RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
KEPUTUSAN SANG PRABU


__ADS_3

Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tahu, jika apa yang ia katakan akan menjadi tanda tanya bagi mereka semuanya. Sejak kapan sang Prabu melakukan penangkapan itu?. Mengapa mereka sama sekali tidak mengetahui, apa yang sang prabu lakukan?.


"Maafkan saya, karena pada malam itu. Saya tidak bisa menahan diri, untuk tidak bergerak, karena tindakan kelompok sengkar iblis sudah keterlaluan."


Sang Prabu menjelaskan kepada mereka semua, meskipun yang melakukan itu adalah jaya Satria. Namun ia tidak bisa menyebutkan nama Jaya Satria.


"Tahanan tersebut, saya bawa ke hutan taring belati raga." Sang Prabu menatap jauh, seperti sedang menerawang sesuatu.


"Jika saya tahan di istana ini, saya takut mereka akan datang, menyerbu istana dan kita, akan kewalahan mengahadapi serangan licik mereka nantinya."


Mereka sedikit mengerti, mengapa alasan sang prabu, tidak menahan tahanan di penjara. Memang masuk akal juga, jika tahanan berbahaya itu berada di lingkungan istana. Bisa jadi itu akan membahayakan keselamatan dari keluarga istana.


"Keputusan yang sangat tepat, gusti Prabu."


Mereka semua lega mendengarnya. Sang prabu memang memikirkan keselamatan keluarga istana, juga rakyat Suka Damai dengan menjauhkan tahanan.


"Lalu bagaimana selanjutnya gusti?. Apa yang akan gusti prabu lakukan?."


Lurah Raweyai bertanya kepada sang Prabu, Tindakan selanjutnya dari sang prabu.


"Saya ingin, penggawa istana memberikan pengamanan yang ketat, selama saya berada di hutan taring belati raga." Ucapan sang prabu membuta mereka semua terkejut.


"Mohon ampun gusti prabu. Apakah gusti prabu berniat ke sana?. Tapi kenapa?." Mentri Moja Pribadio ingin mendengarkan alasan prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Benar. Saya akan ke sana, karena mereka telah mengetahui lokasi itu. Dan ada kemungkinan akan terjadinya pertarungan di sana nantinya." Jawab prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Bukankah itu terlalu berbahaya, jika gusti prabu pergi ke sana sendirian?. Apakah gusti prabu, tidak membawa pasukan atau prajurit?."


Walau bagaimanapun juga, mereka sangat mencemaskan keselamatan sang prabu, yang telah menantang maut dengan bertarung melawan para perusuh.


"ini bukanlah perang. Jadi saya rasa, tidak perlu membawa prajurit, atau pasukan khusus. Ini adalah perkara lama mendiang ayahanda prabu. Jadi saya sendiri yang akan menyelesaikannya." Jawab sang prabu dengan tegas, ia juga tidak ingin mereka melihat Jaya Satria di sana. 


Tidak ada jawaban dari mereka semua, karena mereka tidak dapat lagi membantah perkataan sang prabu. Apalagi jika sang Prabu pergi, atas nama mendiang Gusti Prabu Kawiswara Arya Ragnala.


"Jadi, selama saya pergi. Perketat penjagaan istana, di desa ataupun kota raja. Jangan sampai ada satupun marabahaya, yang mengancam keselamatan rakyat, atau keluarga istana." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana memberi perintah pada mereka semua.


"Saya pergi bukan karena dendam pribadi ayahanda prabu Kawiswara Arya Ragnala. Akan tetapi, saya pergi untuk menyelamatkan kehidupan rakyat suka damai, agar terbebas dari ancaman para perusuh kerajaan ini."


Suara sang Prabu terdengar sangat jelas, ia telah mengatakan bahwa kepergiannya ke hutan taring belati raga bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk kesejahteraan dan perdamaian kerajaan ini.  Mereka semua benar-benar kagum dengan apa yang dilakukan oleh sang Prabu. Sungguh rasanya tidak salah pemilihan penerus raja baru ini.


Tapi apakah sang Prabu bisa menumpas kejahatan yang dilakukan oleh kelompok sengkar iblis?. Baca terus ceritanya.


...***...


Masih di lingkungan istana.


"Apa?. Rayi prabu akan pergi ke hutan taring belati?."


Putri Andhini Andita mendapatkan informasi, dari salah satu prajurit yang mulai berjaga-jaga, sesuai yang diperintahkan oleh sang prabu. Juga Senopati Mandaka Sakuta, yang dipercayai oleh sang Prabu, untuk menjaga keamanan istana dan sekitarnya.


