
...***...
Setelah perang selesai, mereka semua berkumpul di balai pertemuan istana, membahas langkah berikutnya.
"Dalam perang ini, kita benar-benar mengalami kerugian yang sangat besar. Karena ada pihak yang ikut campur dalam perperangan ini." Sang prabu merasa sedih karena banyak kehilangan prajurit istana. "Perang ini akibat dari kerajaan kegelapan, yang dipimpin oleh prabu Wajendra Bhadrika yang ikut campur dalam perang yang kita lakukan." Lanjutnya.
Mereka yang hadir terkejut mendengarnya. Memang Raja kegelapan itu terdengar kejam dan bengis, suka ikut campur dalam perperangan siapa saja.
"Lalu apa yang akan kita lakukan gusti prabu?. Kita tidak bisa semudah itu menjelaskan pada pihak kerajaan mekar jaya, tentang masalah ini."
"Ya, itu benar. Kita harus berhati-hati dalam bertindak, jika tidak ingin terjadi lagi perperangan."
"Tapi kita harus segera mencari solusi masalah ini. Kita tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut."
Mereka semua sependapat. Karena masalah ini, mereka bisa saja semakin ketakutan. Ancaman yang datang entah kapan dari dua pihak yang ingin menguasai Kerajaan Suka Damai.
"Untuk saat ini saya semua berharap tetap untuk berjaga-jaga. Mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama, dengan hati yang tegar, dan kuat dalam keimanan."
"Sandika gusti prabu."
Dalam pertemuan itu, mereka membahas keselamatan rakyat. Mereka belum mengizinkan rakyat untuk keluar dulu, dari tempat pengungsian. Karena takut akan ancaman dari prabu Wajendra Bhadrika, yang sempat mengacau di beberapa tempat untuk memecahkan konsentrasi mereka. Tapi beruntung sang prabu telah memberi perintah untuk membuat posko pengungsian keselamatan rakyat Suka Damai.
...***...
Disisi lain
Raden Gentala Giandra masih mencari keberadaan adiknya putri Ambarsari. Namun sejauh ini ia belum menemukan adiknya. Tubuhnya pun masih terasa sakit, dan ia kesulitan dalam bergerak.
"Sepertinya percuma saja aku meneruskan pencarian ini." Ia mulai merasakan kelelahan, karena tidak menemukan apa yang ia cari.
"Kalau begitu aku akan kembali ke istana mekar jaya. Akan aku ceritakan semuanya pada Raka, serta ibunda." Ucapnya dalam hati, ia menatap langit malam yang kelam. Hatinya terasa sakit dalam kesunyian.
"Jika rayiku putri ambarsari tidak ditemukan, bisa jadi ia tertangkap oleh rayi prabu?." Pikiran lainnya berkata seperti itu.
"Jika rayi ambarsari tertangkap, itu artinya ia masih hidup?. Tapi aku tidak yakin akan keselamatannya. Aku yakin dia dipenjara oleh mereka." Pikirnya lagi.
"Tidak, tidak!. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan kembali ke istana mekar jaya dulu. Setelah itu aku dan raka ganendra garjitha, akan kembali menyerang mereka untuk membawa rayiku putri ambarsari dari sana." Ia harus kuat. Ia telah bertekad untuk melakukan rencana itu dengan kakaknya. Malam ini ia harus kembali ke istana mekar jaya, meskipun menempuh dua hari perjalanan. Itu tidak masalah, yang penting ia sampai ke sana.
...***...
Paginya.
Kepalanya terasa pusing, pikirannya belum sadar sepenuhnya, namun perlahan-lahan matanya terbuka.
"Eqh." Ia meringis sakit, ia mencoba untuk bangun, duduk dengan tenang.
"Kenapa aku bisa berada di sini?. Siapa yang membawaku ke sini?." Dalam hatinya bertanya-tanya, bukankah ia tadi berada di medan pertempuran?. Ia masih merasakan sakit, sakit karena mendapatkan serangan gaib saat itu.
Tunggu dulu, bukankah serangan gaib itu membuatnya terluka parah?. Ia memeriksa tubuhnya yang telah diperban?. Mata itu melihat ke arah lain untuk memeriksa keadaan sekitarnya, dan betapa terkejutnya saat mata itu bertemu dengan mata lainnya.
"Kau!." Keduanya sangat terkejut, dan perasaan benci muncul begitu saja dari dalam diri mereka setelah berhasil mengingat apa yang terjadi. Keduanya turun dari tempat tidur, dan saling menjauh, seakan mereka merasa terancam oleh pihak lawan.
