RAHASIA SANG PRABU

RAHASIA SANG PRABU
USAHA PRABU KAWISWARA ARYA RAGNALA


__ADS_3

...***...


Raden Cakara Casugraha saat ini sedang terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya terlihat pucat, sesekali bibirnya merintih sakit. Rasanya Prabu Kawiswara Arya Ragnala, tidak sampai hati melihat keadaan anaknya yang sekarang.


"Maafkan ayahanda nak. Ayahanda belum bisa membawa nanda kembali. Karena nanda belum bisa mengendalikan diri nanda." Prabu Kawiswara Arya Ragnala mengelus sayang kepala anaknya. Hatinya seperti teriris sembilu yang sangat tajam. Dan pada saat itu, sang pemilik gubuk tersebut masuk bersama seorang wanita yang pakaiannya sedikit berbeda.


"Maaf kisanak. Apakah putra saya masih bisa diselamatkan?."


"Insyaallah, putra kisanak akan baik-baik saja. Kami akan mencoba mengobatinya. Semoga Allah SWT memberikan kesembuhan pada putra kisanak."


"Terima kasih kisanak. Terima kasih karena telah membantu putra saya."


"Sebagai sesama manusia tentunya sudah menjadi kewajiban untuk saling tolong menolong."


"Semoga dewata agung membalas kebaikan kisanak. Sungguh kisanak adalah orang yang baik."


Setelah itu Laki-laki yang menolong Prabu Kawiswara Arya Ragnala. Laki-laki bersorban itu mulai mengobati Raden Cakara Casugraha. Dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an, beliau mencoba untuk mengatur kembali tenaga dalam Raden Cakara Casugraha yang sangat kacau, setelah berhasil mempelajari jurus cakar naga cakar petir.


Tak lama kemudian, pengobatan selesai dilakukan. Prabu Kawiswara Arya Ragnala yang dijamu makan malam oleh laki-laki yang menolongnya tadi siang.


"Silahkan minum dan makan kisanak. Maaf jika kami tidak bisa memasak yang lebih."


"Tidak apa-apa kisanak. Terima kasih karena telah menjamu saya dengan baik. Saya merasa bersyukur, karena ada orang baik yang menolong putra saya. Juga baik kepada saya."


"Jangan sungkan kisanak. Kita ini adalah saudara, jadi wajar jika kita saling membantu."


"Silahkan hidangannya tuan. Mumpung masih hangat, jadi enak untuk dimakan."


"Terima kasih banyak nyai."


Setelah makan malam selesai. Mereka sedikit berbincang-bincang mengenai sedikit masalah.


"Menurut kabar yang saya dengar. Di hutan ranting panjang, dulunya tinggal seorang kakek tua yang sangat sakti mandraguna. Banyak pendekar yang ingin belajar jurus cakar naga cakar petir darinya. Akan tetapi kakek tua itu tidak mau memberikannya pada siapapun juga. Hingga tersebar berita aneh, barang disapa yang dapat mengalahkan Pendekar lainnya di dalam hutan itu. Maka ia akan mendapatkan jurus cakar naga cakar petir itu kisanak."


"Jadi masuk kisanak, putra saya juga mengikuti kabar berita itu?."


"Bisa jadi seperti itu kisanak. Tapi ada juga banyak yang tersesat masuk ke dalam hutan itu, seakan memanggil dirinya."

__ADS_1


"Rasanya sangat cemas sekali kisanak. Saya takut, putra saya mengalami sesuatu setelah mempelajari jurus itu."


"Kisanak tenang saja. Keadaannya baik-baik saja. Jadi tidak perlu dicemaskan. Tubuhnya sangat kuat menerima hawa cakar naga cakar petir itu. Kemarahan yang dimiliki olehnya seakan menyerap semua hawa negatif dari jurus tersebut, seakan-akan ingin menyatu dengan hawa murni yang ia miliki."


"Jadi begitu?. Sama seperti ketika ia mempelajari jurus-jurus beberapa Pendekar golongan hitam. Jurus yang mematikan, bahkan tidak semua pendekar golongan hitam mampu mempelajarinya. Jurus petir menyambar pohon, jurus mata setan menembus alam sukma, jurus petik raga rengkah raga. Dan banyak lagi jurus-jurus berbahaya, yang dipelajari putra saya melalui Pendekar golongan hitam lainnya."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Sungguh jurus-jurus yang sangat berbahaya. Tapi mengapa tubuhnya baik-baik saja?. Ah tapi sebelum itu. Kisanak ini siapa?. Mengapa kisanak memiliki seorang putra yang luar biasa mampu mempelajari jurus-jurus berbahaya dari pendekar golongan hitam?. Jika orang biasa yang mempelajari jurus itu, maka tubuhnya akan hancur berkeping-keping. Karena tidak sanggup untuk menampung semua hawa jahat dari ilmu kanuragan yang ia pelajari."


Prabu Kawiswara Arya Ragnala menghela nafasnya dengan pelan. "Nama saya kawiswara arya ragnala. Putra saya bernama cakara casugraha."


"Oh,, masyaAllah, sekiranya saya sedang berbicara dengan raja agung dari kerajaan suka damai. Hormat hamba gusti prabu. Maaf jika hamba tidak mengenali gusti prabu."


