
...***...
Malam telah datang. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana saat ini sedang berada di taman istana sambil menatap bulan yang sedang bersinar dengan terangnya. Ia tersenyum kecil sambil melihat ke atas. Namun saat itu Putri Andhini Andita datang menyapa dirinya, meskipun memang ada kerinduan di dalam dirinya terhadap adiknya.
"Apakah kau masih suka melihat bulan dari sini rayi?." Putri Andhini Andita tidak menyangka akan melihat adiknya yang masih saja mengunjungi tempat ini ketika malam harinya?.
"Yunda. Ternyata benar, jika yunda telah kembali ke istana ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang melihat kakaknya telah kembali.
"Tentu saja aku telah kembali rayi prabu." Putri Andhini Andita juga tersenyum kecil, mengingat mereka yang bertemu di taman istana. Setiap malam, mungkin mereka akan di sini sebagai kakak dan adik?.
"Alhamdulillah hirabbli'alamin, jika yunda telah kembali. Karena ada banyak hal yang terjadi di saat yunda tidak ada di istana ini. Termasuk raden jatiya dewa yang berada di wilayah kerajaan ini." Jawabnya dengan senyuman ramah. Rasanya ada yang berbeda dengan penampilan kakaknya saat ini.
"Raden jatiya dewa?. Memangnya apa yang ia inginkan rayi?. Kenapa ia bisa belajar di wilayah ini?. Katakan padaku rayi prabu." Ada perasaan kesal, ketika ia mendengarkan nama Raden Jatiya Dewa. Seperti ada dendam yang belum ia sampaikan.
"Jika aku katakan pada yunda. Apakah yunda akan percaya begitu saja?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana bertanya pada kakaknya. Karena ia agak ragu jika ia mengatakan pada kakaknya.
"Memangnya itu berhubungan denganku, jika apa yang ia lakukan selama ini?. Bukankah dia juga sama seperti kita?. Seorang mualaf?." Putri Andhini Andita merasa heran. Apa yang sebenarnya yang diinginkan Raden Jatiya Dewa padanya?. Kenapa ia melakukan itu?. Dan apa hubungannya dengan dirinya?. Tentunya itu menjadi pertanyaan bagi Putri Andhini Andita. "Katakan saja. Aku akan mendengarkannya rayi." Putri Andhini Andita ingin segara mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh adiknya.
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit menghela nafasnya. Karena ia ragu, apakah kakaknya itu akan percaya atau tidak dengan ceritanya?. "Sebenarnya raden jatiya dewa sangat menyukai yunda. Selama ini ia belajar agama dengan baik demi mendapatkan hati, serta cinta dari yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana langsung pada apa yang terjadi?.
__ADS_1
"Rasanya tidak mungkin raden jatiya dewa mencintai aku." Ya, memang Putri Andhini Andita tidak percaya sama sekali. Bahkan ia sangat tidak percaya sama sekali. "Aku juga tidak bisa menerima cintanya begitu saja rayi prabu." Lanjutnya sambil memperhatikan beberapa bentuk putih yang lewat. Tapi ia berusaha untuk mengabaikannya.
"Kenapa yunda tidak bisa menerima cintanya?. Bahkan raden jatiya dewa rela menunggu kepulangan yunda dengan sabar selama ini." Prabu Asmalaraya Arya mengatakan apa yang dilakukan Raden Jatiya Dewa. "Apakah yunda tidak bisa melihat bagaimana usahanya untuk tetap yakin, bahwa yunda adalah wanita yang ia cintai?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit membocorkan apa dilakukan oleh Raden Jatiya Dewa selama ini.
"Maaf saja rayi. Tapi aku telah berjanji padanya. Bahwa aku akan menunggunya di kerajaan suka damai." Putri Andhini Andita sangat yakin dengan ucapannya.
"Jadi yunda telah memiliki seseorang yang yunda cintai?. Yunda telah memutuskan akan terbang ke arah mana?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak menyangka, jika kakaknya telah memiliki seseorang yang akan melamar dirinya.
"Ya. Aku dan dia telah bertemu di kerajaan restu agung. Meskipun awalnya aku tidak mau terlibat dalam masalah percintaan, namun ia terlihat sangat serius sekali. Sehingga aku mengatakan padanya bahwa aku akan menunggunya ke istana kerajaan suka damai." Putri Andhini Andita rasanya ingin menutup wajahnya karena menahan malu yang membuncah di dalam dirinya.
