
...***...
Mata Jaya Satria menatap lurus ke depan. Hawa itu semakin luas, dan ia melihat banyak sosok-sosok yang menjerit kesakitan. Air matanya semakin mengalir, mendengarkan jeritan itu. Tanpa sadar ia mengangkat kedua tangannya meminta permohonan kepada Allah SWT.
"Ya Allah. Engkaulah maha pengasih lagi maha penyayang. Ampunilah dosa kami. Dan dosa orang-orang terdahulu yang belum mengenal-Mu ya robb. Jangan hukum kami atas dosa-dosa yang telah kami lakukan. Ampuni kami ya Allah. Sesungguhnya kami hanyalah makhluk lemah yang memohon perlindungan dari-Mu ya Robb." Jaya Satria menangis terisak saat membacakan doa tersebut, membuat kakak beradik itu merasa heran. Akan tetapi, entah mengapa mereka dapat merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Jaya Satria.
"Raden, kita harus meninggalkan tempat ini untuk sementara waktu. Karena saya takut, mereka akan keluar dan kita akan mengalami kesulitan."
"Baiklah gusti prabu. Meskipun hamba merasa penasaran, tapi hamba harap gusti prabu dapat menjelaskan semuanya nanti pada pertemuan agung."
"Baiklah raden. Mari kita tinggalkan tempat ini."
Setelah itu mereka semua meninggalkan tempat itu, karena mereka tidak mau mengganggu orang-orang yang tersesat di sana menurut pandangan Jaya Satria. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
...***...
Di Istana Kerajaan Suka Damai.
Putri Agniasari Ariani dan Ratu Anindyaswari tidak sengaja melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang terlihat sedang bersedih. Tentunya menjadi tanda tanya bagi keduanya. Apalagi saat ini ia sedang duduk di pendopo istana seorang diri.
"Rayi prabu?." Putri Agniasari Ariani duduk di depan adiknya.
"Ada apa nak?. Apakah terjadi sesuatu pada nanda cakara casugraha nak?. Apa yang terjadi pada rakamu nak?." Ratu Dewi Anindyaswari terlihat sangat khawatir dengan keadaan anaknya.
"Maaf ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyeka air matanya. Dan ia menceritakan apa yang membuatnya bersedih seperti itu. "Cakara casugraha saat ini sedang mengatasi masalah yang ada di desa mata air dewa ibunda, yunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menghela nafasnya dengan pelan. "Di desa mata air dewa, sumber mata air dewa yang merupakan sumber bencana di sana. Banyak nyawa yang tak berdosa meninggal sia-sia karena persembahan yang mereka lakukan ibunda. Dan saat ini, jiwa-jiwa itu tersesat. Tidak bisa kembali pada sang pencipta, ataupun kembali ke alam manusia. Sehingga mereka merintih sakit ibunda, yunda."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Sungguh sangat mengerikan sekali nak."
__ADS_1
"Benar sekali rayi. Apakah tidak ada jalan keluar untuk mengatasi masalah itu?."
"Untuk saat ini cakara casugraha sedang berusaha untuk mencari jalan keluarnya ibunda. Doakan saja semoga bisa secepatnya mengatasi masalah itu."
Saat itu Ratu Agung Bahuwirya Ambarsari Bimantara datang bersama Raden Muhammad Yunus. Karena mereka tidak sengaja mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana.
"Maaf rayi prabu. Maaf jika kami bertanya, karena kami tidak sengaja mendengarnya."
"Tidak apa-apa yunda ratu. Silahkan duduk. Mungkin aku bisa minta saran, atau pendapat dari yunda ratu juga dari raden muhammad yunus." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mempersilahkan keduanya untuk ikut duduk bersama mereka.
"Memangnya apa yang terjadi gusti prabu. Sehingga gusti prabu terlihat serius sekali." Raden Muhammad Yunus penasaran bagaimana akar permasalahannya.
"Ini adalah masalah sesajen yang mereka lakukan raden. Sesajen yang membuat mereka tersesat terlalu jauh."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Itu harus segera dihentikan gusti prabu. Akan berbahaya jika diteruskan."