"Hormat hamba gusti prabu."


"Tidak apa-apa kisanak. Meskipun seorang raja, bukan berarti saya ini adalah orang yang istimewa. Bukankah manusia ini sama?. Hanya derajat yang membedakannya."


"Ya, gusti prabu benar. Tapi hamba tidak menyangka, jika putra gusti prabu sampai mengembara jauh. Apa gerangan yang membuatnya sampai berjalan sejauh itu?."


"Sebenarnya ia berguru pada pendekar jarah setandan. Mungkin ia merasa bosan, dan ingin mengembara. Saya mencoba untuk mencarinya melalui mata batin saya. Saya tidak menyangka akan menemukannya di sini."


"Maaf kisanak. Jika saya boleh tahu, siapakah nama kisanak?."


"Nama hamba asmawan mulia, dan beliau ini adalah istri hamba. Namanya ayudiyah purwati."


"Dalam hormat hamba gusti prabu."


Prabu Kawiswara Arya Ragnala hanya tersenyum kecil. "Maaf jika lancang. Saya ingin bantuan dari kisanak."


"Apa yang bisa hamba bantu gusti prabu. Hamba akan sebisa mungkin membantunya."


"Terima kasih atas kebaikannya. Saya hanya ingin minta pada kisanak, untuk menjadi guru putra saya."


"Menjadi guru?. Bukankah putra gusti prabu telah memiliki guru?."


"Memangnya mengapa gusti prabu, mencari guru untuk putra gusti prabu?. Jika hamba boleh mengetahuinya.


"Sebenarnya, putra saya nanda cakara casugraha sedang menjalani hukuman buang. Karena tidak bisa kembali ke istana, saya yakin ia sangat merindukan ibunda. Akan tetapi, kemarahan kutukan tanya ada di dalam tubuhnya, membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya."

__ADS_1


"Lalu apa yang bisa kami bantu gusti prabu?."


"Menurut wangsit yang saya dapatkan memalui pertapaan. Putra saya harus masuk agama Islam. Dan itu satu-satunya cara untuk mengendalikan amarah kutukan itu."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Akan tetapi, belajar agama islam itu tidak mudah, namun tidak juga pula dipersulit."


"Saya mohon, bimbing lah putra saya, nanda cakara casugraha. Saya tidak tega melihat kutukan kemarahan yang bersemayam di dalam tubuhnya. Hati ibundanya sangat sedih, karena telah lama berpisah dari anaknya. Rasanya saya sangat berdosa padanya. Tapi saya terpaksa melakukan ini demi menjaga keutuhan keluarga saya."


"Kami akan berusaha sekuat tenaga gusti prabu. Tapi hamba tidak bisa menjamin. Karena semua tergantung pada tekad dan keinginan nanda cakara casugraha."


"Saya percaya, jika putra saya mau berubah."


Namun saat itu, Raden Cakara Casugraha telah terbangun. Ia melihat ayahandanya yang sedang berbicara dengan dua orang asing.


"Ayahanda prabu."


"Putraku nanda cakara casugraha." Prabu Kawiswara Arya Ragnala memeluk sayang anaknya. "Syukurlah jika nanda sudah bangun nak. Ayahanda sangat mengkhawatirkan keadaan nanda."


"Maafkan jika nanda, selalu membuat ayahanda prabu merasa cemas."


"Oh putraku." Prabu Kawiswara Arya Ragnala menangkup wajah anaknya. Setelah itu ia kecup puncak kepala anaknya dengan sayang. "Apakah nanda, mau menekan perasaan kemarahan itu demi ibunda?. Ibunda sangat merindukan nanda. Maaf jika ayahanda belum bisa mencabut hukuman buang pada nanda. Karena nanda belum bisa mengendalikan kemarahan nanda."


"Ibunda. Nanda sangat merindukan ibunda. Nanda sangat merindukan ibunda ayahanda prabu." Raden Cakara Casugraha menangis sedih, ia ingin memeluk ibundanya. Mengadu semua kesedihan yang ia rasakan selama ini.


"Jika nanda memang merindukan ibunda, maka nanda harus berubah demi ibunda. Ayahanda percaya, jika nanda mampu melakukannya. Ayahanda akan menunggu nanda selama satu tahun, belajar kesabaran, juga belajar agama islam, dengan syekh asmawan mulia."


Raden Cakara Casugraha menatap laki-laki yang dipanggil Syekh Asmawan Mulia oleh ayahandanya.


"Baiklah ayahanda prabu. Nanda akan berusaha untuk belajar menjadi lebih baik baik lagi. Semuanya demi bertemu ibunda. Nanda tidak kuasa lagi untuk menahan perasaan rindu pada ibunda."


"Ayahanda akan selalu memperhatikan perubahan nanda. Ayahanda, ibunda, juga yundamu selalu merindukan nanda untuk kembali ke istana."


Prabu Kawiswara Arya Ragnala sangat merindukan anaknya. Ia sangat sayang pada putra bungsunya itu. Bohong jika ia tidak merasa sedih, karena sebagai seorang ayah, tidak bisa membantu anaknya dari hukuman buang. Apalagi keputusan itu telah jatuh dari petinggi istana.


Apakah Raden Cakara Casugraha bisa mengatasi dirinya sendiri?. Temukan jawabannya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2