
"Raka."
Putri Andhini Andita yang bersama Syekh Asmawan Mulia dan dua orang lainnya tidak sengaja melihat Raden Hadyan Hastanta yang membawa Jaya Satria. Mereka kebetulan sampai di depan gerbang Istana Kerajaan Suka Damai.
"Rayi andhini adnita?." Raden Hadyan Hastanta sedikit terkejut.
"Oh jaya satria." Putri Andhini Andita menyadari jika Jaya Satria yang dipapah oleh Raden Hadyan Hastanta, sepertinya sedang tidak sadarkan diri.
"Raka. Apakah jaya satria tidak sadarkan diri?." Putri Andhini Andita melihat mata Jaya Satria yang terpejam. Hatinya benar-benar gelisah, cemas, takut, ingin menangis, hingga perasaannya bercampur aduk.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, nanda jaya satria." Dalam hati Syekh Asmawan Mulia merasa cemas melihat itu.
"Jaya satria?. Apa yang terjadi padanya?." Dalam hati Lingga sedikit keheranan.
"Maaf rayi. Jaya satria memang sedang tidak sadarkan diri." Jawab Raden Hadyan Hastanta.
"Oh dewata yang agung. Jaya satria. Kasihan sekali nasibmu harus mengalami hal buruk seperti ini." Putri Andhini Andita sedikit terisak. Entah mengapa hatinya terasa perih, sesak dan sakit melihat kondisi Jaya Satria yang seperti ini.
"Padahal baru beberapa hari yang lalu aku bertemu dengannya. Namun siapa sangka ia malah seperti ini." Dalam hati Lingga tidak tega melihat kondisi Jaya Satria.
"Saya mohon bantuan syekh untuk membawa jaya satria ke dalam istana."
"Sandika raden." Syekh Asmawan Mulia segera menggendong Jaya Satria.
Setelah itu mereka segera masuk ke dalam istana.
"Selamat datang kembali raden, gusti putri."
Prajurit yang menjaga gerbang Istana, menyambut kedatangan mereka. Namun karena mereka sedang dilanda kecemasan, jadi mereka tidak lagi menjawab ucapan para prajurit.
Mereka langsung menuju bilik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Begitu sampai, Syekh Asmawan Mulia langsung membaringkan tubuh Jaya Satria ke tempat tidur.
"Jaya Satria." Putri Andhini Andita langsung menghampiri Jaya Satria yang terbaring di tempat tidur. Ia sangat mengkhawatirkan keadaannya.
"Ibunda." Sedangkan Raden Hadyan Hastanta mendekati ibundanya.
"Syukurlah nanda sudah kembali." Ratu Gendhis Cendrawati merasa lega.
"Iya ibunda." Raden Hadyan Hastanta sedikit menghela nafasnya.
Sementara itu Ayu dan Lingga hanya diam sambil memperhatikan situasi yang sedang terjadi.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, gusti ratu." Syekh Asmawan Mulia memberi hormat pada Ratu Dewi Anindyaswari yang sedang bersama Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang tidur di pangkuannya.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, syekh." Balas Ratu Dewi Anindyaswari. "Alhamdulillah hirobbil a'lamin syekh akhirnya datang juga." Akhirnya air matanya mengalir juga karena melihat kedatangan Jaya Satria yang digendong oleh Syekh Asmawan Mulia.
"Mohon izin hamba untuk mengobati gusti prabu. Gusti ratu."
"Silahkan syekh. Mohon sembuhkan kedua putra saya syekh. Rasanya hati saya sangat sedih karena melihat kondisi keduanya." Ratu Dewi Anindyaswari sedikit terisak, karena sudah tidak tahan lagi.
"Sandika gusti ratu."
Syekh Asmawan Mulia perlahan-lahan menggendong Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, setelah itu Syekh Asmawan Mulia membaringkannya di sebelah Jaya Satria.
"Mohon maaf gusti putri andhini adnita. Izinkan hamba untuk mengobati nanda jaya satria, juga nanda prabu."
"Silahkan syekh."
Putri Andhini Andita hanya merasa cemas pada Jaya Satria yang tak sadarkan diri.
Syekh Asmawan Mulia mulai mengobati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria.
"Ibunda." Putri Andhini Andita mendekati Ratu Dewi Anindyaswari.
"Sabarlah nak. Semoga rayimu dan nanda jaya satria baik-baik. Saja. Semoga Allah SWT memberikan kesembuhan kepada keduanya."
"Semoga saja ibunda."
Hati mereka sangat dipenuhi dengan kecemasan yang luar biasa. Hanya berharap Allah SWT akan menyembuhkan keduanya melalui Syekh Asmawan Mulia.
"Siapa sangka ternyata jaya satria adalah seorang putra mahkota kerajaan suka damai." Dalam hati Lingga memperhatikan bagaimana Syekh Asmawan Mulia bersikap. Tapi hatinya bertanya-tanya bagaimana bisa satu orang terluka?. Namun apa hubungannya dengan Raja muda itu?.
Sungguh menjadi sebuah teka-teki yang sulit untuk ditemukan jawabannya kecuali bertanya langsung pada orangnya. Tapi apakah orangnya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan?. Siapa yang tahu bukan?.
