
......***......
Jaya Satria masih berhadapan dengan wanita itu, ia berusaha untuk memperingatinya. Namun sangat disayangkan sekali wanita itu tampaknya tidak mau mendengarkan nasihat itu.
"Nisanak." Jaya Satria terus menghindari serangan demi serangan yang datang padanya. "Sebagai manusia yang berpikir, hendaknya nisanak memikirkan kebaikan." Suasana hatinya masih memiliki kesabaran untuk memberikan saran pada orang lain. "Ingatlah nisanak! Kejahatan yang nisanak tebarkan? Akan membawa kerugian bagi diri nisanak suatu hari nanti." Jaya Satria belum mengunakan jurus-jurus yang ia miliki, ia masih menangkis dan menahan serangan yang datang padanya.
"Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan!." Sepertinya wanita itu memang tidak mau menerima ucapan lawannya. "Bagiku yang telah aku lakukan adalah kebaikan, serta kebahagian." Dengan bangganya ia berkata seperti itu?. "Aku melakukan semua ini untuk kecantikan abadi." Senyumannya memang terlihat sangat manis. "Karena itulah aku melakukan persembahan, dengan memberi tumbal menggunakan laki-laki lajang." Saat itu ia melompat beberapa depa dari Jaya Satria, ia memperhatikan lawannya dengan seksama.
"Astaghfirullah hal'azim nisanak." Jaya Satria telah mendengarkan langsung pengakuan itu.
"Kau tidak usah menggangguku!." Ada bentuk amara yang hendak ia sampaikan. "Kecuali kau dengan suka rela hati menjadi kekasihku? Maka aku tidak akan menjadikan tumbalku malam ini." Matanya menatap Jaya Satria dengan tatapan menggoda. "Kau terlihat sangat enak."
"Itu adalah syirik, karena nisanak melakukan persembahan." Jaya Satria mulai waspada, memasang kuda-kuda untuk menyerang.
"Lantas? Kau mau apa? Hm?." Wanita itu seperti ingin menantang Jaya Satria.
"Segeralah bertaubat kepada Allah SWT, jangan terlalu memikirkan kecantikan keabadian." Balasnya. "Wanita buruk rupa pun akan terlihat lebih cantik jika hatinya bersih ditambah polesan hiasan, dari pada wanita yang menginginkan kecantikan dengan memakan korban." Lanjutnya. "Bagiku kau sekarang bahkan lebih jelek dari mak lampir!."
"Bedebah! Bukan hanya mengguruiku? Kau malah lancang menghina aku?!." Amarahnya tidak bisa ia tahan lagi. Hatinya terasa panas. "Terima ini!."
Pertarungan kembali terjadi, Jaya Satria menyerang pendekar wanita itu. Mereka saling menyerang, namun sebisa mungkin Jaya Satria masih mengutamakan kesabarannya agar tidak lepas kendali atas kemarahannya.
"Tenangkan dirimu jaya satria, kau tidak boleh marah-marah walaupun dia orang jahat dari pada kau." Dalam hatinya terus berusaha meyakinkan dirinya agar tidak melakukan hal yang berlebihan.
"Kegh!." Pendekar wanita itu tampak meringis kesakitan. "Sepertinya orang bertopeng itu, tidak bisa aku lawan dengan cara yang biasa!." Ia terjajar beberapa langkah karena serangan Jaya Satria.
"Aku katakan sekali lagi padamu nini, sebelum kau kehilangan kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar." Jaya Satria mencoba mengajak pendekar wanita itu dengan baik.
"Baiklah, aku tidak boleh lama-lama berhadapan dengannya." Dalam hatinya sangat kesal. "Akan aku gunakan jurus petik bunga pesona maya." Ia mengambil salah satu bunga yang ada di kepalanya yang tadinya sebagai hiasan rambutnya. Ia lambari dengan mantram-mantram pemikat, setelah itu ia tiup bunga itu ke arah jaya Satria.
Deg!.
Jaya Satria hanya terpaku karena tiba-tiba disekitarnya berubah menjadi hamparan bunga cantik berwarna warni yang seakan memberikan kecantikan yang luar biasa. Jaya Satria tidak bergeming sedikitpun, ia memejamkan matanya, mencoba untuk menikmatinya?.
