
...***...
Ratu Dewi Anindyaswari merasa heran, mengapa mereka semua berada di sini?. Apa yang mereka lakukan?. Tapi ia melihat Raden Hadyan Hastanta sedang marah?. Tidak biasanya anaknya itu marah. Pasti ada yang membuat ia marah.
"Nanda memang baru sampai ibunda. Nanda datang bersama aki jarah setandan." Balasnya dengan perasaan cemas yang luar biasa.
"Terima kasih karena aki telah bersedia datang ke istana ini." Ratu Dewi Anindyaswari memberi hormat pada Aki Jarah Setandan.
"Hamba gusti ratu." Aki Jarah Setandan juga memberi hormat pada Ratu Dewi Anindyaswari.
"Tapi, mengapa para sepuh istana semuanya berkumpul di sini?. Apakah ada sesuatu?." Mata Ratu Dewi Anindyaswari juga melihat para sepuh istana, juga dewan istana yang berkumpul di sana. Apa yang mereka lakukan?. Sehingga mereka semua berkumpul di sini?.
"Mohon ampun gusti ratu, kami semua-."
"Mereka semua ingin menuntut rayi prabu ibunda." Dengan Cepat Raden Hadyan Hastanta menjawabnya. Perasaan sakit hati yang ia rasakan belum hilang juga.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Ratu Dewi Anindyaswari terkejut mendengarnya. "Mengapa para sepuh istana ingin menuntut putraku nanda Prabu?. Kesalahan apa yang dilakukan putraku?." Tentu saja menjadi pertanyaan bagi Ratu Dewi Anindyaswari.
"Maaf gusti ratu. Kami semua telah mengetahui, jika yang memegang tahta kerajaan selama ini adalah raga kedua dari raden cakara casugraha. Apakah ada masalah dengan raga aslinya?." Itulah alasan mengapa mereka ingin menuntut sang Prabu?.
"Entah itu raga kedua atau raga asli, keduanya tetaplah putraku raden cakara casugraha." Ratu Dewi Anindyaswari merasa sangat marah. "Apakah kalian tidak melihat?. Bagaimana putraku selama ini memimpin istana dengan dua sisi?. Dari dalam dan luar?." Rasnya Ratu Dewi Anindyaswari sangat geram mendengarkan apa yang mereka katakan. "Jika kalian ingin menuntut putraku, maka tunggulah sampai pertemuan besok. Apakah kalian tidak sadar ini sudah hampir malam?. Lancang sekali kalian ingin menuntut putraku setelah apa yang telah ia lakukan demi kerajaan ini?."
Mereka semua terdiam sejenak. Tidak pernah melihat Ratu Dewi Anindyaswari yang ramah, hari ini terlihat marah karena mereka semua ingin menuntut anaknya?.
"Baiklah gusti ratu. Kalau begitu kami pamit. Sampurasun."
"Rampes."
Mereka semua meninggalkan tempat tersebut, mereka tidak mau memperpanjang masalah saja.
"Keterlaluan sekali mereka ingin menuntut putraku yang selalu hampir saja sekarat karena membela istana ini." Hatinya masih sakit, dan tidak terima sama sekali.
"Ibunda. Bagaimana keadaan rayi Prabu?. Apakah rayi prabu baik-baik saja?." Raden Hadyan Hastanta hanya ingin memastikan keadaan adiknya baik-baik saja.
"Adikmu baik-baik saja nak. Alhamdulillah ada seseorang yang telah mengobatinya." Ratu Dewi Anindyaswari sangat gelisah, hingga menghela nafasnya dengan beratnya.
"Syukurlah kalau begitu ibunda." Raden Hadyan Hastanta sangat lega mendengarnya.
"Tapi dimana nanda prabu saat ini gusti ratu?. Apakah kami boleh menemuinya?." Aki Jarah Setandan penasaran bagaimana keadaan muridnya itu. Ia juga sangat merindukan Jaya Satria, atau lebih tepatnya Raden Cakara Casugraha.
__ADS_1
"Tentu saja boleh aki. Nanda prabu saat ini berada di biliknya. Mari saya antarkan."
Mereka menuju bilik Prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Aki Jarah Setandan dan Raden Hadyan Hastanta hanya ingin memastikan, keadaan Raden Cakara Casugraha baik-baik saja. Begitu tiba di bilik, mereka melihat Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedang sia-siap ingin melaksanakan sholat Magrib. Raden Hadyan Hastanta langsung memeluk adiknya, karena ia sangat bahagia melihat adiknya baik-baik saja.
"Rayi prabu."
"Raka?." Raden Cakara yang menggunakan raga aslinya terkejut karena pelukan Raden Hadyan Hastanta.
"Syukurlah kau baik-baik saja rayi prabu. Aku sangat takut ketika kau pingsan saat itu." Raden Hadyan Hastanta melepaskan pelukannya, memastikan bahwa adiknya baik-baik saja.
"Alhamdulillah hirobbil'alamin raka, aku baik-baik saja. Raka kemana?. Kenapa saat aku tidak ada." Raden Cakara Casugraha balik bertanya. Karena ia tidak melihat kakaknya ketika bangun.
"Gusti prabu." Rasa rindu yang membuncah, membuat Aki Jarah Setandan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk sayang Raden Cakara Casugraha.
"Guru?. Guru ada di sini?." Raden Cakara Casugraha membalas pelukan gurunya.
"Hamba dapat kabar dari raden hadyan hastanta. Bahwa gusti prabu sakit lagi. Rasanya hamba sangat sedih mendengar kabar itu gusti prabu." Ia melepaskan pelukannya. Menatap wajah Raden Cakara Casugraha yang mulai terlihat lebih segar dari yang sebelumnya.
