RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
SANGAT MENGEJUTKAN


__ADS_3

Di Istana kerajaan Suka Damai.


Di ruangan pribadi Raja. Raden Hadyan Hastanta nampak gelisah.


"Apa yang membuat raka gelisah?. Apakah itu ada hubungannya dengan kepulangan nyai bestari dhatu ke istana angin selatan.?" Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil.


"Maafkan aku rayi prabu. Maaf jika perasaan yang aku rasakan-,"


"Tidak apa-apa raka. Jika memang raka serius pada nyai bestari mengapa tidak raka katakan langsung padanya?."


Raden Hadyan Hastanta terdiam sejenak, rasanya ia tidak enak hati pada adiknya.


"Raka tenang saja. Aku dan nyai bestari dhatu tidak memiliki perasaan apapun."


Raden Hadyan Hastanta tidak tahu harus berkata apa disaat seperti ini. Ia sangat kebingungan dengan perasaannya yang bergemuruh.


"Raka. Aku tahu raka menyukai nyai bestari dhatu. Saat pertama kali raka melihat kedekatanku dengan nyai bestari dhatu. bagaimana cara raka memandanginya."


"Memang aku menyukainya rayi. Tapi aku yakin kau menyukainya juga. Aku tidak mau merebut kekasih adikku." Ya. Bagaimanapun juga, ia sudah berjanji bahwa dirinya tidak akan menyakiti perasaan adiknya itu, termasuk masalah percintaan. Namun apa yang terjadi?. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana malah tertawa?.


"Aku sedang serius rayi!. Kenapa malah tertawa?. Apakah ada yang lucu dengan ucapanku?." Raden Hadyan Hastanta sedikit marah, bingung, dan heran mengapa adiknya malah tertawa?.


"Maafkan aku raka. Ternyata benar yang dikatakan oleh jaya satria bahwa raka menyimpan perasaan pada nyai bestari dhatu. Malah kami berharap tidak ada pertumpahan darah di istana ini karena kecemburan raka yang berkobar padaku ataupun pada jaya satria." Ia masih tertawa geli melihat tanggapan kakaknya itu.


"Jadi rayi mengetahui perasaanku pada nyai bestari dhatu?." Ia sedikit gugup. Bagaimana mungkin adiknya mengetahui perasaan yang ia simpan?.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil. "Raka. Memang dulu nyai bestari dhatu pernah mengatakan perasaannya padaku. Namun bukan bermaksudku untuk menolak perasaanya pada saat itu." Ia menceritakan sedikit apa yang ia lalui pada saat itu.


"Nyai bestari dhatu mengatakan alasannya menyepi di pantai selatan karena kekecewaannya pada kekasihnya yang telah mengkhianati cintanya."


Raden Hadyan Hastanta menyimak apa yang dikatakan oleh adiknya mengenai Nyai Bestari Dhatu. "Aku mengatakan pada nyai bestari dhatu. Bahwa aku tidak bisa menerima dirinya jika yang ia lihat pada diriku hanyalah sebagai pengganti kekasihnya. Aku juga tidak bisa memberikan harapan padanya. Karena itulah aku mengatakan padanya bahwa aku ingin mengembara, mengikuti kemana kakiku melangkah." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengatakan apa yang terjadi pada saat itu.


"Lalu bagaimana setelah itu?. Rayi prabu meninggalkan nyai bestari dhatu begitu saja?." Keningnya tampak berkerut karena penasaran yang menyelimuti dirinya.


"Aku dan nyai bestari dhatu telah berjanji akan menjamin hubungan sebagai kakak dan adik jika pertemuan berikutnya. Karena aku percaya bahwa ada laki-laki yang lebih bisa membahagiakan hidupnya dibandingkan aku yang memiliki sikap tidak karuan, seorang pemberontak." Jawabnya sambil mengingat bagaimana dirinya kala itu.

__ADS_1


Raden Hadyan Hastanta masih terdiam, ia tidak menanggapinya.


"Jika memang raka serius dengan perasaan raka. Maka katakan dengan jelas pada nyai bestari dhatu. Aku kira umur raka sudah pantas untuk menikah."


Ucapan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana membuat kedua pipi Raden Hadyan Hastanta memerah semu karena malu.


"Aku tidak akan mengatakan perasaan nyai Bestari Dhatu bagaimana pada raka. Namun yang pasti, aku akan menghukum Raka jika raka berani menyakiti hatinya." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana menatap tajam Raden Hadyan Hastanta.


"Jangan mengancamku seperti itu rayi prabu. Rasanya kau seperti seorang ayah yang sedang melindungi anaknya." Keringat dingin membasahi tubuhnya. Ancaman yang diberikan adiknya terdengar mengerikan.


"Anggap saja seperti itu raka. Karena raka harus mempersiapkan diri. Maaf jika aku berbuat tanpa sepengetahuan raka sebelumnya."


"Apa maksud rayi?. Persiapan apa?."


"Jika memang raka serius mencintai nyai bestari dhatu. Mengapa raka tidak mempersuntingnya?. Dari pada menjadi kekasih, bisa jadi nanti nyai bestari dhatu dimiliki oleh laki-laki lain." Ucap prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Jadi persiapan apa yang rayi maksudkan?." Raden Hadyan Hastanta sungguh tidak mengerti.


"Alasan kepergian jaya satria ke kerajaan angin selatan bukan hanya untuk mengantar nyai bestari dhatu. Melainkan untuk mengabari bahwa raka akan mempersunting nyai bestari dhatu."


