
...***...
"Tapi tunggu dulu." Ratu penguasa kerajaan gaib teluk Mutiara akhirnya bersuara. "Dari tadi kau menyebutkan nama prabu asmalaraya-. Ah namanya sulit untuk aku sebut." Ada rasa benci dari dirinya, karena ia tidak bisa menyebut nama itu dengan baik.
"Maksud gusti ratu, prabu asmalaraya arya ardhana?."
"Ya, nama kau sebut berkali-kali. Memangnya siapa dia?."
"Mohon ampun gusti ratu. Orang yang berdiri dihadapan gusti ratu saat ini. Beliau adalah gusti prabu asmalaraya arya ardhana."
"Benarkah?. Itu artinya kau seorang raja?." Ada keraguan dari anda bicaranya.
"Benar gusti ratu. Hanya gusti prabu asmalaraya arya ardhana. Satu-satunya yang bertahan dengan kutukan yang hamba bawa."
"Apa maksudmu?. Jelaskan padaku." Ia bertanya karena tidak mengetahuinya. "Memang, dari cerita yang aku simak tadi. Kau mengatakan, jika banyak yang mati sia-sia karena tidak dapat menahan diri mereka. Lalu mengapa raja muda ini bisa bertahan?." Tentunya ia ingin mengetahuinya.
"Baik gusti ratu. Jika gusti ratu ingin mengetahuinya. Hamba akan menceritakannya." Dengan patuhnya, Tombak pusaka Kelana Jaya mengikuti apa yang perintahkan padanya.
Jaya Satria juga menyimak cerita itu, ia juga ingin mengetahuinya. Karena itulah, ia hanya diam menyimak cerita itu dengan baik.
"Saat itu, benda pusaka lainnya yang lepas kendali dari tubuh pendekar itu. Kami semua menjadi liar, ingin menyerang siapa saja. Namun saat kami mendengarkan suara adzan yang merdua. Kami semua menjadi tenang, dan merasakan kedamaian." Hatinya sangat damai, ketika mendengarkan suara adzan itu.
"Dalam kedamaian yang kami rasakan, kami semua memutuskan untuk masuk ke dalam tubuh prabu asmalaraya arya ardhana. Kami benar-benar damai berada di dalam tubuhnya." Jika ia manusia, maka akan terlihat rona kebahagiaan diwajahnya. Sayangnya ia hanyalah benda mati yang berisikan roh. Hingga ia hanya mengungkapkan dalam bentuk suara yang sangat semangat luar biasa.
__ADS_1
"Tapi mengapa, kau mengusik mimpi masa lalu kami?. Jika kau memang merasakan kedamaian di dalam tubuhku?." Jaya Satria merasa heran dengan ucapan itu. "Apakah kau tidak tahu, bagaimana ketakutan yang kami alami ketika tidur?. Hingga kami tidak ingin tidur, saking takutnya dengan gambaran masa lalu yang kami lihat di alam mimpi." Rasanya ia tidak mau mengingat bagaimana mimpi menyeramkan itu ia alami.
"Kami?. Apa maksud kami?." Dalam hati Ratu penguasa Kerajaan gaib teluk Mutiara sedikit heran. Ia tidak menanyakannya, hanya saja ia masih penasaran dengan cerita Tombak pusaka Kelana Jaya. Karena itulah, ia simpan pertanyaan itu terlebih dahulu.
"Mohon ampun gusti prabu. Jika hamba tidak salah, hamba selalu merasa dipanggil oleh gusti prabu maheswara jumanta. Karena itulah hamba jadi gelisah. Sehingga hawa kegelapan dari kutukan itu mempengaruhi gusti prabu." Jawabnya.
"Jadi karena itulah?. Kami mengalami mimpi buruk mencekam itu?."
"Benar gusti prabu. Hamba sangat mendengar rintihan kesakitan dari gusti prabu maheswara jumanta yang begitu pilu. Juga saran yang diberikan mpu mahaprana. Seakan tersampaikan juga gusti prabu." Jawabnya lagi.
"Karena rintihan itu sangat pilu, menanggung penderitaan selama sepuluh tahun lamanya. Sang prabu sebelum sekarat, dibisikkan oleh mpu mahaprana, agar selalu berdoa kepada sang hyang widhi. Agar bertemu dengan orang yang menyimpan hamba." Lanjutnya.
"Suara itu seakan berbisik pada hamba, untuk menyampaikan apa yang diinginkan, oleh gusti prabu maheswara jumanta. Hamba tidak menyangka, jika panggilan suara itu sampai pada gusti prabu. Sehingga hamba bisa mewujudkan keinginan gusti prabu." Ya, ia tidak salah dalam mengenali suara tuannya saat itu.