"Maaf, jika kabar buruk yang datang pada guru. Maaf jika nanda telah membuat guru menangis." Raden Cakara Casugraha yakin, gurunya menangis sedih saat mendapatkan kabar tentang dirinya.
Ratu Dewi Anindyaswari juga ikut sedih, melihat itu. Ia mengetahui, jika Aki Jarah Setandan sangat menyayangi anaknya. Ia sangat bersyukur, jika anaknya bertemu dengan orang-orang yang baik.
"Baiklah kalau begitu gusti prabu. Jagalah kesehatan gusti prabu dengan baik, Jangan sampai sakit lagi."
"Insyaallah guru."
"Setidaknya kami merasa senang, melihat keadaanmu baik-baik saja rayi. Kami sangat khawatir dengan keadaanmu."
"Alhamdulillah untuk saat ini aku baik-baik saja raka. Maaf telah membuat raka melakukan perjalanan jauh."
"Aku melakukan ini semua hanya untukmu rayi prabu. Kita ini semua adalah keluarga. Kami sangat menyayangimu rayi. Entah itu kau dalam wujud jaya satria, ataupun prabu asmalaraya arya ardhana."
"Terima kasih banyak raka. Semoga saja kita selalu bersama dalam kebaikan."
"Aamiin ya Allah." Ratu Dewi Anindyaswari merasa bersyukur, jika Raden Hadyan Hastanta benar-benar sangat perhatian pada anaknya. Setelah itu mereka meninggalkan bilik itu, karena Prabu Asmalaraya Arya Ardhana atau Raden Cakara Casugraha hendak melaksanakan sholat magrib.
...***...
Sementara itu di bilik Putri Andhini Andita. Saat ini Ratu Gendhis Cendrawati sedang berbincang dengan anaknya.
__ADS_1
"Nanda jangan seperti nanda prabu, apalagi di depan kekasih adikmu. Itu sangat tidak baik nak."
"Maafkan nanda ibunda. Nanda hanya merasa kesal saja. Tiba-tiba rayi prabu memperkenalkan kekasihnya." Putri Andhini Andita memeluk ibundanya. Mencoba untuk tidak menangis, meskipun hatinya terasa sakit. "Dan bodohnya nanda malah mempertemukan mereka." Sakit hati yang ia rasakan semakin kuat, mengingat ketidaktahuannya saat itu. "Jika saja bukan demi rayi prabu, aku tidak akan membawa wanita itu ke istana ini."
"Kau harus kuat putriku. Takdir ada, untuk menguji seberapa kuatnya hati kita untuk mengatasinya." Dengan lembut ia mengusap rambut anaknya. "Takdir mencintai seseorang misalnya. Kita harus siap menerima dua kemungkinan saat mencintai seseorang nak."
"Apakah termasuk mencintai saudara sendiri?."
"Itu salah satunya. Takdir yang harus nanda pikul adalah, cakara casugraha adalah adik kandung nanda. Dan cinta pada saudara kandung sendiri itu jarang terjadi."
"Lalu apa yang harus nanda lakukan ibunda?. Apakah ini karena karma nanda terlalu membenci rayi cakara casugraha?."
"Nanda yang putuskan semua. Memutuskan mau ke arah mana. Coba tenangkan pikiran nanda, jangan sampai bertindak gegabah.*
"Akan nanda coba ibunda." Rasanya sangat sedih, memiliki perasaan sepihak. Apalagi pada saudara sendiri. Bisakah ia bertahan dalam perasaan yang ia miliki?.
...***...
Disisi lain. Pendekar tabib Cahaya Mutiara saat ini sedang melaksanakan sholat magrib di wisma tamu. Hatinya merasakan kegelisahan, karena apa yang ia lihat. Ia merasakan jika ada api cemburu pada saat itu.
"Ya Allah. Hamba serahkan semuanya padamu. Meskipun hamba telah berjanji, jika hamba dan jaya satria bertemu suatu hari nanti. Kami akan bersatu dalam ikatan yang baik. Hamba serahkan padamu ya Robb. Hamba tidak mau menjadi orang yang membuat orang lain merasa sakit hati pada hamba. Hamba hanya ingin menjalin tali persaudaraan, bukan permusuhan ya Allah." Dalam doanya, ia berharap akan ada kebaikan dalam pertemuan ini. Karena cukup lama juga mereka terpisah?. Meskipun saat itu memang ada perasaan, namun mereka tidak mau membuat janji. Cukup mereka serahkan janji itu pada Allah SWT. Jika memang jodoh, pasti tidak akan kemana.
...***...
Putri Agniasari Ariani menemui Raden Rajaswa Pranawa, karena ia mau memberitahu bahwa akan ada jamuan makan malam ini bersama keluarga besar.
"Maaf selalu merepotkan nimas."
"Tidak apa-apa. Lagi pula kita ini sudah tidak asing lagi kakang. Jangan sungkan kepadaku."
"Baiklah kalau begitu nimas. Aku hanya tidak enak saja pada yang lain."
Putri Agniasari Ariani hanya tertawa kecil. "Baiklah kalau begitu, mari kita menuju ruang jamuan keluarga. Kita makan malam bersama, untuk mendo'akan kesembuhan rayi prabu."
"Mari nimas."
Setelah itu mereka menuju ruang jamuan keluarga. Malam ini rasanya akan ramai, karena bukan hanya keluarga inti istana saja yang hadir, melainkan Syekh Asmawan Mulia, dan juga Aki Jarah Setandan. Semoga mereka selalu mendapatkan kebahagiaan. Termasuk Putri Andhini Andita yang sedang dikuasai perasaan cemburunya. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
Selamat menunaikan ibadah puasa. Jangan bosan menunggu, karena menunggu sambil zikir ada pahalanya. Hehehe kabuuuuuuur.
__ADS_1
...***...