"Benar gusti putri. Kami di perintahkan gusti prabu untuk berjaga di kaputren, tempat tinggal putri dan permaisuri raja." Jawab prajurit itu.


"Memangnya apa yang rayi prabu lakukan di sana?." Putri Andhini Andita penasaran, bolehkah begitu?.


"Gusti prabu asmalaraya arya ardhana akan bertarung, menghadapi kelompok sengkar iblis. Karena gusti prabu,telah menahan salah satu dari anggota mereka"


jawab prajurit itu lagi,


"apakah ia akan membawa pasukan penggawa istana ke sana?"


tanya putri Andhini Andita lagi.


"tidak gusti putri, prabu Asmalaraya Arya Ardhana pergi sendirian ke hutan taring belati raga. Karena itulah kami disuruh berjaga-jaga, saat beliau berada di sana." Prajurit  itu menjawab semua pertanyaan dari putri Andhini Andita.


"Rayi prabu pergi sendirian?." Rasanya tidak percaya, jika seorang raja pergi sendirian menantang maut, tanpa adanya pengawalan, atau prajurit yang ikut menyertainya.


"Sepertinya begitu gusti putri." jawab prajurit itu lagi.


Putri Andhini Andita tampak terdiam, ia tidak habis pikir. Apa yang dipikirkan oleh adiknya itu?. Mengapa ia pergi sendirian?. Apakah ia mau mati?. Atau apa?.


"Apakah ada yang ingin ditanyakan lagi Gusti putri?."

__ADS_1


prajurit tersebut tidak mau berlama-lama, karena ia tidak ingin lalai dalam tugasnya.


"Baiklah prajurit, kau boleh pergi."


putri Andhini Andita menyuruh prajurit istana itu pergi. Ia tadinya hanya penasaran, karena tidak biasanya banyak prajurit berjaga di sini. 


"Tanpa pengawalan siapapun?." Dalam benaknya bertanya, tapi jika ia melihat sosok itu, rasanya tidak mungkin adiknya pergi ke sana sendirian bukan?.


"Aku rasa rayi prabu pergi bersama orang itu. Tidak mungkin rayi prabu pergi ke sana sendirian. Aku yakin dia menyimpan sesuatu hingga ia pergi tanpa pengawalan."


Putri Andhini Andita seperti menangkap, ada sebuah rahasia yang sedang berusaha disembunyikan oleh adiknya itu. Tapi apa?. Batinnya mengatakan demikian.


...****...


Sementara itu, di bilik prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Ratu Dewi Anindyaswari membantu putranya, melakukan persiapan sebelum berangkat menuju hutan Taring Belati Raga.


"Ibunda tenang saja, doa ibunda akan selalu menyertai langkah ananda."


Prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil, ia tidak mau melihat wajah ibundanya sedih, karena mencemaskan dirinya.


"Seorang ibu, akan selalu mencemaskan kepergian anaknya."


Ratu Dewi Anindyaswari mencoba untuk menguatkan hatinya, karena ia tahu ini adalah tugas penting anaknya sebagai raja. Namum sebelum-sebelumnya, anaknya juga pergi dalam waktu yang lama. Karena itulah, ia selalu berusaha untuk tetap kuat, demi anaknya.


"Ibunda akan selalu mendoakanmu nak."


"Terima kasih ibunda." Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sangat senang mendengarnya.


"Nanda prabu."


Saat itu Ratu Ardiningrum Bintari dan ratu Gendhis Cendrawati masuk ke kamar prabu Asmalaraya Arya Ardhana dengan senyuman ramah.


"Ibunda ratu ardiningrum bintari, ibunda ratu gendhis cendrawati."


Walaupun ia seorang raja, ia tetap memberi hormat kepada kedua ibunda tirinya tersebut. Rasa hormatnya sama seperti ia menghormati ibunda kandungnya ratu Dewi Anindyaswari.


Wajah yang tadinya terlihat ramah, kini terlihat mencemaskan sang prabu?. Tapi itu membuat sang prabu tidak enak hati.


"Benar ibunda. Nanda akan pergi ke sana setelah ini." Jawab prabu Asmalaraya Arya Ardhana tersenyum kecil.


"Kenapa nanda prabu pergi sendirian?. Apakah nanda prabu tidak takut mati?. Jika ananda pergi tanpa pengawalan."


