RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEGELAPAN TELAH DATANG


__ADS_3

...***...


Kerajaan kegelapan.


"Sudah saatnya kita menyerang, tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk meratakan mereka dengan tanah." Ratu Gempita Bhadrika sangat tidak sabaran.


"Ya, Gusti Ratu benar." Renjana Kala sangat setuju. "Kita harus segera menyerang mereka semua."


"Ya, kita harus segera menyerang mereka."


Sepertinya mereka tidak sabar lagi, apakah yang akan mereka lakukan selanjutnya?. Simak terus ceritanya.


...***...


Putri Andhini Andita masih di biliknya, ia masih kesal dan sedih setelah mendengarkan ucapan ibundanya yang mengungkit kenapa ayahandanya bisa meninggalkan mereka jika memang Allah SWT tidak akan menguji seseorang melebihi batas kemampuannya?.


"Ayahanda, jika saja waktu itu kami mau mendengarkan ucapan ayahanda? Pastinya ayahanda bersama kami saat ini." Perasaan bersalah itu memang terasa sangat dalam, hingga rasanya ia ingin mengakhiri hidupnya karena penyesalan itu. "Ayahanda." Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja, hatinya masih sedih dengan apa yang telah terjadi di masa lalu.


"Tenanglah putriku, yang telah berlalu jangan diingat lagi, melangkahlah ke depan."


"Ayahanda Prabu?." Putri Andhini Andita mencari sumber suara itu, ia sangat merindukan suara itu. "Ayahanda Prabu? Ayahanda di mana?." Suara tangisnya memenuhi biliknya.


"Jangan menangis putriku, kau pasti bisa lebih tegar lagi, ayahanda percaya padamu."


"Ayahanda, ananda sangat menyesal, ananda ingin ayahanda kembali lagi, ananda mohon kembali lah ayahanda." Suara Putri Andhini Andita semakin menangis karena ia tidak bisa melihat sosok ayah yang sangat ia cintai. "Ananda mohon! Kembali lah!."


"Ayahanda akan selalu bersamamu, putriku andhini andita."


Deg!.


Putri Andhini Andita terkejut dari tidurnya, ia terbangun begitu saja. Tanpa sadar ia langsung menangi, ia memang sangat merindukan ayahandanya.


"Dahulu ayahanda sering berkata seperti itu ketika aku menangis." Dalam hatinya tidak akan pernah lupa dengan kedekatannya dengan sosok ayahandanya. "Ayahanda akan selalu bersamamu, putriku andhini andita, kalimat itu selalu terngiang-ngiang di dalam pikiranku setiap aku bersedih." Putri Andhini Andita merasakan kesedihan yang mendalam.


Sementara itu Raden Hadyan Hastanta sedang berusaha untuk menenangkan ibundanya yang masih bersedih setelah mendengarkan ucapan anaknya Putri Andhini Andita.


"Tenanglah ibunda, nanda mohon ibunda jangan menangis lagi."


"Apakah menurut nanda? Ibunda memang sangat kejam di masa lalu? Sehingga kini putri ibunda? Ananda andhini andita berkata seperti itu?." Hatinya terlanjur sedih mengingat semua ucapan anaknya.


"Kita semua telah melakukan kesalahan ibunda, ayahanda pernah berkata, manusia di muka bumi ini tidak ada yang sempurna." Raden Hadyan Hastanta mengingat ucapan ayahandanya. "Pasti pernah melakukan kejahatan, entah itu disengaja atau tidak? Tapi? Manusia yang baik? Dia yang mau mengubah dirinya ke arah yang lebih baik, serta mampu mengendalikan dirinya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, begitulah yang dikatakan ayahanda Prabu saat kami semua bertengkar ibunda."


"Oh? Ayahanda kalian berkata seperti itu?." Ratu Gendhis Cendrawati terkejut jika anaknya masih ingat dengan nasihat Prabu Kawiswara Arya Ragnala.