"Lalu bagaimana keadaan di sana sekarang rayi prabu?. Apakah bisa ditangani?."
"Benar rayi prabu. Apakah rayi cakara casugraha bisa mengatasi itu sendirian?."
"Apakah tidak ada yang bisa membantunya nak?. Apakah akan berbahaya jika mengatasi masalah itu sendirian nak?. Jangan membahayakan diri sendiri."
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil, meyakinkan kepada mereka semua, bahwa masalah yang dihadapi oleh Jaya Satria akan baik-baik saja. "Alhamdulillah, untuk saat ini masih aman. Ibunda, yunda. Jangan khawatir, karena cakara casugraha akan berhati-hati saat melakukannya."
"Ibunda hanya berharap rakamu tidak gegabah nak. Katakan pada rakamu agar tidak bertindak sendirian."
"Tentunya raka mendengarkan apa yang ibunda katakan. Nanda akan menyampaikannya dengan baik ibunda."
__ADS_1
Ratu Dewi Anindyaswari hanya tidak ingin anaknya mengalami hal yang buruk. Ia tidak ingin anaknya mengalami hal yang buruk lagi, hanya karena bersangkutan dengan hal yang gaib. Apakah seorang ibu tidak boleh meminta hal yang seperti itu ketika anaknya menyelesaikan masalah?.
...***...
Kembali ke Istana Kerajaan Buana Dewa. Saat ini mereka semua sedang menunggu kedatangan Jaya Satria yang sedang melaksanakan sholat Zuhur. Mereka semua ingin mendengarkan bagaimana kisah dari tempat Sumber Mata Air Dewa. Agak cukup lama mereka semua menunggu, hingga akhirnya Jaya Satria muncul.
"Maaf gusti prabu. Maafkan jika saya datang agak terlambat."
"Tidak apa-apa gusti prabu. Kami memakluminya. Tentunya menjadi kewajiban bagi gusti prabu untuk melaksanakan sholat."
"Terima kasih atas toleransi gusti prabu."
"Sama-sama." Prabu Lingga Dewa tersenyum kecil. "Apakah gusti prabu bisa menjelaskan pada kami semuanya?. Apa yang gusti prabu lihat di sana." Sepertinya Prabu Lingga Dewa ingin mengetahuinya dengan segara.
"Sebelum saya menjelaskan apa yang terjadi di sana. Saya mohon pada gusti prabu untuk tidak membantah, ataupun menghindar dari apa yang saya katakan. Katakan yang sejujurnya. Namun saya meminta waktu untuk melakukannya."
"Baiklah gusti prabu. Saya dan yang hadir di sini akan mendengarkan apa yang gusti prabu katakan pada kami semua."
"Terima kasih gusti prabu, juga hadirin yang hadir di ruangan ini." Jaya Satria merasa lega dengan apa yang ia dengar. "Namun sebelum itu saya akan menjawab pertanyaan raden jatiya dewa yang sebelumnya bertanya. Siapa kakek tua yang memberitahukan padanya waktu itu." Jaya Satria menatap ke arah Raden Jatiya Dewa. "Kakek tua itu adalah penjaga atau pemelihara iblis yang berada di sumber mata air dewa. Namun karena iblis-iblis yang ada di sana semakin kuat, saat mendengarkan sesajen yang diberikan oleh mereka semua. Kakek tua itu tidak dapat lagi menahan kekuatan yang ada di sana. Sehingga kakek tua itu meninggal."
"Jadi kakek tua itu meninggal karena menjaga tempat itu?. Kekuatan yang besar, sehingga membuat kakek itu meninggal?."
"Bisa jadi seperti itu. Karena iblis yang ada di sana menjadi sangat kuat. Setiap hari mendapatkan sesajen dari orang-orang yang haus akan kekuatan, akan harta, dan bahkan menginginkan tahta tertinggi. Sehingga mereka tersesat dan berakhir seperti pemuda waktu itu yang menjual dirinya pada iblis."
Mereka semua menyimak dengan baik, apa yang dikatakan oleh Jaya Satria. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1