"Ya Allah. Sungguh hamba tidak bisa membayangkan, jika saja gusti prabu maheswara jumanta tidak menyebutkan namanya waktu itu. Mungkin sampai saat ini hamba masih dihantui oleh mimpi buruk itu?." Jaya Satria masih bersyukur, karena ia masih bertahan sampai hari ini.
"Tapi mengapa sebelum-sebelum itu, kau masih bisa bertahan?. Bukankah tombak pusaka kelana jaya, mengandung hawa kegelapan berupa kutukan yang mematikan?."
"Itu karena gusti prabu asmalaraya arya ardhana, adalah seorang muslim yang taat beragama. Sehingga kami semua selalu merasa damai, tenang, dan bisa mengendalikan diri kami. Saat mendengarkan suara adzan, suara mengaji gusti prabu, bahkan suara bacaan sholawat yang dilantunkan gusti prabu, benar-benar membuat kami semua damai di dalam tubuhnya." Ia menjawab pertanyaan dari Ratu penguasa Kerajaan gaib teluk Mutiara.
"Tapi, saat hamba mendengar suara rintihan gusti prabu maheswara jumanta. Saat itulah hamba benar-benar tidak bisa mengendalikan diri hamba. Sehingga hamba memang lepas kendali. Sekali lagi maafkan hamba, gusti prabu asmalaraya arya ardhana."
Jaya Satria menghela nafasnya dengan pelan. Tidak bisa ia sesali yang terjadi, karena itu semua sudah takdir, dan kehendak dari Allah SWT.
__ADS_1
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?." Jaya Satria ingin segera menyelesaikan masalah ini. Karena ia harus segera kembali ke Kerajaan Suka Damai secepatnya.
"Gusti ratu penguasa kerajaan gaib teluk mutiara. Hamba mohon, bebaskanlah gusti prabu maheswara jumanta. Hamba sangat memohon kepada gusti ratu." Itulah permintaan dari Tombak pusaka Kelana Jaya.
"Heh!." Ratu penguasa kerajaan gaib teluk Mutiara mendengus kesal. "Untuk apa aku membebaskan seorang raja yang lalai dalam menjaga benda pusaka yang aku titipkan padanya?."
Sepertinya Ratu penguasa Kerajaan gaib teluk Mutiara tidak senang dengan permintaan itu?.
"Aku sangat murka padanya. Apalagi dia telah menyembunyikan kenyataan itu dariku. Dia tidak mengatakan padaku, jika tombak pusaka yang aku titipkan telah hilang darinya." Ratu penguasa kerajaan gaib teluk Mutiara benar-benar murka.
"Mohon ampun gusti ratu. Apakah gusti ratu memberikan kesempatan pada gusti prabu maheswara jumanta, untuk menemukan keberadaan tombak kelana jaya?."
"Aku yang sudah terlanjur marah padanya, mana mungkin aku memberikan lagi kesempatan padanya. Aku mengambil sukmanya, dan aku tahan sukmanya hingga hari ini. Agar dia merasakan betapa sakit hatinya hatiku, saat aku mengetahui tombak itu tidak lagi berada ditangannya." Nafasnya sampai naik turun, karena menahan amarah yang ada didalam dirinya. Wajahnya yang marah, membuat wajahnya terlihat menyeramkan.
"Astaghfirullah hal'azim astaghfirullah. Itu sangat tidak adil gusti ratu." Jaya Satria sangat terkejut mendengarkan pengakuan dari sang ratu.
"Mengapa kau menyebutku tidak adil?. Apakah kau mau membelanya?." Suara itu terdengar tinggi, membentak Jaya Satria.
"Mohon ampun gusti ratu. Hamba tidak bermaksud untuk membelanya. Hamba memang merasa tidak adil. Sebab gusti ratu terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Sehingga gusti prabu maheswara jumanta tidak memiliki kesempatan untuk mengambil kembali tombak itu." Jawab Jaya Satria.
"Benar apa yang dikatakan oleh gusti prabu. Jika saja gusti ratu tidak memberikan kesempatan, pastilah hamba tidak akan berkelana kemana-mana seperti nama yang gusti ratu berikan pada hamba." Tombak pusaka Kelana Jaya ikut membela?.
Lalu apa tanggapan Ratu penguasa Kerajaan gaib teluk Mutiara?. Temukan jawabannya. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.
__ADS_1
...***...