"Ayahanda selalu memberi nasihat kepada kami ibunda, hanya saja kami yang tidak mau mendengarkan ucapan ayahanda." Kali ini ia merasakan penyesalan karena tidak mau melakukannya dengan baik setiap ucapan ayahandanya.


"Oh? Kanda Prabu juga dulu sering memberi kami nasihat, tapi aku dan yunda ardiningrum bintari yang memang tidak mau mendengarkannya karena perasaan iri kami pada rayi dewi." Dala, hati Ratu Gendhis Cendrawati juga merasa menyesal.


"Mari kita melangkah maju dengan mengubah segala kejahatan yang pernah kita lakukan di masa lalu ibunda." Raden Hadyan Hastanta tersenyum kecil. "Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang sama ibunda, jangan sampai kita merasakan penyesalan yang kedua kalinya."


"Akan ibunda coba."


Ya, hanya itu yang bisa dilakukan untuk melangkah maju. Apakah akan berhasil?. Simak terus ceritanya.


Sedangkan Jaya Satri saat itu datang menemui Ratu Dewi Anindyaswari.


"Ibunda sangat cemas dengan keadaan yundamu yang kini berada di luar istana, apakah nanda tidak bisa menjemput yundamu nak?."


"Tenanglah ibunda, berdo'a lah ibunda, semoga saja yunda agniasari ariani baik-baik saja."


"Ibunda hanya cemas saja, karena ibunda-."


"Ibunda? Percayalah kepada Allah SWT yang akan selalu menjaga yunda."


"Baiklah, ibunda akan mencoba tenang."


Jaya Satria hanya tidak ingin melihat ibundanya cemas, dan terlihat murung. Apa lagi dengan kondisi yang saat ini membuat suasana tidak enak sama sekali.


"Bagaimana dengan rayimu? Apakah nanda tidak bersama dengannya?."


"Saat ini rayi Prabu sedang mengadakan pertemuan dengan para petinggi istana, nanda tidak mungkin hadir bersama mereka ibunda."


"Kalau begitu temani ibunda di sini, ibunda masih ingin bersama nanda."


"Baiklah ibunda."


Jaya Satria tentunya tidak akan bisa menolak permintaan Ratu Dewi Anindyaswari.

__ADS_1


...***...


Kerajaan Mekar Jaya.


Prabu Rahwana Bimantara saat itu sedang bersama Putri Ambarsari yang sedang membahas masalah kerajaan. Banyak hal yang dipelajarinya, karena ia akan menjadi calon Ratu Agung di istana kerajaan Mekar Jaya.


"Ternyata masalah kerajaan memang sangat rumit sekali kakek Prabu, ananda rasa itulah alasan kenapa mendiang ayahanda Prabu jarang bersama kami." Terlihat sangat jelas bagaimana kerutan keningnya yang menandakan ia merasa pusing berhadapan dengan beberapa masalah yang terjadi di dalam sebuah kerajaan.


Prabu Rahwana Bimantara terkekeh kecil mendengarnya. "Menjadi seorang pemimpin itu bukan hanya sekedar memerintah berkuasa tahta saja cucuku, tapi harus mampu mengatasi masalah yang ada di wilayahnya." Tuturnya dengan lembut. "Semua orang terlahir sebagai pemimpin, namun tidak semuanya sanggup memimpin sebuah negeri dengan adil dan bijaksana."


"Kenapa bisa seperti itu kakek Prabu? Bukan kah memimpin itu seharusnya ia merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa? Sebab semua orang akan tunduk padanya, melakukan apapun yang diperintahkan."


Kembali Prabu Rahwana Bimantara terkekeh kecil. "Sayangnya tidak seperti itu pemahamannya cucuku, itu pemikiran yang sangat salah, itu adalah cara orang yang dangkal otaknya dalam berpikir."


"Lantas seharusnya seperti apa kakek Prabu?." Putri Ambarsari terlihat semakin bingung, karena ia sempat berpikiran tahta adalah segalanya untuk mengatur dunia.