"Tentu saja ini demi kebahagiaan raka. Aku akan melakukan apapun demi kebahagiaan keluarga besar kita." Jawabnya dengan senyuman kecil.


"Lalu bagaimana dengan perasaan nyai bestari dhatu padaku rayi prabu?. Apakah dia menerima diriku ini?." Tiba-tiba saja perasaannya menjadi berdebar-debar.


"Aku sudah menjelaskan semuanya pada nyai bestari dhatu. Dia juga memiliki perasaan yang sama pada raka. Anggap saja aku dan jaya satria adalah perantara raka dan nyai bestari dhatu." Jawabnya.


"Tapi bagaimana aku mengatakan padanya bahwa aku memang mencintainya rayi prabu?. Sedangkan ia sudah kembali ke istana angin selatan?."


"Aku sudah mengatakan pada raka. Jika memang raka serius memiliki perasaan pada nyai bestari dhatu. Sebaiknya raka menyuntingnya dari pada hanya membuang-buang waktu hanya menggombal bodol tidak karuan. Lebih baik menjadikannya istri."


Raden Hadyan Hastanta menghela nafasnya. Rasanya sangat gugup.


"Jika raka tidak siap menjadikan nyai bestari dhatu, maka aku akan mengatakan pada jaya satria untuk tidak mengatakan tujuannya datang ke istana kerajaan angin selatan untuk apa-."


"Aku siap rayi prabu. Tentu saja aku siap. Jika memang nyai bestari dhatu juga memiliki perasaan yang sama denganku. Maka aku akan siap menyuntingnya ke istana angin selatan." Raden Hadyan Hastanta segera mengatakan apa yang ada dihatinya.

__ADS_1


"Dimasa lalu nyai bestari dhatu pernah mengalami kegagalan dalam percintaan. Aku harap raka tidak akan membuatnya kecewa. Dengan menjadikannya istri, aku harap raka mampu menjaganya baik lahir maupun batin. Aku tidak akan mengampuni raka jika berani menyakitinya." Sepertinya itu ancaman yang tidak main-main diberikan oleh Prabu Asmalaraya Arya Ardhana pada kakaknya Raden Hadyan Hastanta.


Rasanya ia harus menelan bulat pil ancaman itu. "Tentu saja akan menjaganya dengan serius segenap hatiku rayi prabu. Kau tidak usah khawatir. Bagiku, nyai bestari dhatu adalah wanita pertama dan terakhir dalam hidupku." Sorot mata itu memang menunjukkan keseriusan.


"Kalau begitu sampaikan pada ibunda gendhis cendrawati kabar bahagia ini. Aku yakin ibunda gendhis cendrawati pasti menyetujui apa yang akan raka lakukan."


"Terima kasih rayi prabu. Sungguh aku tidak menyangka itu tujuan jaya satria mengantar nyai bestari dhatu ke istana kerajaan angin selatan." Ya. Ia akui memang sangat mengejutkan baginya.


"Maafkan aku raka. Karena tidak membicarakannya denganmu terlebih dahulu."


"Tidak apa-apa rayi prabu. Aku justru sangat berterima kasih padamu. Karena perasaanku benar-benar sampai padanya." Raden Hadyan Hastanta tidak percaya jika adiknya ini memang membuatnya hampir jantungan dengan rencana mendadak yang telah disiapkan oleh adiknya.


"Kalau begitu raka bersiap-siaplah. Karena dua atau tiga hari lagi akan ada kabar yang baik untuk raka dari jaya satria nantinya."


"Oh, rasanya jantungku benar-benar hampir terbang dari tempatnya." Dengan bahasanya yang berlebihan ia mengungkapkan keterkejutannya saat ini.


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana hanya tersenyum kecil, memaklumi apa yang dirasakan oleh kakaknya.


Sementara itu. Jaya Satria yang sedang diperjalanan mengantar Nyai Bestari Dhatu menuju Istana Angin Selatan.


"Apa yang membuatmu tertawa raden?. Apakah ada sesuatu yang menarik engkau simak dari pembicaraan gusti prabu dan raden hadyan hastanta?." Nyai Bestari Dhatu penasaran.


"Maaf nyai. Sepertinya memang benar apa yang dikatakan gusti prabu. Dari pada menunggu raden hadyan hastanta menyatakan perasaannya pada nyai, lebih baik langsung saja menyunting nyai." Jawabnya sambil menahan tawanya.


"Lalu apa yang dikatakan oleh raden hadyan hastanta?." Nyai Bestari Dhatu ingin mengetahuinya.


"Tidak perlu terburu-buru nyai. Jika saya mengatakan apa tujuanku datang ke istana kerajaan angin selatan, maka nyai harus siap menerima apapun itu."


Benar-benar membuat nyai Bestari Dhatu jadi penasaran.


"Semoga saja aku mendapatkan kabar yang baik." Dalam hatinya sangat berharap.


Namun ketika mereka hampir memasuki Desa Damai Senja. Tiba-tiba saja ada seseorang yang mencegat perjalanan mereka.


Siapakah orang itu?. Temukan jawabannya. Jangan lupa tinggalkan jejak. Jadilah pembaca yang baik. Dukungannya sangat bermanfaat untuk menyemangati author agar terus melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


Terima kasih banyak pembaca tercinta.


__ADS_2