RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
RADEN CAKARA CASUGRAHA MENGUJI KEKUATANNYA?.


__ADS_3

...***...


Putri Andhini Andita, Putri Agniasari Ariani, dan Raden Rajaswa Pranawa saat ini sedang bertarung dengan Patih Wenda Sekatara. Pertarungan tiga lawan satu, meskipun terdengar tidak adil, namun ketiganya berusaha untuk menghalau Patih Wenda Sekata agar tidak masuk ke dalam Istana.


Patih Wenda Sekatara melompat menjauh beberapa langkah dari mereka. Karena serangan mereka bertiga lumayan juga.


"Hoo lumayan juga. Tapi aku tidak akan mundur hanya karena kalian bertiga."


"Sebaiknya kau pergi dari sini!. Aku tidak akan mengampunimu, jika kau berani mengganggu rayi ku!."


"Kau jangan berani macam-macam di sini!. Aku tidak akan segan-segan pada orang yang berniat jahat pada rayiku!."


"Dan aku lebih tidak peduli jika lawanku adalah dua orang putri cantik. Akan aku culik kalian berdua untuk dijadikan sandera. Aku yakin dia akan bertekuk lutut dihadapan ku, karena tidak ingin kalian aku bunuh dihadapannya."


Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani sangat geram mendengarkan apa yang dikatakan oleh Patih Wenda Sekata. Perkataan itu sangat merendahkan kepandaian yang mereka miliki. Namun ketika keduanya hendak menyerang, tiba-tiba Raden Cakara Casugraha melompat dan berdiri di hadapan mereka?. Tentu saja Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani terkejut, begitu juga dengan Patih Wenda Sekatara.


"Rayi prabu. Apa yang rayi prabu lakukan?. Bagaimana mungkin rayi prabu ada di sini?."


"Bagaimana dengan semedimu rayi prabu?. Apakah rayi prabu selesai melakukan penyatuan raga?."


Raden Cakara Casugraha melirik ke arah kedua kakaknya, dan setelah itu ia menatap ke depan, melihat ke arah Patih Wenda Sekatara.


"Aku telah selesai melakukan semedi yunda. Aku merasa terganggu dengan kedatangan orang ini."


"Siapa kau?. Tapi suara itu, sangat mirip sekali dengan pendekar yang telah membuat mataku ini menjadi buta."


"Yunda, raden rajaswa. Aku mohon untuk saat ini kalian mundur lah. Biarkan aku yang menyelesaikan masalah ini."


"Tapi rayi prabu-."


"Aku mohon dengarkan apa yang aku katakan yunda. Aku tidak ingin lagi memiliki masalah dengan orang ini. Biar aku tuntaskan rasa sakit hatinya padaku."

__ADS_1


"Baiklah rayi prabu. Tapi aku harap rayi prabu berhati-hati. Karena orang itu tampaknya berbahaya."


"Benar rayi prabu. Jangan sampai orang itu menyakitimu rayi. Kami tidak akan tinggal diam begitu saja."


"Kami akan melihat, apakah orang asing itu akan melakukan kecurangan pada gusti prabu."


"Aku akan baik-baik saja. Segeralah menepi. Biar aku selesaikan masalah ini dengan cepat."


"Sandika gusti prabu."


Putri Andhini Andita, Putri Agniasari Ariani, dan Raden Rajaswa Pranawa mengikuti apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha atau lebih tepatnya Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Sepertinya kisanak masih memiliki dendam denganku. Rasanya kejadian itu sudah sangat lama sekali."


"Jadi kau adalah orang bertopeng itu?. Jaya satria, pendekar yang memiliki pedang pelebur sukma."


"Kebetulan sekali. Saat ini ragaku benar-benar telah menyatu, dan itu artinya kekuatanku tidak terbagi lagi. Aku akan menguji, bagaimana kekuatan yang aku miliki sekarang. Setelah hampir setahun lebih ini, aku tidak bisa menggunakan kekuatanku dengan penuh. Karena ada dua raga, makanya kekuatan tenaga dalamku terbagi dua juga. Sehingga aku tidak bisa menggunakan banyak tenaga dalam."


"Baiklah. Jika kau penasaran, akan aku keluarkan pedang pelebur sukma. Bukan hanya mata kau saja yang akan hilang, namun nyawamu juga akan dimakan oleh pedang pelebur sukma."