"Seorang pemimpin mudah digulingkan oleh orang lain karena berpikiran seperti itu, karena ia menganggap jika memiliki kekuasaan tertinggi? Maka semua orang akan tunduk padanya? Tidak! Pasti akan adanya pengkhianatan di dalam lingkungan itu." Dengan hati-hati Prabu Rahwana Bimantara menjelaskan. "Ia berpikir semua orang akan takut dengan kekuasaan yang ia miliki? Tidak! Pasti akan ada orang yang lebih kuat lagi, pasti ada seseorang yang berkeinginan untuk mendapatkan tahta tertinggi itu."


"Ananda masih belum mengerti."


"Sederhananya, jadilah orang baik yang memimpin orang lain ke arah baik juga, sebab? Orang yang baik dalam memimpin adalah mereka yang akan memikirkan kebaikan pula demi orang lain."


"Mendiang ayahanda Prabu pernah berkata seperti itu pada ananda, ayahanda Prabu selalu memberikan nasihat yang baik pada kami jika kami bertengkar dahulunya."


"Kalau begitu ananda sekarang harus berubah, ingatlah ucapan baik yang pernah disampaikan oleh mendiang ayahanda ananda."


"Akan ananda laksanakan dengan baik kakek Prabu."


Putri Ambarsari seperti memiliki harapan untuk melangkah maju.


"Aku yakin aku pasti bisa berubah ke arah yang lebih baik lagi." Setidaknya itulah keinginannya saat itu.


...***...


Malam, gelap yang berbeda dari yang biasanya. Mereka semua bertanya-tanya apa yang terjadi?. Mengapa malam terasa panjang?. Mereka semua Sementara itu di Damai Sentosa, terjadinya pertarungan antara beberapa pendekar dengan beberapa golongan jin yang menyerang manusia.


"Siapa kalian?! Mengapa kalian menyerang desa ini?!." Rapi Jaga,salah satu pendekar yang menjaga desa ini merasa heran. "Aku tidak akan membiarkan kalian melakukan kejahatan di desa ini!." Ia mulai waspada dengan sosok-sosok yang menyeramkan itu.


"Kami adalah bangsa jin yang menuntut balas atas kematian junjungan kami, prabu wajendra bhadrika yang dibunuh oleh raja kalian!." Balas salah satu jin yang terus menyerang mereka. "Kalian semua harus membayarnya!."


Rapi Jaga terpaksa meninggalkan teman-temannya karena ingin melaporkan apa yang sedang terjadi disini. itu juga semua perintah Jaya Satria yang mengatakan jika terjadi sesuatu yang aneh agar segera melapor ke istana.


Sementara itu di istana kerajaan Suka Damai


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria menatap langit malam.


"Hawa ini sangat berbeda sekali, gusti prabu." Mata Jaya Satria mengamati ada yang aneh dengan sekitarnya.


"Ya, kau benar jaya satria, bahkan pedang pelebur sukma mulai bergetar." Hawa murninya sedikit kacau karena getaran dari pedang pelebur sukma yang seakan ingin keluar dari tubuhnya. "Aku sangat yakin jika ia dapat merasakan hawa kegelapan yang tidak biasa akan masuk ke istana ini"


"Getaran pedang ini semakin kuat, pedang pelebur sukma tidak sabar ingin melahap semua kegelapan itu."


Namun saat itu Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta datang, mereka juga dapat merasakan adanya ancaman bahaya yang akan melibatkan mereka.


"Apa yang terjadi sebenarnya rayi prabu?." Putri Andhini Andita baru saja ikut bergabung dengan adiknya. "Hawa kegelapan malam ini sangat tidak enak sama sekali."


"Jangan-jangan mereka sudah mulai bergerak dengan menebarkan kegelapan di kerajaan ini rayi Prabu."


"Mungkin saja yunda, karena hawa kegelapan ini sangat berbeda."


"Apa yang harus kita lakukan rayi Prabu? Apakah kita juga akan bergerak?."


"Tunggu sebentar raka! Karena aku sedang mengamati siapa yang ada di dalam kegelapan itu?!."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana ingin melihat dengan sangat jelas sosok gaib yang telah menebarkan kegelapan itu, jangan sampai mereka terluka karena berhadapan dengan bangsa jin yang sangat menyesatkan. Akan tetapi fokus sang Prabu teralihkan karena suara Jaya Satria.