"Kenapa kau bisa berada di sini?!." Itulah pertanyaan yang keluar dari mulut mereka.
"Itu semua adalah ulah adikmu raja busuk itu!." Putri Ambarsari masih saja menuduh, semua yang ia alami selama perang itu adalah perbuatan prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Tutup mulut busukmu!. Rayi prabu tidak mungkin melakukan cara kotor dalam perperangan itu." Hatinya terasa sakit, sakit yang luar biasa.
"Kau yang harusnya diam!. Dan merenungkan apa yang aku katakan!. Kau itu sudah disihir oleh rayi prabu untuk mempercayainya!." Dengan perasaan menggebu-gebu ia berkata seperti itu.
"Huuuuufh." Putri Andhini Andita menghela nafasnya.
__ADS_1
"Kami tidak akan menyerang istana ini, jika saja rayi prabu tidak melakukan santet pada kakek prabu!." kemarahannya muncul, mengingat bagaimana keadaan prabu Rahwana Bimantara saat ia meninggalkan istana kerajaan Mekar Jaya.
"Diam!. Aku tidak mau mendengarkan apa-apa lagi darimu!." Ia bersiap untuk menyerang Putri Ambarsari. Namun keadaannya masih terasa berat, hasilnya ketika ia melangkah, tubuhnya terasa sakit.
"Yunda \ rayi \ gusti putri!." Kebetulan saat itu saat itu Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Raden Hadyan Hastanta, dan Jaya Satria datang untuk melihat keadaan mereka.
"Rayi." Raden Hadyan Hastanta membantu adiknya untuk kembali duduk di tempat tidur itu, sedangkan Putri Ambarsari hanya diam melihat itu, ia merasa diabaikan.
"Syukurlah kau sudah sadar rayi. Aku sangat mencemaskan keadaanmu." Sangat jelas bagaimana raut wajah itu menggambarkannya.
"Raka." Dengan perasaan sedih ia memeluk kakaknya sambil menangis?. Hatinya sangat sedih luar biasa setelah berdebat dengan Putri Ambarsari.
Raden Hadyan Hastanta terkejut, adiknya menangis? apa yang ia rasakan?. "Apakah pengalaman perang itu membuat ia takut?." Ppikirannya masih jernih.
"Memang berat saat berada di situasi perang yang mengerikan seperti itu untuknya." Dalam hati Jaya Satria merasa simpati dengan keadaan Putri Andhini Andita.
"Tenanglah rayi. Kau jangan menangis. Perang telah berlalu, kau sekarang aman rayi." Ia mengusap sayang punggung adiknya. Berharap adiknya bisa lebih tenang.
"Benar yunda. Perang telah selesai. Yunda telah aman bersama kami di sini." prabu Asmalaraya Arya Ardhana rasanya tidak tega melihat keadaan kakaknya.
Putri Andhini Andita melepaskan pelukannya, ia masih menangis sambil menatap adiknya, prabu Asmalaraya Arya Ardhana
"Aku sangat sedih bukan karena perang Rayi prabu." Ia berusaha menahan kesedihannya, tangisnya.
Tentunya menjadi pertanyaan besar bagi mereka, lalu apa yang membuat ia menangis?.
"Latakan pada rakamu ini. Apa yang membuatmu menangis rayi?. Katakanlah." Ia begitu penasaran apa yang membuat adiknya menangis.
Putri Andhini Andita tidak langsung menjawab pertanyaan dari kakaknya. Namun matanya melirik ke arah Putri Ambarsari, hingga mereka pun mengikuti arah pandang mata itu.
Raden Hadyan Hastanta bangkit, dan ia mendekati putri Ambarsari yang berdiri di pojokan ruangan.
"Apa yang yunda lakukan, sehingga rayi andhini andita menangis seperti itu?." Ia ingin meminta penjelasan dari putri Ambarsari.
"Katakan saja gusti putri andhini andita. Hamba yakin gusti putri ambarsari, tidak akan menjawabnya. Rasanya percuma saja raden bertanya padanya." Jaya Satria tersenyum kecil pada putri Andhini Andita yang menatap matanya.
Putri Andhini Andita menatap Jaya Satria. Mata itu seakan menghipnotisnya untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.
"Bagaimana aku-." Ia menghentikan sejenak ucapannya. "Bagaimana aku tidak sedih jaya satria." Ia menahan sesegukan tangisnya.