Raden Cakara Casugraha mengeluarkan pedang Pelebur Sukma dari dalam tubuhnya. Sementara itu Putri Andhini Andita dan Putri Agniasari Ariani mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan oleh Raden Cakara Casugraha.


"Rasanya aku melihat ada yang berubah dengan rayi cakara casugraha. Auranya berbeda dengan yang sebelumnya."


"Yunda benar. Rasanya aku benar-benar melihat rayi cakara casugraha yang dulu. Kekuatan yang tidak bisa ditahan oleh siapa saja."


"Apakah ini akan baik-baik saja rayi prabu?. Apakah kita perlu menghentikan rayi prabu?."


"Aku ragu rayi. Tapi kita lihat saja. Semoga saja rayi prabu baik-baik saja."


Jika memang itu adalah Raden Cakara Casugraha yang dahulu, mereka memang tidak bisa menghentikan atau ikut campur dalam pertarungan itu. Karena Raden Cakara Casugraha tidak ingin masalahnya dicampuri oleh siapa saja.

__ADS_1


Sementara itu, pertarungan antara Raden Cakara Casugraha dengan Patih Wenda Sekatara sedang berlangsung. Keduanya saling menyerang, dan kadang menghindari serangan.


Pedang Pelebur Sukma terlihat lebih tajam dari yang sebelumnya. Bahkan seperti memiliki nyawa untuk menyerang Patih Wenda Sekatara. Hawa kegelapan dari pamor pedang pelebur Sukma seakan menyedot tenaga dalamnya.


"Pedang itu, pedang yang sama dengan beberapa tahun yang lalu. Bahkan aku merasakan ada yang berbeda dengan pedang itu."


"Kau tidak usah panik seperti itu. Tadi kau yang mengatakan, ingin menyelesaikan masalahmu denganku. Tapi yang aku lihat sekarang, kau panik karena pamor dari pedang ini."


"Kau tidak usah jumawa dulu. Aku pasti akan membunuhmu dengan jurus yang aku miliki!."


Patih Wenda Sekatara merasa lemah dihadapan pedang Pelebur Sukma. Pedang itu memang pedang yang sangat jahat, seperti kabar yang pernah beredar. Bahwa pedang itu memang pedang yang menyedot nyawa seseorang yang memiliki kegelapan yang kental di dalam hatinya.


"Jika kau masih ragu untuk menyelesaikan perasaan sakit hatimu padaku. Sebaiknya kau pergi saja. Karena aku sedang malas berurusan dengan kau sekarang. Aku harus segera memulihkan tenaga dalamku, juga menyelesaikan penyempurnaan ragaku."


"Kurang ajar. Kau sangat meremehkan aku!. Akan aku bunuh kau!."


Ucapan Raden Cakara Casugraha memancing kemarahan dari Patih Wenda Sekatara. Ia sangat tidak terima dengan apa yang ia dengar. Hatinya semakin memanas, dan segera menyerang Raden Cakara Casugraha.


Pertarungan kembali terjadi diantara keduanya. Kali ini Raden Cakara Casugraha memainkan pedang pelebur Sukma dengan baik, bahkan beberapa kali, leher Patih Wenda Sekatara hampir saja terkena tebasan pedang itu.


"Harusnya kau segera berubah, jika masih diberikan kesempatan untuk hidup. Meskipun dengan satu mata. Namun kau telah menyia-nyiakan kesempatan yang masih ada."


"Diam kau!. Aku sudah muak mendengarkan apa yang kau katakan!. Kata-katamu tidak akan mengembalikan mataku yang sudah rusak!."


Kali ini Raden Cakara Casugraha yang menghindari serangan pukulan besi dari Patih Wenda Sekatara. Dan sesekali ini menyepak ke arah Raden Cakara Casugraha, namun berhasil dihindari dengan baik.


"Itulah salahnya. Kau tidak pernah menyadari kesalahan apa saja yang kau perbuat, dan kau justru malau menabur dendam padaku. Sehingga hatimu tidak bisa lagi menerima apa yang dikatakan oleh seseorang. Sangat merugikan sekali hidupmu saat ini."


"Diam!. Kau tidak usah banyak bicara!. Aku tidak butuh kata-kata tidak berguna darimu!."


Suasana hatinya saat ini sedang panas, apalagi kata-kata dari Raden Cakara Casugraha yang membuat hatinya semakin panas. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya. Jangan sampai ketinggalan, dan tinggalkan jejaknya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2