
...***...
Deg!.
Raden Hadyan Hastanta sebenarnya merasakan perasaan yang tidak enak, hanya saja ia tetap berusaha bersikap tegar, ia tidak ingin membuat mereka semakin cemas, dan malah memutuskan untuk kembali ke istana.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa aku merasakan jika pedang panggilan jiwa yang ada di dalam tubuhku malah bergetar dengan sangat kuat?." Dalam hatinya merasakan kegelisahan yang tidak biasa.
Deg!.
Saat itu kesadarannya seakan-akan ditarik paksa oleh pedang panggilan jiwa pedang Serat Raga Dewa Langit.
"Maafkan hamba Raden, hamba tidak bisa menahan getaran ini." Ucapnya dengan perasaan bersalah.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa getaran pedang panggilan jiwa sangat tidak enak seperti ini?."
"Itu karena pedang panggilan jiwa lainnya merasa sangat terusik, apa lagi kegelapan yang dihadapi oleh Gusti Prabu asmalaraya arya ardhana sangatlah kuat."
"Lantas apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa meninggalkan ibunda begitu saja."
"Tetaplah tenang Raden, jangan sampai kehilangan kendali."
"Itu tidak semudah yang dibayangkan."
Deg!.
Raden Hadyan Hastanta kembali, ia sedikit terkejut setelah berkomunikasi dengan pedang panggilan jiwa Pedang Serat Raga Dewa Langit.
"Untuk saat ini yang bisa aku lakukan hanyalah memastikan ibunda berada di tempat yang aman." Dalam hatinya merasakan kegelisahan yang sangat luar biasa. "Aku harap kau bisa bertahan hingga kami sampai, rayi Prabu? Jaya satria? Aku mohon pada kalian agar tetap bertahan." Dalam hatinya hanya berharap seperti itu.
...***...
Istana Kerajaan Suka Damai.
"Aku tidak tahu apa tujuanmu memperlihatkan wajah aslimu padaku? Tapi rasanya itu tidak berguna sama sekali bagiku, karena kau akan mati ditanganku!." Ratu Gempita Bhadrika menepis keterkejutannya dengan apa yang ia lihat.
"Hanya sedikit menyapa saja, agar kau tidak mati penasaran dengan wajahku sebelum kematian mu." Balasnya degan senyuman ramah. Namun menyakitkan bagi Ratu Gempita Bhadrika.
"Kurang ajar sekali mulutmu itu! Kau lah yang akan mati di tanganku!." Emosinya begitu memuncak, tidak terima dengan ucapan itu.
"Tidak usah banyak bicara! Kita buktikan saja, jurus serap jiwa kegelapan siapa yang akan menang?." Jaya Satria telah siap-siap dengan pedang pelebur sukma ditangannya.
Setelah itu ia menyerang Ratu Gempita Bhadrika, ia tidak akan memberi peluang pada musuhnya. Ia tidak mau berlama-lama untuk meladani orang yang telah menebarkan kegelapan di kerajaan Suka Damai.
Sementara itu.
"Tujuanku bergabung dengan bangsa jin? Tentunya hanya untuk membalaskan sakit hatiku pada kembaranmu itu!." Renjana Kala sudah siap dengan cambuk api ditangannya. Dendam yang ia tahan selama bertahun-tahun ia simpan, dan hari ini akan ia lampiaskan semuanya hari ini.
"Baik dia atau aku? Itu sama saja." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. "Aku yang ini tidak akan mengampuni mu! Karena kau telah terlibat dalam penyerangan ini!."
"Hahaha!." Renjana Kala malah tertawa keras mendengarkan ucapan itu. Ia merasa lucu mendengarnya, hingga ia tidak dapat menahan tawanya. "Apakah kau mencoba untuk mengancamku? Bedebah!." Renjana Kala benar-benar kesal.
Menyerang Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan menggunakan cambuk api itu. Ia lecutkan cambuk api itu ke arah musuhnya, sayangnya sang prabu berhasil menghindari serangan itu dengan melompat ke arah yang berlawanan dengan datangnya cambuk itu.
