
...***...
”Baiklah. Aku akan meminta bantuan padamu, untuk memulihkan keadaan ayahandaku." Akhirnya Putri Haspari Iswara menyerah juga. "Akan tetapi, aku akan memberikan hukuman mati padamu. Jika kau malah membuat keadaan ayahandaku semakin parah." Itulah ancaman yang keluar dari mulut seorang Putri Raja?.
"Aku hanya bisa melakukan sebisaku. Jadi jangan meminta lebih, jika Allah SWT tidak berkehendak. Aku hanyalah perantara saja." Balas Jaya Satria. Ia tidak menerima begitu saja ancaman itu.
"Bersabarlah jaya satria." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana akhirnya juga bisa berkomunikasi dengan Jaya Satria. "Serahkan semua masalah ini kepada Allah SWT." Sang prabu mencoba untuk mengingatkan Jaya Satria, agar tidak terbawa suasana hati yang marah.
"Maafkan hamba gusti prabu. Sungguh hamba tidak bermaksud seperti itu." Balas Jaya Satria dalam hatinya. Tapi setidaknya ia bersyukur, karena telah kembali terhubung dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Kalau begitu baringkan kembali prabu maheswara jumanta." Ucapnya sambil memberikan perintah kepada mereka.
Mereka hanya menurut saja. Karena kondisi yang sekarang, prabu Maheswara Jumanta tidak banyak bergerak. Hidup namun, seperti boneka yang tidak bisa bergerak sama sekali.
"Mpu mahaprana, tolong sediakan saya secawan air putih." Lanjutnya lagi.
"Baiklah raden." Meskipun ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Jaya Satria. Namun ia tetap menurutinya.
Sementara itu, mereka yang tadinya rusuh ingin menyerang Jaya Satria, kembali bersiap siaga. Siapa tahu, Jaya Satria memang berniat untuk membunuh Prabu Maheswara Jumanta.
Setelah apa yang ia minta dipenuhi oleh mereka semua. Jaya Satria memulai pengobatannya. Sementara itu, mereka yang hadir, menjadi saksi apa yang dilakukan Jaya Satria.
Mereka mendengarkan Jaya Satria membacakan kalimat syahadat. Membacakan surah Al Fatihah. Mereka semua melihat reaksi lain dari Prabu Maheswara Jumanta.
"Kau!." Mereka yang tidak mengerti sama sekali dengan apa yang terjadi, malah terbawa amarah. Mereka telah siap dengan senjata mereka masing-masing. Namun Jaya Satria memberi kode pada mereka untuk diam ditempat.
Sementara ia masih membacakan ayat-ayat untuk membantunya untuk memulihkan kondisi Prabu Maheswara Jumanta.
"Kalian semua tenanglah!." Perintah Mpu Mahaprana pada mereka semua.
__ADS_1
"Tapi mpu. Sepertinya raden cakara casugraha mencoba untuk menyakiti gusti prabu."
"Diamlah kalian!." Bentak Mpu Mahaprana dengan suara yang tinggi. Membuat mereka semua terkejut.
"Sebenarnya apa yang dilakukan olehnya?." Dalam hati Pupuh Ayu merasa penasaran dengan apa yang ia lihat.
"Raden cakara casugraha telah mengalami banyak perubahan." Dalam hati prabu Sajana Reswara sambil memperhatikan bagaimana Jaya Satria mengobati sang prabu.
Namun kegaduhan mereka terhenti, ketika mereka mendengarkan Jaya Satria membacakan ayat kursi dengan suara yang sangat merdu. Mereka semua benar-benar dihipnotis oleh suara Jaya Satria.
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
"
Cukup memakan waktu yang lama juga untuk menyembuhkan Prabu Maheswara Jumanta. Hingga keadaannya benar-benar baik.
"Untuk saat ini keadaan gusti prabu baik-baik saja." Ucap Jaya Satria dengan pelan.
"Mpu tenang saja. Alhamdulillah hirobbil a'lamin, untuk saat ini. Sukmanya telah kembali dengan aman." Jawab Jaya Satria.
"Bagaimana mungkin, kau bisa menjamin. Jika ayahanda prabu sudah aman?." Putri Haspari Iswara masih terlihat marah pada Jaya Satria.