"Apa ini? Aku ada di mana?." Dalam hati Jaya Satria sedikit bingung. Kepalanya sedikit terasa pusing.
"Indah sekali bukan?." Pendekar wanita itu muncul di belakangnya, ia dengan lembut berkata seperti itu pada jaya Satria. "Keindahan dunia, seharusnya kita nikmati bersama." Senyumannya seakan-akan hendak menggoda Jaya Satria. "Keindahan yang tidak bisa ditolak oleh siapapun juga, termasuk nikmatnya memadu cinta, antara kau dan aku." Dengan suara menggoda ia mencoba untuk mendapatkan hati jaya Satria. Ia menepuk pundak kiri Jaya Satria dengan pelan, agar Jaya Satria berbalik menghadap ke arahnya.
"Sayang sekali, ini bukanlah keindahan." Dengan nada datar Jaya Satria membalasnya. "Bagiku tempat ini adalah ladang dosa, yang akan menyeretku ke dalam api neraka." Pandangan Jaya Satria terlihat sangat berbeda dengan apa yang dilihat oleh pendekar wanita itu.
"Apa maksudmu? Apakah kau tidak bisa melihat betapa indahnya tempat ini?." Pendekar wanita itu mencoba meyakinkan Jaya Satria.
"Keindahan adalah tempat yang memberikan suasana hati yang damai." Balas Jaya Satria. "Bukan tempat seperti ini." Kali ini ia menatap wanita itu dengan tatapan kosong. "Bagiku tempat ini, sangat menyesakkan." Setelah itu memperhatikan sekitarnya. "Tidak enak untuk dihuni, atau berbagi kasih, tidak ada sedikitpun cahaya ditempat ini." Lanjutnya. "Tempat ini telah tercemar oleh darah busuk karena tumbal yang kau lakukan, apakah kau tidak bisa melihat mereka yang menaruh dendam padamu berkumpul di sini? Mereka mencari celah untuk membunuhmu."
Deg!.
Pendekar wanita itu sangat terkejut mendengarkan apa yang dikatakan Jaya Satria.
"Apa yang kau bicarakan?." Amarahnya keluar begitu saja. "Jelas-jelas ini adalah hamparan bunga yang memberikan keindahan, apakah kau buta?!." Kemarahan mulai menguasai dirinya.
"Kau telah dibutakan oleh kesesatan yang nyata nini, karena itulah kau tidak bisa membedakan yang baik buruk." Walaupun dalam keadaan yang tidak bisa bergerak?. Namun pikirannya tidak hilang sepenuhnya karena pengaruh jurus lawannya.
Pendekar wanita itu mencoba untuk tersenyum, ia mencoba lagi merayu. Ia berjalan pelan, dan berdiri di hadapan Jaya Satria.
"Aku mengerti, aku rasa kau masih kaku dalam masalah percintaan." Ucapnya dengan lembut. "Kau tidak perlu kaku begitu, jujur saja dengan hati dan perasaan mu, aku yakin kau bisa merasakan indahnya tempat ini."
Ia mencoba untuk membuka topeng itu, namun jaya satria menepisnya dengan cepat. Pendekar wanita itu mundur beberapa langkah, karena terkejut mendapatkan perlakuan Jaya satria yang seperti itu. "Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang telah dilumuri darah tumbal." Jaya Satria marah, hanya saja ia tidak bisa bergerak. "Berani sekali, kau menyentuh topeng pemberian ayahandaku!." Ada aura kemarahan yang ia tunjukan. Hawa merah seperti biasanya jika ia marah.
"Siapa dia? Kenapa auranya sekarang tampak berbeda?." Dalam hatinya ia bertanya-tanya. "Pemuda ini memang tampak sangat berbeda dengan yang pernah aku kalahkan." Dalam hatinya merasa aneh.
Sementara itu, Kakek yang ditemui Jaya Satria tadi merasa bingung. "Kenapa mereka malah saling bertatapan?." Dalam hati Kakek itu mengambil sebilah bambu kecil yang tak jauh dari tempat ia berdiri.