"Apakah kau hanya bisa melompat seperti kawanan kera ketika mendapatkan serangan? Lawan aku! Jangan hanya bisa bermulut besar saja!." Renjana Kala mencoba terus menyerang, dan menyerang sang prabu, tapi sang prabu tidak menangkis serangannya. Melainkan hanya menghindari serangannya tanpa membalasnya.
Namun siapa sangka Prabu Asmalaraya Arya Ardhana malah menyerang Renjana Kala dengan menahan cambuknya itu menggunakan pedang pelebur Sukma. Cambuk itu terlilit kuat di Pedang itu, hingga tidak bisa lagi mengayunkan cambuknya.
"Kegh!." Renjana Kala sangat kesal.
"Kebetulan sekali, pedang pelebur sukma ini sudah lama tidak menyerap hawa kegelapan yang dimiliki oleh seseorang." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyalurkan tenaga dalamnya ke pedang Pelebur Sukma. "Sepertinya kau orang yang cocok untuk dijadikan percobaan pertama semenjak aku memegang pedang ini." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menyeringai lebar. Pemandangan itu sungguh bukan pribadi sang prabu yang sebelumnya, hingga ia kini terlihat berbeda.
"Kegh!." Renjana Kala merasa kesal, ia tarik kuat cambuknya dengan tambahan tenaga dalam yang ia salurkan ke cambuk itu, hingga cambuk itu terlepas dari lilitan pedang pelebur sukma. "Kurang ajar! Aku merasakan ada sebuah tarikan yang sangat keras tadinya." Dalam hatinya merasakan ada sebuah tenaga dalam yang menyerangnya?.
Karena tenaga dalam itu, pedang Pelebur Sukma hampir saja lepas dari tangan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, jika tidak menarik kuat gagang pedang itu, dan mundur beberapa langkah karena merasakan aliran tenaga dalam yang seakan sedang menyerangnya secara gaib. "Cukup tangguh juga dia." Dalam hati sang Prabu merasakan ada kekuatan aneh.
Renjana kembali melepaskan lecutan cambuk apinya, ia tidak memberikan kesempatan pada Prabu Asmalaraya Arya Ardhana untuk menghindari serangannya, terlihat dari sorot matanya yang penuh ambisi ingin membunuh musuhnya.
__ADS_1
Jaya Satria dan Ratu Gempita Bhadrika juga sedang bertarung dengan kekuatan yang sangat dahsyat, keduanya bertarung dengan habis-habisan.
"Heh! Ternyata kau masih kuat seperti sebelumnya." Ratu Gempita Bhadrika terus menyerang, dengan menggunakan kekuatan fisik dan tenaga dalamnya. Bahkan sesekali menggunakan hawa kegelapan yang ia miliki untuk melumpuhkan gerakan Jaya Satria.
"Sayang sekali, aku tidak suka mendapatkan pujian dari orang seperti kau!." Jaya Satria dengan pedang Pelebur Sukma seakan-akan memakan semua hawa kegelapan yang datang padanya.
"Kurang ajar! Kau memang tidak bisa aku biarkan begitu saja!." Kemarahannya telah memuncak, ia tidak terima dengan ucapan itu, apa lagi serangannya sama sekali tidak berpengaruh pada musuhnya.
"Justru aku yang tidak akan mengampuni kau! Karena kau masih saja berbuat keonaran di wilayah kerajaan suka damai!." Jaya Satria juga terlihat marah. "Rasanya aku sudah bosan berhadapan dengan orang macam kau!." Jaya Satria membalikkan keadaan, ia terus menyerang Ratu Gempita Bhadrika dengan sangat cepat.
"Kegh!." Ratu Gempita Bhadrika sedikit kewalahan berhadapan dengan Jaya Satria, ayunan pedang Pelebur Sukma terasa berat baginya.
Sedangkan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana dan Renjana Kala.
"Aku tidak mungkin terus menghindar, aku juga harus menyerangnya." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memikirkan cara agar menghentikan serangan yang terus datang padanya. Sang prabu mempercepat langkahnya, ringan seperti kapas, menyerang Renjana Kala dengan gerakan yang sangat cepat.