Ratu Ardiningrum Bintari berkata seperti itu?. Entah itu simpati atau ada maksud lain dari ucapannya?.


"Apa maksud yunda ardiningrum bintari, berkata seperti itu kepada putraku?." Ratu Dewi Anindyaswari merasa sedih mendengarnya. Itu seperti doa yang buruk untuk putranya.


"Aku berkata apa adanya!. Dengan pergi sendirian ke sana, itu seperti dia menyombongkan diri mengantar kematiannya!. Apakah kau tidak menyadari, betapa sombong putramu setelah menjadi raja?."


Suara Ratu Ardiningrum Bintari sangat keras, memenuhi bilik prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Ibunda ratu ardiningrum bintari!"


Spontan Prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengeraskan suaranya, membuat mereka semua terkejut.


"Jika ibunda datang ke sini, hanya untuk membuat ibunda saya bersedih. Lebih baik simpan saja, rasa simpati ibunda miliki."


Sepertinya sang prabu telah lepas kendali. Amarahnya keluar karena perkataan menusuk itu tertuju padanya, juga ibundanya.


Tanpa banyak bicara, kedua Ratu dari mendiang prabu Kawiswara Arya Ragnala pergi meninggalkan tempat. Mereka takut dengan kemarahan prabu Asmalaraya Arya Ardhana. Kemarahan itu sama persis ketika sebelum ia menjadi raja.


Jadi, mereka tidak ingin membuat istana ini hancur, karena kemarahan sang prabu yang sangat ganas. Tidakdak peduli kepada siapa dia melepaskan amarahnya.


"Astaghfirullah hal'azim, astaghfirullah hal'azim."


prabu Asmalaraya Arya Ardhana mencoba menenangkan dirinya, ia tidak boleh terbawa emosi sebelum pergi.


"Putraku, tenanglah nak. Jangan sampai nanda terbawa amarah. Kendalikan emosimu nak."


Ratu Dewi Anindyaswari sangat mencemaskan putranya. Ia tidak mau anaknya sampai kehilangan kendali, karena emosi yang berlebihan.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal'azim, ya Allah. Ampunilah dosa hamba ya Allah."


Sang prabu mencoba menenangkan dirinya, ia mundur ke belakang, duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Tenanglah nak. Jangan nanda pikirkan apa yang ibunda ratu ardiningrum bintari katakan. Ibunda percaya bahwa, nanda mampu melakukan tugas itu dengan baik."


Ratu Dewi Anindyaswari mengusap bahu kiri putranya. Mengelus kepala putranya dengan cintanya sebagai seorang ibu, ia cium sayang puncak kepala anaknya.


"Meskipun hati ibunda terasa perih, mendengarkan perkataan tadi. Tapi hati ibunda jauh lebih perih, ketika melihat engkau marah, dan kehilangan kendali atas dirimu, putraku."


Batin ratu Dewi Anindyaswari, mencoba untuk menekan sesak di dadanya. Ia teringat masa lalu bagaimana anaknya ini sebelum masuk agama Islam.


"Terima kasih ibunda. Ibunda selalu memahami nanda."


Rasanya prabu Asmalaraya Arya Ardhana ingin menangis, mengapa dalam kondisi seperti ini masih ada, orang yang memanasi suasana sebelum berangkat keluar istana?.  Tapi ia masih beruntung, memiliki seorang ibu yang masih peduli padanya. Memberikan kasih sayang tulus, memperhatikan dirinya.


Bagaimana masa lalu sang prabu sebelum masuk Islam?. Nanti akan dijelaskan. Baca terus ceritanya.


...***...


Raden Ganendra Garjitha, Raden Gentala Giandra, dan  Raden Hadyan Hastanta juga mendengar kabar kepergian prabu Asmalaraya Arya Ardhana dari Senopati Mandaka Sakuta.


"Jadi, apa yang akan kita lakukan, saat rayi prabu tidak ada di istana?."


Tanya Raden Gentala pada kedua saudaranya itu. Sepertinya mereka memiliki rencana yang tidak baik. Mereka bertiga akan melakukan apa?.


"Dari pada berbuat rusuh atau merenung di istana. Bagaimana kita buntuti rayi prabu?. dan diperjalanan kita serang dia, kita habisi saja dia."


Itulah ide yang muncul di dalam benak Raden Ganendra Garjitha, saat mendengarkan pertanyaan dari adiknya. Raden Gentala Giandra dan Raden Hadyan Hastanta tampak berpikir.


