
...***...
"kau tidak usah banyak bicara!." Ki Dharma Seta sangat marah.
Kemarahannya karena tidak menyukai apa yang dikatakan oleh orang bertopeng itu. Berani sekali orang misterius itu menasehatinya?.
"Kau pikir kau siapa hah?. Kembalikan saja anak buahku!. Atau akan aku bunuh kau!."
Ki Dharma Seta mengancam Jaya Satria, jika ia tidak mengembalikan anak buahnya. Kemarahan itu sudah berada dipuncak ubun-ubunnya.
"Hidup dan matiku, hanya karena Allah SWT. Hidupku sekarang akan aku gunakan, untuk menghentikan kejahatan yang telah kalian lakukan."
Jaya Satria masih bersikap tenang, ia menghela nafasnya. Ternyata menghadapi orang yang sedang dirasuki oleh kemarahan tidaklah mudah.
"Kau benar-benar ingin mati!."
Ki Dharma Seta sudah tidak tahan lagi, ia segera menyerang Jaya Satria. Tentunya Jaya Satria tidak mau diserang begitu saja, ia menahan pukulan yang datang padanya.
"Sha, sha, sha."
Ki Dharma Seta dengan kuat, menyalurkan tenaga dalamnya di tangannya. Mencoba memukul tubuh Jaya Satria. Akan tetapi ia masih bisa menghindarinya, bahkan menahan pukulan itu dengan tenaga dalam pula.
"Ternyata benar, anak ini tidak bisa di remehkan."
Batin Ki Dharma Seta, ia sedikit terkesan dengan ilmu Kanuragan yang dimiliki oleh pendekar misterius ini.
"Hyah."
keduanya beradu tendangan, tetapi masih bisa menahannya. Kekuatan mereka benar-benar seimbang. Sehingga belum ada yang mau mengalah diantara keduanya.
"Kalau begitu, rasakan jurusku!."
Setelah berkata seperti itu, Ki Dharma Seta mundur beberapa langkah ke belakang, ia membuat gerakan jurusnya.
Jaya Satria memperhatikannya, jurus orang itu sepertinya cukup berbahaya. Jurus yang dimiliki oleh orang-orang yang berjalan di aliran hitam, cukup berbahaya, jadi ia harus waspada.
"Ya Allah, berikan hamba kekuatan untuk menghadapi jurus orang itu. Hamba hanya berlindung kepada-MU."
Dalam hati Jaya Satria berdoa agar diberi keselamatan dan terhindar dari marabahaya ketika bertarung.
...***...
Disatu sisi, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa gelisah. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Jaya Satria.
"Ya Allah. Penglihatan apa yang sebenarnya hamba lihat. Mengapa hamba seperti melihat, jaya satria sedang bertarung dengan seseorang?." Dalam hatinya sedang bergemuruh gelisah. Ia seperti melihat kilasan bayangan, namun tidak tahu itu apa.
prabu Asmalaraya Arya Ardhana berdoa kepada Allah, agar terhindar dari perbuatan keburukan.
"
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِىْ، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِىْ، وَمِنْ شَرِّلِسَانِيْ، وَمِنْ شَرِّقَلْبِيْ، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِيْ، وَمِنْ شَرِّمَنِيِّي
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari keburukan pendengaranku, kejahatan penglihatanku, keburukan lidahku, keburukan hatiku dan keburukan air maniku."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya berharap, semuanya akan baik-baik saja.
...***...
Kembali ke pertarungan.
Sedangkan Ki Dharma Seta sudah siap dengan jurusnya, jurus jarum angin menggempar hutan kesunyian. Memang terdengar jurus biasa, namun jurus itu lumayan kuat. Karena pengaruh jurus itu, angin disekitar mereka tiba-tiba berhembus kencang. Dedaunan beterbangan, bahkan ada yang tampak terbelah dua atau hancur.
Sungguh jurus yang tidak bisa diremehkan. Bahkan dengan kekuatan tekanan angin sekitar, Ki Dharma Seta dapat memanfaatkan angin sebagai senjatanya.
"Ya Allah, sesungguhnya tidak ada kekuatan yang maha dahsyat, selain kekuatan yang ada pada-Mu. Karena itu lindungilah hamba dari kejahatan makhluk-Mu, hanya kepada Engkaulah hamba meminta bantuan."
Jaya Satria tidak henti-hentinya berdoa dalam hati, ia selalu mengingat Allah sebagai tempat ia meminta pertolongan.
"Ada apa hah?!. Kenapa kau diam saja?. Apakahpa kau takut dengan jurusku?!."