"Mohon ampun Gusti Prabu." Jaya Satria memberi hormat. "Izinkan hamba untuk mengumandangkan adzan, semoga dengan adzan, hawa gelap ini sedikit berkurang."


"Ya, lakukanlah jaya satria, semoga saja keadaan sedikit tenang."


Setelah itu Jaya Satria melompat ke atas gerbang istana, berdiri tegap di atasnya sambil memandang sekitar. Jaya Satria mengumandangkan suara adzan dengan suara yang keras, hingga terdengar sangat jauh mencapai awan pertama yang mengandung kegelapan.


"Suaranya sangat merdu sekali." Dalam hati Putri Andhini Andita sangat kagum dengan suara Jaya Satria.


Tak berselang lama Jaya Satria adzan, tiba-tiba terdengar suara teriakan-teriakan aneh, membuat suasana sekitar merinding ngeri.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dapat merasakan hawa yang berbeda ketika mendengarkan suara teriakan kesakitan itu.

__ADS_1


"Suara apa itu rayi Prabu? Mengapa teriakan itu sangat mengerikan?." Putri Andhini Andita sedikit takut. "Rasanya aku merinding mendengarnya." Ia tidak bisa melihat wujud yang berteriak kesakitan itu.


"Mengapa ketika suara adzan yang dikumandangkan oleh jaya satria malah menimbulkan teriakan aneh seperti itu rayi Prabu?." Raden Hadyan Hastanta juga ikut merinding mendengarnya.


"Tenanglah yunda, raka." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menenangkan kedua kakaknya. "Itu adalah suara teriakan dari bangsa jin! Sepertinya kegelapan yang menyelimuti langit kerajaan suka damai adalah ulah mereka!." Jawaban dari prabu Asmalaraya Arya Ardhana membuat keduanya terkejut. "Mereka yang membawa kegelapan dengan tujuan mencelakai kita semua!."


"Bangsa jin rayi?." Tanya keduanya secara bersamaan. karena sebelumnya mereka juga merasakan bagaimana serangan itu mengenai mereka, di saat perang itu.


Belum sempat sang prabu menjawab, ada beberapa pasukan jin yang menampakkan diri mereka, hendak menyerang mereka. Sosok itu terlihat sangat mengerikan, sosok yang tidak bisa dianggap normal.


"Hyah!."


Putri Andhini Andita dan Raden Hadyan Hastanta menghindari serangan itu, tentu saja mereka tidak ingin terluka karena serangan itu.


"Astaghfirullah ya Allah! Berhati-hatilah raka! Yunda!."


Sementara itu, Jaya Satria baru saja selesai mengumandangkan adzan? Saat itu ia melihat ada sosok bayangan hitam dengan cepat mendekat ke arahnya. Jaya Satria menghindari serangan itu, ia melompat turun ke bawah, karena serangan itu sepertinya bisa membunuhnya jika ia tidak menghindar.


"Heh! Kau masih saja bersembunyi di balik topeng busukmu itu jaya satria?." Ada seorang pemuda menatap tajamĀ  Jaya Satria. "Tapi aku tidak menduga jika kau malah mengabdikan dirimu sebagai budak seorang Raja di istana ini." Seakan ia ingin menelan hidup-hidup mangsanya. "Aku rasa ini adalah takdir yang tepat untuk membunuhmu!."


"Jaya satria?." Putri Andhini Andita yang sedang bertarung melawan pasukan jin yang datang menyerbu istana, melihat Jaya Satria berhadapan dengan seseorang. Begitu juga dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, dan Raden Hadyan Hastanta.


"Rasanya aku pernah melihat kau di suatu tempat, tapi aku lupa di mana?." Jaya Satria merasa tidak asing dengan wajah pemuda itu.