Ia merasakan ada yang tidak beres antara mereka, ia memikirkan apa yang seharusnya dilakukan untuk menyelamatkan Jaya Satria dari pendekar wanita yang sangat jahat itu.
"Katanya bambu bisa menyadarkan seseorang dari gangguan gaib? Apakah benar? Aku akan mencobanya, kasihan anak muda itu." Kakek itu mendekati Jaya Satria. "Maafkan aku anak muda, ini demi menyelamatkan dirimu."
DUAKH!.
"Eghakh!." Jaya Satria berteriak kesakitan ketika ia merasakan ada sebuah pukulan yang sangat keras mendarat di punggungnya. "Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Jaya Satria terkejut, dan ia telah sadar dari pengaruh jurus pendekar wanita itu.
Deg!.
Sedangkan pendekar wanita itu terkejut karena alam bawah sadar dari jurus bunga pesona maya dipatahkan begitu saja karena pukulan yang diterima Jaya Satria.
"Anak muda!." Kakek itu terlihat sangat cemas. "Maafkan aku anak muda, aku terpaksa melakukan itu." Kakek itu membantu Jaya Satria berdiri.
"Terima kasih karena telah membantu kisanak." Jaya Satria merasa bersyukur karena telah bebas dari kukungan tempat aneh itu. "Rasanya tenaga dalamku agak berkurang." Dalam hatinya sedikit gelisah.
__ADS_1
"Kurang ajar kau kakek tua! Berani sekali kau ikut campur?!." Pendekar wanita itu sangat marah, ia mengarahkan ilmu Kanuragannya menyerang kakek itu.
"Astaghfirullah hal'azim kisanak!." Jaya Satria merasa kasihan pada kakek itu, emosinya semakin meningkat. "Sepertinya kau tidak bisa lagi diberi peringatan dengan baik-baik nisanak! Perbuatanmu sudah melampaui batas!." Jaya Satria benar-benar tidak tahan melihat itu, ia menyerang pendekar wanita itu.
"Aku tidak peduli, aku akan menghabisi siapa saja, yang telah berani mencampuri urusanku, termasuk kau orang bertopeng bedebah!." Ia memang sedikit kewalahan menghadapi serangan Jaya Satria, namun ia tidak akan mundur begitu saja.
"Aku peringatkan sekali lagi padamu, yang kau lakukan itu adalah sebuah kesesatan yang nyata." Jaya Satria kali ini serius dengan ucapan dan tindakannya. "Allah tidak akan mengampuni dosa syirik yang telah kau lakukan! Bertaubatlah sebelum ajal menjemputmu."
"Tidak usah banyak bicara! Kau yang mati atau aku yang akan akan mati?!. Hyaaaaaah!" Ia melompat ke arah jaya satria dan menyerangnya, ia tidak perduli dengan tujuan awalnya ingin mendapatkan orang bertopeng itu. Hatinya sudah terlanjur sakit mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jaya Satria.
"أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم . اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar."
Jaya Satria membacakan surat an nisa ayat 48 dengan suara yang keras, setelah itu ia memainkan jurusnya. Yaitunya jurus cakar naga cakar petir. Jaya Satria mengerahkan tenaga dalamnya, ia memang harus menghentikan wanita itu.
"Kegh, jurus apa ini? Kenapa tubuhku rasanya seperti tersengat sesuatu?." Pendekar wanita itu kesakitan aneh, tubuhnya seakan-akan dialiri oleh sesuatu yang menyakitkan. Dalam kesakitan yang ia rasakan, ia melihat Jaya Satria melompat ke arahnya, menghantam tubuhnya dengan jurus ganas itu.
"Eghakh!."
Pendekar wanita itu terpental karena menerima serangan mematikan dari Jaya Satria. Tubuh itu tampak gosong dan hangus. Dalam keadaannya yang sekarat, pendekar wanita itu masih mengingat apa saja yang ia lakukan selama ini.
"Semoga Allah, tidak melaknat perbuatan mu selama di dunia ini nisanak." Jaya Satria merasa menyesal. Namun jika tidak ia lakukan, Pendekar wanita itu akan semakin berbuat kesesatan yang lebih parah lagi.