"Hamba bukanlah Tuhan, yang dapat segera menyembuhkan seseorang hanya dengan sebuah tiupan saja." Jaya Satria sepertinya memang tidak menyukai Putri Haspari Iswara.
"Saat ini, kondisi gusti prabu harus beristirahat dengan sempurna." Lanjutnya. "Karena, sukma gusti prabu ditahan oleh ratu penguasa kerajaan gaib teluk mutiara." Jaya Satria menjelaskan kepada mereka semua.
Namun mereka sangat terkejut, ketika Jaya Satria menyebutkan Ratu penguasa kerajaan gaib teluk Mutiara, buang telah menculik sukma prabu Maheswara Jumanta?.
"Kau pasti berbohong. Mana mungkin ada kerajaan gaib di kerajaan teluk mutiara ini." Salah satu dari mereka tidak percaya begitu saja apa yang dikatakan oleh Jaya Satria.
__ADS_1
"Aku tidak berbohong. Aku mengatakan yang sebenarnya." Jaya Satria berdiri menghadap ke depan pintu keluar Istana Kerajaan Teluk Mutiara. "Tepat dihadapan pintu istana ini, berdiri bangunan istana yang lebih kokoh dari istana ini." jaya Satria dengan mata batinnya seakan dapat melihat dengan jelas, bagaimana gambaran bangunan itu.
"Di depan istana ini. Berdiri sebuah istana gaib, yang dipimpin oleh ratu penguasa kerajaan gaib teluk mutiara." Lanjutnya lagi.
"Kau jangan membual Raden cakara casugraha. Apakah kau sudah bosan hidup?." Tumenggung Bahurekso sangat murka. Jaya Satria seakan sedang mempermainkan mereka semua.
"Tidak!. Itu benar apa yang dikatakan oleh raden cakara casugraha." Prabu Sajana Reswara yang berkata kali ini.
"Apa maksud paman prabu?." Tentunya Putri Haspari Iswara bertanya. "Aku sama sekali tidak mengetahuinya." Putri Haspari Iswara melihat ke arah Prabu Sajana Reswara yang ia panggil paman prabu. "Apakah paman prabu mengetahui sesuatu?." Ia bertanya karena penasaran.
"Kanda prabu maheswara jumanta pernah mengatakannya padaku. Jika di depan istana kerajaan yang ia bangun sekarang ini. Adalah pecahan dari istana gaib milik ratu penguasa kerajaan gaib teluk mutiara." Jawabnya sambil mengingat dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.
"Bangunan utama dari kerajaan gaib, berdiri kokoh di depan istana ini. Tepatnya di atas laut teluk mutiara ini." Ucapnya lagi. "Meskipun aku tidak pernah bisa melihat bagaimana bentuk istana megah itu. Namun itulah yang dikatakan oleh kanda prabu, sebelum kanda prabu mulai sakit-sakitan, hingga hampir sekarat." Prabu Sajana Reswara masih mengingat dengan percakapannya dengan Prabu Maheswara Jumanta.
"Sepertinya gusti prabu tidak perlu melihat istana itu." Ucap Jaya Satria. Kali ini ia menjadi pusat perhatian mereka semua.
"Kenapa?" Prabu Tenggala Putih merasa penasaran.
"Katakan pada kami. Mengapa kami tidak perlu melihat istana gaib itu?." Putri Haspari Iswara menuntut jawaban dari Jaya Satria.
Mereka semua ingin mendengarkan apa jawaban dari Jaya Satria. Mereka penasaran dengan alasan itu.
Jaya Satria menghela nafasnya dengan pelan. Ia mencoba untuk menutup kembali penglihatan alam sukma yang sempat ia buka tadi.
"Di dalam agama islam. Bersekutu dengan iblis, setan, jin dan bangsanya. Itu adalah kesesatan yang nyata." Jaya Satria mencoba untuk menjelaskan kepada mereka semua.
"Mengapa Allah SWT melarang umatnya untuk bersekutu dengan jin?. Karena tipu daya muslihat yang dimainkan oleh mereka, pada akhirnya akan menyesatkan kita manusia. Pada jalan kesesatan yang nyata kepada Allah SWT."
Bagaimana kelanjutan dari penjelasan Jaya Satria?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...