"Yunda ambarsari mengatakan, jika rayi prabu telah melakukan kecurangan saat perang itu terjadi. Dan bahkan dia mengatakan rayi prabu, telah mengirim teluh pada kakek prabu." Ia telah mengatakan semuanya. Alasan mengapa ia menangis sedih. "Bagaimana aku tidak sedih rayi prabu. Kau telah difitnah oleh yunda ambarsari. Dengan alasan seperti itu mereka mempercepat waktu perperangan." Ia semakin menangis sesenggukan.
"Hatiku terasa sakit mendengarkan ucapan itu rayi prabu!. Aku tidak terima, aku tidak terima jika kau difitnah seperti itu olehnya, rayi prabu." Hatinya sesak, sangat sesak. Ia tidak dapat lagi menyembunyikan kesedihannya.
Mereka yang mendengarnya merasa ikut terbawa suasana apa yang dikatakan oleh putri Andhini Andita. Sepertinya Putri Andhini Andita telah berubah. Ia begitu menyayangi adiknya. Sehingga ia tidak rela adiknya difitnah keji seperti itu?.
Sedangkan putri Ambarsari merasa kesal mendengarkan itu, rasanya ia terjebak dalam drama yang tidak menguntungkan baginya.
"Yunda ambarsari!. Kau benar-benar keterlaluan!. Kau sama saja dengan raka ganendra garjitha!. Sama-sama tidak mau mendengarkan ucapan orang lain. Benar-benar keras kepala!. Keras hati!." Raden Hadyan Hastanta kesal karena sikap kakaknya itu.
Putri Ambarsari terdiam, ia tidak menjawabnya, ia hanya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Yunda. Tenanglah. Tenanglah yunda." prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menenangkan kakaknya dengan mengelus bahunya, dan mencium puncak kepalanya.
"Maafkan aku rayi prabu." putri Andhini Andita mencoba untuk menenangkan dirinya. Ia dapat merasakan kasih sayang adiknya yang begitu besar. Jadi tidak mungkin rasanya, adiknya melakukan hal kotor seperti yang dikatakan oleh kakaknya itu.
"Kau itu benar-benar tidak tahu terima kasih yunda!." Raden Hadyan Hastanta tampak marah. "Jika kau tidak ditolong jaya satria ketika serangan gaib itu terjadi. Sudah aku pastikan kau akan mati waktu itu." Ucapan itu penuh dengan penekanan di setiap kata-kata itu.
Mereka terkejut mendengarnya, termasuk Putri Ambarsari, ia langsung melihat ke arah Raden Hadyan Hastanta.
"Jadi yang membawaku ke sini adalah orang bertopeng itu?." Ia tidak menyangka ia ditolong orang itu?.
__ADS_1
"Sudahlah raka. Tidak ada gunanya kita bertengkar!. Kita ini bersaudara, seharusnya kita saling berhubungan baik, karena satu ayahanda." Rasanya sangat sedih melihat perdebatan itu.
"Maafkan aku rayi prabu. Aku hanya terbawa suasana." Raden Hadyan Hastanta memberi hormat pada adiknya.
"Sungguh aku tidak mengerti. Kenapa dengan teganya, yunda ambarsari mengatakan, bahwa kau telah berbuat kotor pada kakek prabu. Hatiku sangat sedih rayi." Raut wajah itu sangat menggambarkan suasana hatinya.
"Aku mengerti, mengapa rayi andhini andita menangis. Rasanya sangat sesak, mendengar perkataan yunda ambarsari tentang dirimu." Ia mencoba untuk bersikap tenang, namun rasanya tidak bisa.
"Mereka ini memang sudah berubah. Berbeda dengan yang dulu, membenci rayi prabu." Dalam hati jaya satria melihat perubahan dua adik kakak yang membela prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Rerima kasih, karena raka dan yunda mempercayaiku. Memang sedih, jika dituduh seperti itu." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana juga merasa sedih karena itu.
"Yunda ambarsari." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bersujud dihadapan kakaknya itu, membuat mereka semua terkejut.
"Apa yang kau lakukan rayi prabu?." Putri Andhini Andita refleks ingin mendekati adiknya, namun ia tidak bisa karena tubuhnya yang masih sakit.
"Gusti putri." Jaya Satria dengan cepat menahan tubuh Putri Andhini Andita agar tidak jatuh.
"Rayi prabu. Kau tidak perlu bersujud dihadapan yunda ambarsari." Raden Hadyan Hastanta menyuruh adiknya itu untuk bangun, namun Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menahan tubuhnya agar tetap melakukan itu.
"Yunda Ambarsari. Aku ini hanyalah manusia biasa." Ucapnya dengan tulus. "Aku tidak mungkin melakukan hal-hal yang dilarang oleh agamaku. Agama Islam yang baik dan benar." Lanjutnya.