"Apakah kita bisa melakukannya raka?." Tanya Raden Hadyan Hastanta agak sedikit ragu, apakah mereka bisa membunuh prabu Asmalaraya Arya Ardhana?.


"Betul raka. Bukankah rayi prabu juga memiliki ilmu Kanuragan yang tinggi?. Kita sama-sama tau sebelumnya, rayi prabu bukanlah orang baik-baik. Namun setelah masuk agama Islam, baru lah dia seperti orang jinak kena pelet penunduk." Raden Gentala Giandra masih ingat, ia hampir saja mati dulu jika ayahandanya tidak datang karena amukan adik tirinya itu. Ia masih ingat bagaimana kemarahan adiknya itu, seperti orang kerasukan setan berbahaya.


"Benar apa yang dikatakan oleh raka gentala giandra, rasanya tidak mungkin kita menghabisi rayi prabu." Raden Hadyan Hastanta setuju, dengan apa yang dikatakan oleh Raden Gentala Giandra. Mereka tidak akan semudah itu membunuh, ataupun mencelakai sang prabu.


"Kita bisa menggunakan pembunuh bayaran. Aku yakin mereka bisa melakukannya. jika mereka berhasil menghabisi rayi Prabu, maka kita akan menyebarkan fitnah lainnya untuk kematian rayi prabu."


Sepertinya Raden Ganendra Garjitha telah memikirkan ide-ide buruk untuk mencelakai sang prabu. Segudang ide ada di dalam otaknya, bagaimana caranya ia menghabisi adiknya prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


"Raka sangat cerdas, itu ide yang sangat bagus."


Raden Gentala Giandra tidak pernah berpikir ke arah sana. Ternyata kakaknya Raden Ganendra Garjitha, sangat pintar dalam memberikan ide.


"Aku tahu siapa yang pantas, menjalankan tugas itu raja."


Raden Hadyan Hastanta sepertinya tahu kepada siapa, ia meminta tolong untuk menghabisi nyawa prabu Asmalaraya Arya Ardhana.


Bisakah mereka melakukannya?. Temukan jawabannya di halaman berikutnya. Ups mari kita lanjutkan yang terjadi sekarang.


...***...


Seperti yang dikatakan oleh Jaya Satria. Bahwa kelompok sengkar iblis telah mengetahui, dimana lokasi hutan taring belati raga. Sudah dipastikan mereka akan melepaskan temannya. Karena tidak ingin tahanan tersebut terbebas dengan mudah. Prabu Asmalaraya Arya Ardhana sebelumnya, telah menyuruh Jaya Satria pergi duluan, untuk melindungi tahanan tersebut agar tidak jatuh ke tangan kelompoknya.


"Aki dharma seta. Tolong bebaskan aku, ki." Dalam hatinya mencoba untuk berontak. Namun ia tidak bisa mengatakannya, karena ia dalam keadaan tertotok.


"Tenyata kau di sini bedebah busuk!."


Ki Dharma Seta terlihat marah, ia sudah menduganya. Ia sudah menduga bahwa orang bertopeng itu, tidak akan membiarkan mereka membawa Mayang Sari, keluar dari tempat itu dengan mudah.


"Dimana bedebah busuk, yang telah menyelamatkanmu tempo hari lalu?. Panggil dia!. Aku tidak yakin kau akan terbebas dari maut hari ini, jika kau tidak bertarung bersamanya." Ki Dharma Seta masih mengingatnya, ada dua orang bertopeng saat itu.


"Aku tidak perlu repot-repot memanggilnya. Cukup aku saja yang melawan kalian semua."


Jaya Satria mengerti siapa yang dimaksud oleh Ki Dharma Seta. Ia tahu jika mereka akan datang, karena itulah ia berada di sini, sementara itu prabu Asmalaraya Arya Ardhana mengurusi istana. Karena tidak ingin membuat mereka curiga karena sang prabu tidak ada di istana.


Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Bisakah Jaya Satria bertarung sendirian melawan kelompok sengkar iblis, yang hanya bisa main keroyokan?. Bagaimana nasib sang prabu selama di perjalanan?. Apakah sang prabu akan sampai tujuan dengan selamat, dan dapat membantu Jaya Satria menghadapi para perusuh?.


Waaah, begitu banyak misteri ilahi?. Hehehe begitu banyak rahasia, yang terjadi membuat author bingung masalah mana yang mau diselesaikan.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya.

__ADS_1


__ADS_2