"Kurang ajar! Jurus apa yang ia gunakan sehingga aku tidak bisa melihat gerakannya yang cepat itu?." Renjana Kala menghentikan langkahnya, karena matanya sama sekali tidak dapat menangkap gerakan itu. Ia sangat kesal karena tidak bisa menyerang sang prabu.
"Kau tidak perlu mengetahui jurus apa yang aku gunakan." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba mencari celah untuk menyerang Renjana Kala.
"Sial! Aku tidak menduga ia memiliki jurus licik seperti ini?." Dalam hatinya sangat kesal dengan apa yang telah terjadi. "Aku harus fokus." Dalam hatinya tetap waspada. Matanya dengan sangat liar mencoba mencari sosok keberadaan musuhnya. "Kurang ajar! Dengan mata biasa aku tidak bisa mengetahui posisinya, aku bisa terkena serangannya jika seperti ini! Sial!." Dalam hatinya mengumpat kesal.
"Kau lengah!." Terdengar suara Prabu Asmalaraya Arya Ardhana, namun wujudnya memang sama sekali tidak bisa dilihat, namun yang dirasakan oleh Renjana Kala adalah, tubuhnya terasa seperti ditotok oleh seseorang, hingga tubuhnya hampir terjerembab ke depan beberapa langkah.
"Kegh!." Ia meringis sakit karena ia seperti mati rasa, namun ia mencoba tetap tenang dengan menyalurkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya agar tidak mendapatkan luka yang fatal nantinya.
"Heh! Boleh juga kau melakukan pertahanan diri." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sedikit terkesan, namun tidak menghentikan niat sang Prabu untuk terus menyerang musuhnya.
"Benar-benar kurang ajar! Ternyata dia memang hebat!." Umpatnya dalam hati. "Aku tidak akan kalah begitu saja, akan aku balas perbuatannya!." Rasa sakit hati mulai menyeruak di dalam tubuhnya. Amarah yang semakin menumpuk di dalam dirinya, semakin menjadi-jadi.
"Bayangkan saja aku bisa menotokmu dalam keadaan seperti tadi? Setelah itu aku tancapkan pedang pelebur sukma ini ke dadamu? Kau akan mati karena hawa jiwa kegelapan yang kau miliki disedot habis oleh pedang ini." Ucap Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang entah dimana ia sekarang.
Renjana Kala sama sekali tidak bisa melihat keberadaan musuhnya, disekitarnya hanyalah hawa angin yang berubah. "Keluar lah! Tidak usah bermain-main pengecut seperti itu! Kegh!." Sesekali ia merintih karena tubuhnya merasakan sakit.
"Tapi rasanya itu terlalu mudah untuk membunuhmu sama seperti waktu itu? Sangat menyedihkan sekali kau datang padaku? Tetapi hanya untuk mengantar nyawamu padaku."
...****...
Di dalam perjalanan menuju tempat yang aman.
Ratu Dewi Anindyaswari selalu melihat ke arah belakang, melihat ke arah istana kerajaan Suka Damai.
"Ya Allah, hamba mohon selamatkan kedua putra hamba." Dalam hatinya sangat cemas, tidak bisa tenang sama sekali. "Hamba mohon ya Allah." Dalam hatinya terus berdo'a.
"Ibunda? Nanda mohon agar kita segera menuju tempat pengungsian untuk sementara waktu, percayalah jika rayi Prabu akan baik-baik saja." Raden Hadyan Hastanta juga terlihat sangat cemas.
"Baiklah putraku, maafkan ibunda." Ratu Dewi Anindyaswari tidak membantah.
"Aku juga sangat mencemaskan keadaan mereka, setelah ini aku bersumpah akan segera menyusul ke sana." Dalam hati Putri Andhini Andita tidak sabar. "Aku tidak akan membiarkan siapapun juga menyakiti rayi cakara casugraha, menyakiti jaya satria." Dalam hatinya saat itu sedang diisi oleh gejolak yang sangat luar biasa.