"Dulu memang aku bisa disebut seorang biadab, yang tidak tahu sopan santun. Tapi aku bersumpah. Bahwa aku yang sekarang tidak mungkin melakukan kejahatan yang yunda tuduhkan padaku." Ia sangat sungguh-sungguh mengatakan itu semua.
"Yunda ambarsari." kali ini Raden Hadyan Hastanta yang menyebut nama Putri Ambarsari dengan suara pelan.
"Jika rayi prabu orang jahat, ia bisa saja membunuhmu ketika kau tidak sadarkan diri. Ia tidak perlu repot-repot untuk mengobatimu, menyuruh tabib istana untuk membantunya menyembuhkanmu." Ia membantu adiknya untuk menjelaskan secara rinci pada kakaknya itu.
"Rayi prabu bisa saja menyuruhku, atau menyuruh jaya satria, untuk membunuhmu ketika kau tidak sadarkan diri. Atau lebih parahnya meninggalkan yunda mati bergelimpangan di lokasi perang." Raden Hadyan Hastanta mengatakan apa yang terjadi.
"Tapi rayi prabu tidak melakukannya. Karena apa?. Karena Rayi prabu masih menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan. Jangankan sampai ke ruang pengobatan. Jika saja jaya satria waktu itu tidak menolongmu. Dan bayangkan saja, ia membiarkanmu terkapar di sana saat serangan itu terjadi?. Tentunya kau kau tidak akan selamat yunda. Apa kau pikir, kau saat ini masih bisa melihat kami?. Tidak yunda. Kau tidak akan bisa melakukan apapun lagi di dunia ini." Ia hanya ingin menyadarkan kakaknya itu.
Putri Ambarsari mencoba memikirkannya, ia mencoba menerima setiap kata yang diucapkan oleh Raden Hadyan Hastanta.
"Aku jamin kau sudah mati, karena terbunuh dalam serangan itu." Lanjutnya. "Dan jika kau berpikir bahwa rayi prabu membiarkanmu hidup, hanya karena ia ingin menyantetmu agar kau menurut padanya?. Tidak sama sekali yunda." Ia berusaha menahan perasaannya.
"Aku bahkan dengan kesadaranku sebagai saudaranya. Rakanya!. Aku membela rayi prabu, aku!." Rasanya ia tidak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya.
"Aku di masa lalu telah menyadari kesalahanku yunda. Aku memikirkan semuanya. Bahwa akulah penyebab dari sifat buruk rayi prabu di masa lalu. Aku yang membuatnya menjadi pribadi yang buruk. Kita lah yang telah membenci rayi prabu, apakah yunda tidak ingat semua itu?." Raden Hadyan Hastanta seakan membuat putri Ambarsari untuk mengingat masa lalu mereka yang menyebabkan adiknya menjadi bengis dan kejam.
"Sekarang aku mohon pada yunda." Ia berusaha menahan tangisnya.
"Raka." Dalam hati prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasakan perasaan iba, melihat kakaknya mengakui kesalahannya di masa lalu?.
"Aku mohon yunda, agar memikirkan kembali ucapanku ini. Aku yakin, ayahanda tidak mau kita terpecah belah seperti ini yunda." Ia sangat memohon pada kakaknya.
Mau tak mau putri Andhini Andita menangis mendengar perkataan adiknya Raden Hadyan Hastanta. Hatinya perlahan-lahan luluh, hingga terdengar suaranya yang sesegukan menahan tangis.
"Ya, memang aku akui. Jika rayi prabu berniat jahat padaku. Mungkin aku tidak akan bertahan sampai sekarang." Dalam hatinya berkata seperti itu, ia memikirkannya kembali.
"Yunda." Putri Andhini Andita tidak menyangka ia akan melihat kakaknya itu menangis?.
"Oh dewata yang agung. Apa yang harus aku lakukan." Ia mulai bimbang, hatinya mulai goyah. Apakah ia akan mempercayai perkataan mereka?.
Apa yang akan ia katakan pada ibundanya?. Rakanya?. Kakek prabu?.
"Aku yakin dia juga akan berubah. Itupun jika dia masih memiliki hati nurani, untuk menerima segala kebaikan yang ada." jaya Satria hanya berharap akan ada perubahan dari diri Putri Ambarsari.
Hanya berharap dan berharap, mereka semua akan kembali akur. Dan saling memahami satu sama lain tanpa adanya dendam, rasa benci, ataupun keterpaksaan dari diri mereka masing-masing.
Jangan lupa jejaknya ya.
__ADS_1
...****...