"Heh!." Ia mendengus kesal "Baguslah kalau kau masih ingat dengan wajahku? Tapi aku harap kau tidak lupa dengan dosa masa lalu mu yang telah membunuh ayahandaku!." Raut wajah itu menyimpan dendam yang sangat besar. Rasa sakit hati dihatinya meluap-luap seperti gunung berapi yang siap meledak kapan saja.


Jaya Satria tampak berpikir dosa masa lalu membunuh seseorang?. "Aku akui aku memang lupa dengan apa yang aku lakukan dimasa lalu, tapi aku rasa? Hawa kegelapan ini bukanlah berasal darimu." Jaya Satria tidak merasakan kekuatan kegelapan dari pemuda itu. Bahkan pedang pelebur sukma pun tidak bereaksi padanya.


"Heh! Kau masih saja sama dengan yang dulu dalam masalah ketajaman melihat seseorang." pemuda itu mendengus kecil. "Meskipun sangat menyebalkan? Tapi aku akui kau memang sangat hebat dalam masalah itu." Ia sangat benci berhadapan dengan musuh yang memiliki pandangan yang berbeda.


"Tidak usah banyak bicara!." Jaya Satria sangat kesal.


"Tapi aku penasaran, bagaimana mungkin kau bisa mengetahui jika kegelapan itu bukan berasal dariku?."


"Itu sangat mudah, karena kegelapan itu berasal dari wanita yang ada di belakangmu."


Deg!.


Renjana Kala sangat terkejut mendengarnya, ia tidak menduga jika Jaya Satria bisa melihat Ratu Gempita Bhadrika?.


Jaya Satria juga melihat ke arah sana. Di mana seorang wanita cantik berjalan dengan santainya, menghampiri pemuda itu.


"Sudah aku duga, pasti ini semua ulah dari perbuatan kau!." Tunjuknya dengan sangat kasar.


"Kau hebat bisa melihat keberadaanku."


"Kau juga hebat, karena berhasil selamat dari sabetan pusaka keris kembar."


Deg!.


"Diam kau bajing tengik!." Ratu Gempita Bhadrika sangat murka karena ucapan itu, ia sangat marah dan ingin menyerang Jaya Satria, namun tangannya di tahan oleh Renjana Kala.


Sementara itu, Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, Putri Andhini Andita, dan Raden Hadyan Hastanta yang berhasil mengalahkan pasukan jin, langsung mendekati Jaya Satria.


"Putri kegelapan, putri gempita bhadrika? Ternyata kau masih hidup?." Putri Andhini Andita juga masih ingat, meskipun hanya sekali bertemu ketika mendatangi kerajaan kegelapan waktu itu.


"Ya, ini aku! Aku adalah Ratu gempita bhadrika! Orang yang akan membunuh kalian semua." Seringaian lebar terlihat jelas di wajah ayu itu. tapi tampak menyeramkan. "Kalian harus membayar nyawa ayahandaku!."


"Diam kau! Ayahandamu lah yang duluan telah membunuh ayahandaku! Aku tidak akan pernah lupa dengan itu!." Putri Andhini Andita terbawa amarah.


Dalam situasi yang panas itu?. Tiba-tiba saja Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria merasakan sakit yang tidak biasa.


"Kegh!." prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria meringis sakit, sambil memegangi dada mereka yang terasa sesak.


"Apa yang terjadi padaku?." Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran keduanya.


"Sepertinya kalian berdua sangat sensitif sekali." Ia tersenyum kecil melihat itu.


"Ada apa Rayi prabu? Jaya satria? Mengapa kalian kesakitan seperti itu?." Raden Hadyan Hastanta merasa cemas.


"Jaya satria, ada apa? Katakan padaku kenapa kau kesakitan?" Begitu juga dengan Putri Andhini Andita yang mencemaskan Jaya Satria. "Apakah wanita gila itu melakukan sesuatu padamu?."


"Jaga ucapanmu!." Ratu Gempita Bhadrika sangat jengkel mendengarnya.


Tidak ada tanggapan keduanya karena sedang menahan sakit yang tidak biasa itu. Apa yang terjadi pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Jaya Satria?.


...***...

__ADS_1


__ADS_2