Deg!.
Hingga tanpa sadar membuat pedang panggilan jiwa pedang Pembangkit Raga Sukma Dewi Suarabumi bergetar.
Di bawah alam bawah sadar pedang panggilan jiwa pedang Pembangkit Raga Sukma Dewi Suarabumi. Ada gejolak aneh yang menyelimuti pedang itu, hanya saja ia belum bisa berkomunikasi dengan Putri Andhini Andita karena kekuatan tenaga dalamnya belum cukup.
"Gejolak asmara ini, gejolak yang sudah sangat lama tidak aku rasakan." Dalam hatinya dapat menangkap apa yang dirasakan Putri Andhini Andita. "Keinginan dan hasrat cinta itu telah bercampur menjadi ambisi ingin memiliki hal yang tidak seharusnya." Dalam hatinya kembali merasakan kesedihan di masa lalu. "Hanya perasaan cinta yang berlebihan ini yang aku rasakan.
Gejolak cinta dan ingin memiliki, itulah yang dirasakan oleh sukma Dewi Suarabumi yang bersemayam di dalam pedang panggilan jiwa itu.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mencegah itu terjadi? Apakah akan terulang kembali kisah kelam itu?." Ratapan suara hatinya sangat dalam jika ia ingat bagaimana tragisnya kisah seorang putri Raja yang mencintai seseorang yang tidak boleh ada dalam satu lingkungan istana.
Apakah yang terjadi sebenarnya di dalam pergolakan yang dirasakan pedang panggilan jiwa pedang Pembangkit Raga Sukma Dewi Suarabumi?. Simak dengan baik kisahnya.
...***...
Kembali ke istana.
__ADS_1
Prabu Asmalaraya Arya Ardhana masih berhadapan dengan Renjana Kala yang masih memiliki ambisi untuk mengalahkan musuhnya.
"Aku datang padamu justru karena aku ingin menghabisi mu! Bukannya mengantar nyawa padamu bedebah busuk seperti kau!." Suaranya semain terdengar keras karena menahan emosi yang membuncah di dalam tubuhnya.
Setelah ia berhasil memusatkan pikirannya, ia arahkan satu cambukan keras ke suatu tempat, dan benar saja. Cambukan itu mengenai sosok yang tak kasat mata, ada sosok seperti angin yang terhempas ke arah depannya.
"Keghakgh!." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana berteriak kesakitan karena lengan kirinya terkena cambukan keras itu. Lengan kirinya terluka karena cambukan itu, hingga mengalirkan darah segar karena luka dari cambukan itu. Pakaian di bagian lengan kirinya robek saking kuatnya lecutan cambuk yang mengenai tubuhnya.
Deg!.
Ratu Dewi Anindyaswari menghentikan langkahnya, hatinya semakin bergetar takut. "Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Dalam hatinya merasakan ada sesuatu yang tidak enak. "Kenapa perasaanku semakin tidak enak, apa yang telah terjadi pada putraku? Kenapa sekilas aku dapat melihat anakku mendapatkan serangan yang menyakitkan?." Dalam hatinya merasakan kegelisahan yang tidak ada henti-hentinya.
"Ada apa ibunda? Apakah ibunda merasa lelah?." Raden Hadyan Hastanta sedikit bingung.
"Tidak, tidak apa-apa putraku, maafkan ibunda." Hanya seperti itu saja balasannya, untuk menutupi perasaan cemasnya.
"Kalau begitu mari kita lanjutkan ibunda."
"Ya." Ratu Dewi Anindyaswari hanya menurut saja. "Hamba mohon ya Allah, selamatkan kedua putra hamba dari marabahaya yang akan menyakiti mereka." Dalam hatinya semakin cemas dengan kilasan serta perasaan hatinya yang semakin bergemuruh memikirkan keselamatan kedua anaknya.
...***...
Deg!.
Putri Agniasari Ariani kembali terbangun dari tidurnya, perasaannya semakin cemas, tidak bisa tenang sama sekali.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Dalam hatinya semakin dirundung kecemasan yang tidak biasa. "Rayi cakara casugraha? Apakah terjadi sesuatu padamu rayi? Kenapa perasaanku tidak tenang sama sekali?."