"Jadi begitu?. Apakah yunda telah yakin dengan apa yang yunda putuskan?. Lalu bagaimana dengan raden jatiya dewa?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit heran. Apakah perasaan Raden Jatiya Dewa hanya akan sia-sia saja?.
"Ya, memang benar apa yang yunda katakan. Raden jatiya dewa memang tidak mengatakannya pada yunda." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membenarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.
"Jika saja wanita diizinkan memiliki dua orang suami, mungkin aku menerima keduanya. Supaya aku tidak menakuti siapapun." Putri Andhini Andita malah cekikian dengan ucapannya sendiri. Begitu juga dengan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang mendengarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu. Sungguh, rasanya sangat aneh, dan tidak biasa untuk seorang wanita?. Apakah diperbolehkan seperti itu?. Mungkin saja memang tidak ada, dan itu hal yang sangat mustahil terjadi.
"Seorang wanita memiliki dua suami itu terdengar sangat aneh sekali yunda. Apa kata orang-orang nantinya, jika mengetahui putri andhini andita memiliki dua orang suami." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak bisa membayangkan, jika kakaknya itu melakukan hal yang paling menantang seperti itu nantinya. Semua orang akan heboh dibuatnya. Mungkin ada yang berdecak kagum, dan mungkin saja ada yang menghina kakaknya itu. Tetaplah berjalan pada jalurnya, jangan berjalan dengan ketetapan aneh yang dibuat sendiri. Nantinya hanya akan merugikan diri sendiri.
"Karena itulah aku telah menetapkan hatiku, maka aku akan memilih raden raksa Wardhana. Aku yakin raden jatiya dewa bukanlah orang yang akan mudah berputus asa, jika mengetahui aku akan menerima lamaran dari seseorang." Apakah ia sangat yakin jika Raden Jatiya Dewa sangat mudah berubah karena suasana. "Aku akan menjelaskan padanya dengan baik rayi. Jadi untuk saat ini aku harap rayi jangan katakan apapun pada raden jatiya dewa. Biar aku saja yang akan menjelaskan padanya." Putri Andhini Andita sepertinya telah menjadi wanita dewasa. Sehingga Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa kagum dengan perubahan yang dilakukan oleh kakaknya itu.
__ADS_1
"Baiklah, jika memang itu adalah keputusan yunda. Aku hanya berharap, jika yunda suatu hari nanti akan mendapatkan kebahagiaan yang yunda inginkan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana Sukawati mendoakan yang baik-baik untuk anaknya.
"Terima kasih rayi. Kau sangat baik sekali." Putri Andhini Andita tersenyum kecil menatap mereka semua yang hadir. "Terima kasih juga, karena kau telah memberikan aku pilihan yang menurutku itu sangat baik untukku." Putri Andhini Andita tersenyum kecil.
"Sama-sama yunda. Jika itu membuat yunda bahagia, aku juga akan bahagia. Karena kebahagiaan yunda adalah kebahagiaan ku juga. Sebagai seorang adik, mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan untuk yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana terharu dengan apa yang ia dengar dari kakaknya.
"Mungkin ia akan datang dalam waktu yang dekat ini. Karena sesuai dengan janji. Bahwa ia akan segera datang." Putri Andhini Andita terlihat sangat senang. Karena rencana yang ia lakukan sesuai dengan harapan.
"Jadi dalam waktu dekat ini ia akan datang untuk melamar yunda?." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tidak menyangka, jika kepulangan kakaknya untuk menunggu lamaran dari orang yang ia cintai?.
"Betul sekali rayi prabu. Aku harap kau menjadi saksi di hari bahagiaku nanti rayi. Karena kau adalah kepala keluarga istana yang harus bertanggungjawab atas kebahagiaan keluargamu bukan?." Senyuman sumringah terpampang jelas di wajahnya saat ini.
"Baiklah. Aku hanya berharap, jika yunda akan mendapatkan kebahagiaan yang yunda inginkan. Tentu saja aku akan melakukannya untuk yunda." Sebagai seroang adik, tentunya ia mengharapkan hal yang baik-baik saja.
"Terima kasih jika rayi memahaminya. Rasanya pengembaraan yang aku lakukan tidaklah sia-sia. Terima kasih rayi prabu." Putri Andhini Andita merasakan kebahagiaan luar biasa.
Namun apakah yang akan terjadi saat tibanya nanti?. Apakah ia akan menerima lamaran dari Raden Raksa Wardhana, atau dari Raden Jatiya Dewa?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya ya pembaca tercinta.
...***...
__ADS_1