Ki Dharma Seta terlihat berbangga hati, ia merasa diatas angin sekarang, ia terlihat puas karena Jaya Satria tidak berkutik sama sekali.
"Aku diam bukan berarti aku takut paman." Balas Jaya Satria.
Ia sedang menahan hawa angin ganas, yang berusaha menyerang tubuhnya. Dengan menyalurkan tenaga dalamnya, angin disekitarnya sedang dikendalikan seperti senjata tajam yang merobek tubuhnya.
Jika dilihat sekilas tadi, lengan baju kanan Jaya Satria seperti disabet oleh senjata tajam. Sehingga ada bekas robekan di sana, juga meninggalkan luka di lengan kanan Jaya Satria.
...***...
Disaat bersamaan.
"Kegh."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merintih sakit. Sehing gelas yang ia pegang, tiba-tiba jatuh dari tangannya, karena ia merasakan sakit di lengan kanannya.
__ADS_1
"Nanda prabu."
Ratu Dewi Anindyaswari terkejut, melihat putranya yang tiba-tiba mendesis sakit. Ia segera menghampiri putranya yang tadinya duduk bersamanya, menikmati minuman hangat.
"Nanda baik-baik saja ibunda."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meyakinkan ibundanya bahwa ia baik-baik saja. Meskipun perasaannya mengatakan, memang ada sesuatu yang terjadi pada Jaya Satria.
"Katakan pada ibunda. Apa yang nanda rasakan nak. Mungkin nanda prabu lelah setelah sidang tadi?. Apakahpa nanda sedang sakit?."
Ratu Dewi Anindyaswari begitu mengkhawatirkan anaknya yang tiba-tiba merintih sakit. Apakah anaknya sedang sakit karena baru saja istirahat? ia tidak mau terjadi sesuatu pada putranya.
"Nanda baik-baik saja. Ibunda tidak perlu khawatir."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil, ia tidak mau ibundanya mencemaskannya. Karena itulah ia harus bersikap biasa-biasa saja, meskipun ia merasakan sakit di bagian tubuh lainnya.
"Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi pada jaya Satria?. Dengan siapa ia bertarung saat ini?. Lindungilah ia dimanapun ia berada ya Allah."
Dalam hati prabu Asmalaraya Arya Ardhana berdoa kepada Allah, ia sangat mencemaskan keadaan Jaya Satria. Bisa jadi sakit yang ia rasakan itu karena Jaya Satria dalam bahaya?.
...***...
kembali ke pertarungan.
"Aku diam, karena sedang berpikir paman."
Jaya Satria tersenyum kecil, terlihat dibibirnya. Walaupun sebagain wajahnya tertutup oleh topeng. Saat ia merasakan dirinya bisa menahan tekanan angin itu, agar tidak melukai tubuhnya. Jaya Satria mulai membuat gerakan jurus yang membuat Ki Dharma Seta cukup terkejut.
"Jurus Pembalik, menyapu angin dalam kesunyian?."
Ki Dharma Seta terkejut, ia tidak menyangka pemuda itu memiliki jurus pembalik dari jurusnya?. Jurus itu bukan hanya sebagai pertahanan dari serangan angin berupa jarum, melainkan jurus yang dapat melebur jurus itu sendiri.
"Bedebah!. Bagaimana mungkin bisa, kai memiliki jurus itu?. Siapa kau sebenarnya?." Ki Dharma Seta tidak percaya, jika ada pendekar yang mengetahui jurus pembalik dari jurusnya?. Hatinya semakin panas, dan panas.
"Kau tidak perlu tau siapa aku!. Tapi yang pasti, aku dulu juga termasuk orang jahat, tapi sudah bertaubat."
Jawab Jaya Satria tersenyum puas, ia berhasil memjokkan Ki Dharma Seta dengan jurus yang ia keluarkan.
"Aku juga pendekar yang memanfaatkan angin untuk dijadikan senjata andalanku. Bukan hanya kau saja." Lanjutnya lagi.
"Banyak bicara kau!."
Setelah itu, mereka kembali bertarung dengan jurus masing-masing. Jika Ki Dharma Seta jurus penghancur raga, dengan memanfaatkan angin menjadi jarum tajam seperti pedang untuk senjata. Maka Jaya Satria menggunakan jurus pembaliknya. Jurus pelebur angin menggemparkan hutan kesunyian.
Namun Jaya Satria dapat menahan serangan itu dengan menangkisnya, menggunakan lengan kirinya. Jarum-jarum tajam itu seketika hancur, seperti debu yang melebur di udara oleh perisai tebal, yang tercipta dari jurus pembalik itu. Sehingga aura hawa murni mereka beradu kuat. Membuat angin melawan angin, menciptakan hembusan angin yang dahsyat.
