." Meskipun air matanya mengalir membasahi pipinya. Ia masih tetap mencoba untuk tersenyum.


"Untuk sementara waktu. Biarkan ananda mencari ketenangan batin. Sementara ibunda tetaplah berada di istana ini." Lanjutnya lagi.


"Bagaimana ibunda bisa tenang jika nanda jauh dari ibunda." Ratu Dewi Anindyaswari semakin sedih. Ia menangis pilu mendengarkan apa yang dikatakan oleh anaknya.


"Percayalah ibunda. Bahwa ananda akan baik-baik saja. Ibunda harus percaya dengan ananda. Ibunda adalah wanita yang kuat. Ananda tidak mau mereka juga mengusir ibunda. Ibunda harus bertahan sampai ananda kembali." Ia berusaha meyakinkan ibundanya.


Sedangkan Prabu Kawiswara Arya Ragnala yang memperhatikan itu, dapat merasakan ketulusan kasih sayang yang ditunjukkan oleh putranya itu pada istrinya Ratu Dewi Anindyaswari.


"Suatu hari nanti, nanda akan kembali pada ibunda dengan membawakan kabar bahagia untuk ibunda. Ananda berjanji akan menaikkan derajat ibunda sebagai seorang permaisuri terhormat di kerajaan suka damai ini."

__ADS_1


"Oh putraku." Ratu Dewi Anindyaswari mengelus kepala belakang anaknya, setelah itu ia cium puncak kepala anaknya dengan setulus hatinya.


Kembali ke masa ini. Ratu Dewi Anindyaswari masih ingat dengan kejadian itu. Ketika anaknya meninggalkan istana. Langkah pertama anaknya yang meninggalkan Istana, dan itu telah terjadi delapan tahun berlalu. Hatinya sangat hancur menerima keputusan itu.


"Nanda telah kembali dengan janji yang nanda ucapkan pada ibunda waktu itu." Ratu Dewi Anindyaswari berpindah menuju Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk berpisah, putraku." Ia usap pelan kepala anaknya, tak lupa ciuman sayangnya di puncak kepala anaknya seperti biasa.


"Delapan tahun nanda berjuang demi ibunda. Hingga akhirnya nanda kembali pada ibunda." Ia mengamati anaknya yang masih terbaring di tempat tidur.


"Nanda kini menjadi seorang raja. Bahkan ibunda sebelumnya tidak pernah membayangkan jika nanda mampu menjalankan tahta pemerintahan, sama seperti kanda prabu kawiswara arya ragnala." Ya, siapa yang menduga anaknya menjadi Raja?.


Dan yang tidak pernah ia duga adalah kenyataan tentang putranya saat ini. Meskipun terdengar aneh, namun setidaknya ia memiliki dua orang putra.


"Ya Allah. Apakah dengan kehadiran jaya satria. Engkau mengembalikan putra kecil hamba yang seharusnya memang menjadi adik, dari putra hamba cakara casugraha." Ratu Dewi Anindyaswari memperhatikan betapa miripnya prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.


Apalagi setelah mendengarkan penjelasan dari anaknya. Hatinya telah yakin bahwa Allah SWT memang telah menghadirkan Jaya Satria menggantikan anaknya untuk membantu putranya Cakara Casugraha untuk memimpin Kerajaan ini.


"Semoga saja nanda berdua selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT." Ratu Dewi Anindyaswari berusaha untuk menguatkan hatinya. Ia tidak mau terlalu larut dalam kesedihannya.


Entah karena menuruti nalurinya, Ratu Dewi Anindyaswari menepuk pelan dada anaknya, mengusap pelan. Setelah itu ia cium kening anaknya dengan sayang.


"Ibunda sangat menyayangimu, putraku." Dengan segenap hatinya ia mengatakan pada anaknya. Mengungkapkan betapa ia sangat merindukan delapan tahun tanpa anaknya.


Begitu besar kerinduan yang ia tahan setelah bertahun-tahun tanpa adanya Raden Cakara Casugraha putra yang ia sayangi.


Dan lihatlah apa yang terjadi?. Kerinduan yang ia rasakan selalu tersampaikan pada putranya bahkan ketika anaknya jauh dari jangkauannya.


Lihatlah betapa besar kasih sayang seorang ibu Pada anaknya hingga mampu membangunkan anaknya.


"Ibunda."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria membuka mata, memanggil ibunda mereka?.


Apa yang terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.

__ADS_1


__ADS_2