"Tenanglah Gusti Putri, jangan sampai kehilangan ketenangan."
"Bagaimana mungkin hamba bisa tenang? Gejolak pedang panggilan jiwa semakin besar, ada hawa kegelapan yang menekan kekuatan yang ada di dalam sukma pedang panggilan jiwa pedang sukma naga pembelah bumi." Perasaannya semakin gelisah. "Kegelapan itu menekan panggilan jiwa kami."
"Saat ini kita sangat jauh dari kerajaan suka damai, akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk kembali." Pedang panggilan jiwa pedang Warna Kehidupan dapat merasakan kegelisahan itu.
"Ya Allah, hamba mohon selamatkan rayi cakara casugraha dari ancaman marabahaya." Hanya itu saja harapannya.
...***...
Istana Kerajaan Suka Damai.
"Kena juga kau akhirnya! Heh! Berani sekali kau merendahkan kemampuanku! Hahaha!." Renjana Kala tertawa penuh dengan kemenangan karena berhasil menyerang sang prabu dengan cambuk api yang telah ia lambari tenaga dalam milikinya, sehingga cambuk itu benar-benar melukai tubuh sang prabu. Bukan hanya bagian luarnya saja, melainkan bagian dalam tubuh sang prabu.
Di satu sisi, Jaya Satria yang tadinya sedang fokus berhadapan dengan Ratu Gempita Bhadrika tiba-tiba berteriak keras, sambil memegangi legan kirinya?. Tentunya pemandangan itu membuat Ratu Gempita Bhadrika bertanya-tanya apa yang menyebabkan Jaya Satria berteriak kesakitan padahal pertarungan mereka seimbang?. Matanya melihat dengan jelas ada luka bekas cambukan di lengan kiri Jaya Satria, juga lelehan darah yang membasahi lengan baju hitamnya.
"Ini sangat aneh? Kenapa ia tiba-tiba mendapatkan luka itu? Dari mana ia mendapatkan luka itu?." Ratu Gempita Bhadrika merasa bingung. Matanya beralih pada Renjana Kala yang sedang memegang cambuk api.
"Kegh!." Jaya Satria meringis sakit sambil mencengkram kuat lengan kirinya.
"Tapi bagaimana mungkin renjana kala bisa menyerang jaya satria? Sementara dia sendiri sedang bertarung melawan Raja busuk itu?." Matanya fokus menatap ke arah Prabu Asmalaraya Arya Ardhana yang juga sedang meringis kesakitan?.
Deg!.
Saat itu ia seakan-akan dapat mengambil sebuah kesimpulan yang sangat menarik untuk mengalahkan musuhnya.
"Tunggu dulu!." Keningnya berkerut sangat dalam, ia melihat luka yang sama dengan apa yang dialami jaya satria?. "Apakah ini hanya kebetulan atau apa? Tapi aku harus mencobanya." Ia tersenyum lebar ketika membayangkan apa yang akan ia lakukan pada musuhnya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba untuk tenang. "Aku tidak boleh gegabah." Dalam hatinya hampir saja lepas kendali setelah menerima luka itu.
"Renjana kala!." Ratu Gempita Bhadrika memanggil pemuda yang datang bersama dengannya itu.
"Hamba Gusti Ratu?." Renjana Kala menghentikan tawanya karena junjungannya memanggil namanya, dan ia melihat ke arah Ratu Gempita Bhadrika yang sedang terlihat kebingungan.
"Renjana kala, apakah kau yang menyerang Raja busuk itu?." Ratu Gempita Bhadrika hanya ingin memastikan jika apa yang ia pikirkan itu benar. "Katakan padaku!."
"Hahaha!." Renjana Kala malah tertawa terbahak-bahak. ia belum menjawab pertanyaan dari Ratu Gempita Bhadrika.
Ada sebuah kebanggaan yang ia rasakan saat itu?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Next.
__ADS_1
...***...