"Kurang ajar!. Jurusku memang berhasil dipatahkannya dengan jurus pembalik, benar-benar kurang ajar!."
Dalam hati Ki Dharma Seta mengutuk Jaya Satria, ia tidak terima jika ada pendekar yang mampu mematahkan jurusnya?.
"Tidak usah banyak berpikir paman, sebentar lagi kau juga akan ditangkap. Kau harus bertanggungjawab, atas apa yang kau lakukan selama ini."
Jaya Satria mendelik tajam ke arah Ki Dharma Seta. Jaya Satria akhirnya ia menyadari jika orang itu adalah orang yang pernah membuat kerusuhan juga di masa itu.
Ki Dharma Seta terkejut mendengarkan ucapan Jaya Satria, ia berusaha menyerang lagi Jaya Satria dengan jurus lain. Dari tangan kanannya, ada aura kilat petir yang hampir saja menyambar wajah Jaya Satria.
Akan tetapi Jaya Satria berhasil menghindarinya. Meskipun ia sempat terkejut karena serangan cepat dari Ki Dharma Seta. Jaya Satria tidak tinggal diam, ia hantam dada Ki Dharma Seta dengan telapak tangannya yang telah ia salurkan tenaga dalamnya,
Ki Dharma Seta terlempar ke belakang, namun ia masih bisa mengimbangi tubuhnya, hingga ia tidak jatuh, ia masih bisa menahan tubuhnya, walaupun dadanya terasa sesak akibat pukulan Jaya Satria.
"Aku ingat sekarang."
Ucap jaya Satria melotot ke arah Ki Dharma Seta, seketika aura kemarahannya muncul menguar dari tubuhnya.
"Kau,,,,"
Ketika Jaya Satria hendak meneruskan ucapannya, tiba-tiba ia mendapatkan serangan yang lumayan kuat menghantam tubuhnya, hingga ia terlempar ke belakang.
Tubuh Jaya Satria menghantam pohon yang ada di belakangnya, hingga Jaya Satria merintih kesakitan.
...***...
Lagi-lagi disaat yang bersamaan, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasakan sakit di bagian tubuhnya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah, apa yang sedang terjadi pada jaya Satria?."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana meringis kesakitan, tidak salah lagi, pasti ada sesuatu yang terjadi pada Jaya Satria. Jika tidak, maka tidak mungkin tubuhnya terasa sakit.
Tapi setidaknya ia saat ini berada di ruang pribadinya, jadi tidak ada yang tau bahwa ia sedang kesakitan saat ini. Tadi ia sempat pamitan pada ibundanya, dengan alasan ada sesuatu yang akan ia kerjakan di ruang pribadi Raja.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba mengatur hawa murninya, agar tubuhnya tidak terlalu terasa sakit.
Dalam hatinya juga lisannya, ia membacakan kalimat-kalimat takbir, tahmid, tahlil, ia juga mencoba membuat dirinya fokus.
...***...
__ADS_1
Kembali ke Jaya Satria.
Ternyata Jaya Satria diserang oleh kelompok sengkar iblis. Ia di serang oleh orang-orang yang kemarin berhadapan dengannya.
Jaya Satria mencoba untuk berdiri tegap, meski nafasnya sedikit sesak karena serangan tadi.
"Apakah aki baik-baik saja?."
Narumi Putih terlihat mencemaskan ketuanya yang terlihat kewalahan menghadapi orang misterius itu.
"Ya, aku baik-baik saja." Ki Dharma Seta tidak menyangka, jika anak buahnya datang membantunya.
Sementara itu, Jaya Satria mendekati mereka, aura kemarahannya terlihat jelas.
"Bukan hanya padaku saja, kalian sampah tidak berguna, juga berbuat curang prabu kawiswara arya ragnala."
Jaya Satria mengingat saat ia bersama Gusti prabu Kawiswara Arya Ragnala menghadapi para perusuh yang membuat negeri ini kacau. Kelompok sengkar iblis ikutan membuat kerusuhan dengan menyerang sang prabu dengan cara yang curang.
Jaya Satria tidak menyangka jika mereka akan berbuat kerusuhan lagi, di wilayah kerajaan ini. Dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Aku telah bersumpah!. Pada Prabu Kawiswara Arya Ragnala, bahwa aku akan membunuh semua penjahat busuk yang berkeliaran di negeri ini."
Suara Jaya Satria menggelegar seperti suara petir yang sedang menyambar, membuat mereka semua terkejut.
"Jadi kau adalah cecunguknya prabu kawiswara arya ragnala yang telah tewas itu?."