"Sungguh ayu tidak menyangka, bahwa orang bertopeng yang membantu ayu waktu itu adalah seorang pangeran kerajaan istana suka damai." Dalam hati Ayu mengingat sosok bertopeng yang menolongnya waktu itu.
Matanya saat ini memperhatikan Syekh Asmawan Mulia yang sedang berusaha untuk mengobati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria. Ingatannya kembali pada masa itu.
Seorang pemuda anak kecil menangis terisak-isak, berusaha untuk melindungi ibunya dari kekejaman kakaknya.
"Ayu!. Tidak usah kau lindungi wanita yang sama sekali tidak bisa bisa memberikan kebahagiaan padaku!." Ia membentak adiknya dengan suara yang sangat keras.
"Ayu sangat kasihan pada biyung. Apakah kakang tidak kasihan.?" Ayu menangis tersedu-sedu. Ia selalu merasa iba pada ibunya karena diperlakukan dengan kasar oleh kakaknya itu.
"Kau jangan membantah ucapan kakang!." Ia kembali membentak adiknya.
"Tapi biyung sudah tidak bergerak lagi kakang. Biyung, bangun." Ayu berusaha untuk membangunkan ibunya. Namun tidak ada tanggapan sama sekali. Hatinya semakin gelisah, apalagi luka-luka serta darah yang ada ditubuh ibunya.
__ADS_1
"Ayu!." Suara keras Lingga yang sedang dikuasai oleh amarah, membuatnya semakin gelap mata. Membuatnya hampir saja menghajar adiknya jika saja tidak dihalangi oleh seseorang.
Lingga terkejut karena tangannya yang hampir saja memukul Ayu, tiba-tiba saja terhenti, bahkan seperti dipukul oleh seseorang. Lingga mundur beberapa langkah ke belakang dengan terkejutnya.
"Bedebah busuk!. Siapa kau kisanak. Berani sekali kau ikut campur dengan urusanku!." Amarahnya semakin memuncak karena melihat seseorang yang mungkin umurnya dibawahnya?. Tapi mengapa orang itu mengenakan topeng penutup wajah?. Itulah yang menjadi pertanyaannya.
"Anak durhaka. Tidak tahu dosa apa yang kau dapatkan dari Perbutan terkutukmu itu!."
Lingga terkejut karena suara bentakan orang asing itu.
"Siapa kau!. Berani sekali kau berkata seperti itu padaku!."
Lingga malah menyerang orang bertopeng itu yang tak lain adalah Jaya Satria yang kebetulan lewat di desa itu.
"Sungguh perbuatanmu tidak bisa dimaafkan." Jaya Satria terlihat geram membalas serangan Lingga. Terjadi pertarungan sengit diantara keduanya.
Sementara itu Ayu berusaha untuk membangunkan ibunya. Sayangnya apa yang ia lakukan sia-sia.
"Kakang lingga. Kenapa biyung tidak mau bangun kakang." Ayu yang masih kecil menangis sedih. Usahanya untuk membangunkan ibunya gagal.
Jaya Satria yang mendengarkan tangisan itu menghentikan gerakan jurusnya. Ia melompat ke arah Ayu, mencoba memeriksa keadaan seorang wanita yang sedang tergeletak di tanah dalam keadaan terluka.
"Hei kau!. Pertarungan kita belum selesai!." Lingga sangat kesal. Ia tidak suka tiba-tiba ada yang meninggalkan gelanggang pertarungan. Namun Jaya Satria tidak menggubriskan itu. Ia sedang berusaha untuk memeriksa kondisi wanita itu.
Deg
Detak jantungnya berdegup kencang. Ia berusaha memeriksa dengan teliti, memastikan kembali kondisi wanita malang itu.
"Apa yang terjadi pada biyung ayu, kisanak?." Ayu yang masih polos, dipaksakan mengetahui fakta yang membuatnya bersedih hati.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun." Jaya Satria tidak menyangka itu.
"Apa yang Kisanak katakan?. Ayu tidak mengerti." Dengan paniknya Ayu kembali mendekati ibunya. Perasaan gelisah menyelimuti hatinya yang sedang bersedih hati.
Jaya Satria bangkit, ia kepal kuat genggaman tangannya. Terlihat hawa merah menyelimuti tubuhnya.
"Kau benar-benar anak durhaka!." Sorot mata itu berubah menjadi lebih tajam dari yang sebelumnya.
"Kau telah membunuh seorang ibu. Seorang wanita yang telah melahirkanmu." Dengan geramnya Jaya Satria mendekati Lingga.
"Tidak usah banyak bicara kau!." Lingga menyerang Jaya Satria. Namun siapa sangka ia malah diserang balik oleh Jaya Satria dengan menggunakan jurus cakar naga cakar petir dengan tenaga dalam yang sangat ganas.
Kembali ke masa ini. Begitulah ingatan Ayu tentang kejadian hari itu. Dimana ia kehilangan ibunya. Juga hampir kehilangan kakaknya, jika ia tidak memohon pada Jaya Satria untuk mengampuni kakaknya.
__ADS_1
Tapi pertanyaannya adalah, apakah Syekh Asmawan Mulia berhasil mengobati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria?. Temukan jawabannya.
Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.