"Kisanak!."
Jaya Satria menyadari jika kakek yang ia temui tadi perlu bantuan, dan ia segera mendekatinya, ia akan mencoba untuk mengobati kakek itu.
......***......
Kembali ke masa ini.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana belum lupa dengan peristiwa itu, kejadian itu masih membekas di benaknya. Bagaimana saat itu ia mencoba menyelamatkan desa itu. Ia juga bahkan mencoba untuk menyebarkan agama Islam yang ia pelajari dari gurunya di desa itu.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin, atas izin Allah SWT aku bisa melakukannya." Senyuman kecil terlihat sangat jelas menghiasi wajah tampan sang Prabu. "Walaupun aku harus tetap bersembunyi dibalik nama jaya satria." Ada kepuasan yang dirasakannya. "Serta topeng penutup wajah yang diberikan ayahanda untuk mengurangi kemarahan yang aku rasakan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana seperti sedang menyentuh topeng itu, topeng yang pernah menutupi dirinya dari dunia luar. Namun tetap saja kadang kemarahan ku tidak bisa terkendali." Tentu saja melalui Jaya Satria yang sekarang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasakan itu. "Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja, karena ia adalah bagian dariku, ia tetap diriku yang akan tetap ada selama aku juga ada di dunia ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tentunya merasakan itu semua.
Namun bagaimana mungkin itu bisa terjadi?. Rahasia apa yang disembunyikan Raden Cakara Casugraha?. Apa maksud dengan Jaya Satria yang sekarang?. Simak terus kisahnya.
......***......
Sepertinya, suasana Istana mulai membaik. Dengan bukti kedua Ratu dan kedua putri raja kerajaan Suka Damai telah berbaikan, sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Tidak ada permusuhan lagi, karena suasana kali ini memang sangat berbeda.
"Tidak usah menertawaiku yunda!." Putri Agniasari Ariani semakin kesal. "Aku hanya belum mengenalnya saja, nanti kalau aku sudah belajar, aku pasti akan mengetahui semuanya." Ia sangat tidak terima karena diremehkan kakaknya.
Sementara itu kedua Ratu kerajaan Suka Damai ikutan tertawa melihat ekspresi putri Agniasari Ariani yang manyun. Rasanya itu adalah pemandangan yang sangat langka dan hal yang belum mereka rasakan sebelumnya.
"Lihatlah rayi? Anakmu merajuk hanya karena tidak bisa membedakan bumbu dapur."
"Yunda benar. Tapi putri yunda pintar sekali, bisa membuat putriku merajuk begitu."
Keduanya yang memperhatikan kedua putri mereka, yang sedang membandingkan kepintaran masing-masing, hanya tertawa kecil memaklumi saja.
"Wah? Ada apa ini? Kenapa tertawa seru seperti ini?. Apakah ada sesuatu yang menarik?." Raden Hadyan Hastanta baru saja ikut bergabung.
"Raka." Putri Agniasari Ariani mendekati kakaknya dengan wajah manyun.
"Ada apa rayi agniasari ariani? Kenapa kau terlihat manyun seperti itu?."
"Aku diremehkan yunda andhini andita, karena aku tidak bisa membedakan jahe dengan lengkuas." Ia semakin kesal karena kakaknya itu masih menertawainya. "Membedakan garam dengan gula, aku sangat sedih raka, karena tidak mahir dalam masalah dapur." Ia seakan anak kecil yang mengadu pada kakaknya.
"Olalah?." Raden Hadyan Hastanta berpikir sejenak, ia melihat ke arah adiknya putri Andhini Andita.
"Hu? Hebat di medan perang, bukan berarti hebat juga masalah dapur ya?." Putri Andhini Andita tampak sangat puas. "Itu namanya tidak seimbang, dan itu tidak baik, begitu kata rayi prabu." Putri Andhini Andita malah ingat dengan ucapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. "Raka jangan membelanya ya, nanti aku jewer loh?."
"Yunda jangan main ancam seperti itu!." Putri Agniasari Ariani semakin kesal.