Ki Dharma Seta tidak percaya, jika anak muda itu adalah bawahannya mendiang Prabu Kawiswara Arya Ragnala?.
"Pantas saja dia memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi. Sebab kabar yang aku dengar, tidak mudah menjadi bawahan sang prabu, jika tidak memiliki ilmu kanuragan yang mempuni."
Dalam hati Ki Dharma Seta, mulai waspada terhadap Jaya Satria. Ia tidak menyangka, jika ia berhadapan dengan bawahannya prabu Kawiswara Arya Ragnala yang terkenal kekuatannya.
"Jika memang dia bawahannya prabu kawiswara arya ragnala. Itu artinya mayang sari berada di istana kerajaan suka damai, ditahan oleh mereka."
Semara Layana tiba-tiba berpikir seperti itu, jika memang itu benar.
"Betul ki. Kita harus ke istana kerajaan suka damai, untuk membebaskan mayang sari."
Raksa Bumi juga sependapat dengan temannya. Mereka harus segera membebaskan Mayang Sari sebelum mereka menjatuhi hukum pada Mayang Sari.
"Kawan kalian yang aku tangkap, tidak berada di istana kerajaan suka damai. Aku telah mengurungnya di hutan taring belati raga. Jadi percuma saja kalian ke istana kerajaan suka damai."
Jaya Satria mengatakan dimana ia menyembunyikan teman mereka, dan mereka tidak menyangka sejauh itu teman mereka disembunyikan?.
"Bedebah!. pantas saja aku tidak bisa, menemukan keberadaan mayang sari. Karena hutan taring belati raga, adalah hutan yang dapat menyembunyikan, hawa keberadaan seseorang jika masuk ke sana."
Ki Dharma Seta sangat marah, ia merasa dipermainkan oleh pemuda itu. Ia kira pemuda itu memang memiliki kesaktian ilmu Kanuragan yang sangat tinggi, tetapi dia cerdik juga memikirkan dimana, tempat persembunyian terbaik untuk menyembunyikan seseorang.
"Kalau begitu, akan aku paksa kau menyerahkan anak buahku, dan mengeluarkannya dari sana."
Ki Dharma Seta sangat marah, memang hutan itu adalah hutan istimewa. Hutan yang dapat menutupi keberadaan seseorang, namun tidak mudah masuk ke hutan itu jika tidak memiliki ilmu Kanuragan yang mempuni.
"Lakukan kalau kau bisa."
Jaya Satria yang dalam keadaan marah, malah menantang mereka semua, dan pertarungan terjadi lagi antara Jaya Satria dengan kelompok sengkar iblis.
...***...
Di dalam istana
Ratu Dewi Anindyaswari gelisah, ia masih memikirkan keadaan putranya. Ia ingin melihat keadaan putranya. Namun prajurit mengatakan, jika sang Prabu sedang tidak ingin diganggu, jadi harap mengerti.
"Tapi aku ibundanya, aku sangat mengkhawatirkan keadaan putraku cakara casugraha."
Ratu Dewi Anindyaswari menjelaskan kepada mereka para prajurit jaga, bahwa ia hanya melihat kondisi putranya. Apa yang terjadi pada putra tadi setelah minum bersama?. Putranya sedang kesakitan, hatinya sangat gelisah.
"Mohon ampun gusti ratu. Tapi kami diperintahkan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana, agar tidak memperbolehkan siapa saja, yang mengganggu prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang sedang bersemedi."
Ucap salah satu prajurit yang ditugaskan oleh prabu Asmalaraya Arya Ardhana, untuk berjaga di depan Raung pribadinya.
"Maafkan kami gusti ratu. Kami hanya menjalankan perintah dari gusti prabu."
prajurit merasa berat hati, namun itulah yang dikatakan oleh sang Prabu, bahwa ia tidak mau diganggu siapapun.
"Oh putraku cakara casugraha. Semoga nanda prabu baik-baik saja nak."
Ratu Dewi Anindyaswari merasa khawatir dengan kondisi putranya, ia mencemaskan putranya yang tadinya terlihat kesakitan.
Apa yang terjadi pada prabu Asmalaraya Arya Ardhana?. Lalu bagaimana nasib Jaya Satria?. Bisakah mereka mengatasi masalah yang terjadi?.
waaah penasaran nih, gimana sang prabu dan Jaya Satria menyelesaikan masalah mereka. Sampai jumpa di cerita berikutnya. Jangan lupa tinggalkan jejak agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya
Tapi sebelum itu author minta maaf jika nama-nama jurusnya, juga gaya tarungnya agak ngelantur, tapi mohon dimaklumi karena yang nulis masih sangat amatiran.
...***...
__ADS_1