"Bfuh! Hahaha!." Refleks Raden Hadyan Hastanta tertawa setelah mencerna kata-kata kedua adiknya. Jadi, kedua adiknya saat ini sedang berantem atau sedang akur?.
"Ih? Raka menertawaiku? Ibunda-!." Putri Agniasari Ariani malah merengek kepada ibundanya. Ia menuju kedua ibundanya yang sedang duduk di pendopo yang tak jauh dari kaputren.
"Malah merengek ke ibunda." Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta malah semakin menertawai Putri Agniasari Ariani.
"Ibunda, yunda juga raka menertawai nanda, rasanya sedih sekali ibunda." Putri Agniasari Ariani dengan wajah memelas mengatakan betapa sedih hatinya.
Sementara itu, kedua ratu kerajaan Suka Damai tertawa kecil, dan berkata.
"Nanti kita belajar sama-sama ya nak? Nanda putri jangan bersedih ya?."
__ADS_1
"Belajar masalah dapur serahkan pada ibunda, akan ibunda ajari sampai mengerti, ya?."
Ratu Dewi Anindyaswari dan ratu Gendhis Cendrawati tersenyum kecil, mereka memaklumi candaan mereka. Apalagi mereka baru saja akrab, setelah sekian lama tidak bisa bersama. Ya, memang mereka akui jika selama ini, mereka tidak pernah melakukan hal yang seperti ini, selain kebencian yang ada di dalam diri masing-masing.
"Biar nanda saja yang mengajarinya ibunda." Putri Andhini Andita mendekat, ia duduk di samping adiknya. "Sebagai gantinya, ajari aku beberapa ilmu Kanuragan yang kau miliki, setuju?."
"Setuju." Tanpa banyak komentar, Putri Agniasari Ariani setuju saja. Keduanya nampak sumringah, kesepakatan telah terjadi diantara keduanya.
"Kalau begitu, raka juga akan ikut." Begitu juga dengan Raden Hadyan Hastanta. "Tapi sebagai gantinya, buatkan raka masakan yang enak ya?." Lanjutnya lagi. Tentunya perkataannya membuat mereka semua tertawa.
Ternyata membantu ada maunya toh?. Tapi setidaknya itu membuat mereka semakin dekat dan merasakan ikatan cinta?. Ups ikatan kekeluargaan yang sudah lama tidak mereka rasakan, setelah sekian tahun hidup di atap yang sama. Sepertinya prabu Asmalaraya Arya Ardhana berhasil membuat mereka kembali bersatu padu sebagai keluarga besar istana yang utuh, meskipun di satu pihak masih ada satu keluarga yang belum menyatu. Yaitunya keluarga dari ratu Ardiningrum Bintari, yang saat ini masih berada di kerajaan Mekar Jaya. Apakah sang prabu berhasil menyatukan kembali keluarga besar istana?. Temukan jawabannya.
......***......
Di suatu tempat, masih di wilayah kerajaan Suka Damai.
Suasana pasar lumayan ramai karena banyak yang menjual dagangannya. Selain itu, ada juga warung makan di sana. Di tempat itu ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan beberapa orang yang membicarakan tentang Jaya Satria.
"Eh? Bukannya besok pendekar jaya satria berkunjung kemari?."
"Iya, benar atuh! Duh! Rasanya tidak sabar ya? Meskipun bersembunyi dibalik topeng, tapi baik ya? Mau menjalankan perintah gusti prabu."
"Ya, namanya juga bawahan, ya harus patuh pada junjungannya lah."
"Tapi kali ini dia membawa apa ya?."
"Pasti dia membawa bahan pangan dari kerjaan, yang ia bagi-bagikan ke rakyat yang membutuhkan."
"Kebaikan yang dilakukan gusti prabu yang sekarang, sama baiknya dengan ayahandanya, rasanya sangat bahagia sekali tinggal di kerajaan ini."
"Raja kita sangat baik sekali ya? Beruntungnya memiliki Raja yang merupakan keturunan anak yang baik."
"Kebaikannya sangat cocok dengan namanya, gusti prabu asmalaraya arya ardhana, sangat luar biasa sekali."
Mereka semua merasa kagum akan kebaikan yang diberikan oleh raja. Mereka merasakan perdamaian dan kesejahteraan seperti yang dijanjikan oleh raja mereka.
"Maaf, jika aku menyela pembicaraan kalian? Tadi kalian menyebut prabu asmalaraya arya ardhana? Apakah Raja tersebut memiliki anak bernama raden cakara casugraha?."
Mereka sedikit kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh anak muda itu. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih lajang, dan nama Raden Cakara Casugraha yang disebutkan oleh pemuda itu?.
"Apakah kisanak bukan orang sini? Atau rakyat suka damai?."
"Aku memang bukan orang sini kisanak."
"Oh? Pantas saja kisanak tidak mengetahuinya sama sekali."
"Memangnya apa yang tidak aku ketahui?."
"Begini kisanak? Gusti prabu asmalaraya arya ardhana itu adalah Raden cakara casugraha." Jawabnya. "Prabu asmalaraya arya ardhana, hanyalah nama gelarnya saja, nama aslinya adalah Raden cakara casugraha."
"Nama gelar?." Dalam hatinya bertanya-tanya. "Nama gelar Raja? Prabu asmalaraya arya ardhana? Nama aslinya bernama Raden cakara casugraha?." Ia mencoba memikirkannya kembali. "Jadi Raden cakara casugraha menjadi raja? Tapi bagaimana mungkin? Orang bengis seperti dia bisa menjadi Raja?." Timbul rasa sakit hati yang memuncak darinya.
"Memangnya kisanak sebelumnya pernah bertemu dengan Raden cakara casugraha?."
Namun orang itu tidak menghiraukan pertanyaan dari mereka, ia beranjak dari tempat duduknya. Ia pergi meninggalkan tempat.
"Benar-benar orang yang mencurigakan, memangnya apa tujuannya mencari gusti Prabu?."
"Benar juga, nanti kita beritahukan kepada jaya satria, biar dicari tahu kebenarannya."
"Semoga saja orang itu tidak berniat jahat pada Gusti Prabu, semoga saja dia tidak berniat mencelakai Gusti Prabu."
"Ya, semoga saja Allah SWT melindungi Gusti Prabu dari orang-orang jahat."
"Aamiin ya Allah."
Mereka yang sudah memeluk agama Islam berdoa kepada Allah, agar sang prabu diberikan keselamatan, dan dihindari dari orang-orang yang berniat jahat. Karena mereka takut, jika terjadi sesuatu pada sang Prabu, maka siapa yang akan menjadi pemimpin di kerajaan ini?.
Sedangkan orang yang tidak kenal itu, ia berjalan menuju ke istana. Hatinya sedang dipenuhi oleh amarah dari kenangan masa lalu yang membayangi dirinya.
"Bagaimana bisa bajingan busuk itu menjadi Raja? Orang yang dengan sadis membuat tubuhku cacat seperti ini? Kenapa bisa menjadi Raja? Apakah dunia ini bisa disogok dengan kepeng? Sehingga mereka memilih dia menjadi Raja?."
Ya, dimasa lalu ia pernah berhadapan dengan Raden Cakara Casugraha. Ia menganggap, bahwa Raden Cakara Casugraha adalah orang yang paling biadab. Dengan bukti tangan kanannya yang patah, dan tidak bisa berguna lagi.
"Aku pasti akan membalas perbuatannya! Akan aku tunjukkan kelakuannya yang tidak seharusnya ia menjadi Raja." Hatinya sangat mengutuk itu. "Orang yang telah menganiaya diriku di masa lalu harus mendapatkan hukuman yang pantas dariku." Dalam hatinya yang dipenuhi dengan dendam api. "Aku tidak akan pernah lupa atas apa yang telah kau lakukan padaku saat itu, Raden cakara casugraha! Kau aan membayar semuanya." Hatinya yang saat itu hanya ada kebencian medalam.
Dendam masa lalu seperti apa yang ada di dalam hati pemuda itu?. Apa yang telah dilakukan Raden Cakara Casugraha di masa lalu pada pemuda itu hingga ia ingin menghukumnya?. Simak dengan baik kisah selanjutnya.
__ADS_1
......***......